LEAP: Ketika Hilal Terhisab

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Marliya Ulfa (Mataram, Nusa Tenggara Barat)

Bentuknya melengkung dan berupa garis tipis. Ia bernama hilal. Sejatinya, ia adalah bulan sabit muda. Keberadaannya menjadi krusial karena menentukan momen hari besar dan ritual ibadah umat Islam. Ia menjadi penentu awal masuknya bulan baru dalam kalender Qomariyah. Metode  hisab menggunakan perhitungan astronomi. Apalagi di zaman teknologi yang maju ini, perhitungan dengan ilmu astronomi mutakhir memang sangat akurat sehingga kekeliruan yang mungkin terjadi dalam memutuskan awal suatu bulan Qamariah sangat kecil.

Namun, seperti yang diketahui, dalam melakukan hisab (perhitungan) untuk menentukan awal dan akhir bulan ramadhan, yang digunakan bukan hanya ilmu astronomi modern, melainkan petunjuk dari kitab kuning. Kita tahu bahwasanya di Indonesia menggunakan metode hisab yang berbeda. Ada yang menggunakan metode hisab wujudul hilal dan ada yang menggunakan metode hisab imkanur ru’yah. Perbedaannya adalah metode wujudul hilal menganggap bahwa jika hilal (awal bulan) sudah ada, meskipun tidak nampak atau terlihat, maka tetap berpuasa keesokan harinya. Sedangkan metode imkanur ru’yah berpendapat bahwa adanya hilal belum teranggap sampai hilal tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang. Didalam hisab imkanur ru’yah, selain kondisi dan posisi hilal diperhitungkan juga kuat cahayanya pada batas kemampuan manuasia. Didalam menyusun hipotesisnya, dipertimbangkan pula data statistik keberhasilan dan kegagalan rukyah, perhitungan teoritis dan kesepakatan para ahli. Jika perhitungan berdasarkan asumsi yang tidak tepat, akan menyimpang cukup jauh dari hasil perhitungan hilal dalam astronomi mutakhir.

Jika telihat dari pengertiannya, hilal adalah penampakan bulan selama beberapa menit kepada pengamat di bumi pada waktu magrib. Maksudnya, bulan (sabit tipis) tampak beberapa menit, kemudian tenggelam. Jadi, hilal adalah penampakan bulan saat tenggelam pada waktu magrib. Sebab sebenarnya pada siangnya bulan berada di atas kepala, tetapi tidak terlihat sinar matahari. Baru bisa dilihat jika cahaya matahari langsung yang menerima intensitasnya sudah lebih rendah dari pada intensitas refleksi sinar matahari dari bulan. Penampakan hilal didefinisikan sebagai bulan baru pada penanggalan qamariyah.

Sebagian hisab mengguanakan kebiasaan (‘urfi). Jika tahun syamsiah memiliki panjang rata-rata jumlah hari yang tidak bulat (365 ¼ hari), maka tahun qamariah juga mempunyai pecahan 11/30 hari (keseluruhan rata-rata 354 11/30 hari). Tentu tidak bisa jika setiap tahun jam bergeser ¼ hari (6 jam) pada tahun syamsiyah dan 12 jam (1/2 hari) pada tahun qamariah.

Membahas mengenai hilal, maka erat juga kaitannya dengan fase-fase bulan. Menurut Cecep Nurwendaya sebagai anggota Badan Hisab Rukyat Kemenag RI dari Planetarium Jakarta, terdapat lima fase bulan berdasarkan penglihatan dari bumi. Bulan baru atau new moon atau ijtimak merupakan fase pertama dimana bulan tidak terlihat di sepanjang malam. Kemudian fase berganti pada bulan sabit setelah bulan baru atau ada juga yang menyebutnya sebagai hilal. Fase ketiga bulan separuh kuartil pertama, yang menghadap ke Barat setelah maghrib yang kemudian berubah ke fase baru yaitu bulan besar. Menjelang akhir bulan, tampak bulan sabit tipis yang disebut sebagai bulan tua. Berkaitan dengan fase terakhir ini, ada yang mengatakan bahwa bulan tersebut bukanlah hilal tetapi bulan tua atau juga dikatakan sebagai bulan tersembunyi. Hal tersebut karena bulan hanya tampak sedikit dari seluruh bagian bulan.

Terdapat beberapa istilah yang digunakan di Indonesia dalam menggambarkan atau menamai posisi hilal. Hilal pada umumnya berada tegak dan terlihat sebagai bulan sabit yang tipis. Namun tidak menutup kemungkinan hilal dapat berada sedikit ke atas atau berada sedikit ke bawah. Letak hilal ini, menimbulkan adanya istilah ‘hilal agak tengkurap’ dan ‘hilal agak terlentang’. Namun hilal juga tidak mungkin berada tepat di bagian atas atau benar-benar terlihat ‘tengkurap’. Mengapa demikian? Karena hal tersebut mengindikasikan bahwa matahari berada di atas sehingga hilal tenggelam lebih dulu daripada matahari. Dengan demikian, hilal hanya mungkin tampak tegak dan hilal ‘terlentang’.

Sebagai catatan istilah bulan baru dalam astronomi tidaklah sama dengan definisi bulan baru dalam kalender Islam. Kalau bulan baru dalam astronomi terjadi serentak untuk seluruh dunia, dan belum tentu pada saat tersebut bulan dapat terlihat dengan mata. Sebagai syarat mutlak nampaknya hilal adalah terjadinya konjungsi atau ijtima‘, yaitu terjadi ketika posisi bulan dan matahari berada pada bujur yang sama. Peristiwa ini dalam istilah astronomi disebut dengan bulan baru. Semua sepakat bahwa peristiwa ijtima‘ merupakan batas penentuan secara astronomis antara bulan Qamariyah yang sedang berlangsung dan bulan Qamariyah berikutnya. Oleh karena itu para ahli astronomi umumnya menyebut ijtima‘ atau konjungsi atau new moon sebagai awal perhitungan bulan baru. Berarti makna hilal di sini adalah bulan telah mengelilingi bumi dengan sempurna.

Saat konjungsi (ijtima`) adalah saat bulan berada diantara matahari-bumi, dimana wajah bulan menjadi tidak tampak dari bumi karena seluruh bagian bulan yang gelap akan menghadap ke bumi. saat konjungsi suatu benda langit dalam hal ini adalah bulan dengan matahari seperti terlihat dari bumi, terjadi jika perbedaan lintang (elongasi) dengan matahari berharga nol. Namun karena bidang orbit bulan tidak berimpit dengan bidang ekliptika, maka kedudukan bumi, bulan, dan matahari tidak selalu berada dalam satu garis lurus sehingga kedudukan bulan baru kadang-kadang berada diatas atau dibawah garis lurus yang menghubungkan bumi-matahari. Jika kedudukan bulan baru tepat berada dalam garis lurus yang menghubungkan bumi-matahari, maka akan terjadi gerhana matahari. Para astronom menyebut ijtima‘ atau konjungsi itu sebagai new moon (bulan baru) atau disebut juga bulan mati karena wajahnya tidak tampak. Dengan kata lain, konjungsi bulan terjadi saat bulan baru.

Hilal dalam perspektif astronomi bisa dimaknai sebagai visibilitas hilal, karena pada dasarnya keduanya merupakan hasil penggalian bersama antara metode ?isab dan ru’yat untuk mendapatkan interpretasi antronomi atas dalil fikih yang digunakan. Secara astronomis mudah untuk dipersatukan asal ada kesepakatan kerelaan keduanya untuk menuju titik temu.

Bulan berevolusi sampai kembali membentuk posisi satu garis lurus antara matahari-bulan-bumi (fase ini disebut dengan konjungsi) selama 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik. Inilah yang dinamakan satu bulan. Terkait dengan hil?l, secara astronomis definisi hil?l (new moon) adalah fase bulan setelah berada di satu garis bujur yang sama dengan matahari dan bumi.  Dalam fase ini, bulan terlihat hanya sebagian kecil dari bagiannya setelah mengalami peristiwa konjungsi. Bagian kecil yang disinari matahari inilah, yang disebut dengan hil?l yang menandakan datangnya bulan baru. Astronomi meyakini bulan selalu wujud dan bisa dihitung posisinya, tetapi belum tentu tampak (secara observasi atau hitungan). Oleh karenanya membicarakan objek yang sudah di bawah ufuk bukanlah kelaziman dalam astronomi. Secara astronomi, hilal itu bukan masalah eksistensi (karena posisi yang diukur atau dihitung bukanlah hilalnya, tetapi bulan), tetapi masalah ketampakan (yang berubah tergantung sudut pandang pengamat). Dari segi konsep, hilal adalah fenomena ketampakan.

Dari suatu titik bulan tampak sebagai hil?l, tetapi dari sudut lain bulan bisa tampak sebagai purnama. Astronomi bukan hanya memperhatikan aspek posisi, tetapi juga ketampakan. Astronomi memandang ?is?b (komputasi) dan ru’yat (observasi) setara dan kompatibel, bisa saling menggantikan. Hil?l bukanlah fenomena eksistensi atau wujud.

Hilal adalah salah satu sumber utama dalam penyusunan kalender Islam. Saat ini definisi bulan baru sangat beragam, padahal definisi inilah yang digunakan untuk penentuan awal bulan baru Hijriah, baik dari sudut pandang fikih astro nomi atau kombinasi dari mereka. Essay ini difokuskan untuk mendefinisikan kembali konsep bulan baru dari sudut pandang ilmu pengetahuan (astronomi) dan fikih. Sinergi antara fikih dan astronomi sebagai pendekatan untuk menentukan bulan baru Islam perlu diupayakan sebagai sebuah ikhtiar untuk merumuskan kesatuan kalender Islam. Hilal dalam perspektif astronomi tidak hanya berkaitan dengan aspek posisi,tetapi juga ketampakan. Astronomi memandang ?isab (komputasi) dan ru’yat (observasi) setara dan kompatibel, bisa saling menggantikan.

Ditulis oleh

LEAP

LEAP

Lomba Esai Astronomi Populer (LEAP) yang diselenggarakan oleh langitselatan. 10 Terbaik akan kami tampilkan tulisannya di langitselatan dengan akun LEAP.

Avatar

Marliya Ulfa

Mahasiswi Universitas Mataram, NTB