LEAP: Menikmati Jagat Raya Sebagai Angka

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Bayu Prahara (Banjaran, Jawa Barat)

Menikmati objek langit kala malam memang tiada habisnya terutama bagi mereka yang berada di wilayah dengan polusi lampu sedikit. Jika tidak ada gangguan seperti awan mendung dan cahaya dari bulan, bintang-bintang dilangit akan lebih terlihat karena cahaya dari mereka tidak tertutup atau kalah terang dari cahaya lain. Bahkan, kalau beruntung, kita bisa melihat sabuk tipis dari  galaksi Bima Sakti (Milky Way) dan galaksi Andromeda dengan syarat polusi lampu yang sedikit serta bulan berada pada fase mati.

LEAP: Dari Antariksa Untuk Bumi Indonesia

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Fathan Muhammad Alif (Bogor, Jawa Barat)

Sampai saat ini, bumi diyakini sebagai satu-satunya planet dalam tata surya yang dapat dihuni oleh makhluk hidup. Planet bumi dapat dihuni oleh makhluk hidup karena memiliki faktor-faktor yang dapat menunjang kelangsungan kehidupan diatasnya. Seperti yang dapat kita indra, berjuta kehidupan makhluk hidup ditopang oleh bumi dari waktu ke waktu. Tapi sebenarnya dibandingkan dengan alam semesta, bumi kita ini hanyalah ibarat sebutir debu dalam ukuran alam semesta yang teramat sangat luas ini.

LEAP: Ketika Hilal Terhisab

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Marliya Ulfa (Mataram, Nusa Tenggara Barat)

Bentuknya melengkung dan berupa garis tipis. Ia bernama hilal. Sejatinya, ia adalah bulan sabit muda. Keberadaannya menjadi krusial karena menentukan momen hari besar dan ritual ibadah umat Islam. Ia menjadi penentu awal masuknya bulan baru dalam kalender Qomariyah. Metode  hisab menggunakan perhitungan astronomi. Apalagi di zaman teknologi yang maju ini, perhitungan dengan ilmu astronomi mutakhir memang sangat akurat sehingga kekeliruan yang mungkin terjadi dalam memutuskan awal suatu bulan Qamariah sangat kecil.

LEAP: Penjelajahan Antariksa : Merekonstruksi Pola Pikir Manusia

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Elika Prameswari Fariyanto  (Bogor, Jawa Barat)

Pada abad ke-20 ini, di mana masyarakat hidup dalam modernisasi, ilmu pengetahuan berkembang secara pesat. Berbagai hipotesis ilmiah dari para ilmuwan pendahulu secara bertahap telah mendapat bukti-bukti konkret. Misalnya, teori relativitas Albert Einstein yang belum lama ini telah diklarifikasi salah satu bukti kebenarannya melalui terdeteksinya gelombang gravitasi dari dua buah lubang hitam supermasif yang bertumbukan. Percobaan pengukuran gelombang gravitasi sebenarnya telah dilakukan sejak 1960, namun pengukurannya masih sangat sulit dilakukan sehingga sebelumnya belum pernah teramati secara langsung. Gelombang gravitasi berhasil diamati melalui sistem LIGO (Laser Interferometer Gravitational-wave Observatory) di Amerika yang telah melakukan pengamatan sejak tahun 2002.

Sayangnya, masih banyak masyarakat awam yang menganut paham-paham yang seakan-akan memiliki pembuktian ilmiah, namun pada dasarnya memiliki kesalahan konsepsi karena tidak memenuhi persyarakan metode ilmiah. Kesalahan konsepsi ini dinamakan ilmu semu atau pseudosains. Pseudosains memiliki pengertian sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Istilah pseudosains ini pertama kali muncul pada tahun 1843, merupakan kombinasi dari bahasa Yunani pseudo, berarti palsu atau semu dan bahasa Latin scientia, berarti pengetahuan atau bidang pengetahuan. Saat ini masih banyak pseudosains yang beredar dan dipercaya oleh masyarakat, misalnya saja membaca sifat dan karakter seseorang dari golongan darahnya, membaca nasib seseorang dari rasi bintang atau sering disebut astrologi, dan yang paling banyak terdengar belum lama ini adalah paham bumi datar.

LEAP: Bertualang Menuju Antariksa yang Tak Terbatas Tanpa Meninggalkan Rumah? Bisa!

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Muhammad Lutfi (Cirebon, Jawa Barat)

Pada saat kecil, sering kali anak-anak bermimpi untuk menjadi seorang astronaut. Alasan mereka untuk menjadi seorang astronaut biasanya karena ingin bertualang menuju antariksa dan melihat seperti apa keadaan di luar Bumi, planet-planet, dan luar angkasa yang di dalamnya tersimpan banyak misteri. Melihat Bulan dan bintang dari dekat pun sudah menjadi angan-angan sejak masih berada di taman kanak-kanak. Siapa yang tak kenal lagu “Ambilkan Bulan Bu” karya AT Mahmud. Salah satu lagu yang menyiratkan keinginan seorang anak untuk menjadikan Bulan yang indah itu sebagai sumber penerangannya saat dia tidur.

LEAP: Sepinya Alam Semesta (Jika Sendiri)

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Fragadian Rizky Widiawan (Rawalumbu, Jawa Barat)

“The future of humanity is going to bifurcate in two directions: Either it’s going to become multiplanetary, or it’s going to remain confined to one planet and eventually there’s going to be an extinction event.”  Elon Musk

Sejauh ini Bumi adalah satu-satunya planet yang dapat menunjang kehidupan manusia. Terhitung sejak munculnya spesies homo sapiens, Bumi telah memberikan kehidupan kepada 108,2 miliar umat manusia. Saat ini, Bumi sedang menampung kurang lebih 7,4 miliar manusia dan diperkirakan akan menjadi 9,8 miliar pada tahun 2050 dan tentu akan terus meningkat setiap tahunnya.[1] Pertanyaannya, dapatkah kita secara terus menerus membebankan kepada Bumi segala dampak buruk atas berbagai permasalahan yang muncul sebagai akibat dari kemajuan peradaban manusia? Dan jika Bumi telah rusak, bagaimana nasib manusia dan kehidupan Bumi lainnya?

LEAP: Manusia dan Langit

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Hastia Fathsyadira (Kab. Bandung – Jawa Barat)

Pantai mengingatkan kita kepada ruang. Butirannya yang halus, ukurannya yang sama, terbentuk oleh abrasi dan erosi, dan dipengaruhi juga oleh gelombang juga Bulan dan Matahari yang jauh dari Bumi. Pantai juga mengingatkan kita pada waktu, bahwa dunia ini jauh lebih tua dibandingkan spesies manusia.

LEAP: Ekspedisi Antariksa

Artikel PemenangLomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: I Putu Yoga Tunas Sugitha (Luwuk, Sulawesi Tengah)

Saya memulai perjalanan dari daerah tempat tinggal, lalu berangkat ke kota, selanjutnya pergi ke Jakarta. Setelah di Jakarta, saya melanjutkan perjalanan ke Florida, Amerika Serikat, yang merupakan pusat peluncuran ke luar angkasa. Saya pergi keluar angkasa menggunakan pesawat luar angkasa berawak Orion yang dibawa oleh roket ARES-4 ke luar angkasa. Setelah pesawat Orion terlepas dari roket induknya, pesawat ini menuju Bulan.

LEAP: Kawah Jamus Ngawi Inspirasi Menjelajah Planet Mars

Artikel Pemenang 2 Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Gathut Sugiarto (Ngawi, Jawa Timur)

Menyaksikan keindahan kebun teh di wilayah Jamus bersama keluarga, membuat kami menjadi segar kembali. Sambil melihat lihat mata air dan mengajak anak-anak untuk berenang di kolam mata air Sumber Lanang, kami juga menikmati bakso dan mie yang banyak di jual di sekitar kolam renang. Disela-sela wisata kami ada lokasi yang membuat kami tertegun. Tepat di area tempat parkir yang disediakan petugas wisata, terdapat sebuah kawah yang luasnya kurang lebih seukuran 2 kali lapangan sepak bola. Kedalaman kawah tersebut menurut perkiraan kami sekitar 10 sampai 20 meter, perkiraan secara visual. Di sekeliling bibir kawah ditanami oleh pepohonan sehingga melingkari kawah. Kami agak heran karena kawah ini belum memiliki nama dan kalaupun ada, kami belum pernah mendengarnya, sebab biasanya di Indonesia, tempat-tempat yang unik selalu di beri nama julukan yang menyerupainya. Contohnya Watu Ulo di pantai Jember yang menyerupai bentuk ular yang memanjang dan bersisik. Beberapa hari kemudian kami teringat kembali tentang kawah itu dan dengan bantuan Google maps , kami mengamati bahwa bentuk kawah dan kontur tanah di sekelilingnya mirip kupu-kupu, dan kini kami memberi nama Kawah Kupu2.

LEAP: Menjelajahi Antariksa: Apa Warna Sesungguhnya Matahari?

Artikel Pemenang 1 Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Paramitha Retno Probowening (Bandung, Jawa Barat)

Semua manusia yang tinggal di Bumi ini pastinya mengenal Matahari. Matahari selalu hadir dalam keseharian dan terasa begitu dekat dengan kita, meskipun sebenarnya tidak bisa dikatakan dekat juga karena jarak rata-rata Matahari-Bumi yang mencapai 150 juta km. Meskipun Matahari merupakan benda langit yang dekat dengan keseharian makhluk yang tinggal di Bumi, apakah kita sudah mengenalnya dengan baik?