LEAP: Dari Antariksa Untuk Bumi Indonesia

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Fathan Muhammad Alif (Bogor, Jawa Barat)

Sampai saat ini, bumi diyakini sebagai satu-satunya planet dalam tata surya yang dapat dihuni oleh makhluk hidup. Planet bumi dapat dihuni oleh makhluk hidup karena memiliki faktor-faktor yang dapat menunjang kelangsungan kehidupan diatasnya. Seperti yang dapat kita indra, berjuta kehidupan makhluk hidup ditopang oleh bumi dari waktu ke waktu. Tapi sebenarnya dibandingkan dengan alam semesta, bumi kita ini hanyalah ibarat sebutir debu dalam ukuran alam semesta yang teramat sangat luas ini.

Bumi dan Alam Semesta

Alam semesta teramati. Kredit: Andrew Z. Colvin / Wikipedia
Alam semesta teramati. Kredit: Andrew Z. Colvin / Wikipedia

Bumi merupakan sebuah planet yang senantiasa mengitari bintang pusatnya, yaitu matahari. Selain bumi, masih banyak benda-benda langit lainnnya yang berputar dalam pengaruh matahari. Benda-benda tersebut antara lain planet selain bumi, satelit, komet, asteroid, dan meteor. Seluruh benda-benda langit dengan berpusat pada matahari tersebut membentuk suatu sistem yang dinamakan tata surya.

Jika kita lihat lebih jauh lagi, bahkan matahari hanyalah salah satu bintang yang ada dalam galaksi Bima Sakti. Sebuah galaksi tersusun atas gugusan bintang-bintang. Satu galaksi saja umumnya berisi 200 sampai 300 milyar bintang. Letak satu galaksi dengan galaksi lain sangat berjauhan. Biasanya untuk menuliskan jarak antar galaksi dinyatakan dalam satuan tahun cahaya.

Satu tahun cahaya adalah waktu yang dibutuhkan cahaya untuk bergerak dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik. Hal ini berarti satu tahun cahaya setara dengan 9,4 triliun kilometer. Matahari sendiri ada pada salah satu lengan Bima Sakti yang berjarak 27.000 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti.

Bima Sakti merupakan anggota Grup Galaksi Lokal yang terbentang 10 juta tahun cahaya. Selain Bima Sakti, grup Galaksi Lokal juga punya dua galaksi utama lain, yaitu Andromeda dan Triangulum. Grup ini juga berisikan puluhan satelit galaksi dan galaksi katai.

Bagian lebih besar dari Grup Galaksi Lokal adalah Gugus Galaksi Virgo yang beranggotakan 1.200-2.000 galaksi. Gugus Galaksi Virgo terbentang sejauh 15 juta tahun cahaya. Selanjutnya, Gugus Galaksi Virgo juga merupakan bagian dari Supergugus Galaksi Laniakea. Supergugus Galaksi Laniakea ini berhasil didefinisikan pada awal September 2014. Temuan itu membuat posisi Bumi di jagat raya semakin jelas. Meski demikian, supergugus galaksi yang diperkirakan memiliki 100.000 galaksi dan terbentang sejauh 520 juta tahun cahaya itu tetaplah hanya bagian kecil dari alam semesta. Apalagi bumi sebagai tempat kita tinggal.

Melihat begitu luasnya alam semesta, tentu wajar terlintas rasa penasaran untuk menjelajahi ruang angkasa yang seolah tanpa batas ini. Para peneliti berusaha untuk menemukan sebuah petunjuk keberadaan kehidupan lain selain Bumi, sehingga mereka berusaha untuk mencari Bumi lain atau planet laik huni selain bumi.

Pada bulan Februari 2011 Kepler mengumumkan penemuan 54 kandidat planet yang berada dalam zona laik huni. Kandidat-kandidat tersebut kemudian dipelajari lebih lanjut. Planet pertama dari ke-54 kandidat dikonfirmasi sebagai sebuah exoplanet atau planet yang mengorbit bintang lain selain Matahari. Pencarian dan penelitian mengenai hal ini tentu akan tetap dilanjutkan. Bukan hanya sekedar menginginkan pemenuhan rasa penasaran, tetapi yang lebih penting adalah untuk kepentingan kehidupan manusia itu sendiri.

Penjelajahan Antariksa

Ilustrasi penjelajahan ke Mars. Kredit: NASA/Pat Rawlings, SAIC
Ilustrasi penjelajahan ke Mars. Kredit: NASA/Pat Rawlings, SAIC

Setelah kita memahami posisi bumi terhadap alam semesta, tentu kita bisa sangat memahami bahwa dunia tak sesempit yang kita bayangkan. Karena sejatinya dunia itu luas. Dunia bukanlah wilayah bumi saja tetapi alam semesta yang ada di atas kepala kita belum sama sekali kita jelajahi secara menyeluruh.

Jika kita menganalogikan penjelajahan antariksa itu dapat seperti pencarian dunia baru pada awal para penjelajah melakukan perjalanan mengelilingi bumi, mengarungi samudera. Layaknya Christopher Colombus yang menjelajah dunia dan menemukan Amerika, kita seharusnya melebarkan sayap penjelajahan umat manusia ke jenjang yang lebih jauh yaitu alam semesta.

Tapi juga tentu harus diingat bahwa tata surya kita saja sudah cukup luas Bila dibandingkan dengan bumi yang berdiameter 12,742 km, jarak antara planet berada di kisaran 150,000,000 km. Mengelilingi bumi saja kita sudah kehabisan waktu, apalagi berkunjung ke planet seberang. Dimisalkan, perjalanan tercepat dari Jakarta menuju Surabaya adalah 1 jam dan berjarak hanya 768 km. Jika dihitung-hitung, perjalanan dari bumi ke planet terdekat Mars yang berjarak 54,6 juta kilometer membutuhkan waktu 70.000 jam atau sekitar 8 tahun lamanya. Ini baru planet sebelah, belum tata surya sebelah, apalagi galaksi sebelah. Ini menunjukkan bahwa alam semesta kita terlalu luas.

Fenomena ini menjadi tantangan bagi kita untuk menjelajahi keseluruhan alam semesta. Faktor utama penyebab hal ini terjadi adalah keterbatasan teknologi yang sudah kita temukan. Kecepatan dalam menjelajahi ruang dan waktu belum bisa mencapai ujung lain alam semesta. Kecepatan yang paling cepat adalah kecepatan cahaya yakni 299,792,458 meter/detik. Ini dikatakan kecepatan tercepat yang pernah ada. Namun ketika kita sudah melampaui kecepatan cahaya kita akan mengalami dilasi waktu yang mengakibatkan hanya kita sendiri yang bergerak dalam kecepatan cahaya yang dapat menikmati alam semesta.

Miguel Alcubierre, pernah mencetuskan teori “Warp Drive” pada tahun 1994. Teknologi ini memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan sepuluh kali lebih cepat dari kecepatan cahaya. Dan ide ini disambut oleh Prof. Harold White pada tahun 2010, seorang fisikawan NASA yang sedang mengerjakan proyek pesawat antar bintang yang dinamakan IXS Enterprise.

Permasalahannya adalah menciptakan pesawat antariksa dengan kecepatan tersebut mempunyai resiko besarnya kemungkinan hancur, akibat efek destruktif saat pesawat memampatkan ‘ruang’ di depannya untuk dapat melompat ke galaksi lain. Dr White dan para ahli fisika lainnya berhasil menemukan celah dalam persamaan matematika super rumit yang mengindikasikan jika membengkokkan ruang dan waktu (warping) itu bisa dilakukan.

Dengan teknik dan teori ini, NASA menyatakan bahwa suatu saat di amsa depan, aka nada sebuah mesin baru yang mampu membawa manusia pergi menjelajah ke bintang lain seperti Alpha Centauri, bintang tetangga matahari kita yang berjarak 4,3 tahun cahaya atau 40 triliun kilometer, dalam jangka waktu hanya 2 minggu saja.

Tetapi bahkan dengan kemungkinan ini, untuk saat ini kita masih belum dapat merealisasikan penjelajahan ruang angkasa. Hal ini dikarenakan teknologi saat ini, belum mampu merealisasikan banyak PR yang tersisa seperti pemampatan bahan bakar, dan mengatasi dilasi waktu yang terjadi.

Teknologi Satelit dan Pengembangan Satelit Nusantara

Peluncuran roket PSLV-C34 yang membawa 20 mikrosat dari berbagai negara, diantaranya mikrosat LAPAN-A3/LAPAN-IPB dari India. Kredit: Indian Space Research Organization
Peluncuran roket PSLV-C34 yang membawa 20 mikrosat dari berbagai negara, diantaranya mikrosat LAPAN-A3/LAPAN-IPB dari India. Kredit: Indian Space Research Organization

Masih belum mungkinnya manusia menjelajah alam semesta saat ini, bukan berarti penelitian dan usaha menuju kesana berhenti sampai disini. Hal yang perlu diingat adalah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa dikembangkan semata untuk peningkatan kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Termasuk bagaimana menjamin kelangsungan kehidupan manusia di bumi saat ini. Oleh karena itu, seharusnya saat ini kita tidak juga melupakan bagaimana teknologi antariksa dapat dimanfaatkan untuk kemashlahatan kehidupan manusia di bumi.

Salah satu teknologi yang dapat dikembangkan terkait luar angkasa adalah teknologi satelit. Saat ini, perkembangan teknologi satelit buatan dan roket untuk menjelajah luar angkasa sudah banyak dilakukan. Satelit buatan ialah salah satu benda luar angkasa buatan manusia yang mengorbit sebuah planet yang dalam pembuatannya mempunyai jenis dan fungsi tertentu dengan suatu tujuan untuk kepentingan manusia.

Satelit sebagai benda luar angkasa, mempunyai banyak fungsi, diantaranya yaitu:

  • Satelit navigasi, yang mempunyai fungsi untuk dunia penerbangan dan pelayaran. Satelit navigasi ini bisa memberikan sebuah informasi tentang posisi pesawat terbang dan kapal yang berada dalam perjalanan.
  • Satelit geodesi, yang mempunyai fungsi untuk melakukan sebuah pemetaan bumi serta untuk mendapatkan berbagai sebuah informasi tentang gravitasi.
  • Satelit komunikasi, yang mempunyai fungsi dalam dunia komunikasi, misalnya seperti televisi, telepon, dan sebagainya.
  • Satelit meteorologi, yang mempunyai fungsi dalam menyelidiki suatu atmosfer bumi untuk melakukan dalam peramalan cuaca.
  • Satelit penelitian, yang mempunyai fungsi dalam menyelidiki tata surya serta alam semesta yang secara lebih luas dan bebas tanpa adanya pengaruh oleh atmosfer. Satelit penelitian ini berusaha untuk mendapatkan berbagai sebuah data-data yang mengenai matahari dan juga bintang-bintang lainnya guna untuk mengetahui rahasia alam semesta.
  • Satelit militer, yang mempunyai fungsi dalam dunia militer negara, misalnya dalam mengintai suatu kekuatan dari senjata musuh.
  • Satelit survei sumber daya alam, yakni satelit yang berfungsi dalam memetakan serta untuk menyelidiki berbagai sumber-sumber alam yang terdapat di bumi untuk sebuah kepentingan suatu pertambangan, perikanan, pertanian, dan sebagainya.

Penjelajahan seluruh alam semesta dengan teknologi yang ada sekarang bisa dikatakan tidak efektif. Maka dari itu, dengan teknologi luar angkasa yang tersedia, seharusnya kita tetap dapat mengembangkan dan mengoptimalkannya untuk masyarakat. Termasuk juga di Indonesia.

Mikrosat LAPAN seri A. Kredit: LAPAN

Pemanfaatan teknologi yang melibatkan benda langit untuk kehidupan adalah melalui teknologi satelit buatan. Saat ini Indonesia telah mampu membuat satelit buatan sendiri. Beberapa satelit buatan Indonesia, yaitu:

  • Satelit Lapan-A1/Lapan-Tubsat
    Satelit ini mengorbit pada tanggal 10 Januari 2007 di India. Satelit ini merupakan satelit pertama buatan Indonesia dan diperkirakan berumur 10 tahun. Pembuatan satelit ini melibatkan 18 engineering Indonesia di Berlin, Jerman dan dibimbing tim dari Technical University of Berlin (TU-Berlin). Satelit Lapan-A1/Lapan-Tubsat dapat dikendalikan dari bawah. Fungsi dari satelit ini adalah sebaagi satelit pengamat bumi (earth observation), penguasaan teknologi, dan pengawasan (surveillance). Sampai saat ini rekaman kinerja yang sudah dilakukan satelit buatan ini adalah memantau pembangunan jembatan Suramadu, memantau perkembangan gunung Merapi, gunung Bromo, dan gunung Cisadane. Memotret kota-kota besar dan bandara-bandara dari angkasa.
  • Satelit Lapan-A2/Lapan-Orari
    Satelit ini diluncurkan pada September 2015 lalu. Dengan diluncurkannya satelit buatan ini, untuk pertama kalinya Indonesia meluncurkan satelit ‘mini’ ke luar angkasa setelah 70 tahun Indonesia merdeka. Satelit ini dibuat oleh teknisi Indonesia dan bekerjasama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). LAPAN-A2 ini murni buatan Indonesia yang dilakukan oleh para engineer LAPAN yang dikerjakan selama kurang lebih lima tahun. Sejak tahun lalu, Indonesia baru benar-benar mewujudkan mimpinya membangun luar angkasa. Satelit lokal ini dilengkapi sejumlah teknologi mutakhir, diantaranya mampu mengobservasi permukaan bumi menggunakan kamera video, kamera digital, serta peralatan sistem identifikasi otomatis (AIS) untuk pemantauan kemaritiman. Misi dari peluncuran satelit ini adalah untuk mendukung penanggulangan bencana, kamera digital yang terpasang bisa diarahkan memotret bulan dan lingkungan antariksa, pemantauan lalu lintas pelayaran dan navigasi kapal melalui data AIS (Automatic Identification System), pengamatan (surveillance) bumi dengan kamera video PAL cakupan 80 km. Tapi sampai saat ini, hasil pengindraan satelit LAPAN A2 itu belum bisa digunakan secara penuh. akanya, saat ini LAPAN tengah membuat satelit LAPAN A3 yang akan diluncurkan pertengahan tahun ini ke angkasa.
  • Satelit Lapan-A3/Lapan-IPB
    Satelit LAPAN A3 rencananya akan diluncurkan pertengahan tahun 2016 ini ke angkasa. Misi dari satelit ini adalah perbaikan kualitas mitigasi bencana dari satelit Lapan-A2, memberikan data satelit resolusi menengah 17 meter multispectral 3 band pada daerah yang terkena bencana, menjadi alat komunikasi orari yang lebih luas, dan menggantikan potensi kerusakan telekomunikasi seluler karena terjangan bencana.

Dari Antariksa untuk Bumi Indonesia

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang untuk mempermudah kehidupan manusia. Pemanfaatan teknologi termasuk penjelajahan antariksa seharusnya dapat dikembangkan demi peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk di Indonesia.

Indonesia memiliki tantangan yang cukup besar dalam menyikapi keadaan geografis wilayahnya. Indonesia berada di wilayah yang rawan terhadap berbagai kejadian bahaya alam, yaitu bencana geologi seperti gempa, gunung api, dan longsor, serta bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan,pasang surut, dan gelombang besar. Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau dan garis pantai yang panjang. Sebagai negara maritim sudah selayaknya memperhatikan infrastruktur aktifitas pelayaran. Salah satu informasi yang diperlukan adalah informasi kedalaman laut untuk keselamatan pelayaran.

Kondisi Indonesia seperti ini tentu dalam pemeliharaan pengurusan kehidupannya menjadi tugas yang berat dan membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Oleh karena itu perlu adanya teknologi terkini yang dapat membantu Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahannya. Dan salah satu teknologi yang dapat membantu adalah teknologi satelit.

Kita dapat memanfaatkan satelit buatan untuk memantau wilayah Indonesia. Dengan adanya pemantauan dari antariksa ke wilayah Indonesia, kita dapat mengetahui banyak hal seperti masalah cuaca, sumber daya alam, perbatasan negara kita, dan lain-lain. Data dari pemantauan ini dengan cepat dikirim ke penerima data dan dapat diolah secara langsung.

Data-data ini dikirim ke pihak-pihak yang terkait seperti siaran prediksi cuaca, tim anti-bencana, serta pemerintahan daerah untuk mengetahui bencana-bencana yang datang. Prediksi cuaca dapat menginfokan kepada masyrakat terkait cuaca yang akan datang sehingga warga dapat bersiap menghadapinya.

Pemantauan Sumber Daya Alam dapat dipantau dari antariksa untuk mengetahui seberapa banyak yang kita olah setiap harinya. Bahkan juga kita dapat menemukan sumber daya alam baru melalui pemantauan antariksa. Data dari antariksa ini juga dapat disalurkan ke tim anti bencana seperti tim sar untuk mengetahui dimanakah akan terjadinya berncana sehingga mereka siap untuk menanggulanginya dan mengurangi dampak dari bencana tersebut. Dengan ini kita dapat memprediksi fenomena alam yang akan terjadi sehingga mengurangi dampak kerugian dan korban jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa pemantauan dari antariksa sangat efektif dan membantu masyarakat.

Berdasarkan hal ini, jelaslah bahwa melihat antariksa yang luas, tidak juga sesempit mengekplorasi ruang tanpa batas sekedar memenuhi rasa keingintahuan kita. Tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah seharusnya kita mampu untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi antariksa yang ada untuk kebaikan masyarakat. Persoalan penjelajahan antariksa tidak sekedar dapat menginjakan kaki di planet asing. Tapi bagaimana secara nyata penggunakannya untuk peningkatan kualitas hidup manusia. Memanfaatkan penjelajahan antariksa, untuk Indonesia.

[divider_line]

Daftar Pustaka

http://www.infoastronomy.org/2016/07/teknologi-warp-dan-masa-depan-penjelajahan-antariksa.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/09/alamat-bumi-di-alam-semesta-kian-jelas
http://langitselatan.com/2011/12/07/kepler-22b-satu-langkah-menuju-bumi-lain/
http://www.gurupendidikan.com/pengertian-fungsi-dan-macam-macam-satelit-beserta-contohnya-terlengkap/
http://www.suara.com/wawancara/2016/02/29/070000/t-djamaluddin-indonesia-mulai-bangun-luar-angkasa
http://blendedlearning.itb.ac.id/web5/index.php/forum/detail/9652
http://www.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2015/1778/Mengintip-Kecanggihan-LAPAN-A2-Satelit-Buatan-RI-Satelit-dilengkapi-sistem-komunikasi-mitigasi-bencana-dan-maritim/1424
http://www.pusfatja.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2016/1034/PUSHIDROSAL-TNI-AL-MULAI-MELIRIK-TEKNOLOGI-SATELIT-LAPAN-UNTUK-MEMETAKAN-KEDALAMAN-LAUT/berita

Ditulis oleh

Avatar

Fathan Muhammad Alif

SMAIT Insantama Bogor

LEAP

LEAP

Lomba Esai Astronomi Populer (LEAP) yang diselenggarakan oleh langitselatan. 10 Terbaik akan kami tampilkan tulisannya di langitselatan dengan akun LEAP.