Fenomena Langit Bulan April 2021

Jangan lewatkan hujan meteor Lyrid di bulan April. Nikmati juga kehadiran Jupiter dan Saturnus sebelum fajar dan okultasi Mars oleh Bulan. 

Okultasi Mars oleh Bulan 17 April 2021. Kredit: Stellarium

Planet

Merkurius & Venus. Duo planet dalam ini tidak akan tampak di sepanjang April. Keduanya tenggelam dalam terangnya Matahari karena terbit dan terbenam hampir berbarengan dengan Matahari. 

Jupiter, Saturnus. Selama bulan April, kedua planet raksasa ini tampak makin tinggi di timur dan bisa diamati setelah lewat tengah malam sampai fajar meyingsing. Di awal April kedua planet ini akan membentuk segitiga dengan Bulan. Jupiter dan Saturnus bisa ditemukan di rasi Capricornus. Namun di penghujung April, Jupiter sudah turun ke rasi Aquarius. 

Mars. Si planet merah masih bisa diamati saat Matahari terbenam sampai kisaran pukul 21:00 WIB di sepanjang bulan April. Pertengahan April, Mars yang berada di rasi Taurus diokultasi oleh Bulan, atau tepatnya menghilang di balik Bulan sebelum kemudian muncul lagi. Peristiwa ini hanya bisa diamati dari beberapa lokasi. Sementara untuk lokasi yang tidak kebagian, Bulan dan Mars tampak berpasangan dekat. 

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. Uranus bisa diamati di rasi Aries sementara Neptunus di rasi Aquarius. 

Uranus masih bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai kisaran pukul 19:00 waktu lokal. Planet ini terus turun mengejar Matahari di ufuk barat dan akhirnya di penghujung April, planet Uranus tak lagi tampak. 

Neptunus justru sudah bergeser ke pagi hari dan bisa diamati sebelum Matahari terbit. Pada awal April Neptunus masih cukup rendah di ufuk timur namun terus menanjak naik di ufuk timur. 

Bulan

Fase Bulan untuk April 2021. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan

4 April. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

12 April. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

15 April.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 406.119 km

20 April. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

27 April. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

Bulan Purnama ini merupakan Bulan Purnama perigee atau dikenal sebagai supermoon atau Bulan super karena berbarengan dengan Bulan di titik terdekat dari Bumi. 

27 April. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 357.378 km.

Hujan Meteor

22–23 April – Hujan Meteor Lyrid

Hujan meteor Lyrid tangal 22 April tengah malam 00:00 WIB. Kredit: Stellarium
Hujan meteor Lyrid tangal 22 April tengah malam 00:00 WIB. Kredit: Stellarium

Hujan meteor yang berasal dari debu ekor komet Thatcher C/1861 G1 akan mencapai puncak tanggal 22 April. Setiap tahun, hujan meteor Lyrid berlangsung dari 14 sampai 30 April dan bisa diamati setelah rasi Lyra yang jadi arah datangnya, terbit pukul 22:07 WIB.

Saat Lyrid mencapai intensitas maksimum, pengamat hanya bisa melihat 18 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 48,8 km/detik.

Bulan yang baru melewati fase perbani awal masih terang dan baru terbenam lewat tengah malam. Waktu terbaik untuk pengamatan mulai pukul 02:00 WIB saat Bulan terbenam. 

23 April –  Hujan Meteor Pi Puppid

Hujan meteor Pi Puppid tanggal 23 April pukul 20:00 WIB. Kredit: Stellarium
Hujan meteor Pi Puppid tanggal 23 April pukul 20:00 WIB. Kredit: Stellarium

Hujan meteor Pi Puppid yang akan mencapai puncaknya pada tanggal 23 April. Saat Matahari terbenam, rasi Puppis yang jadi arah datang hujan meteor Puppid sudah melewati zenit. Hujan meteor dengan kecepatan 18 km/detik ini bisa diamati mulai 15 – 28 April dan diperkirakan saat maksimum bisa mencapai 18 – 40 meteor per jam. Hujan meteor dari sisa komet 26P/Grigg-Skjellerup ini bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Rasi Puppis terbenam. 

Bulan cembung yang terbenam lewat tengah malam jadi sumber polusi cahaya utama untuk berburu Pi Puppid. 

Peristiwa

6 April — Bulan — Saturnus

Konjungsi Bulan dan Saturnus pada tanggal 6 April 2021 pada pukul 03:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan dan Saturnus tampak berpapasan di langit fajar dan terpisah 3,9º di ufuk timur. Bulan terbit lebih dahulu pada pukul 01:05 WIB disusul Saturnus pada pukul 01:40 WIB. Keduanya akan mencapai ketinggian 55º saat fajar menyingsing pukul 05:43 WIB.

7 April — Bulan — Jupiter — Saturnus

Segitiga Bulan, Saturnus, dan Jupiter pada tanggal 7 April 2021 pukul 03:30 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan, Jupiter dan Saturnus tampak seperti segitiga di ufuk timur dengan jarak Bulan dan Jupiter 4,4º. Saturnus terbit lebih dahulu pukul 01:36 WIB disusul Bulan pada pukul 02:00 WIB dan Jupiter pukul 02:28 WIB. Bulan dan Jupiter akan mencapai ketinggian 45º saat fajar menyingsing pukul 05:37 WIB. Sementara Saturnus pada ketinggian 59º.

17 April — Bulan — Mars

Pasangan Bulan dan Mars setelah Matahari terbenam pada pukul 19:00 WIB

Bulan sabit tipis usia 5 hari berpapasan dengan Mars di rasi Taurus dan bisa diamati setelah Matahari terbenam dan keduanya berada pada ketinggian 44º saat Matahari terbenam di ufuk barat. Kedua objek ini berpapasan sangat dekat, hanya terpisah 0,1º dan bisa diamati sampai pukul 21:36 saat mars terbenam dan disusul Bulan 6 menit kemudian. 

17 April — Okultasi Mars oleh Bulan

Peta kenampakan okultasi Mars oleh Bulan. Kredit: Dominic Ford/In The Sky

Bagi pengamat di wilayah barat Indonesia, konjungsi Bulan dan Mars justru berakhir dengan peristiwa menghilangnya Mars di balik Bulan. Mars akan menghilang di balik permukaan Bulan yang gelap dan muncul dari sisi yang bercahaya. Untuk wilayah Indonesia tengah dan timur, Bulan dan Mars sudah terbenam sebelum proses okultasi dimulai. 

LOKASIKONTAK 1KONTAK 2
Banda Aceh20:08 WIB21:30 WIB
Medan20:15 WIB21:33 WIB
Padang20:21 WIB21:32 WIB
Pekanbaru20:20 WIB21:34 WIB
Jambi20:25 WIB21:34 WIB
Palembang20:27 WIB21:34 WIB
Bengkulu20:27 WIB21:30 WIB
Bandar Lampung20:30 WIB21:30 WIB
Pangkal Pinang20:27 WIB21:35 WIB
Tanjung Pinang20:23 WIB21:36 WIB
Serang20:31 WIB21:30 WIB
Jakarta20:31 WIB21:30 WIB
Bandung20:32 WIB21:30 WIB
Yogyakarta20:34 WIB21:26 WIB
Semarang20:32 WIB21:26 WIB
Surabaya20:32 WIB21:16 WIB
Pontianak20:26 WIB21:37 WIB
Palangkaraya20:28 WIB21:22 WIB
Denpasar21:34 WITA22:04 WITA
Waktu saat Bulan menutupi Mars.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Pertengahan April menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati mulai tengah malam membentang dari Tenggara ke Barat Laut.  

Setelah Matahari terbenam, ada Aldebaran di rasi Taurus, Capella di rasi Auriga, Rigel dan Betelegeuse di rasi Orion, Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Procyon di rasi Canis Minor, Pollux dan Castor di Gemini yang bisa diamati sampai jelang tengah malam. Selain itu, ada Regulus di rasi Leo, Spica di Virgo, Crux, Rigel Kentaurus di Centaurus,  Arcturus di rasi Bootes, Antares di Scorpius, Vega di rasi Lyra, dan Altair di rasi Aquila, yang bisa diamati sampai jelang fajar.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan. 

Peta Bintang 1 April 2021

Peta Bintang 15 Maret 2021

Kampanye Langit Gelap

3 — 12 April — Kampanye Globe At Night

Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 3 – 12 April.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye bulan April, para pengamat di belahan utara diajak mengamati rasi Leo, sementara pengamat di belahan selatan mengamati rasi Crux atau Salib Selatan. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...