fbpx
langitselatan
Beranda » Fenomena Langit Bulan April 2024

Fenomena Langit Bulan April 2024

Jangan lewatkan papasan dekat Mars dan Saturnus, hujan meteor Lyrid serta peristiwa menghilangnya Antares di balik Bulan. 

Bulan saat akan mengokultasi Antares pada tanggal 27 April 2024 pukul 04:04 WIB. Kredit: Stellarium
Bulan saat akan mengokultasi Antares pada tanggal 27 April 2024 pukul 04:04 WIB. Kredit: Stellarium

Planet

Merkurius. Planet terkecil dan terdekat dari Matahari ini bisa diamati di ufuk barat setelah Matahari terbenam di awal April. Setelah itu, Merkurius akan menghilang di balik cahaya Matahari dan bergeser dari barat ke timur. Jelang akhir April, Merkurius sudah bisa diamati di ufuk timur sebelum Matahari terbit. Selama April, Merkurius bisa diamati di rasi Pisces.

Venus. Si bintang Kejora hanya tampak di minggu pertama April sebelum kemudian menghilang di balik cahaya Matahari dan tidak tampak bagi pengamat di Bumi. 

Mars & Saturnus. Kedua planet ini bisa diamati sebelum fajar di sepanjang bulan April dan bisa diamati di rasi Aquarius meski di akhir April, planet Mars sudah bergeser ke rasi Pisces. Di awal April, kedua planet ini berpapasan dengan Bulan dan pada pertengahan April, Saturnus yang terus menanjak naik di langit akhirnya berpapasan dekat dengan Mars. 

Jupiter. Planet gas raksasa terbesar di Tata Surya ini bisa diamati di rasi Aries setelah Matahari terbenam. Jupiter akan jadi satu-satunya planet di kala senja sepeninggal Merkurius yang menghilang di balik cahaya Matahari. Di akhir April, Jupiter yang terus turun di langit sudah bergeser ke rasi Taurus.

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut.

Uranus bisa diamati di rasi Aries sejak Matahari terbenam sampai saat planet ini terbenam beriringan dengan Jupiter. Sementara itu, Neptunus yang berada di rasi Pisces tidak bisa diamati di awal April. Namun mulai pertengahan April, planet es ini bisa diamati sebelum Matahari terbit.

Bulan

Fase Bulan April 2024. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan
Fase Bulan April 2024. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

2 April. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

8 April. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 358.850 km.

9 April. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

Pada saat Bulan Baru ini pengamat di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada, bisa menyaksikan Gerhana Matahari Total. 

16 April. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

20 April.  Bulan di titik apogee. Bulan di titik terjauh dari Bumi dengan jarak 405.623  km

24 April. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

Gerhana

8-9 April – Gerhana Matahari Total

Jalur Gerhana Matahari Total yang melintasi Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Kredit: EclipseWise.com
Jalur Gerhana Matahari Total yang melintasi Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada. Kredit: EclipseWise.com

Dua minggu setelah gerhana Bulan, para pengamat di Amerika Tengah dan Amerika Utara berkesempatan menyaksikan Gerhana Matahari Total.  Pengamat di Indonesia tidak akan bisa menyaksikan peristiwa ini.

Lintasan totalitas gerhana dimulai dari Samudera Pasifik dan mengarah ke Meksiko, Amerika, dan Kanada. Sementara itu, para pengamat yang berada di Lautan Pasifik, bagian utara Amerika Selatan, Amerika Utara, Lautan Atlantik, Arktik, dan sebagian kecil bagian barat Eropa, bisa menyaksikan gerhana Matahari sebagian. 

Lokasi pertama yang menyaksikan gerhana sebagian dimulai pada pukul 22:42 WIB dan lokasi terakhir yang menyaksikan berakhirnya gerhana sebagian pada pukul 03:52 WIB. Gerhana total mulai teramati pada pukul 23:38 WIB dan berakhir pukul 02:55 WIB. 

Baca juga:  Planet Yang Kehilangan Lautan

Puncak Gerhana Matahari Total terjadi pada pukul 01:17 WIB selama 4 menit 28 detik di Meksiko dengan lebar wilayah totalitas 197,5 km. Pada saat Gerhana Matahari Total, pengamat bisa menemukan kehadiran Venus, Jupiter, dan Komet Pons-Brooks. 

Komet

21 April — Komet 12P/Pons-Brooks

Komet Pons Brooks di ufuk barat pada tanggal 21 April 2024 pukul 18:30 WIB setelah Matahari terbenam. Kredit: Stellarium
Komet Pons-Brooks di ufuk barat pada tanggal 21 April 2024 pukul 18:30 WIB setelah Matahari terbenam. Kredit: Stellarium

Komet 12P/Pons-Brooks akan mencapai perihelion atau titik terdekatnya dengan Matahari pada tanggal 21 April 2024.

Pons-Brooks merupakan komet periodik tipe Komet Halley yang periodenya 71,3 tahun. Komet yang terakhir kali mengunjungi Matahari pada tahun 1953 ini pertama kali ditemukan oleh Jean-Louis Pons dari Observatorium Marseilles pada tanggal 12 Juli 1812 dan kemudian ditemukan kembali oleh William Robert Brooks pada tahun 1883. 

Komet Pons-Brooks yang dijuluki Devil Comet atau Komet Setan ini sedang dalam perjalanan menuju perihelion dan akan semakin terang di langit senja setelah Matahari terbenam. Saat di perihelion, komet Pons-Brooks akan berada pada jarak 0,78 sa atau 117 juta km dari Matahari. Sedangkan pada jarak terjauhnya, komet ini akan berada 17,2 sa atau 2,5 miliar km dari Matahari. Para astronom menduga kalau debu Komet 12P/Pons Brooks merupakan sumber dari hujan meteor kappa Draconid. 

Selama bulan April saat komet P12/Pons-Brooks bisa diamati setelah Matahari terbenam seiring pergerakannya mendekati Matahari. Dari awal April sampai saat mencapai titik perihelion, kecerlangannya juga diperkirakan semakin terang dari 5,5 magnitudo ke kisaran 4,7 magnitudo.

Selama bulan April, komet Pons-Brooks ini terbenam sekitar satu jam setelah Matahari terbenam. Pada tanggal 21 April, Komet Pons-Brooks terbenam pada pukul 19:15 WIB dengan jarak 22,7º dari Matahari. Untuk menemukan komet 12/Pons-Brooks, pengamat bisa mencarinya di ufuk barat setelah Matahari terbenam karena komet ini hanya terpisah ~25º dari Matahari. Meskipun tampaknya cukup tinggi, pengamat akan menghadapi tantangan lain saat berburu Pons Brooks. 

Matahari yang baru terbenam masih menyisakan cahaya senja yang terang dan menutupi komet yang jauh lebih redup. Ketika pendar cahaya senja sudah hilang, komet Pons-Brooks sudah berada sangat rendah di ufuk barat sehingga tidak mudah untuk diamati. 

Hujan Meteor

21 – 22 April – Hujan Meteor Lyrid

Hujan Meteor Lyrid pada tanggal 22 April pukul 01:00 WIB. Kredit: Stellarium
Hujan Meteor Lyrid pada tanggal 22 April pukul 01:00 WIB. Kredit: Stellarium

Hujan meteor yang berasal dari debu ekor komet Thatcher C/1861 G1 akan mencapai puncak tanggal 22 April.  Setiap tahun, hujan meteor Lyrid berlangsung dari 14-30 April dan bisa diamati setelah rasi Lyra yang jadi arah datangnya, terbit pukul 22:08 WIB. Bulan cembung besar tampak sepanjang malam dan cahaya dari Bulan bisa jadi tantangan tersendiri dalam berburu meteor. 

Untuk pengamat yang ingin berburu meteor, waktu terbaik untuk pengamatan mulai tengah malam ketika arah datang Lyrid sudah cukup tinggi sekitar 30º di atas horison.

Saat Lyrid mencapai intensitas maksimum, pengamat hanya bisa melihat 18 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 49 km/detik.

Peristiwa

6 April — Bulan — Mars — Saturnus

Segitiga Bulan, Mars, dan Saturnus, yang tampak pada 6 April 2024 pukul 05:00 WIB. Kredit: Stellarium
Segitiga Bulan, Mars, dan Saturnus, yang tampak pada 6 April 2024 pukul 05:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan berpapasan dengan Mars dan Saturnus dan membentuk segitiga di ufuk timur jelang dini hari. Bulan dan Mars terpisah 3,7º, Bulan dan Saturnus terpisah 6,5º sementara Mars dan Saturnus hanya terpisah 3º.  Bulan terbit lebih dahulu pada pukul 03:20 WIB disusul Mars pada pukul 03:36 WIB dan Saturnus pada pukul 03:50 WIB. Ketiganya bisa diamati sampai saat Matahari terbit pada pukul 05:52 WIB. 

11 April — Mars — Saturnus

Pasangan Mars dan Saturnus pada tanggal 11 April 2024 pukul 05:00 WIB. Kredit: Stellarium
Pasangan Mars dan Saturnus pada tanggal 11 April 2024 pukul 05:00 WIB. Kredit: Stellarium

Mars si planet merah bertemu dengan Saturnus di ufuk timur sebelum Matahari terbit. Keduanya hanya terpisah 26’ dan bisa diamati di rasi Aquarius. Mars dan Saturnus terbit beriringan pada pukul 03:32 WIB dan   mencapai ketinggian 26º saat Matahari terbit. 

Baca juga:  “Mengayak” Debu Tata Surya, Menemukan Cincin Debu Orbit Planet!

11 April — Bulan — Pleiades 

Pasangan Bulan dan gugus bintang terbuka Pleiades pada tanggal 11 April pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan gugus bintang terbuka Pleiades pada tanggal 11 April pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan berpapasan dekat dengan gugus bintang Pleiades dan hanya terpisah 1,5º. Bulan dan Pleiades bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai saat keduanya terbenam beriringan. Bulan terbenam pukul 20:04  WIB disusul Pleiades pada pukul 20:07 WIB. 

27 April — Okultasi Antares oleh Bulan

Pasangan Bulan dan Antares tanggal 27 April 2024 pukul 03:00 sebelum bintang terang di rasi Scorpius itu menghilang diokultasi oleh Bulan. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan Antares tanggal 27 April 2024 pukul 03:00 sebelum bintang terang di rasi Scorpius itu menghilang diokultasi oleh Bulan. Kredit: Stellarium

Bulan akan tampak melintas di depan Antares, bintang terang di rasi Scorpius, dan menutupi bintang ini selama 4 jam 19 menit mulai pukul 01:36 WIB sampai pukul 05:55 WIB. Singkatnya Antares akan menghilang di balik Bulan dan kemudian muncul lagi seiring pergerakan Bulan yang melintasi Antares. Pengamat di Indonesia bisa menyaksikan peristiwa ini mulai pukul 03:39 WIB — 05:48 WIB.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Pertengahan April menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan berada pada fase Bulan Baru.

Setelah Matahari terbenam ada bintang terang Capella di rasi Auriga, Aldebaran di rasi Taurus, Rigel dan Betelgeue di rasi Orion, Sirius di rasi Canis Major, Procyon di rasi Canis Minor, Canopus di rasi Carina, Pollux dan Castor di Gemini, yang bisa diamati sampai tengah malam.

Selain itu ada Regulus di rasi Leo, Spica di rasi Virgo, rasi Crux, Rigil Kentaurus dan Hadar di rasi Centaurus, rasi Crux, Spica di rasi Virgo, dan Arcturus di Bootes, Antares di rasi Scorpius, Vega di rasi Lyra, Altair di rasi Aquilla, yang bisa diamati sampai jelang fajar. Dan dini hari ada ada Deneb yang bisa diamati sampai saat fajar.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan. 

Peta Bintang 1 April 2024

Peta Bintang 15 April 2024

Kampanye Langit Gelap

1-9 April & 28-30 April — Kampanye Globe At Night

Di bulan April, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 1 – 9 April dan 28 – 30 April.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye ini, pengamat di utara diajak untuk mengamati rasi Leo. Sementara itu, pengamat di belahan selatan diajak untuk mengamati rasi Crux. Pengamatan dilakukan mulai pukul 20:00 – 22:00 waktu lokal.

Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini