Pada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih mudah (secara matematika) & lebih elegan (secara filosofis) bahwa Matahari berada di pusat, sementara Bumi & planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Semua punya penjelasan yang memuaskan, secara teori untuk mengatakan hal itu.
Sampai sekarang, pelajaran SMU fisika pun memberikan penjelasan yang jelas & memuaskan, bahwa memang demikian ada-nya. Massa matahari yang jauh lebih besar daripada planet-planet membuat planet-planet harus tunduk pada ikatan gravitasi Matahari, sehingga planet-planet tersebut bergerak mengitari Matahari sebagai pusat. Demikian dari hukum Gravitasi Newton.
Perumusan matematika-nya secara gamblang dan jelas dijelaskan oleh perumusan Kepler, hanya karena Matahari yang menjadi pusat sistem.
Kalau memang begitu ada-nya dan tidak percaya, bagaimana membuktikannya? Gampang, terbang saja jauh-jauh dari sistem tata surya ke arah kutub, dan lihatlah bagaimana Bumi beserta planet-planet bergerak mengitari Matahari. Tentu saja ini adalah pernyataan yang bersikap humor. Tapi ini memang menjadi pertanyaan penting, bagaimana membuktikannya?
Bapak-bapak yang telah disebutkan tadi, tentu saja mempunyai pendapat yang berlaku sebagai hipotesa, dan harus bisa dibuktikan melalui pembuktian yang teramati/eksperimentasi. Apabila eksperimen berkesesuaian dengan hipotesa, maka hipotesa diterima dan itu menjadi teori. Bukankah demikian?
Baik, sekarang bagaimana membuktikannya? Satu-satu-nya cara membuktikan fenomena langit adalah melalui ilmu astronomi, yaitu ketika pengamatan dilakukan pada benda-benda langit lalu memberikan penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenar-nya terjadi disana.
Tentu tidaklah mudah memberikan bukti yang langsung bisa menjelaskan secara cespleng bahwa Bumi berputar mengitari Matahari, bukankah lebih mudah mengatakan kebalikannya? Tapi seperti yang telah disampaikan, itu akan menjadi tidak baik, tidak mudah dan tidak elegan untuk menyatakan demikian. Ternyata dari pengamatan astronomi menunjukkan bahwa memang Bumi yang mengitari Matahari. Tidak percaya?
Bukti pertama, adalah yang ditemukan oleh James Bradley (1725). Pak Bradley menemukan adanya aberasi bintang.
Apa itu aberasi bintang? Bayangkan kita sedang berdiri ditengah-tengah hujan, dan air hujan jatuh tepat vertikal/tegak lurus kepala kita. Kalau kita menggunakan payung, maka muka & belakang kepala kita tidak akan terciprat air bukan? Kemudian kita mulai berjalan ke depan, perlahan-lahan & semakin cepat berjalan, maka seolah-olah air hujan yang tadi jatuh tadi, malah membelok dan menciprati muka kita. Untuk menghindari-nya maka kita cenderung mencondongkan payung ke muka. Sebetulnya air hujan itu tetap jatuh tegak lurus, tetapi karena kita bergerak relatif ke depan, maka efek yang terjadi adalah seolah-olah membelok dan menciprat ke muka kita.
Demikian juga dengan fenomena aberasi bintang, sebetulnya posisi bintang selalu tetap pada suatu titik di langit, tetapi dari pengamatan astronomi, ditemukan bahwa posisi bintang mengalami pergeseran dari titik awalnya, pergeseran-nya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bawha memang sebenar-nya lah bumi yang bergerak.
Mari kita tinjau Gb.1.

Aberasi terjadi jika pengamat adalah orang yang berdiri ditengah hujan, dan arah cahaya bintang adalah arah jatuhnya air hujan. Kemudian pengamat bergerak tegak ke muka, tegak lurus arah jatuhnya hujan. S menyatakan posisi bintang, E posisi pengamat di Bumi. Arah sebenarnya bintang relatif terhadap pengamat adalah ES, jaraknya tergantung pada laju cahaya. Kemudian Bumi BERGERAK pada arah EE’ dengan arah garis merepresentasikan lajunya. Ternyata pengamatan menunjukkan bahwa bintang berada pada garis ES’ alih-alih ES, dengan SS’ paralel & sama dengan EE’. Maka posisi tampak binang bergeser dari posisi sebenarnya dengan sudut yang dibentuk antara SES’.Jika memang Bumi tidak bergerak, maka untuk setiap waktu, sudut SES’ adalah 0, tetapi ternyata sudut SES’ tidak nol. Ini adalah bukti yang pertama yang menyatakan bahwa memang Bumi bergerak.
Bukti kedua adalah paralaks bintang. Bukti ini diukur pertama kali oleh Bessel (1838). Paralaks bisa terjadi jika posisi suatu bintang yang jauh, seolah-olah tampak ‘bergerak’ terhadap suatu bintang yang lebih dekat. (Gb.2). Fenomena ini hanya bisa terjadi, karena adanya perubahan posisi dari Bintang akibat pergerakan Bumi terhadap Matahari. Perubahan posisi ini membentuk sudut p, jika kita ambil posisi ujung-ujung saat Bumi mengitari Matahari. Sudut paralaks dinyatakan dengan (p), merupakan setengah pergeseran paralaktik bilamana bintang diamati dari dua posisi paling ekstrim.

Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Ini hanya bisa dijelaskan jika Bumi mengitari Matahari, dan bukan kebalikannya.Bukti ketiga adalah adanya efek Doppler.
Sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Newton, bahwa ternyata cahaya bisa dipecah menjadi komponen mejikuhibiniu, maka pengetahuan tentang cahaya bintang menjadi sumber informasi yang sahih tentang bagaimana sidik jari bintang (baca tulisan saya tentang ‘fingerprint of the star’) . Ternyata pengamatan-pengamatan astronomi menunjukkan bahwa banyak perilaku bintang menunjukkan banyak obyek-obyek langit mempunyai sidik jari yang tidak berada pada tempat-nya. Bagaimana mungkin? Penjelasannya diberikan oleh Bpk. Doppler (1842), bahwa jika suatu sumber informasi ‘bergerak’ (informasi ini bisa suara, atau sumber optis), maka terjadi ‘perubahan’ informasi. Kenapa bergeraknya harus tanda petik? Ini bisa terjadi karena pergerakannya dalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumber-nya yang bergerak?
Demikian pada sumber cahaya, jika sumber cahaya mendekat maka gelombang cahaya yang teramati menjadi lebih biru, kebalikannya akan menjadi lebih merah. Ketika Bumi bergerak mendekati bintang, maka bintang menjadi lebih biru, dan ketika menjauhi menjadi lebih merah.
Disuatu ketika, pengamatan bintang menunjukkan adanya pergeseran merah, tetapi di saat yang lain, bintang tersebut mengalami pergeseran Biru. Jadi bagaimana menjelaskannya? Ini menjadi bukti yang tidak bisa dibantah, bahwa ternyata Bumi bergerak (bolak-balik – karena mengitari Matahari), mempunyai kecepatan, relatif terhadap bintang dan tidak diam saja.
Dengan demikian ada tiga bukti yang mendukung bahwa memang Bumi bergerak mengitari matahari, dari aberasi (perubahan kecil pada posisi bintang karena laju Bumi), paralaks (perubahan posisi bintang karena perubahan posisi Bumi) dan efek Doppler (perubahan warna bintang karena laju Bumi).
Tentu saja bukti-bukti ini adalah bukti-bukti ILMIAH, dimana semua pemaknaan, pemahaman dan perumusannya mempergunakan semua kaidah-kaidah ilmiah, masuk akal dan ber-bobot kebenaran ilmiah. Apakah memang demikian adanya? Seperti yang ungkapkan, sampai detik ini belum ada teknologi yang bisa membuat kita bisa terbang jauh-jauh ke luar angkasa, sedemikian jauhnya sehingga bisa melihat memang begitulah yang sebenarnya. Tetapi, pembuktian metode ilmiah selama ini cukup sahih untuk menjawab banyak ketidak-pahaman manusia tentang posisi-nya di alam. Dan bukti-bukti yang telah disebutkan tersebut cukup untuk menjadi landasan untuk menjawab bahwa memang Bumi mengitari Matahari; dari pengetahuan Bumi mengitari Matahari, banyak hal-hal yang telah diungkap tentang alam semesta ini, sekaligus menjadi landasan untuk mencari jawab atas banyak hal yang belum bisa dijawab pada saat ini.
http://simplyvie.wordpress.com/profile/ benarkah bumi mengelilingi matahari
nggieng jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.
Sebenarnya pemikir2 muslim saat ini juga sangat banyak, hanya bedanya pemikir muslim sekarang lebih dilandasi hawa nafsunya sehingga rela menukar ayat-ayat Al Quran dengan “TSAMANAN QOLIILA”. Na’uudzubillaahimindzalik. Juga masalah kehati-hatian menafsirkan ayat-ayat Al Quran saat ini sangat diabaikan, sehingga orang yang ilmu agamanya sangat sedikit sudah berani menafsirkan Al Quran dan meng-claim dirinya yang paling benar. Na’uudzubillaahimindzalik. Para pemikir muslim dulu hafal ribuan hadits dan ribuan kali membaca dan bersungguh-sungguh memahami dan mengamalkan Al Quran. Pemikir Islam saat ini belajar agama tidak lebih dari belajar Matematika, sudah memeras otak sampai pusing tapi sedikit sekali yang dipahami apalagi diamalkan. Kesenjangan ilmu yang dipelajari dan yang diamalkan inilah yang menyebabkan para pemikir muslim sekarang banyak yang tersesat dan semakin jauh dari hidayah Alloh. Walloohu a’lam.
Setuju pak Budi,
Okelah kawan2, kalau mau belajar dari sejarah, perkembangan astronomi modern sangat ditentukan oleh perkembangan astronomi di dunia Islam antara abad 8-15, sebelum renaisans, dari pengembangan kosmologi yunani dengan menambahkan pengetahuan orang arab saat itu mengenai aljabar, kemudian diadopsi lagi oleh orang2 eropa, maka jadilah astronomi itu seperti yang ada sekarang.
Sejarah mencatat bahwa orang arab lah yang memberikan pondasi matematika modern (seperti aljabar), dan itu diterapkan dalam merumuskan gerak benda-benda langit, dan orang barat pun mengakui hal itu, bahkan itu pernah dibahas di majalah Scientific America (http://faculty.kfupm.edu.sa/phys/alshukri/PHYS215/Islamic%20astronomy.htm),
Jadi kalaupun kemudian terjadi ‘pertentangan’ antara sesuatu yang dogmatis dan analitis, itu sepertinya harus kembali kepada masing-masing pribadi, orang dulu saja bisa memberikan pemikiran yang canggih, kenapa sekarang yang katanya lebih canggih malah jadi berpikirnya mbulet?
Karena bintang sangat jauh maka sudutnya teramat kecil (yang terbesar berada dalam skala 1/3600 derajat) dan sangat sulit diukur bahkan oleh teleskop sekalipun. Itulah sebabnya orang baru bisa mengukur sudut paralaks pada abad ke-19, setelah berbagai rupa perkembangan teknologi teleskop: bahannya, lensanya, pemikulnya, metodenya, teorinya.
Ingat bahwa sudah sejak zaman antik, Aristoteles sudah membantah pergerakan Bumi karena menekankan bahwa sudut paralaks ini tidak pernah teramati. Tentu saja tidak teramati karena sudutnya amat kecil dan waktu itu belum ada teleskop. Mata telanjang tidak bisa mengamati sudut tersebut.
konga lengkap siiiiiiiiiiiiiii
Makasih persetujuannya mas Nggieng. Pingin nanya nih, apakah definisi/deskripsi LANGIT dalam dunia astronomi yang mas Nggieng ketahui? Dan apakah dalam dunia astronomi diketahui adanya langit yang bersap-sap atau berlapis-lapis? Banyak orang bilang diatas langit masih ada langit. Terimakasih sebelumnya.
saya jadi ingin bertanya juga: bagaimana definisi langit menurut Budhi MBW? terima kasih
langit? marilah kita tidak memperumit persoalan pak Budi, saya berpendapat bahwa langit itu adalah manifestasi ruang, ibarat kita pergi dari dalam rumah , pergi ke suatu tujuan, sebutlah pergi ke kampus; maka kita melalui ruang, ada jarak, ada waktu. sama juga dengan langit; bedanya adalah, manusia masih sangat terbatas untuk bisa mencapai tujuan yang nun-jauh di langit, dengan demikian, maka itulah tujuan astronomi untuk memahami sesuatu yang belum bisa ‘terjangkau’ itu.
mohon jangan dicampur-adukkan dengan hal-hal yang dogmatis, karena nanti pembelajaran astronomi sebagai ilmu-pengetahuan akan masuk dalam ranah yang lebih rumit lagi, sebutlah filsafat sains, atau bahkan masuk dalam ranah agama. bukannya keberatan, tapi lebih karena ini adalah pembelajaran populer, semua umur membaca, semua latar-belakang mengikuti.
pun kalau mau ada diskusi yang filosofis, monggo saja di forum kita gelar diskusi yang hangat dan santun dan tidak tendensius.
Inilah kesalahan para ilmuwan pada umumnya tidak berani berhadapan dengan agama padahal agama itu sangat ilmiah, tentunya ilmuwan yang tidak atheis. Ilmuwan yang tidak atheis tentu meyakini satu agama tertentu. Dan didalam agama pasti ada yang dituhankan. Dan yang dituhankan pasti dianggap Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Tidak mungkin ada Tuhan yang berkuasa di daerah Jawa Timur saja misalnya. Tidak mungkin juga Tuhan hanya bisa menciptakan Bulan saja dan Dia tidak bisa menciptakan ayam misalnya. Apakah dunia astronomi diluar kekuasaan Tuhan??? Apakah sebelum Sir Issac Newton menemukan besaran percepatan gravitasi Bumi sebesar 9,8 m/dt2 di dunia ini belum berlaku hukum gravitasi Bumi???
Wah, kalau masalah agama dan ilmu-pengetahuan itu tentu tidak bisa dibahas secara sederhana pak Budi, karena kemudian yang terjadi adalah dikotomi antara sesuatu yang diterima sebagai absolut, dogmatis (agama) terhadap sesuatu yang justru harus bisa disangkal, dibuktikan dan diperbantahkan (sains). Makanya saya secara pribadi tidak akan mengulas hal tersebut dalam pernyataan-pernyataan yang gantung, masih merupakan isu sensitif.
Apakah kemudian keduanya harus bersebrangan atau bisa beriringan? Ya itu sih kembali pada masing-masing pribadi; saya tidak akan membuat keberpihakan di sini. Tapi kalau mau melihat perdebatan kontemporer soal hal tersebut, (yang sepertinya tidak ada habis2nya), bisa baca artikel berikut ini: http://www.time.com/time/printout/0,8816,1555132,00.html
Saya setuju mas Nggieng bahwa pembahasan agama dan iptek tidak akan sederhana. Karena masing-masing harus sama-sama dipelajari secara serius, mendalam dan konsisten. Pertanyaan berikut ini untuk semua orang yang mengaku dengan sadar meyakini agama tertentu terutama diri saya sendiri : “SUDAHKAH KITA MEMPELAJARI AGAMA YANG KITA YAKINI DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH SEPERTI KITA AKAN MENGHADAPI UJIAN SEMESTER???” Kalau jawaban kita BELUM memang kita akan banyak menghadapi kesulitan, dan akibat terburuknya adalah kita akan tersesat. Karena keduanya adalah rambu-rambu kehidupan yang akan membawa kita kepada tujuan hidup yang haqiqi.
Mas Nggieng ada artikel bagus di harian Media Indonesi tanggal 29 Februari 2008 dengan judul “SIKAP RELIGIUS PARA ILMUWAN” ditulis oleh Muhtar Sadili. Yang menarik disitu adalah pengakuan seorang Einstein tentang kekuasaan Tuhan. Saya memang berharap banyak dari mas Nggieng khususnya untuk diri saya sendiri dalam rangka lebih memantapkan keyakinan saya bahwa iptek adalah merupakan “TEMUAN” manusia tentang hukum alam yang diciptakan Tuhan bersamaan dengan penciptaan alam semesta. Jadi tidak ada pertentangan antara iptek dan agama. Semoga informasi dan pendapat ataupun penjelasan mas Nggieng yang telah lalu maupun yang akan datang menjadi amal baik mas Nggieng dan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dan lebih banyak dari Alloh SWT. Amin.
Perbedaan pendapat jangan untuk kepentingan golongan dan hawa nafsunya karena bisa merusak amal
silahkan baca juga topik terkait di blog saya.. http://protagon.wordpress.com/2008/03/28/ptolomeus/
terima kasih.
Balik ke masalah Matahari dan Bumi, yang mana mengelilingi mana ? Cuman saya belum diyakinkan bukti-bukti, termasuk tentang fenomena paralaks itu, apa dan bagaimana bumi mengelilingi matahari. Juga adakah korelasinya dengan fenomena kejadian siang dan malam ? Dan dengan kecepatan berapa besar bumi jikalau mengelilingi matahari ? Ibarat kita menaiki kapal di tengah laut, dengan asumsi kecepatan yang sangat besar itu, tidakkah kita akan terombang-ambing ?
Juga, apabila diasumsikan kejadian siang dan malam karena rotasi bumi pada porosnya selama 24 jam, maka dengan keliling equatorial bumi yang 40008 km itu, berarti kecepatan rotasi bumi di khatulistiwa itu 1667 km/jam. Sebegitu cepatkah perputaran bumi pada porosnya ? Kalau demikian, harusnya awan-awan terlihat bergerak dengan sangat cepat. Atau juga pesawat yang terbang menuju ke arah barat harus 1667km/jam lebih cepat daripada ketika terbang menuju ke arah timur.
Malahan saya mengasumsikan rotasi bumi itu dengan kecepatan 4,6 km/jam saja. Ini dari yakni keliling bumi (40008 km) dibagi dengan 365 hari (=8760 jam). Artinya fenomena siang malam itu terjadi karena mataharilah yang mengelilingi bumi…
Asumsi ini hanyalah hipotesa dan logika saya saja sebagai awam di bidang astronomi.
Sesungguhnya pengetahuan manusia tentang semesta jagat raya ini sangatlah sedikit. Kita ibarat katak yang masih di dalam kotak atau tidak jauh dari itu. Kita belum lagi keluar atau jauh-jauh dari kotak. Seperti kalau kita menimba ilmu, ketika ilmu kita masih sedikit maka semua asumsi dan hipotesa hanya akan terbuktikan kalau kita sudah menjelajah ilmu sampai seluas-luasnya. Dalam artian, teori alam semesta akan bisa dipercaya kalau kita sudah mampu menjelajah hingga ke bintang-bintang, matahari, galaksi dan lain-lain…
Sementara ini, ilmu tentang jagat semesta bisa berubah begitu ada temuan baru, termasuk apakah bumi yang mengelilingi matahari atau sebaliknya. Sedangkan baru-baru ini saja Pluto sudah dikeluarkan dari golongan benda Planet setelah sekian lama sejak di SD dulu kita diajarkan bahwa itu adalah planet ke-9. Ini sebagai contoh saja…
Tentang fenomena paralaks itu, itu bukannya karena bumi berputar pada porosnya (yang menurut asumsi saya 4.6 km/jam itu) ? Wallahu’alam bishawab…
[...] http://langitselatan.com/2007/04/21/bagaimana-membuktikan-bahwa-bumi-mengelilingi-matahari-dan-bukan... [...]
Buat paham geosentris.Kelihatannya anda nggak tahu apa-apa tentang fisika dasar. Kalau matahari mengelilingi bumi, tentu bumi memiliki gaya gravitasi yang sangat besar untuk bisa memaksa matahari mengelilinginya (anda mungkin nggak paham).Ingat, semua teori astronomi yang ada sekarang dengan asumsi bumi mengelilingi matahari.Ramalan gerhana, garis edar komet, perjalanan ruang angkasa dsb.Kalau anda masih yakin matahari mengelilingi bumi silakan buat teori baru untuk meramalkan gerhana, meramalkan arah gerak komet,perjalanan ruang angkasa.Jangan asal POKOK-E.Saya curiga orang-orang seperti anda justru agen asing yang tidak ingin muslim indonesia maju, pandai, pintar, yang akhirnya dapat memimpin dunia.Mengapa pemikiran anda mengarahkan umat untuk mundur ke abad pertengahan di mana bangsa lain sedang memikirkan kehidupan di mars, wisata ke angkasa luar, teori alam semesta yang mengembang. SATU pertanyaan saya, di Alquran tidak ayat yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Apakah anda juga yakin bahwa bumi itu datar.
Kami memang awan dalam astronomi. untuk itu mohon kiranya penjelasan yang lebih meyakinkan lagi tentang bukti bumi mengelilingi matahari. Juga bagaimana hubungan pergerakan bumi terhadap matahari itu dengan perhitungan ramalan gerhana, garis edar komet, perjalanan ruang angkasa, pengorbitan satelit, dsbnya.
Kami juga tidak sedang mengarahkan umat untuk mundur ke belakang, apalagi dengan tuduhan kami sebagai agen asing (astaghfirullah hal adzim). Setahu kami banyak pendapat yang mengatakan di kitab suci Qur’an dan hadits Nabi tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai fenomena bumi dan matahari, yang mana mengellingi mana.
Yang kita dilakukan disini adalah menggali pengetahuan lebih dalam lagi, sehingga apabila kebenaran tentang sesuatu pengetahuan itu memang benar adanya, maka kita terima melalui pemikiran (tidak langsung diterima saja).
Dalam hal ini kami tidak sedang dalam paham geosentris, heliosentris atau apapun. Kami saat ini hanya dalam posisi mengikuti perkembangan pemikiran dan pengetahuan yang dicapai oleh umat manusia (tentang hal tsb), yang senantiasa berkembang dan berubah dari masa ke masa.
Sebagai muslim, kami hanya berpegang kepada Al Qur’an dan sunnah. Untuk masalah asal muasal manusia, telah jelas di dalam Al Qur’an dinyatakan bahwa manusia pertama adalah nabi Adam. Sehingga teori ilmiah Darwin tentang evolusi manusia dari kera sudah jelas kita tolak. Sedangkan untuk masalah MMB (Matahari Mengelilingi Bumi) atau pun BMM (Bumi Mengelilingi Matahari), ayat-ayat di Al Qur’an tidak secara tegas menyatakan diantara kedua hal tsb, melainkan dengan bahasa kiasan yang mana menjadi tugas masing-masing atau keseluruhan manusialah untuk mencari tahu dan mengamati hakekat penciptaan jagat semesta ini.
Untuk itu, dengan ataupun tanpa dalil-dalil kitab suci, dan untuk semata-mata demi perkembangan dunia science astronomi, kita hendaknya saling menghormati pendapat pihak yang tidak sama dengan kita. Karena sampai saat ini, semua asumsi MMB dan BMM hanya berdasarkan dugaan semata. Sesungguhnya pula, dari teori paralaks, pengamatan pergerakan bintang, teori gravitasi, dan lain-lain yang dipakai oleh pihak pendukung heliosentris, juga sebenarnya dapat dipakai oleh pendapat yang mengatakan matahari mengelilingi bumi, yang mana bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan 4,6 km/jam. (Tentang pengaruh kecepatan perputaran bumi pada porosnya yang hanya 4,6 km/jam itu, bisa anda buktikan ketika melakukan penerbangan dari Jakarta ke Surabaya atau Semarang yang ‘beberapa menit’ lebih lama dibandingkan ketika terbang dari arah sebaliknya). Kalau kita menonton saluran National Gegraphic atau Discovery, dari kamera pesawat luar angkasa yang mengarah ke bumi, terlihat pergerakan bumi yang begitu lambatnya pada perputaran pada porosnya itu. Sehingga sulit untuk memahami kecepatan perputaran bumi yang 1667 km/jam apabila diasumsikan bumi berputar selama 24 jam untuk satu kali putaran.
Dari yang sampai ke kami saat ini, tidak ada hubungannya antara kemajuan teknologi antariksa / perhitungan ramalan gerhana / lintasan planet/komet dengan terori MMB atau BMM itu. Justru teknologi satelit komunikasi yang menjadikan bumi sebagai referensi peredarannya lebih mengacu ke teori MMB, atau Bulan mengelilingi Bumi lebih tepatnya.
Tentang teori gravitasi yang menahan bumi berputar mengelilingi matahari, adakah penjelasan lanjutan bahwa Bulan tidak terlepas dari gravitasi bumi dan tidak ter’tarik’ oleh gaya gravitasi matahari yang lebih besar ?
Semoga suatu saat akan ada ilmuwan muslim yang akan membuktikan MMB atau BMM itu, ketika saatnya ilmuwan Islam bangkit kembali mengulangi kejayaan perkembangan ilmu pengetahuan di masa kekhalifahan Islam. Konon Galileo yang mendukung dan menyebarluaskan teori heliosentris adalah seorang Yahudi. Kini Iran, China, Jepang dan India sudah dapat meluncurkan roket dan satelitnya sendiri. Mudah-mudahan kita mendapat sumber lebih banyak lagi tentang pengetahuan yang sungguh kita saat ini hanya tahu sedikit saja dari keseluruhan fenomena alam semesta yang maha luas itu.
Wallahu a’lam bishawab..
[...] bulat tidak ada bedanya dengan Bumi itu datar. Matahari mengelilingi bumi tidak ada bedanya dengan Bumi mengelilingi Matahari. Secara umum semua informasi menjadi tidak ada nilainya dan timbullah Kekacauan Universal [...]
klo mau membuktikan sih gampang…
keluar aja dari bumi dan perhatikan mana mengitari yang mana…. klo masih tinggal di bumi, kita tidak akan mendapatkan jawaban yang pasti…
sedangkan bagi yang muslim, mengikuti dalil lebih baik daripada mengikuti akal dan hawanafsu…
toh masalah kebangkitan setelah hari kiamat, bila kita mengangungkan akal gak bakal sanggup untuk menyetujui bahwa kelak kita semua akan dibangkitkan kembali…
Allahu ‘alam bish shawab…
semoga Allah menunjuki kepada jalan-Nya yang lurus.. aamiin…
Ternyata diskusi ilmu itu penting sekali. Jika diperbolehkan, saya sepandir inipun, ingin ikut nimbrung pula, hai saudara-saudaraku yang semoga Allah mencintai Anda; namun maaf ya, saya nimbrung dengan kerendahan hati lewat ‘blog’ sederhana yang saya bikin ngedadak:
http://www.protagon.wordpress.com
Alangkah senangnya jika Anda sudi mampir sebentar saja di sana, sambil sedikit marah-marahin saya! Termasuk saudara nggieng sebagai kuncen blog ini!
Hamba Allah yang paling pikun sejagat raya, yang masih perlu banyak pembimbing dan guru yang ikhlas karena Allah!
Dedy Suardi
Coba perhatikan bagaimana Allah menjelaskan tentang Bumi? Apakah kata Ardh (bumi) berarti planet Bumi? Apakah artinya bahwa gerakan Matahari adalah gerakan hakiki atau penampakan? Apakah benar celoteh bahwa Matahari mengelilingi Bumi suatu kepastian berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah atau justru faham yang memastikan itu sebagai suatu bentuk kebohongan atas al-Qur’an dan Sunnah.
Pernyataan Daan yang mengatakan bahwa “Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dengan argumentasi dalil berikut sungguh suatu kesalahan:
“Artinya : Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” [Al Baqarah : 258]
tidak berarti bahwa matahari berputar mengelilingi bumi, itu adalah fenomena penampakan bukan hakikat gerakan. Penampakan yang terlihat dari mata seseorang. Analoginya adalah ketika anda mengatakan anda diam di dalam kereta yang berjalan sementara benda benda diluar bergerak datang dan pergi (terbit dan terbenam).
Kemudian Firmnan Allah yang artinya : Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’” [Al-An'am : 78].
Kata Daan lagi “jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”. Ini suatu kebodohan saudara Daan yang tidak faham arti penampakan. Allah tidak pantas diandai-andai oleh Anda apalagi tanpa dasar ilmu. Mohon ampunlah pada Allah atas kebodohanmu itu.
Coba perhatikan firman Allah berikut:
?????? ????? ?????? ???????? ????????? ????????? ???????? ??? ?????? ???????? ???????? ????????? ??????? ??????? ?????? ????????????? ?????? ???? ????????? ???????? ???? ????????? ??????? ???????(?????:86)
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka”.
Ini adalah fenomena penampakan, berdasar apa yang terlihat oleh pengamatan seseorang.
Apakah anda mengatakan bahwa tongkat lurus yang dimasukkan ke dalam air sebagai tongkat bengkok karena tampak bengkok?
(Bersambung Insyaallah)
kalau teori rotasi dan revolusi itu merupakan kenyataan, maka mempercayainya bukan berarti mendustakan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kebenaran nyata. yang jadi masalah, benarkah penafsiran yang diberikan penulis buku “matahari mengelilingi bumi” ttng masalah ini? Kalau beliau menyandarkan penafsiran ini kpd salaf, karena waktu ini belum ada teori rotasi dan revolusi. Al-Qur’an tidak secara eksplisit dan terperinci menjelaskan masalah ini dan juga masalah2 yg berhubungan dgn sains lainnya.
berdasarkan sumber yang saya baca, sebenernya, copernicus tidak pernah mengatakan bahwa model heliosentrisnya itu hanya untuk mempermudah matematisnya saja.
yang dia lakukan adalah saat membuat teori heliosentris dia kemudian menjadi ragu untuk mempublikasikannya karena ada berberapa pertanyaan dari banyak pihak perihal fenomena yang belum dimengerti orang-orang pada jaman itu. seperti misalnya: “jika bumi mengelilingi matahari, bulan akan tertinggal di belakang…”, atau “jika teori heliosentris memang benar, pasti akan ada efek paralaks. tapi ternyata tidak ada.”
pada akhirnya toh tulisan copernicus diterbitkan dalam sebuah buku saat copernicus sudah mendekati ajalnya [atau sudah wafat, saya agak lupa]. namun orang yang menerbitkan buku itu berpikir bahwa tulisan copernicus akan membawa dampak besar jika diterbitkan begitu saja. maka dia kemudian membuat semacam kata pengantar/prakata yang menyebutkan bahwa teori heliosentris tersebut hanyalah salah satu caara untuk memudahkan menjelaskan fenomena secara matematis saja dan bukan mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. dan ingat, pernyataan ini bukan dari copernicus, tetapi dari si penerbit itu. copernicus sendiri sangat yakin terhadap teorinya itu bahwa memang begitulah sistem bumi [planet]-matahari di tata surya.
bro, heliosentris atau geosentris, semuanya benar. menurut teori relativitas einstein bahwa gerak semua benda di semesta adalah relatif. tergantung acuan yang kita pilih mana? kalo matahari acuannya, maka jadilah heliosentris. kalo bumi acuannya, jadilah geosentris, buktinya kita sehari2 mengambil acuan bumi tempat kita, maka tampak matahari mengelilingi bumi dari timur ke barat.
saya mau tanya buat semua yang menanggapi.
saya masi sma , dan lebih bny ga tau nya di banding anda semua.
*kan katanya galaksi bima sakti ini besar sekali, dan di atas galaksi masi ada pluhan ribu galaksi lagi, yg mau sya tnyakan , mungkin kah surga /neraka berada di galaksi lain tsb ? berdasarkan al-qur`an.
*kalo msalnya ga mgkin , mnurut kalian utk apa Allah mencptkan galaksi lain, pdhal kan bima sakti aja ckup. toh kita blum mampu ke luar galaksi.
mkci buat jwbnnya , maaf kalo trlalu ngaco.
@azmii
untuk jawab pertanyaan anda bukan untuk sekedar teori..
kalo anda punya hati dan pikiran yang bisa digunakan untuk berpikir dan merasakan keagungan sang pencipta, pasti anda bisa menjawab pertanyaan anda sendiri.
[gw juga anak sma]
mungkin ada ilustrasi,, kalo anda berjalan2 ke daerah yang sama sekali asing, lalu anda melihat sebuah rumah yang bersih, banyak bunga2 tertata rapi dan indah, pasti anda bertanya siapa pemilik rumah tersebut yang bisa merawatnya. demikian pula dengan alam semesta, yang maha besar dapat tertata rapi dan mempunyai keseimbangan, pasti ada yang menata dan menjaganya. semuanya hanya milik sang Pencipta.
Mungkin kita bisa kompromi dalam hal ini…….
Bumi dan Matahari SALING MENGELILINGI pusat massa mereka.
Saat naik kereta, saya kok lebih percaya bahwa rel dan tanah yang bergerak mengelilingi saya. Masih perlu bukti yg lebih rasional dan mudah dicerna orang awam. Saya yg diam dan rel dan tanah yg bergerak lebih masuk akal dibanding saya yang bergerak dg kecepatan seperti apa dan bagaimana.
buat dawni : memang itu yg terjadi kan? dan karena pusat massa berada sangat dekat dengan matahari maka bisa dikatakan bumi dan planet2 mengelilingi matahari.
yess I agree with you
bumi MEMANG mengelilingi matahari coz matahari adalah center of our solar system and bukan sebaliknya. matahari NEVER mengelilingi bumi coz bumi isn’t center of our solar system…tulisan anda sangat menggugah minat saya untuk lebih mendalami tata surya.trims
kalau kita lihat dari sistem, emang matahari sebagai center, karena kita lihat secara keseluruhan matahari dan planet2, dalam pandangan kita, jumlah planet lebih banyak yang mengitari matahari. tapi kalau kita lihat dari sisi gerak, maka kita dapat pilah2, kalau gerak itu bergantung acuan, benda bisa dikatakan bergerak, jika benda disekitarnya diam atau acuannya diam, benda diam bisa dikatakan bergerak jika acuannya bergerak. demikian juga matahari bisa dikatakan sebagai pusat jika kita mengasumsikan matahari sebagai acuan dari planet2 yang mengitarinya, jika kita mengasumsikan bumi sebagai acuannya (bumi dalam posisi diam), maka terjadi sebaliknya, bumi sebagai pusat dari gerak benda langit. Einstein memperoleh nobel fisika dari teori relativitasnya, karena mampu sebagai penengah kalangan heliosentris dan geosentris.
Sepertinya 2 teori ilmiah yg mengatakan bumi bergerak memakai asumsi bintang tidak bergerak (teori aberasi bintang dan Bpk Deppler (1842)), perumpamaan saya:
1. bagaimana seandainya bintang itu memang bergerak seperti teori tersebut (yg menjauh dan mendekat (Deppler) memang bintangnya dan paralak juga memang asli dari gerakan bintangnya)
2. Mengacu dari fenomena dan teori ilmiah dari gerakan revolusi dan rotasi bumi, bagaimana kalau yg dipakai asumsi memang mataharinya yg bergerak mengelilingi bumi dengan suatu pergerkan demikian sehingga secara teoritis bumi seakan2 bergerak berevolusi dan berotasi, (apakah mungkin secara teoritis seperti ini)
Tks, mohon ditanggapi karena saya penasaran sekali takutnya mati penasaran
saya cuma ingat….
lalat terbang di dalam mobil/kereta yang berjalan..
sepertinya kecepatannya sama ke arah mana saja
wahahahhaha, astaga, masih ada ya orang yang percaya MMB???
)
sekarang lagi jamannya ngebahas wormhole sama dark matter, malah masih ketahan milih matahari ngiterin bumi atau bumi ngiterin matahari.
bagaimana proses terjadinya pergantian siang dan malam?
dan apa sebabnya?
Hmmm…diskusi yang menarik….
yang bener matahari mengelilingi bumi…menurut al-qur’an. Masih perlu dibuktikan secara ilmiah sich…
Setuju Pak Rafiq B, “Kayaknye Blok Heliosentrisme Jadinye Ngotot Amet Ame Kehendaknye Ye ?”. ntar dibukti’in aje .
emang dah terbukti mo dibuktiin apa lagi?
teori A benar, bukan berarti ajaran agama B salah
bukti tetap geosentris yang benar dan logis serta nyata
Jika bulan mengelilingi bumi tentu itu benar, tetapi ketika bumi dikatakakan mengelilingi matahari (revolusi), maka tentu lintasan bumi akan memotong lintasan bulan (mudah jika digambarkan), dan tentu suatu saat selama jutaan tahun, bulan dan bumi akan bisa bertabrakan, karena kedua lintasannya akan selalu saling berpotongan (jika bumi benar-benar beredar), jika dijawab tidak akan bertabrakan karena ada gaya sentripetal dan sentrifugal dari grafitasi, juga tidak logis karena terbukti gerak peredaran bulan terhadap bumi, dan juga gerak peredaran matahari terhadap bumi, gerakannya tidak konstan, tetapi mengalami percepatan atau juga perlambatan, dan bukti adanya percepatan atau perlambatan dari gerak bulan dan matahari adalah, adanya gerhana bulan dan gerhana matahari, apalagi sekarang sudah diakui (peneliti heliosentrisme) matahari beredar mengelilingi sesuatu, maka tentu gerak bumi akan memotong lintasan matahari (jika bumi beredar), karena lintasan bumi dan matahari akan saling berpotongan pada suatu titik lintasan, sehingga terjadilah tabrakan yang beruntun (makin celaka), sebab bukti adanya kedua gerhana tersebut, tentu adalah bukti nyata adanya gerak percepatan atau juga perlambatan dari gerak peredaran bulan dan matahari .
Jadi pertanyaannya adalah :
1). Mengapa tidak terjadi tabrakan-tabrakan antara bulan, bumi, dan matahari, padahal sangat jelas lintasannya masing-masing akan saling berpotongan pada suatu titik .
2). Jika jawabannya tidak akan bertabrakan karena adanya faktor gaya sentripetal dan sentrifugal dari gravitasi, pertanyaannya bagaimana sistim tersebut bekerja sehingga tidak terjadi tabrakan, atau karena ada alasan lain yang dapat menjelaskan mengapa sampai tidak terjadi tabrakan-tabrakan, selama sejarah peredaran dalam milyaran tahun ?.
Terima kasih atas penjelasannya .
Brio Wilkobeta:
Dari efek paralax, kita tahu bahwa bintang bergerak kiri-kanan-kiri-kanan terhadap pengamat yang dianggap diam, demikian juga dari efek Doppler kita tahu bahwa bintang bergerak maju-mundur-maju-mundur terhadap pengamat yang dianggap diam. Nah, apakah kemudian bintang bergerak dalam pola maju-mundur-kiri-kanan? Kalau cuman satu bintang mungkin kita bisa mengatakan demikian, tetapi kalau kemudian lebih banyak bintang diamati mempunyai pola yang serupa, berarti menjadi lebih mudah penjelasannya kalau pengamatnya yang bergerak pada pola tersebut alih-alih bintangnya yang bergerak. Nah, penjelasan yang paling bisa diterima kemudian adalah, pola tersebut berkesesuaian dengan pola gerak Bumi yang bergerak terhadap Matahari dalam satu tahun. Ini sekaligus bisa menjawab kedua pertanyaan tersebut.
Syamsu Komar:
Interaksi Bumi-Bulan, Bumi-Matahari itu didekati dengan interaksi dua benda, yang matematikanya dirumuskan dalam Hukum2 Kepler. Dengan demikian, Bulan dan Bumi akan selalu berjalan dalam sistem interaksi yang seperti kita lihat sebagai Bulan selalu beredar mengitari Bumi. Tentu saja ini sangat logis, karena Massa Bumi dan Bulan itu perbandingannya, massa Bulan hanyalah 0,012 massa Bumi.
Kemudian, kita letakkan Bulan-Bumi sebagai satu sistem ‘gravitas tunggal’, yaitu sebagai Bumi saja. Tentu saja ini bisa dilakukan karena jarak Bumi – Bulan sangat2 kecil, jarak rata2 Bumi – Bulan itu sekitar 380ribu km (~0,002 AU), bandingkan jarak Bumi – Matahari itu 150 juta km (~1 AU), nah dengan demikian, dapat saja ditinjau sebagai interaksi dua benda Matahari-Bumi, dan hukum2 Kepler bisa diterapkan untuk sistem ini saja. Tentu saja sangat logis, karena massa Matahari itu mencakup 99% massa seluruh tata-surya kita, apalah artinya sebuah Bumi yang hanya dianggap sebagai titik kecil bagi Matahari.
Selama hukum2 Kepler berlaku, maka interaksinya akan selalu seperti itu, yaitu satu benda akan bergerak terhadap yang lain mengikuti gerak eliptis. Jadi, bagaimana mau bertabrakan? Kalau sistem Bumi – Bulan itu jauh lebih kecil dibandingkan interaksi sistem Bumi-Matahari. Tabrakan? Tentu saja kita melihat fenomena ‘tabrakan’ itu pada saat terjadi gerhana.
Semoga menjawab keduanya.
Jika pakar astronomi modern sepakat matahari beredar pada massa benda yang lebih besar, berarti dengan gravitasi matahari, maka bumi dan bulan serta planit lainnya didorong atau ikut matahari mengelilingi lintasannya yang lebih luas dan jauh, dan menurut efek doppler: jika suatu sumber informasi bergerak (suara, optik/cahaya) maka akan terjadi perubahan informasi dalam pergerakan relatif tersebut .
pertanyaannya mengapa sejak sebelum Nabi Adam sampai sekarang, posisi dan besarnya bintang-bintang termasuk warnanya tidak berubah, padahal bumi dan planet lainnya mengelilingi sesuatu benda yang massanya lebih besar, misalnya minimal , bintang pari, kejora, beruang besar, akan makin besar dan berubah-ubah posisinya setiap saat .
apakah yang menyebabkan hal tersebut terjadi, sehingga tidak terjadi perubahan informasi seperti kata pak doppler ?
Terima kasih Pak Nggieng atas jawabannya .
Pak Samsu, umur bumi kita serta semua isinya, termasuk manusia tidaklah panjang dibandingkan umur alam semesta, (minimal umur Matahari), tentunya ini adalah dari kajian ilmiah. Ambil contoh, umur peradaban manusia yang tercatat paling banter itu 10ribu tahun, sedangkan umur tata surya kita sudah mencapai 4 setengah milyar tahun, jadi, apalah arti manusia dan kemanusiaan? sehingga setiap perubahan yang terjadi di alam semesta itu tentunya orde-nya itu panjang sekali, jauh lebih panjang dari pada seorang manusia hidup, tetapi bukan berarti manusia itu tidak bisa mempelajarinya. Bahwa bintang-bintang itu berubah posisinya, itu bisa dipelajari, ini contohnya:
http://langitselatan.com/2008/09/11/dan-lukisan-langit-pun-berubah/
Jadi penjelasannya adalah, untuk bisa melihat perubahan itu, manusia harus bisa hidup ber-milyar-milyar tahun, pilihan lainnya adalah, dengan mempelajari ilmu pengetahuan, kita tahu bahwa tidak ada yang statis di alam semesta ini, semuanya berubah. Semoga menjawab.
para makhluk bumi yg gemar yg membahas jagat raya..!semoga sukses.aq mw bilang klo’ aq bakalan bilang sama orang yang mw dengar sebuah argumen baru yang menarik yang akan mendapat respon dari semua orang…………..tunggu saja .qt harus bisa
seharusnya setiap perubahan informasi itu akan terlihat terus menerus seperti melihat informasi siaran langsung sepak bola dari ujung dunia yang paling jauh atau dari bulan dll, dan tidak terputus-putus atau informasi akan datang terpotong-potong kepada kita, dan seandainya gambar informasi cahaya/optik tsb datang terpotong potong, tentu antara potongan2 informasi akan saling sambung menyambung, sebab kecepatan cahaya di udara kan sama saja dalam segala hal & situasi, jadi alasan jarak dan waktu yang menyebabkan terpotong potongnya informasi menjadi tidak masuk akal, sebab dengan alasan informasi waktu miliaran triliunan tahunan pun, seharusnya pada saat informasinya diterima sekarang akan memberi gambar yang berurutan seperti siaran langsung tontonan sepak bola tersebut dan tidak akan terpotong potong infomasinya . Thxs. .
Artinya untuk melihat semua perubahan itu tidak harus berumur milyaran tahun usianya, tapi cukup seumur anak lulusan SD saja , akan dapat melihat segala perubahan seperti menonton siaran langsumg sepak bola gitu lho . Thxs .