“Chasing the Shadow”, Merekam 3 Menit Kegelapan

Belum lupa rasanya kegembiraan dan kegairahan menikmati “pertunjukan” langit 9 Maret lalu. Ya, Gerhana Matahari Total (GMT), ketika Bulan lewat persis di depan Matahari, memblokir cahayanya, dan kita merasakan apa yang sering disebut-sebut sebagai 3 menit kegelapan. Memang lamanya kita merasakan gelap di pagi atau menjelang siang tidak persis 3 menit dan tidak semua orang di wilayah Indonesia menyaksikan¬† GMT. Hanya di jalur totalitas, GMT dapat disaksikan. Di luar itu, kita hanya dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian. Meskipun demikian, gerhana sebagian pun tidak kalah menarik dan tetap membangkitkan antusiasme masyarakat untuk menyaksikannya.

Sebagian orang mungkin baru pertama kali melihat GMT, atau malah mungkin baru pertama kali melihat gerhana matahari. Sebagian ada yang menyaksikan GMT 11 Juni 1983. Tapi, kini berbeda. Informasi mengenai GMT sudah disebarluaskan jauh-jauh hari sebelumnya. Sebagai media komunikasi astronomi, langitselatan tentu turut serta menginformasikan baik offline maupun online.

Antusiasme masyarakat tinggi, bahkan ada yang rela melancong ke daerah lain supaya mendapatkan view terbaik. Di antara orang-orang ini adalah pemburu gerhana. Mereka bahkan merencanakan perjalanan mengejar gerhana berbulan-bulan sebelumnya dengan menyelidiki pola iklim di daerah yang dilalui gerhana. Penting bagi pemburu gerhana kapan dan di mana saja daerah tersebut berpeluang besar tertutup awan atau malah hujan. Dalam perburuannya, mereka merekam momen saat-saat di bawah bayang-bayang bulan.

pameranfoto

Sayang rasanya bila rekaman-rekaman momen indah ini dibiarkan begitu saja. Ketika Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerjasama dengan ITB dan LAPAN menyelenggarakan pertemuan ilmiah yang mendiskusikan hasil-hasil penelitian seputar GMT dan penelitian astronomi lainnya, langitselatan digandeng untuk menyelenggarakan sebuah pameran foto. Pendaftaran foto telah dibuka sejak hampir 2 bulan sebelum penyelenggaraan dan ditutup sekitar 2 minggu sebelum penyelenggaraan acara. Foto-foto yang didaftarkan tidak hanya terbatas pada tema gerhana matahari, tapi juga foto langit malam serta human interest dan budaya terkait gerhana matahari.

Sebanyak 44 foto didaftarkan untuk pameran foto yang terdiri dari 26 foto gerhana matahari, 12 foto langit malam, dan 6 foto terkait human interest dan budaya. Setelah melalui proses kurasi, hanya 30 foto yang dipilih untuk dipamerkan. Sebagian besar foto yang dipamerkan bertemakan gerhana matahari, mulai dari saat totalitas yang memperlihatkan korona – mahkota Sang Surya yang di hari biasa kita tidak dapat melihatnya tanpa bantuan koronagraf – hingga kolase foto matahari dari awal gerhana hingga akhir gerhana. Ada pula yang menangkap detil-detil aktivitas matahari (misalnya prominensa) dan fenomena istimewa pada gerhana seperti Cincin Berlian dan Manik-Manik Baily. Di sebagian lokasi tempat peserta mengambil foto ternyata berawan. Namun, dengan kecerdikan dan ketangkasan sang fotografer, awan ini sepertinya tidak menjadi halangan berarti, justru menambah nuansa tersendiri pada hasil akhir karyanya. Salah seorang peserta menampilkan foto analema, yang membutuhkan kesabaran dan dedikasi dari sang fotografer karena harus meluangkan waktu memotret matahari di waktu yang sama untuk hari yang berbeda dalam satu tahun.

Meskipun tidak banyak foto bertema langit malam yang didaftarkan, tapi yang dipamerkan tentu tak kalah menariknya, seperti misalnya bentangan Bimasakti di atas bentang alam, konjungsi Bulan dan Venus, dan jejak bintang. Hanya ada satu foto yang dipamerkan di tema human interest dan budaya, yaitu aktivitas menyambut gerhana matahari yang salah satunya diisi dengan pelatihan menggunakan teleskop.

Pameran foto diselenggarakan berbarengan dengan kegiatan pertemuan ilmiah, yakni selama dua hari tanggal 3-4 Juni 2016 di Aula Timur ITB. Bila bertemu dengan sang fotografer yang hadir di pameran, para pengunjung yang ingin tahu proses pengambilan foto berkesempatan berdiskusi. Selain itu, para pengunjung juga dipersilakan memilih foto favorit. Dan yang dipilih sebagai foto favorit adalah bentangan Bimasakti di Candi Gedong Songo yang diabadikan oleh Mickey Vanda, foto lanskap berawan dengan rangkaian proses gerhana yang diberi judul Cloudy with a Chance of Eclipse yang dipotret di Kabupaten Sigi oleh Muhammad Rayhan, kolase berbentuk huruf S yang memuat foto matahari selama proses gerhana oleh Irfan Imaduddin, dan foto momen totalitas dengan bentangan lebar korona yang diabadikan di Desa Kalora – Kapupaten Poso oleh Muhammad Yusuf.

Selamat bagi para peserta yang fotonya dipilih sebagai foto favorit.

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.

Tulis komentar dan diskusi...