Sosialisasi Gerhana Matahari di SD Plus BBS Bogor

Pada tanggal 9 Maret mendatang, fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) memang tidak akan mampir di kota hujan, Bogor. Kota ini hanya akan disapa oleh Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Meskipun demikian GMS tetaplah sebuah fenomena alam yang langka dan sayang untuk dilewatkan.

Pernah aktif di komunitas astronomi amatir, saya ingin sekali berpartisipasi untuk memperkenalkan keindahan fenomena Gerhana Matahari (GM) kepada para siswa di tempat anak saya menuntut ilmu yaitu di SD Plus BBS Bogor melalui pembelajaran dan sosialisasi GMT dan GMS 2016. Tujuan dari kegiatan ini agar siswa memahami bagaimana proses terjadinya GM, jenis GM yang bisa diamati di Indonesia pada tanggal 9 Maret 2016 dan di kota Bogor pada khususnya, waktu terjadinya gerhana dan yang terpenting adalah bagaimana melihat GM dengan aman. Diharapkan para siswa nantinya tidak hanya mengenal momen istimewa ini melalui buku pelajaran saja, tetapi dengan mengamatinya secara langsung.

Sosialisasi GM di SD Plus BBS dilakukan selama bulan Februari di setiap kelas secara bergiliran pada saat pelajaran IPA dengan durasi 1,5 jam. Pertama-tama mereka mendapatkan penjelasan proses terjadinya Gerhana Matahari. Agar lebih mudah memahami proses ini, para siswa mencoba membuat simulasi gerhana dengan menggunakan globe, senter (sebagai sinar matahari) dan bola kecil (sebagai bulan). Kegiatan ini cukup mengasyikan karena siswa dapat menentukan sendiri di negara atau kota mana sebuah Gerhana Matahari terjadi.

Selanjutnya, para siswa mendapatkan penjelasan mengenai perbedaan antara GMT dan GMS, dua fenomena alam yang akan menghiasi langit Indonesia 9 Maret mendatang. Berbagai gambar dan foto tentang hal-hal yang berkenaan dengan kedua fenomena alam ini membuat para siswa takjub.  Hampir semua siswa memang menyangka kalau pada saat totalitas terjadi mereka tidak akan melihat apa-apa  karena Matahari benar-benar hilang. Alangkah terkesimanya  mereka ketika tahu bahwa fenomena Gerhana Matahari Total menyugguhkan pemandangan indah seperti Baily’s beads, efek cincin Berlian dan korona matahari. Dari beberapa tayangan video tentang GMT yang diperlihatkan, para siswa pun akhirnya menyadari bahwa GMT itu adalah fenomena alam yang luar biasa indah dan Bumi benar-benar gelap pada saat totalitas terjadi. Kendati sedikit kecewa karena Bogor bukan merupakan jalur totalitas, mereka sangat antusias ketika mengetahui bahwa fenomena GMS juga menarik untuk diamati.  Apalagi bisa melihat Matahari sabit, mengingat kota Bogor akan menyaksikan lebih dari 80% piringan Matahari tertutupi bayangan Bulan.

Hal yang sangat penting untuk diketahui para siswa adalah bagaimana mengamati  GMS dengan aman. Siswa pun diperlihatkan kacamata matahari yang aman dipakai untuk pengamatan GMS. Pertanyaan yang kemudian banyak diajukan siswa adalah : Apakah boleh menatap Matahari langsung ketika melihat GMS? Apakah boleh menggunakan kacamata hitam atau kacamata 3 dimensi?  Hal itu tentu saja sangat dilarang karena paparan sinar ultra violet sang surya bisa merusak mata.  Tidak mempunyai kacamata matahari bukan berarti tak bisa menikmati momen langka ini. Saya  lalu menunjukan beberapa alat sederhana yang bisa digunakan seperti proyeksi lubang jarum atau pinhole yang mudah dibuat. Saya lalu memberi penjelasan singkat tentang bagaimana cara membuat proyeksi lubang jarum ini dengan menggunakan kardus sepatu.

Diakhir pembelajaran, jika cuaca cerah, siswa pun berkesempatan untuk  mengamati Matahari dengan menggunakan kacamata matahari. Para siswa melakukan pengamatan ini dengan penuh antusias. Banyak dari mereka merasa takjub ketika melihat bentuk bulat Matahari untuk pertama kalinya secara langsung. Selain mencoba kacamata Matahari, mereka juga belajar bagaimana menggunakan proyeksi  lubang jarum yang terbuat dari kardus sepatu. Diharapkan pada saat mereka mengamati GMS nanti mereka paham betul  bagaimana menggunakan dengan benar.

Ditulis oleh

Suci A. Purwanti

Suci A. Purwanti, pecinta astronomi yang pernah aktif di komunitas astronomi. Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari UNJ dan selama 10 tahun menjadi guru Bahasa Inggris di LBPP Lia Bogor. Saat ini, ia memilih menjadi Ibu Rumah Tangga dan aktif berbagi tentang astronomi.

Tulis komentar dan diskusi...