Gerhana Matahari Tahun 2016

Bumi, planet berkehidupan dengan satelit alam sebuah bongkah karang mati, Bulan dan bola gas pijar raksasa dengan daya 1026 watt, Matahari bagian dari anggota Tata Surya. Salah satu peran Matahari sebagai penerang di Tata Surya selain sumber energi radiasi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di planet Bumi. Keberadaan Bulan, asteroid, komet, planet dan batuan ruang angkasa bahkan debu antar planet di Tata Surya diketahui manusia karena memantulkan cahaya Matahari yang sampai ke permukaannya. Melalui perubahan posisi benda – benda langit tersebut manusia bisa mengetahui adanya hukum Kepler, ragam bentuk orbit benda langit, fenomena fasa bulan, fenomena gerhana, transit dan fisik benda langit.

Gerhana Matahari Total 2006. Kredit: Geoff Simms
Gerhana Matahari Total 2006. Kredit: Geoff Simms

Anggota Tata Surya Bumi, Bulan dan Matahari membentuk sebuah sistem yang dapat membangkitkan fenomena di langit misalnya fasa bulan Purnama, fasa bulan Mati, fasa bulan separuh (kuartir awal dan akhir) dan juga gerhana Bulan maupun gerhana Matahari. Setiap bulan berlangsung fenomena bulan mati, secara praktis  pemandangan Bulan di langit tak dapat ditemukan oleh mata bugil manusia.  Dalam istilah astronomi momen fasa bulan Mati tersebut dinamakan konjungsi atau ijtimak. Pada momen tersebut kedudukan Bulan di langit berdekatan dengan Matahari, dan keduanya berada pada bujur ekliptika yang sama. Kedudukan Matahari selalu di arah ekliptika, bila fenomena Bulan mati tersebut Bulan dan Matahari berada di dekat titik simpul orbit bulan terhadap ekliptika maka akan berlangsung gerhana Matahari seperti gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 dan gerhana Matahari Cincin 1 September 2016.

Fenomena alam tertutupnya seluruh bundaran Matahari oleh bundaran Bulan merupakan fenomena langka bagi yang hendak menyaksikannya secara langsung. Jarak Bumi ke Matahari sekitar 400 kali lebih jauh dari jarak Bumi ke Bulan. Bentuk orbit Bulan mengelilingi Bumi berbentuk ellips oleh karena itu jarak Bumi – Bulan setiap saat berubah. Demikian pula bentuk orbit Bumi mengelilingi Matahari berbentuk ellips, oleh karena itu jarak Bumi – Matahari juga tidak tetap. Variasi jarak Bumi ke Bulan bisa mencapai 12% dari harga rata – rata 384400 km dan variasi jarak Bumi ke Matahari bisa mencapai 3% dari harga rata – rata 149 597 870 700 km.

Kenyataan akibat orbit Bulan mengelilingi Bumi maupun Bumi mengeliingi Matahari berbentuk ellips perbandingan jarak tersebut bisa bervariasi antara 362 – hingga 419 kali. Sedang diameter batu karang Bulan tetap yaitu 3476 km sekitar 400 kali lebih kecil dari diameter bola gas pijar Matahari yaitu 1392000 km, sehingga penampakan bundaran Bulan dan Matahari di langit tampak hampir sama, namun sebenarnya bundaran Bulan dibanding bundaran Matahari  di langit bisa bervariasi antara 95% hingga 110%.   Kedekatan kedudukan Matahari di titik simpul dan variasi perbandingan diameter sudut bundaran Bulan dibanding bundaran Matahari ini menjadi penyebab bisa terjadinya ragam gerhana Matahari yaitu gerhana Matahari Sebagian (GMS), gerhana Matahari Total (GMT), gerhana Matahari Cincin (GMC) dan gerhana Matahari Hibrida (GMH).

Kemiringan orbit Bulan terhadap Bumi

Orbit Bulan mengelilingi Bumi mempunyai kemiringan sekitar 5.1 derajat terhadap ekliptika, orbit Bumi mengelilingi Matahari, oleh karena itu setiap tahun hanya akan terjadi gerhana Matahari pada momen Matahari dekat dengan titik simpul orbit Bulan mengelilingi Bumi terhadap ekliptika. Momen tersebut dinamakan dengan musim gerhana. Setiap tahun dapat berlangsung tiga kali dan minimal dua kali musim gerhana, pada tahun 2016 akan berlangsung sebanyak dua kali musim gerhana yaitu pada bulan Maret dan September 2016.

Dalam setahun dapat berlangsung minimal dua gerhana Matahari dan maksimal 5 gerhana Matahari, pada tahun 2016 akan berlangsung dua gerhana Matahari yaitu gerhana Matahari Total pada hari Rabu tanggal 9 Maret 2016 dan gerhana Matahari Cincin pada hari Kamis tanggal 1 September 2016. Kedua gerhana Matahari tersebut akan berlangsung dengan selang waktu sekitar 6 bulan atau satu semester.

Gerhana Matahari Total, Rabu,  9 Maret 2016 atau GMT-2016 merupakan gerhana ke 52 dari 73 gerhana seri Saros 130 dan gerhana Matahari Cincin, Kamis, 1 September 2016 atau GMC-2016 merupakan gerhana ke 39 dari 71 gerhana seri Saros 135. Saros merupakan sebuah siklus gerhana dengan selang waktu 223 kali siklus sinodis Bulan (selang waktu bulan dari satu fasa ke fasa yang sama berikutnya, rata – rata 29.535 hari) atau sekitar 18 tahun 11.3 hari.

Pada abad 21 terdapat 224 GM, terdiri dari 77 GMS; 68 GMT; 72 GMC dan 7 GMH. GMT-2016 merupakan gerhana Matahari ke 33 di abad 21 atau GMT ke 9 di abad 21. GMT-2016 merupakan jalur GMT yang pertama melewati Indonesia di abad 21. Selama abad 21 ada lima jalur GMT yang melewati wilayah Indonesia, yang pertama adalah GMT-2016, kemudian 20 April 2042 (melewati Jambi), GMT 12 September 2053 (jalur melewati pulau nusa tenggara barat (?) tidak melewati ibukota provinsi), GMT 24 Agustus 2098 (melewati Medan), dan GMT 22 Mei 2096 (melewati Bandar Lampung). Jadi GMT-2016 merupakan fenomena yang langka bagi masyarakat atau penghuni di wilayah Indonesia, tidak semua ibukota provinsi di Indonesia dilalui jalur GMT di abad 21 ini.

GMT 9 Maret 2016 merupakan GM seri Saros 130 pertama di abad 21 dan GMT pertama yang jalurnya melewati Indonesia di abad 21. Jalur berikutnya GM seri Saros 130 akan melewati Afrika 20 Maret 2034 dan melewati Amerika 30 Maret 2052 dan melewati Malaysia dan laut pada tahun 11 April 2070.

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016
Keistimewaan gerhana Matahari total tahun 2016 jalur GMT melewati pulau – pulau di Indonesia, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Halmahera, secara detail waktu awal dan akhir gerhana Matahari dapat dilihat pada Tabel Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (1a, 1b, 2a, 2b, 3a dan 3b). Kota – kota Palembang (lama gerhana Matahari Total 1 menit 58 detik dari jam 7:20:45 wib hingga jam 7:22:43 wib; maksimum  pada jam 7:21:44 wib), Plangkaraya (lama gerhana Matahari Total 2 menit 27 detik dari jam 7:28:56 wib hingga jam 7:31:24 wib; maksimum  pada jam 7:30:10 wib)  dan Palu (lama gerhana Matahari Total 1 menit 45 detik dari jam 7:38:00 wib hingga jam 7:39:46 wib; maksimum  pada jam 7:38:53 wib) merupakan kota yang dilalui oleh jalur gerhana Matahari Total. Selain itu kota – kota lain dalam Tabel 1a, dan1b;  2a dan 2b serta 3a dan 3b di bawah ini hanya menyaksikan gerhana Matahari Sebagian, yang bervariasi dari 65.4% di Kupang hingga 99.9% di Pangkal Pinang.

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Ibukota ProvinsiTipe GerhanaGerhana Matahari Mulai (jam (wib)tinggi (der)magnitudo gerhanaObskurasi Maxlama totalitas (men, det)
Pulau Sumatera
Banda AcehP06:50(r)0(r)0.7590.703-
MedanP06:36(r)0(r)0.8160.774-
PadangP06:28(r)0(r)0.9420.934-
Pakan BaruP06:24(r)0(r)0.9120.897-
BengkuluP6:19:5900.9840.986-
JambiP6:21:0210.9790.98-
Tanjung PinangP6:21:3020.9580.955-
PalembangT6:20:3021.03211m58s
Bandar Lampung (Teluk Betung)P6:19:4430.9310.921-
Pangkal PinangP6:21:0540.9980.999-
Pulau Kalimantan
PontianakP6:23:0770.940.933-
PalangkarayaT6:23:27121.03612m27s
BanjarmasinP6:23:05130.9790.98-
SamarindaP6:26:22160.9790.981-
Tanjung SelorP6:29:27170.8790.856-
Pulau Sulawesi
ManadoP6:34:09260.9650.965-
GorontaloP6:31:34230.9820.984-
PaluT6:27:53191.03811m45s
MamujuP6:26:00180.9810.983-
MakassarP6:25:21180.9020.886-
KendariP6:28:11220.9220.911-
Maluku, Maluku Utara & Papua
TernateT6:37:03291.04112m 29s
AmbonP6:33:55290.8890.869-
SorongP6:39:21330.950.946-
JayapuraP6:53:31460.7830.736-
NTT, NTB dan Bali
KupangP6:28:25230.7190.654-
MataramP6:22:54150.8060.763-
DenpasarP6:22:27140.8090.767-
Pulau Jawa
SurabayaP6:21:22110.860.832-
SemarangP6:20:3580.8740.849-
YogyakartaP6:20:3590.8480.816-
BandungP6:19:5350.8820.858-
SerangP6:19:4440.9080.891-
JakartaP6:19:5150.9060.889-

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Waktu pada momen gerhana Matahari Total Dimulai dan Berakhir
Ibukota ProvinsiGerhana Total Mulai (jam (wib))Gerhana Max (wib)Tinggi (der)Azimuth (der)Gerhana Total Selesai (wib)max obskurasi (bagian)
Pulau Sumatera
Banda Aceh-7:22:30895-0.703
Medan-7:22:271195-0.774
Padang-7:20:391394-0.934
Pakan Baru-7:21:471495-0.897
Bengkulu-7:19:491594-0.986
Jambi-7:21:471794-0.98
Tanjung Pinang-7:22:431894-0.955
Palembang7:20:457:21:4418947:22:431
Bandar Lampung (Teluk Betung)-7:20:481893-0.921
Pangkal Pinang-7:23:101994-0.999
Pulau Kalimantan
Pontianak-7:27:082395-0.933
Palangkaraya7:28:567:30:1029947:31:241
Banjarmasin-7:29:512993-0.98
Samarinda-7:35:293395-0.981
Tanjung Selor-7:38:423497-0.856
Pulau Sulawesi
Manado-7:49:144498-0.965
Gorontalo-7:45:084296-0.984
Palu7:38:007:38:5337957:39:461
Mamuju-7:35:543593-0.983
Makassar-7:34:503692-0.886
Kendari-7:40:134092-0.911
Maluku, Maluku Utara & Papua
Ternate7:51:467:53:0148977:54:161
Ambon-7:49:534892-0.869
Sorong-7:58:425396-0.946
Jayapura-8:17:206795-0.736
NTT, NTB dan Bali
Kupang-7:37:134087-0.654
Mataram-7:28:413190-0.763
Denpasar-7:27:423090-0.767
Pulau Jawa
Surabaya-7:25:552791-0.832
Semarang-7:23:542492-0.849
Yogyakarta-7:23:382491-0.816
Bandung-7:21:442192-0.858
Serang-7:21:031993-0.891
Jakarta-7:21:302092-0.889

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Nama Ibukota ProvinsiGerhana Total Berakhir (jam (wib))Gerhana Selesai (jam (wib))Tinggi Matahari (der)
Pulau Sumatera
Banda Aceh-8:24:5723
Medan-8:27:3527
Padang-8:27:3430
Pakan Baru-8:29:2331
Bengkulu-8:27:3832
Jambi-8:30:5234
Tanjung Pinang-8:32:2635
Palembang7:22:438:31:2635
Bandar Lampung (Teluk Betung)-8:30:1235
Pangkal Pinang-8:34:0037
Pulau Kalimantan
Pontianak-8:40:3042
Palangkaraya7:31:248:46:5248
Banjarmasin-8:46:3348
Samarinda-8:55:0653
Tanjung Selor-8:58:2754
Pulau Sulawesi
Manado-9:15:1965
Gorontalo-9:09:4262
Palu7:39:469:00:4057
Mamuju-8:56:2355
Makassar-8:54:3756
Kendari-9:02:5361
Maluku, Maluku Utara & Papua
Ternate7:54:169:20:5269
Ambon-9:16:2370
Sorong-9:28:2575
Jayapura-9:48:1988
NTT, NTB dan Bali
Kupang-8:55:2159
Mataram-8:43:4950
Denpasar-8:42:1248
Pulau Jawa
Surabaya-8:39:3945
Semarang-8:36:0942
Yogyakarta-8:35:2942
Bandung-8:32:0538
Serang-8:30:4636
Jakarta-8:31:3937

Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016
Jalur Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016 tidak melewati wilayah Indonesia.  Di beberapa wilayah Indonesia diantaranya adalah sebagian Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jawa dapat menyaksikan nyaris menjelang matahari terbenam, misalnya di Bengkulu mulai gerhana pada jam 17:38:06 wib, dengan tinggi 8 derajat, pertengahan gerhana pada jam 17:53:29 wib dengan tinggi 4 derajat  dan pada saat terbenam gerhana berakhir pada jam 18:08:42 wib. Di Bandar Lampung mulai gerhana pada jam 17:32:18 wib, dengan tinggi 6 derajat, pertengahan gerhana pada jam 17:54:57 wib dengan tinggi 0 derajat  dan pada saat terbenam gerhana berakhir pada jam 17:57 wib. Gerhana sebagian yang sangat tipis 0.5% hingga 1.8%.

Di kota Semarang (max 0.8%) gerhana matahari sebagian mulai jam 17:29:43 wib dengan tinggi 1 derajat dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana pada jam 17:35(s) wib, di Yogyakarta (max 1.3%) gerhana matahari sebagian mulai jam 17:26:56 wib,  dengan tinggi Matahari 2 derajat,  dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana pada jam  17:35(s) wib, di Bandung (max 2.9%) gerhana matahari sebagian mulai pada jam 17:28:13 wib dengan tinggi Matahari 4 derajat dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana  17:47(s) wib, di Serang ( max 2.5%) gerhana matahari sebagian mulai pada jam 17:29:59 wib dengan tinggi matahari 5 derajat dan  matahari terbenam dalam keadaan gerhana 17:53(s) wib dan Jakarta (max 2.3%) gerhana matahari sebagian mulai pada jam 17:30:27 wib dengan tinggi matahari tinggi 5 derajat dan  matahari terbenam dalam keadaan gerhana pada jam 17:50 (s) wib. Kota – kota lainnya tidak dapat menyaksikan gerhana Matahari Cincin yang di amati dari wilayah Indonesia sebagai Gerhana Matahari sebagian.

Diantara 224 Gerhana Matahari abad 21 tersebut hanya sekitar 32 – 38 gerhana yang dapat disaksikan dari wilayah Indonesia kebanyakan hanya momen gerhana Matahari Sebagian.  Sedang dari 72 GMC, jalur yang menyentuh kawasan Indonesia ada 10 GMC, dari 68 GMT jalur yang menyentuh kawasan Indonesia ada 5 GMT dan dari 7 GMH jalur yang menyentuh kawasan Indonesia ada 2 GMH.

Semoga GMT 9 Maret 2016 dapat dimanfaatkan secara luas untuk pendidikan masyarakat, penelitian, kepariwisataan Indonesia, maupun spiritualitas manusia.

[divider_line]

Simak semua tentang Gerhana Matahari Total 2016 di: Gerhana.Info

Ditulis oleh

Moedji Raharto

Moedji Raharto

menyelesaikan pendidikan strata sarjananya di Astronomi ITB pada tahun 1980 dan menyelesaikan program Doktor di University of Tokyo pada tahun 1998. Pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha dari tahun 1999-2004. Saat ini masih aktif di Kelompok Keahlian Astronomi sebagai Peneliti di Observatorium Bosscha dan Pengajar di prodi Astronomi FMIPA ITB.