Apa Yang Diperlukan Untuk Hobi Astrofotografi?

Salam kenal sebelumnya,

Beberapa minggu lalu saya ke Bosscha dan itu jadi momen pertama saya untuk belajar tentang kebesaran Tuhan di alam semesta. Kebetulan saya hobi fotografi dan ketika di Boscha saya sempat ngobrol dengan salah satu petugas di sana. Saya lupa nama beliau. Pasti beliau yang meracuni saya untuk tertarik untuk belajar astrofotografi.
Yang ingin saya tanyakan apa saja alat-alat yang diperlukan untuk astrofotografi?  Saya punya DSLR Canon tapi bukan 60DA karena sempat diracuni kamera itu juga oleh beliau 🙂

Beberapa yang ingin saya tanyakan

1. Apa beda teleskop refraktor, reflector dan ,katadioptri?
2. Untuk fotografi sebaiknya telleskop apa yang harus dibeli, bisa dikasih saran untuk merk tipe dan range harganya?
3. Kemudian dimana bisa memperoleh mounting untuk koneksi ke SLR karena untuk teleskopkan lebih kecil ukuranya
4. Di Jakarta apa ada tempat yang bagus untuk mengamati angkasa, apalagi banyak polusi, ini juga yang saya pelajari di Bosscha tentang polusi cahaya

Itu beberapa pertanyaan yang saya ajukan sebagai seorang newbie di dunia astronomi

Saya tunggu jawabannya

Halim Kusnadi – Jakarta

 

Sumber: Chris Madden cartoons

Perbedaan Teleskop Refraktor, Reflektor dan Katadioptrik

  • Teleskop refraktor secara adalah alat optik yang susunan sistemnya hanya menggunakan lensa.
  • Teleskop reflektor adalah alat optik yang sistemnya menggunakan cermin ( berdasarkan pantulan).
  • Teleskop katadioptrik adalah alat optik yang sistemnya menggunakan gabungan baik lensa dan cermin. Banyak jenis2 teleskop katadioptrik, dan semuanya dirancang untuk melengkapi kekurangan dari sistem refraktor atau reflektor.

Perbandingan singkat:
Teleskop refraktor sangat digemari dan pada umumnya masyarakat menganggap teleskop hanya ada 1 tipe –refraktor.  Refraktor sangat digemari karena pemakaiannya sangat sederhana, dan hampir 100 persen sinar yang terkumpulkan oleh lensa obyektif akan diteruskan ke mata kita. Dengan demikian faktor ketajaman/contrast obyek juga tinggi dimana obyek akan terlihat sangat tajam, dengan detail kontras yang bagus.

Tetapi, refraktor memiliki satu kekurangan yang cukup signifikan, yakni abrasi kromatis yang disebabkan oleh faktor dispersi kaca apabila sistem atau gelas optik yang dipakai tidak memadai (ini menjurus ke faktor harga).  Kalau dihubungkan dengan fotografi, pada umumnya akan ditemukan perbedaan harga yang cukup signifikan di antara lensa biasa dan lensa ED (yang menggunakan gelas dengan special dispersion index) atau lensa APO (apochromatic).

Refraktor juga bermasalah dalam hal ukuran. Semakin besar teleskop refraktornya, akan semakin mahal dan “ribet” untuk memfasilitasi teleskop tsb. Permasalahan yang ditemui biasanya faktor beratnya lensa obyektif di sisi yang diangkat untuk diarahkan ke langit.  Saat ini pada umumnya teleskop-teleskop besar di dunia memakai sistem reflektor untuk mengakali faktor berat tersebut.

Reflektor  memiliki 2 cermin, dimana sinar masuk ke cermin utama dan dipantulkan ke cermin sekunder dan kemudian dipantulkan lagi untuk akhirnya sampai ke pengamat. Sistem ini lebih sederhana, murah, dan ringan apabila dibandinkan dengan refraktor.  Keuntungan dari dimensi teleskop, panjang teleskop hanya setengah teleskop refraktor karena cahaya datang dipantulkan melalui dua cermin.

Kekurangannya, posisi cermin sekunder berada di tengah di antara obyek dan cermin utama. Akibatnya, sebagian kecil cahaya yang datang akan terhalangi yang mengakibatkan berkurangnya ketajaman atau contrast (citra yang dihasilkan jadi lebih lembut).

Perangkat yang digunakan untuk menggantungkan cermin sekunder (biasanya berupa kawat, atau besi tipis) akan memberikan efek diffraction spike. Untuk mengetahui seperti apa efek diffraction spike, lakukan eksperimen dengan menambahkan tali pancing atau kawat di depan lensa SLR, dan benda-benda terang akan menghasilkan spike tersebut.

Reflektor tidak memiliki abrasi kromatis, tetapi bermasalah dengan abrasi sferis karena permukaan cermin utama yang berbentuk sferis. Apabila cermin utama berbentuk parabola, akan ditemukan “error” yang lain seperti “coma”, “astigmatism”, dll.

Untuk mengatasi masalah abrasi dan “error” pada reflektor tersebut, maka terciptalah berbagai rancangan teleskop katadioptrik.

Kamera untuk Astrofotografi
Untuk astrofotografi, dibutuhkan sebuah kamera dengan fitur bukaan yang lama (beberapa detik sampai menit). Ketika cahaya dikumpulkan dalam rentang waktu tertentu, langit akan bergerak karena rotasi bumi, apabila zoomnya kecil (dengan wide lens), kita dapat memotret obyek selama 10-30 detik tanpa terdeteksinya pergerakan langit di hasil foto.

Apabila zoom yang digunakan cukup tinggi, dan waktu bukaan juga cukup lama, harus digunakan tracking mount yang telah dikalibrasi dengan lokasi pengamatan (sehingga parallel dengan sumbu rotasi bumi).

Canon 60Da memang bagus, tapi kamera-kamera lain juga bisa dipergunakan.  Salah satu kelebihan dari 60Da adalah filter sensor kamera berbeda dengan filter sensor kamera lainnya sehingga kamera lebih sensitif terhadap gelombang cahaya hydrogen-alpha (untuk nebula). Filter sensor kamera lain biasanya memotong informasi yang penting ini.

Pemilik SLR lain dapat “mengoprek” kameranya dengan mengganti filter sensor dengan sebuah kaca biasa (kualitas tinggi dan ketebalan sama) atau dengan kaca filter dengan transmisi khusus yang akan membiarkan gelombang hydrogen-alpha masuk untuk direkam. Cara ini lumayan beresiko, dan sebaiknya mencari pakar “oprek” yang ahli spt pakar2 pengoprek untuk IR, dll.

Teleskop untuk Astrofotografi
Pada umumnya, yang paling sederhana untuk digunakan adalah teleskop refraktor karena biasanya pengguna tidak direpotkan dengan proses kolimasi (collimation). Merk, tipe dan range harga harus disesuaikan dengan tempat pemesanan anda dan ketersediaan instrumen tersebut baik di luar negri / dalam negeri.

Untuk astrofotografi, fokuslah pada dudukan yang memiliki tracking system, terutama untuk faktor kekuatan beban dan presisi gigi-gigi (gear) di dalam mounting.

Perlengkapan Astrofotografi
Untuk bisa melakukan kegiatan astrofotografi, selain kamera dan teleskop, diperlukan juga koneksi dari kamera ke teleskop. Koneksi yang dibutuhkan itu antara lain T-mount untuk jenis SLR (contoh untuk Canon), juga sebuah adapter dari T mount ke ukuran 1,25 inchi atau 2 inchi untuk penggabungan ke teleskop (ukuran eyepiece pada teleskop 1,25 inchi dan 2 inchi). Perlengkapan astrofografi di Indonesia bisa diperoleh di toko penyedia teleskop yang ada di Jakarta.

Pengamatan di Jakarta
Untuk melakukan pengamatan di Jakarta, jika mengingat kondisi polusi cahaya-nya maka pengamatan sulit dilakukan. Untuk itu, solusi yang kami tawarkan adalah mencari lokasi gelap yang representatif untuk melakukan pengamatan.

Caranya bisa menggunakan fitur di Google Earth untuk menampilkan foto Bumi yang diambil pada malam hari. Dari citra yang ditampilkan carilah lokasi yang masih berwarna hitam dan hindaril lokasi yang terang / berwarna kuning.  Lokasi hitam menunjukkan rendahnya polusi cahaya di area tersebut sedangkan yang terang merupakan indikasi tingginya polusi cahaya di area tersebut.

Happy hunting, dan selamat berkecimpung di dunia astrofotogafi, mari kita perangi polusi cahaya 😀

______

Bacaan lainnya :

Untuk pemahaman lebih jelas terkait teleskop bisa dibaca di taut berikut:

Untuk pemahaman polusi cahaya bisa dibaca di :

____

Punya pertanyaan tentang astronomi? Silahkan Tanya LS!

Ditulis oleh

Pengembara Angkasa

Pengembara Angkasa

Pengelana yang telah banyak menjelajahi angkasa raya dan ingin membagi kisahnya dengan banyak orang. Senang pula mengamen, nebeng kapal orang, dan menumpang tidur di rumah singgah antar bintang.