Fenomena Langit Bulan Mei 2020

Komet C 2020/F8 (SWAN) akan jadi salah satu atraksi langit menarik yang bisa diamati selain hujan meteor Eta Aquariid dan perjumpaan planet di langit dalam fenomena langit bulan Mei 2020.

Komet C 2020/F8 (SWAN) yang dipotret dari Kupang, NTT. Fotografer: NJUNX
Komet C 2020/F8 (SWAN) yang dipotret dari Kupang, NTT. Fotografer: NJUNX

Planet 

Merkurius. Planet terkecil ini sedang berada pada posisi terjauhnya dari Bumi dan hilang dalam cahaya Matahari. Waktu terbit dan terbenam Merkurius tidak jauh berbeda dari matahari karena itu sulit diamati. Setelah konjungsi superior di awal Mei, planet Merkurius mulai bergeser dan tampak setelah Matahari terbenam jelang akhir Mei dan terus menanjak naik di ufuk barat sampai akhir Mei. Di awal bulan, merkurius berada di rasi Aries dan terus bergerak ke rasi taurus dan berakhir di Gemini.

Setelah muncul di langit senja, Merkurius berpapasan dekat dengan Venus dan akan tampak seperti segitiga ketika berkonjungsi dengan Bulan dan Venus.

Venus. Bintang Kejora ini bisa diamati setiap malam setelah Matahari terbenam selama bulan Mei. Planet Venus akan tampak cemerlang di barat dan bisa diamati di rasi Taurus. Sepanjang bulan mei, Venus terus turun mengejar Matahari ufuk Barat dan berpapasan dengan Merkurius dan Bulan di penghujung Mei.

Mars. Planet merah ini bisa diamati di sepanjang bulan Mei mulai tengah malam sampai fajar menyingsing.  Mars akan tampak di rasi Capricornus dan terus bergerak ke rasi Aquarius mulai pertengahan Mei. 

Jupiter & Saturnus. Ketiga planet ini bisa diamati setiap malam, selama bulan Mei. Dua planet gas raksasa ini terbit sebelum tengah malam, didahului oleh Jupiter dan disusul Saturnus 20 menit kemudian. Kedua planet ini mudah dikenali karena termasuk objek terang di langit malam. Pada pertengahan Mei, Bulan akan berpapasan juga dengan Jupiter dan Saturnus di langit malam.

Selama bulan Mei, planet Jupiter dan Saturnus bisa diamati di rasi Sagittarius dan Capricornus.

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut.

Uranus baru bisa diamati mulai pertengahan Mei menjelang fajar di rasi Aries. Sementara itu, Neptunus bisa diamati setelah lewat tengah malam sampai fajar menyingsing. Neptunus akan tampak di rasi Aquarius.

Bulan

Fase Bulan selama Mei 2020. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan
Fase Bulan selama Mei 2020. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

1 Mei. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

6 Mei. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 359.654 km.

7 Mei. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

14 Mei. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

18 Mei.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 405.583 km

23 Mei. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan

Pengamatan hilal akan dilakukan pada tanggal 22-23 Mei untuk menentukan awal Syawal 1441 H. Bulan memasuki fase Bulan Baru pukul 00:39 WIB. Pada saat Matahari terbenam Bulan sabit tipis sudah terbentuk dan Bulan masih bisa diamati setelah Matahari terbenam.

Hujan Meteor

5 Mei – Hujan Meteor Eta Aquariid

Hujan Meteor Eta Aquariid saat mencapai intensitas maksimum 5 Mei 2020 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan Meteor Eta Aquariid saat mencapai intensitas maksimum 5 Mei 2020 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk

Dimulai tanggal 19 April – 28 Mei, hujan meteor Eta Aquariid yang berasal dari sisa komet Halley akan mencapai maksimum tanggal 5 Mei. Hujan meteor tersebut akan tampak tampak datang dari rasi Aquarius dan bisa diamati setelah lewat tengah malam sampai jelang fajar, setelah rasi Aquarius terbit pukul 01:26 WIB.

Bulan sedang menuju purnama dan terbenam pukul 03:34 WIB. Di malam puncak, pengamat bisa melihat 40 – 85 meteor yang berasal dari sisa komet Halley setiap jam dengan kecepatan 66,9 km/detik.

Komet

Komet C/2020 F8 (SWAN)

Komet C/2020 F8 (SWAN) pada tanggal 12 Mei 2020 ketika berada pada jarak terdekar dari Bumi. Kredit: The Sky Live
Komet C/2020 F8 (SWAN) pada tanggal 12 Mei 2020 ketika berada pada jarak terdekar dari Bumi. Kredit: The Sky Live

Komet C/2020 (SWAN) yang ditemukan oleh Kamera SWAN pada Wahana SOHO pada tanggal 25 Maret 2020. Komet SWAN sedang menuju perihelion atau jarak terdekatnya dari Matahari yang akan dicapai tanggal 26 Mei 2020 pukul 09:34:41 WIB. Jarak terdekatnya dari Matahari 0,43 AU atau sekitar 65 juta km.

Komet SWAN saat ini baru meninggalkan rasi Aquarius dan menuju rasi Cetus pada jarak 0,7 AU atau 113,4 juta km dari Bumi dan bisa diamati oleh pengamat di Bumi dan di Indonesia dengan kecerlangan sekitar 5,7 magnitudo. Komet SWAN akan mencapai jarak terdekat dengan Bumi tanggal 13 Mei 2020 dengan jarak 0,56 AU atau 85 juta km. Untuk lokasi Jakarta, komet SWAN di awal Mei ini terbit pukul 03:23 WIB dan baru bisa teramati sekitar satu jam kemudian saat ketinggian mencapai lebih dari 10º. Pertengahan Mei ketika Komet SWAN semakin mendekati Matahari, pengamat di Bumi tidak akan bisa melihatnya, sampai ketika komet SWAN kembali menjauhi Matahari. Akhir Mei, komet SWAN berada di rasi Auriga.

Peristiwa

5 Mei — Konjungsi Superior Merkurius

Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan
Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius akan berpapasan dekat dengan Matahari di langit sehingga planet ini menghilang dan tidak akan tampak bagi pengamat di Bumi. Pada saat konjungsi superior, Matahari berada di antara Merkurius dan Bumi, dan hanya terpisah 0,1°dari Matahari.

Ketika Merkurius sedang berada pada posisi terjauhnya dari Bumi, ia akan berada pada jarak 1,32 AU dari Bumi. Jika Merkurius bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 5,1 detik busur.

Peristiwa konjungsi superior Merkurius menandai akhir kenampakan planet ini kala fajar dan mulai bertransisi untuk hadir kala senja dalam beberapa minggu lagi.

12 – 13 Mei — Bulan — Jupiter — Saturnus

Konjungsi Bulan, Jupiter, dan Saturnus tanggal 12 Mei malam sampai 13 Mei dini hari. Ini adalah simulai kenampakan Bulan, Jupiter, dan Saturnus 12 Mei 2020 pukul 23:30 WIB. Kredit: Solar Walk
Konjungsi Bulan, Jupiter, dan Saturnus tanggal 12 Mei malam sampai 13 Mei dini hari. Ini adalah simulai kenampakan Bulan, Jupiter, dan Saturnus 12 Mei 2020 pukul 23:30 WIB. Kredit: Solar Walk

Bulan tampak bersama Jupiter dan Saturnus membentuk segitiga di langit malam. Bulan dan Jupiter berkonjungsi pada pukul 16:41 WIB dan tidak bisa teramati karena keduanya belum terbit. Akan tetapi, setelah Jupiter terbit pukul 22:12 WIB disusul Bulan pukul 22:25 WIB dan Saturnus pukul 22:32 WIB, ketiga objek akan tampak membentuk segitiga di langit malam sampai fajar menyingsing. Bulan berada 2,25º di selatan Jupiter dan 2,6º di selatan Saturnus.

15 Mei — Bulan — Mars

Konjungsi Bulan dan Mars 15 Mei 2020, dengan kenampakan pada pukul 02:00 WIB. Kredit: Solar Walk
Konjungsi Bulan dan Mars 15 Mei 2020, dengan kenampakan pada pukul 02:00 WIB. Kredit: Solar Walk

Bulan cembung dan Mars berpasangan di ufuk timur sejak keduanya terbit. Bulan terbit terlebih dahulu pada pukul 00:08 WIB disusul Mars pada pukul 00:27 WIB. Keduanya hanya terpisah 2,72° dan mencapai ketinggian 74º di atas horison sebelum menghilang di balik cahaya Matahari pada pukul 05:48 WIB.

22 Mei — Merkurius — Venus

Pasangan Merkurius dan Venus kala senja tanggal 22 Mei 2020 pukul 18:15 WIB. Kredit: Solar Walk
Pasangan Merkurius dan Venus kala senja tanggal 22 Mei 2020 pukul 18:15 WIB. Kredit: Solar Walk

Merkurius dan Venus berpasangan hanya terpisah 0,8º di langit senja setelah matahari terbenam. Keduanya bisa diamati sejak Matahari terbenam di ufuk barat pada ketinggian 13º. Keduanya sudah mulai bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai ketika kedua planet terbenam beriringan. Merkurius terbenam pukul 18:48 WIB disusul Venus pukul 18:51 WIB.

24 Mei — Bulan — Merkurius — Venus

Trio Bulan, Merkurius, dan Venus kala senja tanggal 24 Mei 2020 pukul 18:00 WIB. Kredit: Solar Walk
Trio Bulan, Merkurius, dan Venus kala senja tanggal 24 Mei 2020 pukul 18:00 WIB. Kredit: Solar Walk

Bulan sabit tipis yang baru berusia hampir 2 hari berkonjungsi dengan Merkurius dan Venus. Ketiganya bisa diamati setelah Matahari terbenam dengan ketinggian 10º untuk Venus dan 13º untuk Merkurius. Bulan sabit hanya mengalami 3% iluminasi cahaya Matahari, sehingga masih cukup sulit diamati. Bulan dan Merkurius hanya terpisah 2,76º sementara jarak dengan Venus 2,6º.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Akhir Mei menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati mulai tengah malam membentang dari Tenggara ke Barat Laut dan bisa dinikmati kehadirannya mulai tengah malam.

Setelah Matahari terbenam, ada Capella di rasi Auriga, Betelgeuse dan Rigel di rasi Orion, Pollux dan Castor di Gemini, Procyon di rasi Canis Minor, Sirius di rasi Canis Major, Canopus di rasi Carina, Spica di rasi Virgo, Rigel Kentaurus di Centaurus, Rasi Crux, Arcturus di rasi Bootes, Regulus di rasi Leo, Antares di Scorpius. Mulai tengah malam ada Vega di rasi Lyra, Altair di rasi Aquila, yang bisa diamati sepanjang malam sampai jelang fajar.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

 

Peta Bintang 1 Mei 2020

Peta Bintang 15 Mei 2020

 

Kampanye Langit Gelap

14 — 23 Mei — Kampanye Globe At Night

Di bulan Mei, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 14 – 23 Mei.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye bulan Mei, para pengamat di belahan utara bisa mengamati rasi Leo dan Bootes, sementara pengamat di belahan selatan diajak untuk mengamati Leo dan Crux. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...