Menuju Kemandirian Antariksa Indonesia

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah kapan Indonesia bisa mengirimkan misi luar angkasanya. Tidak mudah memang apalagi dengan dana riset yang terhitung tidak  terlalu besar di negara kita ini. Akan tetapi tak berarti mimpi itu jadi pupus.LAPAN sebagai lembaga antariksa di Indonesia tidak kenal lelah untuk mewujudkan mimpi itu secara bertahap. Dimulai dari pengembangan satelit yang dibuat dan dioperasikan oleh LAPAN sendiri. Artinya, Indonesia memasuki industri satelit yang dimulai dengan pengembangan mikro satelit atau mikrosat. Tercatat ada 3 mikrosat yang sudah dikirimkan LAPAN ke orbit.

Peluncuran roket PSLV-C34 yang membawa 20 mikrosat dari berbagai negara, diantaranya mikrosat LAPAN-A3/LAPAN-IPB dari India. Kredit: Indian Space Research Organization

Mikrosat terakhir yang dikirimkan LAPAN adalah mikrosat LAPAN-A3 / LAPAN – IPB yang berhasil diluncurkan pada bulan Juni 2016. Peluncuran dilakukan selang sembilan bulan setelah peluncuran mikrosat LAPAN-A2 atau LAPAN-ORARI. Mikrosat LAPAN – IPB merupakan satelit ketiga yang dimiliki oleh LAPAN dan satelit kedua yang dirancang dan dibuat oleh LAPAN sendiri dibawah pengawasan konsultan dari Jermana.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang mikrosat LAPAN, langitselatan menyempatkan untuk berdialog dengan Prof. Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

LAPAN merupakan lembaga yang saat ini diamanatkan untuk melakukan pelbagai kegiatan keantariksaan. Payung hukum dunia antariksa Indonesia itu sendiri tertuang dalam UU No. 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.  Kegiatan tersebut meliputi penelitian dan pengembangan di bidang sains antariksa, penginderaan jauh, penguasaan teknologi keantariksaan, dan peluncuran wahana antariksa. Salah satunya adalah satelit.  Sebelum kehadiran satelit LAPAN, satelit lainnya yang dimiliki Indonesia merupakan satelit yang dibuat di luar negeri.

Menurut Thomas, “kendala utama dari pengembangan satelit adalah keterbatasan anggaran dan penyediaan komponen khusus yang tidak tersedia di pasaran bebas. Karena itulah LAPAN  memulainya dengan satelit mikro yang biayanya relatif murah, pembuatannya relatif cepat, dan bisa diluncurkan secara piggy back (menumpang peluncuran satelit besar)”.

Satelit, dalam hal ini satelit buatan merupakan obyek buatan manusia yang ditempatkan di orbit Bumi dengan misi tertentu. Bagi suatu negara, keberadaan satelit sangatlah penting.  Satelit menjadi kebutuhan masyarakat modern di berbagai sektor, di antaranya untuk kebutuhan komunikasi maupun sektor pangan ataupun lingkungan.

Untuk Indonesia, kondisi geografis menjadi alasan paling utama kebutuhan satelit. Komunikasi jelas menjadi alasan teratas mengapa kita perlu satelit. Selain sektor komunikasi, satelit juga diperlukan untuk pengamatan Bumi dalam hal ini pengawasan sumber daya alam, lingkungan, iklim, cuaca, mitigasi bencana, navigasi, kesehatan, maupun edukasi.

Saat ini, Indonesia memiliki 8 satelit aktif. Tiga di antaranya berada di orbit rendah (LEO) dengan ketinggian sekitar 600 km dan dioperasikan oleh LAPAN. Sisanya berada di orbit tinggi (GSO) dengan ketinggian sekitar 36 ribu km. Semua satelit LEO tadi diluncurkan memakai roket India sedangkan satelit-satelit GSO-nya diluncurkan memakai roket amerika, Perancis dan Cina.

Mikrosat LAPAN seri A. Kredit: LAPAN
Mikrosat LAPAN seri A. Kredit: LAPAN

Satelit yang dioperasikan LAPAN diberi kode awal A, dengan seri A sebagai kode untuk satelit eksperimen yang tingkat operasionalitasnya ditingkatkan.

Satelit pertama yang dibuat LAPAN adalah mikrosat LAPAN-A1/LAPAN-TUBsat  dengan bobot 54 kg dan ketinggian orbit polar 630 km. Mikrosat LAPAN-TUBsat merupakan satelit eksperimen dengan muatan kamera video yang dibuat pada tahun 2003 dan diluncurkan pada tahun 2007. Inilah generasi pertama satelit dengan muatan kamera video yang bisa dikendalikan dari Bumi.

Mikrosat LAPAN-A1 bertugas untuk eksperimen teknologi, pemantauan alam Indonesia seperti kebakaran hutan, gunung berapi dan banjir. LAPAN-A1 juga bertugas untuk menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak.  Misi lain dari mikrosat LAPAN-TUBsat adalah uji coba fungsi kontrol ketinggian dengan melakukan manuver ketinggian.  Untuk mikrosat pertamanya, LAPAN bekerjasama dengan Technical University Berlin (TUB), Jerman dan seluruh proses pembuatan dilakukan di Jerman.

Satelit kedua LAPAN diberi nama LAPAN-A2 atau yang dikenal sebagai LAPAN-Orari atau IO 86  (Indonesia-OSCAR 86)diluncurkan pada tanggal 28 September 2015. LAPAN-A2 masih merupakan mikrosat yang diluncurkan dengan cara piggy back. Bedanya, mikrosat LAPAN-A2 sudah dibuat oleh LAPAN di Indonesia dengan bimbingan dari Jerman. Mikrosat LAPAN-A2 memiliki bobot 76 kg dan ketinggian orbit ekuatorial 650 km. Untuk mikrosat generasi kedua ini, misi yang diemban lebih banyak dengan muatan yang bisa dioperasionalisasikan atau dengan kata lain, datanya bisa langsung dimanfaatkan. Misi utamanya adalah mitigasi bencana.

Muatan yang dibawa adalah sensor AIS (Automatic Identification System) untuk pemantauan kapal di perairan Indonesia. Kualitas kamera yang dibawa juga lebih baik dari LAPAN-A1. Selain itu, ada muatan untuk transmiter radio amatir yang digunakan untuk komunikasi radio di daerah terpencil.

Mikrosat LAPAN-A3 / LAPAN-IPB. Kredit: LAPAN
Mikrosat LAPAN-A3 / LAPAN-IPB. Kredit: LAPAN

Sembilan bulan setelah LAPAN-A2/LAPAN-ORARI diluncurkan, LAPAN kembali meluncurkan satelit ketiganya pada tanggal 22 Juni 2016. Satelit LAPAN-A3 merupakan mikrosat generasi ketiga LAPAN dengan bobot 120 kg dan ketinggian orbit polar 505 km. Mikrosat LAPAN-A3 atau LAPAN/IPB merupakan hasil kerjasama LAPAN dan Institut Pertanian Bogor yang dirakit dan diuji selama 1,5 tahun. Mikrosat LAPAN-IPB yang juga dikenal dengan nama Lisat membawa 4 misi utama yakni:

  1. Pemantauan lahan pertanian dengan kamera multispektral,
  2. Pemantauan kapal laut dengan sensor AIS
  3. Pemantauan medan magnet bumi
  4. Pengujian instrumen satelit yang dikembangkan LAPAN.

Thomas mengatakan, “Pembuatan satelit di Indonesia merupakan upaya kemandirian, bahwa kita bisa membuat satelit yang baik di fasilitas kita sendiri, oleh para peneliti dan perekayasa Indonesia. Profesor Jerman yang membimbing pembuatan Satelit LAPAN-A1 tetap difungsikan sebagai advisor untuk memberikan saran penyempurnaan dan uji kualitas.”

Dalam keterkaitan dengan rawannya bencana hidrometeorologi yang terjadi di Indonesia, menurut Thomas, satelit mikro direncanakan untuk dikembangkan dalam suatu konstelasi. Biasanya, sebagian misinya diarahkan untuk misi meteorologi dalam hal ini pemantauan potensi bencana hidrometeorologi.  Walaupun demikian, satelit cuaca di orbit geostasioner merupakan pilihan terbaik untuk pemantauan cuaca ekstrim.

Seluruh mikrosat LAPAN diluncurkan dari Bandar Antariksa (Bandariksa) Satish Dhawan, Sriharikotta, India. Hal ini dikarenakan LAPAN telah menjalin kerjasama keantariksaan dengan India cukup lama, sehingga biaya peluncuran bisa ditekan. Selain itu, India juga mempunyai reputasi peluncuran satelit yang cukup baik. Tapi, tidak selamanya peluncuran satelit akan dilakukan di India.

Dalam kurun waktu sekitar 24 tahun, Indonesia menargetkan untuk untuk memiliki bandariksa  sesuai amanat UU no 21/2013 tentang keantariksaan. Menurut Thomas, “dalam draft rencana Induk keantariksaan, ditargetkan sebelum 2040 Indonesia sudah mempunyai bandar antariksa di wilayah Timur Indonesia.” Dengan demikian kita bisa meluncurkan sendiri satelit ataupun wahana yang dibuat oleh Indonesia.

LAPAN dan Eksplorasi Luar Angkasa di Masa Depan
Saat ini eksplorasi luar antariksa tidak hanya dimiliki oleh satu negara. Hampir semua negara maju sudah mengembangkan teknologi antariksa dan bahkan mengirim wahananya. Di Asia, China dan Jepang menjadi dua negara yang sudah mengirimkan wahana antariksa ke luar angkasa.  Bahkan China sudah berhasil mendaratkan penjejaknya di Bulan. Sementara itu, Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara masih belum bisa mengejar pencapaian misi antariksa yang sudah berkembang pesat di negara-negara maju tersebut.

LAPAN sebagai ujung tombak keantariksaan di Indonesia memang diharapkan akan dapat melakukan penjelajahan luar angkasa di masa depan. Namun demikian, menurut Thomas, kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan SDM dan anggaran. Karena itu, LAPAN masih fokus pada pemanfaatan teknologi antariksa untuk pemantauan bumi. Eksplorasi antariksa tetap dilakukan, tetapi dalam kerangka kerjasama internasional sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.

Dengan keterbatasan SDM dan anggaran, untuk dapat menjadi lembaga yang bisa menjadi tolok ukur teknologi di kawasan ASEAN, LAPAN akan fokus pada pengembangan sistem pemantauan sumberdaya alam dan lingkungan berbasis iptek penerbangan dan antariksa.

Sebagai lembaga penelitian, LAPAN tentunya memiliki data riset yang dilakukan oleh para periset maupun data yang bisa dimanfaatkan dari pemantauan satelit. Jadi tidak mengherankan jika ada keingintahuan apakah di era open data dan crowdsourcing saat ini, LAPAN juga akan merilis  data yang sudah dimiliki kepada publik untuk dimanfaatkan dan diolah oleh publik.

Dalam jawabannya, Thomas menyampaikan kalau, “data yang diperoleh LAPAN bersifat terbuka dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak, terutama untuk penelitian dan pemanfaatan bagi publik. Sebagian data disediakan di situs web LAPAN, sebagian lagi atas dasar permintaan. Partisipasi publik untuk pengolahan data masih terbatas pada tingkat perguruan tinggi, terutama terkait dengan penelitian. Untuk masyarakat umum, partisipasi terbatas pada skala edukasi pengenalan, karena memang tingkat kebutuhan untuk masayarakat umum lebih banyak pada informasi dari data terolah”.

Di akhir wawancara Thomas mengatakan, “kita bercita-cita untuk menjadi negara yang mempunyai kemampuan teknologi antariksa yang kuat. Secara bertahap kita akan menuju pada kemampuan untuk misi antariksa yang semakin maju, termasuk misi berawak. Kerjasama internasional menjadi jalan untuk mewujudkannya”.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.