Ketika Astronom Se-Asia Pasifik berkumpul, APRIM ke – 10 di China

Kalau di bulan Agustus 2008 ini China jadi tuan rumah Olimpiade, tentulah semua tahu. Tetapi apabila pada bulan Agustus ini juga China menjadi tuan rumah pertemuan astronomi, tidaklah banyak yang tahu.

Seorang anak dalam balutan pakaian khas Yunan. kredit Nggieng

Pada 3-6 Agustus yang baru lalu, bertempat di Kunming, ibukota propinsi Yunnan, China berlangsung pertemuan astronomi tingkat Asia Pasifik, dikenal sebagai APRIM (Asian Pacific Regional IAU Meeting), yang merupakan penyelenggaraan ke sepuluh kalinya.

APRIM, merupakan kegiatan tiga tahunan di wilayah Asia Pasifik, yang menjadi wadah bagi astronom dari negara-negara di wilayah tersebut untuk bertemu, berbagi pengetahuan akan perkembangan riset astronomi, serta berbagai kegiatan yang berkait dengan astronomi. Tentunya yang paling menarik dari semuanya, adalah mengenai kesiapan menyambut Tahun Astronomi Internasional 2009 (IYA 2009).

Tercatat lebih dari 200 partisipan berasal dari lebih 10 negara di wilayah Asia Pasifik, yang semuanya terbagi dalam 8 sesi paralel, yang dilaksanakan pada tanggal 4-5 Agustus, setelah sebelumnya dilakukan sesi plenari pada tanggal 3 Agustus. Sedangkan pada tanggal 6 Agustus merupakan kesempatan berwisata menikmati keindahan alam Yunnan; yaitu berkunjung ke hutan batu sekaligus berkunjung ke Yunnan Observatory.

Stone Forrest di Yunan, China. Kredit : Nggieng

Ada delapan sesi paralel untuk membahas kemajuan studi astronomi. Tentu saja hal tersebut karena studi astronomi telah berkembang sehingga ada cabang-cabang studi yang saling berbeda dalam astronomi. Sesi pertama berisi pembahasan tentang ‘Matahari dan Ilmu keplanetan’. Dari judulnya, tentunya pembicaraan yang ada di dalamnya berkait dengan studi tentang Matahari dan yang berkaitan dengan planet-planet, baik planet dalam Tata Surya, maupun planet-planet di luar sistem Surya. Sesi dua dan empat bisa diletakkan sebagai satu sesi yang membahas tentang ‘Evolusi Bintang dan Galaksi Bima Sakti’, yang membahas mengenai studi terkini dalam pengamatan dan perhitungan kehidupan bintang serta galaksi tempat kita hidup, yaitu galaksi Bima Sakti. Sesi ketiga berisi tentang ‘Benda Kompak, Inti Galaksi Aktif dan Astrofisika Energi Tinggi’. Wuah sepertinya rumit judulnya, tetapi sesi ini berkait dengan pengamatan dan analisa benda-benda jauh dalam alam semesta kita yang berkarakteristik mempunyai energi sangat tinggi. Sesi kelima berisi pembahasan tetnang ‘Galaksi dan Kosmologi’. Sesi ini tentunya akan sangat menarik perhatian mereka yang mempelajari tentang struktur besar alam semesta kita.

Sesi enam berisi pembahasan tentang instrumen dan teknik-teknik modern dalam pengamatan astronomi yang dipergunakan pada saat kini. Sedangkan sesi tujuh merupakan sesi yang baru dan cukup menarik, yaitu tentang ‘observatorium virtual’. Apakah itu? Karena data hasil pengamatan di seluruh dunia pada saat ini sangat banyak, maka dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, maka setiap orang di seluruh muka Bumi ini dapat memanfaatkan data-data hasil pengamatan menggunakan media online. Sehingga seolah-olah pengamatan dan pengolahan data hasil pengamatan observatorium itu bisa dilakukan dari depan komputer kita sendiri tanpa harus datang ke observatoriumnya. Dengan demikian maka konsep observatorium virtual mulai diperkenalkan dalam kegiatan astronomi modern.

Peserta dari Indonesia dan Filipina. Kredit : Nggieng

Wah, sepertinya membosankan ya? Siapa bilang, marilah kita tengok ke sesi-8. Justru sesi -8 adalah yang paling menarik perhatian, karena temanya yaitu: “Edukasi dan Popularisasi Astronomi”. Pada sesi ini tidak hanya para pakar astronomi, tetapi juga penggiat edukasi, pemerintah, serta semua orang yang peduli pada astronomi berkumpul, dan membahas banyak hal: Mulai dari menyambut IYA 2009, kegiatan untuk menggali cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan langit (proyek: Asian Star), bahkan persiapan untuk pelatihan teleskop-teleskop mudah dan sederhana, baik untuk guru-guru maupun untuk murid-murid (proyek: Galileo Teacher Training Programme), program untuk memperkenalkan astronomi pada anak-anak yang tidak beruntung (Proyek: Unawe) dan tentunya masih banyak lagi yang lainnya.

Bagaimana dengan keterlibatan Indonesia pada acara tersebut? Bahwasanya, Indonesia masih cukup diakui ke-astronomi-annya, tidak hanya karena ada 12 orang dari Indonesia yang datang, terlibat pada berbagai sesi, tetapi juga dua orang Indonesia duduk sebagai ‘panitia pengarah ilmiah’ pada acara tersebut. Tidak hanya sebagai sebuah keterlibatan, tetapi kegiatan seperti APRIM merupakan angin segar bagi pengenalan astronomi. Astronomi itu bukanlah sebuah ilmu yang sulit, hanya butuh sebuah kecintaan pada alam semesta untuk memulai astronomi; terlebih menyambut tahun 2009, tahun Astronomi Internasional, mari kita sambut bersama. Alam semesta adalah milikmu untuk kau temukan.

Ditulis oleh

Emanuel Sungging

Emanuel Sungging

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.