Membangun Jejaring Astronomi Antar Negara melalui SEAAN dan GAO-ITB

Sebenarnya kegiatan ini sudah berlangsung beberapa waktu lalu, namun baru hari ini saya tuliskan disini. Yang pertama adalah South-East Asia Astronomy Network (SEAAN) dalam Thai National Astronomical Meeting (TNAM), 22-24 Maret 2007 di Bangkok dan ITB-GAO (Japan) Joint Workshop on Astronomy & Science Education, 4-6 Juli di ITB.

Kedua kegiatan ini merupakan kerjasama yang dibangun Astronomi ITB dengan negara-negara Asia Tenggara dan kerjasama ITB dan Observatorium Gunma di Jepang. Tim Rig-K sendiri hanya mengikuti dan terlibat langsung dalam acara GAO-ITB sementara untuk acara TNAM kami hanya mengikuti pemaparan laporan yang diberikan oleh Bapak Dr. Hakim L. Malasan dalam pertemuan bulanan FMIPA-ITB di Basic Science Center A (BSC-A) ITB tanggal 9 mei 2007.

peserta TNAM dari Indonesia, kredit foto HLM, AS ITB

South-East Asia Astronomy Network (SEAAN)

SEAAN merupakan salah satu bagian dalam Thai National Astronomical Meeting (TNAM), yang bertujuan untuk membangun mekanisme efektif dalam hal pembangunan riset dan pendidikan astronomi di negara-negara Asia Tenggara. Well, selama ini Indonesia memang dikenal sebagai satu-satunya negara yang memiliki Observatorium dan memiliki pendidikan Astronomi. Namun sekarang negara-negara di Asia Tenggara pun sudah mulai menggeliat. Yang paling dekat adalah Malaysia yang membangun Robotic Observatorium di Langkawi, dan juga mempersiapkan astronotnya untuk diterbangkan ke ISS. Tidak hanya itu semenjak Malaysia menjadi tuan rumah ISYA geliat pembangunan space science di negara tersebut semakin terlihat. ISYA 2007 bertujuan untuk melatih peneliti-peneliti muda di asia pasifik dalam hal riset, observasi dan pengolahan data astronomi. Indonesia sendiri mengikutsertakan 7 peserta. Selain sebagai peserta, Dr. Hakim L. Malasan juga ikut serta sebagai pengajar di ISYA 2007 tersebut.

Lain di Malaysia, lain pula di Thailand. Thailand saat ini sedang giat pula membangun astronominya. Hal ini terlihat dengan terbentuknya National Astronomical Research Institute of Thailand (NARIT) pada tahun 2004, kemudian disusul oleh rencana pembangunan 2,4 m Thai National Telescope di Dai Inthanon National Park, Chiang Mai, dimana akan dibangun juga Observatorium Nasional di Thailand. 2,4 m Thai National Telescope direncanakan selesai dan mulai digunakan bulan Januari 2009. Selain itu, tahun ini (Desember 2007) Thailand juga menjadi tuan rumah 1st International Olympiad in Astronomy and Astrophysics. Hal inilah yang menjadi motivasi diadakannya Thai National Astronomical Meeting (TNAM), sekaligus juga 1st South-East Asia Astronomy Network Meeting (SEAAN2007).

Kerjasama yang dibangun melalui SEAAN diharapkan akan dapat memberi angin segar dalam pengembangan astronomi di Asia Tenggara dimana negara-negara Asia Tenggara diharapkan dapat saling berbagi informasi dan membangun tanggung jawab dalam pembangunan astronomi tingkat lanjut. Selain itu dengan membangun jejaring diantara negara-negara Asia Tenggara diharapkan dapat lebih meningkatkan kemampuan riset dan pencapaian riset astronomi.

Jejaring yang dibangun tidak hanya bertumpu pada masalah riset Astronomi saja, melainkan juga dalam hal membangun dan memperluas awareness terhadap astronomi dan sains. Dengan demikian, akan tumbuh gairah riset dan populerisasi astronomi maupun sains di Asia Tenggara. SEAAN akan diresmikan dalam Asia-Pacific IAU Regional Meeting, di Kunming, Yunnan, PR China, Augustus 2008. dari Indonesia, Ibu Premana W Premadi dan Bapak Hakim L. Malasan akan tergabung dalam SOC acara tersebut. Selain diresmikan dalam APRIM 2008, SEAAN juga akan memiliki satu sesi tersendiri.

Di dalam acara TNAM, ada 5 peserta dari Indonesia, dimana 3 diantaranya ikut serta dalam sesi Astronomy & Astrophysics ( Suhardja D. W, Suryadi Siregar, Endang Soegiartini) dan 2 lainnya dalam sesi SEAAN (Hakim L. Malasan dan Chatief Kunjaya).

foto bersama peserta joint workshop ITB-GAO

ITB-GAO (Japan) Joint Workshop on Astronomy & Science Education

Dari SEAAN, mari kita menuju pada acara yang lingkupnya diantara dua negara yakni ITB-GAO (Japan) Joint Work shop on Astronomy & Science Education, yang merupakan perayaan 5 tahun kerjasama antara Astronomi ITB, Observatorium Bosscha dan Observatorium Gunma di Jepang .

Memorandum of Agreement (MoA) antara Gunma Astronomical Observatory dan Institut Teknologi Bandung ditandatangani April 2002. Kerjasama ini meliputi peneliian, pembangunan instrumentasi, pelatihan staf muda ITB, pertukaran staf. Pertemuan kali ini selain untuk merayakan 5 tahun kerjasama, juga ditandai oleh workshop yang pemaparan hasil kerjasama maupun pengajuan proposal untuk kelanjutan kerjasama. Acara ini selain melibatkan pihak Observatorium Gunma maupun Astronomi ITB dan Observatorium Bosscha, juga melibatkan Planetarium Jakarta, LAPAN ( dari LAPAN Watukosek maupun Bandung), Universe Awareness Indonesia maupun mahasiswa pasca sarjana dan tak lupa tim Rig-K juga ikut serta.

Prof. Hashimoto saat presentasi. kredit foto ivie

Nah salah satu bentuk kerjasama adalah dibangunnya remote telescope GAO-ITB yang selama ini digunakan untuk remote observation. Idenya kita di Indonesia bisa melihat apa yang sedang diamati oleh teman-teman di Jepang. Apa sih yang membedakan ? Toh sama-sama langit. Perbedaannya kita ini ada di belahan langit selatan sementara Jepang berada di belahan langit utara. Melalui remote telescope ini kita di Indonesia juga bisa langsung melakukan pengamatan dan penelitian terhadap objek-objek langit utara tanpa harus pergi ke negara yang berada di belahan langit utara dan demikian pula sebaliknya. Ini juga yang menjadi ide dari beberapa pemakalah yang mengajukan kerjasama dalam hal populerisasi astronomi, diantaranya UNAWE, Tim Olimpiade Indonesia dan tim Rig-K.

Tim Rig-K dalam pertemuan ini mengajukan kerjasama untuk menggunakan remote telescope untuk melakukan observasi eh melihat langit utara dalam kaitan dengan pengembangan populerisasi astronomi. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat membangun kepedulian terhadap astronomi dalam kaitan pembangunan komunitas astronomi di Indonesia. Selain masalah populerisasi astronomi, pengajuan kerjasama untuk penelitian bersama pun dilajukan. Sedangkan dalam hal riset, makalah yang diajukan melipuuti kesempatan riset menggunakan remote telescope, maupun kesempatan untuk melakukan riset bersama dengan pihak Gunma.

Dengan adanya jejaring kerja seperti ini. kita bisa saling berbagi apa yang menjadi kesulitan maupun berbagi kesempatan dalam meningkatkan gairah riset, peningkatan pencapaian hasil yang lebih baik lagi dan memperluas kepedulian terhadap sains di antara yang terlibat.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.