fbpx
langitselatan
Beranda » Kerlap Kerlip Bintang di Langit, Dimanakah Kau Sekarang?

Kerlap Kerlip Bintang di Langit, Dimanakah Kau Sekarang?

Pernahkah kamu bertanya mengapa bintang yang tampak di langit malam semakin sedikit. Apalagi untuk yang tinggal di kota besar.

Ilustrasi polusi cahaya yang menghasilkan pendar langit. Dampaknya, semakin tinggi polusi cahaya, langit semakin terang, dan semakin sedikit bintang yang tampak. Kredit: NOIRLab/NSF/AURA, P. Marenfeld
Ilustrasi polusi cahaya yang menghasilkan pijar langit. Dampaknya, semakin tinggi polusi cahaya, langit semakin terang, dan semakin sedikit bintang yang tampak. Kredit: NOIRLab/NSF/AURA, P. Marenfeld

Hasil penelitian NOIRLab dalam proyek edukasi ‘Globe at Night’ atau ‘Dunia di Malam Hari’ memperlihatkan polusi cahaya meningkat dengan cepat dan mengambil alih langit malam bertabur bintang dengan cahaya terang lampu-lampu kota. 

Langit Terang di Malam Hari

Polusi cahaya merupakan masalah serius yang efeknya juga berbahaya. Contohnya ‘pijar langit’, bentuk polusi cahaya di mana langit malam tampak terang oleh cahaya buatan di sekelilingnya. Cahaya LED putih, lampu neon dari papan iklan maupun jendela, menambah terang pijar langit. Pijaran cahaya kabur ini menyembunyikan ribuan bintang, bahkan pita Bimasakti yang seharusnya bisa tampak dengan mata tanpa alat.  

Peradaban kuno manusia menyimpan kekayaan sejarah terkait taburan bintang-bintang di langit malam. Tak terhitung budaya kuno, cerita mistik, dan struktur bangunan kuno yang terkait langsung dengan benda langit ataupun pola di langit malam. Polusi cahaya bukan hanya berita buruk bagi astronomi. Masalah yang satu ini juga berdampak pada kesehatan manusia dan siklus kehidupan margasatwa. 

Dunia di Malam Hari

Untuk memahami seberapa parah polusi cahaya di berbagai lokasi di Bumi, para penggemar sains berkolaborasi dengan ilmuwan dalam proyek “Globe at Night” yang digagas oleh astronom Connie Walker. Bersama dengan tim sains warga, proyek Globe at Night mulai mengumpulkan data kecerahan langit malam sejak tahun 2006. 

Siapapun bisa ikut serta dan mengirimkan hasil pengamatannya lewat aplikasi Globe at Night di gawai pintar atau komputer. Dalam aplikasi tersebut, peserta memasukkan data tanggal, waktu, dan lokasi pengamatan. Setelah itu mereka harus mencocokan pola bintang yang dilihat di langit malam dengan yang ada di peta bintang dan mencatatnya. Dengan demikian, para ilmuwan bisa mengukur seberapa terang seharusnya sebuah objek untuk dilihat dengan mata telanjang atau batas magnitudo mata telanjang. Dari data ini, para ilmuwan juga menemukan metode baru untuk mengukur kecerlangan pijar langit pada lokasi tertentu beserta perubahannya dari waktu ke waktu. 

Semakin Parah

Setelah mempelajari lebih dari 50.000 pengamatan, penelitian berbasis sains warga tersebut justru menemukan kalau laju peningkatan pijar langit jauh lebih cepat dibanding kecerlangan alami Bumi yang direkam satelit pada malam hari. 

Laju peningkatannya 9,6% per tahun dalam dekade terakhir! Jelas, para astronom harus menemukan cara baru untuk menyelamatkan langit malam dan mendorong masyarakat untuk terlibat aktif melindungi langit malam. Dan proyek Globe at Night merupakan contoh penting kontribusi penelitian sains warga

Fakta Keren

Para ilmuwan menduga, jika kecerlangan pijar langit terus meningkat dengan laju seperti sekarang, maka anak-anak yang lahir saat ini dan bisa melihat setidaknya 250 bintang, hanya bisa menemukan 100 bintang di langit saat berusia 18 tahun! Dan pada akhirnya semua bintang akan menghilang ditelan cahaya artifisial.

Baca juga:  Langit Malam nan Cemerlang

Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini