Bagaimana Amatir Berkontribusi dalam Astronomi?

Di penghujung tahun 2011, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu follower langitselatan. Pertanyaan yang sederhana tapi sering ditanyakan oleh masyarakat.

“Dengan tempat kuliah astronomi yang terbatas, bagaimana masyarakat bisa berkontribusi di astronomi?”

ilustration from http://luisperes.wordpress.com

Pertanyaan yang satu ini memang sering ditanyakan. Bagaimana tidak, di Indonesia lembaga yang memberikan pendidikan tinggi Astronomi sampai hari ini  hanya ada satu yaitu di Astronomi ITB. Yang diterima pun tidak lebih dari 20-30 mahasiswa setiap tahunnya. Belum lagi bagi sebagian lulusan sekolah menengah atas, masuk ITB bukan perkara mudah.

Padahal kalau dari interaksi di dunia maya dan dunia nyata, yang tertarik dengan astronomi itu banyak. Bahkan pernah ada yang bertanya, apakah mungkin saya bekerja sebagai office boy di instansi astronomi agar bisa belajar astronomi.

Bagaimana menjawab semua itu? Mungkinkah masyarakat atau katakanlah para pecinta astronomi ini berkontribusi? dan kontribusi seperti apakah?

Yuk kita mulai dari apa yang ada di benakmu ketika seseorang berbicara tentang astronomi? Bintang – bintang di langit malam? hujan meteor? planet baru? atau mungkin hal yang sedikit mistis dan salah kaprah seperti ramalan bintang dan isu kiamat?

Apapun itu, jelas astronomi menarik perhatian dan memang merupakan kajian yang menarik apalagi kita sedang berbicara tentang alam semesta dimana kita ada di dalamnya namun kita tidak bisa menyentuh benda-benda lain di alam semesta. Sebuah laboratorium maha raksasa dimana para penelitinya hanya bisa melihat dan mengambil data dari jarak yang jauh. Meskipun demikian keindahan yang dipertontonkan oleh alam semesta disertai misteri di dalamnya menyajikan sebuah asa untuk dicintai dan diselidiki oleh para pecintanya.

Tapi ada satu hal yang unik dari astronomi. Bidang ilmu yang satu ini bisa merangkul semua kalangan untuk berkontribusi. Tidak hanya berkontribusi dalam menyajikan keindahan tapi lebih dari itu berkontribusi dalam melakukan penelitian.

Inilah indahnya astronomi. Para astronom profesional bersama bekerja dengan astronom amatir dalam satu tim untuk menghasilkan sebuah penemuan.  Di astronomi, para pecinta astronomi yang seringkali melakukan kegiatan pengamatan didasari kecintaan pada langit dan tidak menjadikan astronomi sebagai profesi dikenal sebagai astronom amatir. Dan mereka inilah yang selama berabad-abad memberikan kontribusi besar dalam kemajuan astronomi. Dan jangan salah menjadi astronom amatir bukan berarti dia amatiran. Bedanya dengan astronom profesional hanyalah pekerjaan sehari-hari. Astronom amatir melakukan semua karena kecintaan dan punya pekerjaan yang berbeda dalam kehidupannya. Sedangkan astronom profesional merupakan mereka yang berlatar belakang astronomi dan bekerja di bidang astronomi.

Berbagai kegiatan dilakukan oleh astronom amatir dan penyuka astronomi untuk menyalurkan hobinya. Salah satu yang sudah pasti sering dilakukan adalah pengamatan langit malam maupun siang. Target pengamatan yang umum dilihat oleh astronom amatir adalah Bulan, planet, bintang, komet, hujan meteor, obyek langit dalam (deep sky objects) seperti gugus bintang, galaksi, dan nebula.

Biasanya astronom amatir ini menggunakan binokuler dan teleskop pribadi dan sebagian besar bekerja pada panjang gelombang tampak. Tapi ada juga yang melakukan pengamatan pada panjang gelombang lain seperti radio. Dan pionir astronomi radio justru muncul dari kalangan astronom amatir yakni Grote Reber yang membangun teleskop radio di tahun 1930 untuk menindaklanjuti penemuan pancaran gelombang radio dari angkasa yang ditemukan Karl Jansky.

Pengamatan matahari dengan You Are Galileo Telescope

Kontribusi? Bagaimana Caranya?
Pengamatan yang dilakukan astronom amatir tidak sekedar memuaskan diri untuk kesenangan mengagumi langit. Ada yang menghasilkan sajian foto nan indah dan ada pula yang mencatat apa yang mereka lihat. Hasil pencatatan itulah yang kemudian dikontribusikan dalam penelitian astronom profesional. Dan ada juga yang justru menemukan obyek baru seperti asteroid, komet ataupun fenomena yang terjadi di sebuah planet seperti halnya Anthony Wesley yang menemukan terjadinya tabrakan komet/asteroid pada Jupiter tahun 2009 lalu.

Lantas bagaimana kolaborasi dilakukan dengan astronom profesional? Bagi astronom profesional, pengamatan langit menggunakan teleskop-teleskop di observatorium atau bahkan teleskop landas angkasa tidak bisa dilakukan setiap hari hanya untuk satu obyek.  Biasanya para astronom ini mengajukan proposal meminta waktu terbaik untuk pengamatan satu obyek yang hanya beberapa hari dalam setahun. Berbeda dengan astronom amatir yang bisa melakukan pengamatan kapanpun dengan alat mereka sendiri. Bahkan mereka bisa melakukan pengamatan pada satu obyek selama berbulan-bulan tanpa harus berbagi waktu penggunaan alat dengan astronom lainnya. Hasil inilah yang kemudian dikontribusikan dan dikolaborasikan dengan astronom profesional untuk diolah menjadi sebuah hasil komprehensif dari satu penelitian ilmiah untuk kemudian dipublikasikan.

Kontribusi itu tidak hanya dalam hal penelitian, astronom amatir juga dapat berkontribusi aktif untuk mendidik masyarakat mengenal astronomi, baik melalui kegiatan Star Party atau bahkan lewat pengajaran astronomi di sekolah-sekolah yang bisa dilakukan melalui kelompok ilmiah remaja,  pembentukan klub astronomi, ataupun pengembangan alat-alat astronomi sederhana.

Beberapa contoh yang bisa dilakukan oleh astronom amatir tanpa harus melalui pendidikan tinggi astronomi di Indonesia sudah dimulai berabad-abad lampau ketika terjadi Transit Venus yang bisa dilihat dari Batavia pada tahun 1761 dan 1769. Saat itu Pendeta Johan Maurits Mohr melakukan pengamatan transit Venus 6 Juni 1761 dari Batavia dan menerbitkan hasil pengamatannya pada tahun 1763.  Mohr juga membangun sbeuah observatorium di Gang Torong, Batavia dan melakukan pengamatan transit Venus 3 Juni 1769 dan transit Merkurius 10 November 1769. Catatan pengamatannya kemudian dipublikasikan dalam tulisan Transitus Veneris & Mercurii in Eorum Exitu e Disco Solis, 4to Mensis Junii & 10mo Novembris, 1769 di Philosphcal Transactions pada 1 Januari 1771. Pengamatan ini secara tidak langsung juga berkontribusi untuk perhitungan jarak Matahari – Bumi yang saat itu menjadi problema.

Ratusan tahun kemudian, Observatorium Bosscha didirikan di Indonesia yang diprakarsai oleh di Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging / NISV (Perhimpunan Astronom Hindia Belanda) yang merupakan gabungan intelektual astronom Belanda, ahli fisika mau pun para pecinta astronomi di Hindia Belanda.  Dan dana Observatorium Bosscha juga berasal dari seorang pengusaha yang tidak punya latar pendidikan astronomi.

Kontribusi lainnya juga hadir dalam bentuk didirikannya Himpunan Astronomi Amatir Jakarta yang dimulai oleh para pecinta astronomi di tahun 80-an yang saat itu tertarik untuk melakukan pengamatan gerhana dan komet Halley. Komunitas ini kemudian berkembang tidak hanya sebagai ajang menyakurkan hobi tapi juga untuk mendidik masyarakat untuk mengenal astronomi dan membantu para siswa untuk memahami astronomi. Bahkan ikut mendorong siswa pecinta astronomi untuk melakukan karya ilmiah dari hasil pengamatannya.

Bagaimana Memulainya?

Pengamatan matahari oleh publik

Cara paling mudah untuk memulai kontribusi anda adalah dengan mengenali obyek di langit, melakukan pengamatan dan ketertarikan itu akan menimbulkan rasa ingin tahu yang kemudian akan membawa anda pada petualangan baru. Modalnya? Mata untuk melihat langit. Atau kalau butuh instrumentasi maka binokuler ataupun teleskop adalah pilihan baik untuk memulai petualangan.  Atau jika tidak ada pun, alat-alat tersebut dapat dibuat secara sederhana. Imbasnya? Pengetahuan langit dari hasil pengamatan ataupun ilmu dari membuat alat tersebut dapat dibagikan kepada orang lain.

Selain itu, tanpa meninggalkan rumah pun seseorang dapat berkontribusi dalam astronomi. Baik dalam hal memperkenalkan astronomi ataupun kontribusi dalam penelitian. Caranya? lewat internet! Kok bisa?

Data yang didapat dari pengamatan menggunakan berbagai teleskop seringkali “tidak dapat” ditangani sendiri oleh para astronom yang melakukan penelitian. Karena itulah mereka membutuhkan astronom amatir untuk membantu mengolah data tersebut. Nah, perkembangan teknologi tentunya sangat membantu dalam merealisasikan hal tersebut.  Para astronom juga menyediakan data pengamatan untuk diolah oleh siapapun yang tertarik dan berminat. Di galaxyzoo.org,  masyarakat bisa berkontribusi untuk mengkasifikasikan galaksi. Selain itu ada juga program pencarian asteroid yang melibatkan siswa sekolah.

Bagi yang tertarik untuk melakukan pengamatan bintang variabel, situs dan komunitas AAVSO (American Association of Variable Star Observers) dapat membantu untuk memberikan petunjuk bagaimana mengkontribusikan hasil pegamatannya. Ada juga proyek pencarian planet lewat transitsearch.org yang mengajak para pecinta astronomi untuk mengenali transit sebuah planet pada bintang.

Dan jika tertarik untuk mengkampanyekan langit gelap sekaligus berkontribusi dalam pengukuran langit gelap maka Globe at Night merupakan tempat terbaik untuk memulainya. Di sisi lain, jika ingin melakukan pengamatan tapi tidak punya teleskop. Program yang dibuat untuk pengamatan menggunakan teleskop jarak jauh untuk para pecinta astronomi juga bisa menjadi pilihan. Hasil pengamatan akan dikirimkan langsung pada pengamat untuk kemudian diolah.

Jadi kata siapa yang bisa berkontribusi hanya orang yang punya pendidikan astronomi? Semua orang bisa kok! Dan kamu pun bisa mengabadikan namamu di salah satu komet atau mungkin menemukan planet atau galaksi baru di luar sana!

Tak ada yang tak mungkin. Yang dibutuhkan hanyalah passion dan niat!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.