Jamur Lendir dan Alam Semesta

Ada keterkaitan antara makhluk sel satu Jamur Lendir dan Alam Semesta.  Keduanya sama-sama membentuk jejaring.

Peta jaringan kosmis. Kredit: NASA, ESA, dan J. Burchett dan O. Elek (UC Santa Cruz)
Peta jaringan kosmis. Kredit: NASA, ESA, dan J. Burchett dan O. Elek (UC Santa Cruz)

Untuk mencari makan, organisme bersel-satu Jamur Lendir (Physarum polycephalum) akan membangun jejaring filamen mirip jaring. Dan jamur lendir selalu menemukan jalur terbaik untuk terhubung ke lokasi lainnya dan memeroleh makanan. Jamur lendir ini bukan jamur seperti yang kita kenal. Jamur lendir adalah organisme bukan hewan, tumbuhan, atau fungus. berpenampilan mirip jamur namun berperilaku menyerupai amoeba.

Hal serupa terjadi dalam Alam Semesta, gravitasi mengikat galaksi dan gugus galaksi dalam sktruktur mirip jaring laba-laba yang dihubungkan oleh jembatan tak terlihat. Jembatan ini berupa filamen yang panjangnya ratusan juta tahun cahaya.

Rupanya, kedua jejaring ini memiliki kemiripan. Jejaring yang satu dibentuk oleh biologi dan evolusi, sementara jejaring yang satu lagi dibentuk oleh gaya gravitasi.

Jaringan Kosmis

Untuk membayangkannya, anggap kelompok galaksi di alam semesta itu seperti kota dan gugus galaksi itu negara di mana kota-kota ini berada. Tapi, ceritanya tak berakhir di situ. Seluruh gugus galaksi di Alam Semesta ini juga berjejaring dalam sebuah Jaringan Kosmis.

Jaringan kosmis inilah yang sedang dipelajari dan dibuat visualisasinya dari data Teleskop Hubble milik NASA/ESA. Untuk memahaminya, para astronom menggunakan sedikit bantuan dari perilaku jamur lendir.

Jaringan kosmis merupakan tulang punggung skala besar dari kosmos. Jaringan ini didominasi oleh materi gelap dan gas, yang juga membentuk galaksi. Meskipun materi gelap tidak terlihat, materi ini justru mendominasi materi di Alam Semesta.  Untuk menemukan untaian jejaring kosmis ini tidak mudah karena gas yang membentuk jembatannya sangat redup untuk bisa dideteksi.

Keberadaan struktur jaringan Alam Semesta sudah diketahui sejak tahun 1980-an saat dilakukan survei galaksi. Filamen yang tidak tampak ini membentuk batas di antara kekosongan dalam Alam Semesta.

Peta Sktruktur Alam Semesta

Untuk bisa memvisualisasikan jaringan kosmis ini, para astronom mencari cara untuk menghubungkan gas dingin di antara jejaring struktur kosmis. Rupanya, pencarian ini justru membawa mereka menemukan perkembangan tentakel jamur lendir yang membangun jaring untuk berpindah dari satu sumber makanan ke sumber makanan berikutnya.

Terinsipirasi dari perilaku jamur lendir, para astronom merancang algoritma komputasi atau resep yang memerintahkan komputer untuk mengambil langkah dalam memecahkan masalah.

Dalam penelitian ini, para astronom menulis resep untuk membuat peta struktur skala besar alam semesta.

Peta ini mencakup alam semesta lokal dalam rentang 100 juta tahun cahaya dan mencakup 37.000 galaksi yang dipetakan oleh Sloan Digital Sky Survey. Tujuan lainnya juga untuk menemukan gas di dalamnya.

Dari peta ini, para astronom kemudian memelajari 350 kuasar jauh yang sudah dimasukan dalam katalog Hubble Spectroscopic Legacy Archive. Peta ini memungkinkan para astronom untuk menemukan filamen jejaring kosmis termasuk yang jauh dari galaksi.

Kilatan cahaya kosmis inilah yang menenagai inti galaksi aktif yang menenagai lubang hitam. Cahayanya sangat terang sehingga gas dingin seperti gas hidrogen yang awalnya tidak terlihat bisa tampak dan bisa dipetakan keberadaannya pada titik-titik tertentu di sepanjang jembatan filamen yang menghubungkan galaksi dan gugus galaksi dalam jejaring kosmis.

Tak hanya itu, kerapatan gas dingin pada filamen juga bisa ditentukan. Selain itu, ada indikasi kalau gas antargalaksi diatur dalam filamen dan bisa ditemukan sampai jarak 10 juta tahun cahaya dari galaksi.

Penemuan lainnya. Ada tanda keberadaan gas ultraungu yang kuat pada area filamen yang kerapatannya tinggi. Tapi setelah itu, jejak ultraungu ini menghilang. Tampaknya, ada interaksi yang keras dari galaksi di medium antargalaksi. Utamanya pada area yang padat.

Fakta keren:

Jika galaksi Bimasakti adalah biji wijen, maka jaringan kosmis dari Alam Semesta teramati adalah Piramida Agung Giza.

[divider_line]

Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...