Pengamatan GBT Mikro di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang

Tepat pukul 2 siang, mobil Rush berwarna hitam milik Perguruan Diniyyah Puteri (selanjutnya akan disebut Diniyyah) menjemput saya di kota Padang. Saya harus bergegas memasukkan barang-barang berupa teleskop Bresser Messier AR90 ke dalam mobil. Badai sebentar lagi akan datang. Tetes-tetes air yang berasal dari awan hitam kelabu yang menggantung di atas kota Padang mulai terasa menyentuh kulit. Saya dijemput oleh Riki Eka Putra, salah seorang pegiat literasi Diniyyah yang telah menerbitkan banyak buku bertema edukasi.

Perjalanan dari kota Padang menuju Diniyyah ditempuh selama dua jam. Sekolah yang saya datangi kali ini bukanlah sekolah biasa. Sekolah yang berlokasi di Padang Panjang ini merupakan pondok pesantren modern khusus putri yang didirikan oleh Rahmah El Yunusiyyah pada tanggal 1 November 1923. Sosok Ibunda Rahmah (begitu sebutan di Diniyyah) telah diangkat pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional. Ibunda Rahmah juga berjasa dalam memperjuangkan hak-hak bersekolah bagi kaum perempuan pada masanya.

Pemilihan Diniyyah sebagai lokasi pengamatan GBT yang saya lakukan kali ini juga bukan tanpa sebab. Diniyyah Puteri Padang Panjang adalah salah satu sekolah yang saya sebutkan dalam proposal kontes teleskop yang diadakan oleh UNAWE tahun 2017 silam. Tema kontes teleskop UNAWE pada waktu itu adalah astronomi untuk perempuan. Sebagai salah satu perwakilan yang mendapatkan teleskop, langitselatan berkewajiban untuk memberikan pengalaman menyaksikan keindahan angkasa bagi anak-anak, khususnya bagi anak-anak perempuan.  Di Diniyyah itu sendiri, pengamatan GBT kali ini merupakan kali pertama diadakan bagi para santri. Kegiatan ini difasilitasi oleh Diniyyah Science Center (DSC) yang dikomandani oleh Ustazah Ayu.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore saat mobil yang membawa kami masuk ke area asrama Puteri. Saya cukup was-was. Apalagi kalau bukan karena cuaca. Hujan ternyata mengiringi perjalanan saya hingga sampai ke Diniyyah. Dengan sedikit berlari, teleskop segera berpindah ke ruangan tempat saya menginap, yaitu Ruangan VIP 3 yang berada di depan Asrama. Dari penuturan Pak Riki, ruangan yang saya gunakan sebagai tempat beristirahat ternyata termasuk bangunan bersejarah. Bangunan rumah panggung ini ternyata dulunya adalah tempat tinggal dari pahlawan nasional Ibunda Rahmah.

Asrama Diniyyah Putri dengan bangunan bergaya arsitektur Belanda. Kredit foto: Diniyyah Science Center
Asrama Diniyyah Putri dengan bangunan bergaya arsitektur Belanda. Kredit foto: Diniyyah Science Center

Saya membagi kegiatan menjadi 3 sesi: presentasi, pengamatan I, dan pengamatan II. Sengaja pengamatan dirancang dua kali untuk menyiasati cuaca. Pengamatan I dilakukan sekitar pukul 20.30, sedangkan pengamatan kedua dilakukan saat gerhana bulan total berlangsung sekitar pukul 2.15. Target pada pengamatan I adalah planet Saturnus, Jupiter, dan Mars.

Sesi presentasi dilakukan di dalam kompleks Asrama Puteri. Tak mudah untuk bisa masuk ke dalam kompleks bangunan ini, apalagi bagi laki-laki. Harus ada ijin khusus. Bahkan orangtua santri tidak diijinkan untuk masuk ke dalamnya. Demikian informasi yang diberikan oleh Pak Riki. Saat masuk melewati pintu masuk asrama, kesan yang saya rasakan adalah seperti berada di Ruang Baca Observatorium Bosscha. Nuansa bangunan ala arsitektur Belanda sangat kental terasa. Ditambah lagi dengan udara dingin yang menusuk, persis seperti di Lembang tempat Observatorium Bosscha berada. Belum lagi pendirian Dinniyah tahun 1923, bertepatan pula dengan dimulainya pembangunan Observatorium Bosscha di Lembang.  Lengkap sudah nostalgia saya yang pernah belajar ilmu astronomi di Bosscha.

Masjid An-Nur menjadi tempat presentasi dilakukan. Masjid ini terletak di bagian dalam asrama. Awalnya presentasi akan dilakukan di aula sedangkan pengamatan akan dilakukan di area lapangan basket. Semuanya berada di kompleks sekolah Diniyyah.  Namun atas pertimbangan kemudahan mobilitas, semua kegiatan akhirnya di pusatkan di asrama. Bangunan sekolah Diniyyah sendiri terletak di seberang bangunan asrama, dipisahkan oleh sebuah jalan raya.

Topik presentasi yang saya angkat tentu saja mengenai Gerhana Bulan Total Mikro. Tak lupa oposisi mars, hujan meteor, dan objek-objek langit menarik yang nantinya akan diamati juga dibahas. Saya berbicara dihadapan santri-santri dengan jenjang pendidikan setingkat SMP dan SMA. Walaupun rentang usia peserta tidaklah masuk dalam program UNAWE, yaitu usia TK dan SD, kegiatan astronomi pertama di Diniyyah ini setidaknya menjadi jalan pembuka bagi langitselatan untuk bisa membagi ilmu langit bagi anak-anak di kemudian hari. Yang menarik adalah saat sesi tanya jawab. Pengetahuan dan wawasan santri ternyata cukup luas. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain mengenai blue moon, supermoon, hingga planet seperti bumi yang telah ditemukan di rasi Cygnus yaitu Kepler-452B. Beberapa kacamata matahari kemudian saya bagikan kepada para santri yang berani bertanya ini. Sekaligus tak lupa menginfokan kepada mereka tentang fenomena Gerhana Matahari Cincin yang akan melintasi beberapa wilayah di Indonesia pada akhir tahun 2019, tepatnnya tanggal 26 Desember 2019.

Beberapa santri yang mendapatkan kacamata matahari. Kredit foto: Diniyyah Science Center
Beberapa santri yang mendapatkan kacamata matahari. Kredit foto: Diniyyah Science Center

Hujan ternyata mengguyur kota Padang Panjang hingga waktu sholat Isya telah lewat, yaitu sekitar pukul 20.30. Walaupun agak sedikit gerimis, perlahan awan-awan pembawa hujan mulai terbuka di horizon Timur. Namun terbukanya hanya di area Bulan. Sisanya masih diselimuti awan. Bulan purnama terlihat menggantung di atas bangunan asrama. Pengamatan sesi I kami putuskan jadi dilakukan. Teleskop yang semula disimpan di ruangan VIP 3, akhirnya diboyong masuk ke dalam kompleks asrama. Para santri sangat bersemangat untuk mengantri melihat objek langit.

Ada tiga objek langit yang terlihat. Bulan, Saturnus, dan Mars. Namun, awan silih berganti menutupi objek langit ini sehingga antrian menjadi panjang. Teleskop Bresser berkali-kali berganti arah pengamatan menyesuaikan dengan objek langit yang terlihat. Pengamatan yang dijadwalkan hanya sejam hingga maksimal pukul 21.30, molor hingga menjelang pukul 23.00. Bahkan jika tidak dihentikan, beberapa dari para santri masih gencar memberikan pertanyaan seputar astronomi. “Pak, supernova itu apa sih!”, “Matahari nanti jadi supernova ya Pak?”

Suasana Pengamatan sesi pertama di dalam Kompleks Asrama Puteri. Kredit foto: Diniyyah Science Center
Suasana Pengamatan sesi pertama di dalam Kompleks Asrama Puteri. Kredit foto: Diniyyah Science Center

Selepas beristirahat sejenak, pengamatan kembali dilakukan. Kami harus menunggu di luar asrama hingga kegiatan santri berupa sholat gerhana dan tahajud bersama di Masjid An Nur selesai dilakukan, sekitar pukul 2.30. Sambil menunggu pengamatan di dalam asrama, pengamatan kami lakukan di sekitar tugu peringatan 25 tahun Diniyyah yang terletak di depan Asrama. Beberapa staf DSC turut mengamati bersama. Mereka diantaranya adalah Pak Fauzan dan Pak Raan. Bahkan, beberapa momen sempat diabadaikan melalui kamera ponsel Pak Raan. Planet Saturnus dan Gerhana Bulan Sebagian. Sesekali tampak meteor melesat dari arah rasi Aquarius dan Pisces.

Tepat pukul 02.30, kami masuk ke dalam Asrama. Pengamatan II kembali dilakukan. Beruntung cuaca sudah sangat bersahabat. Awan-awan menghilang. Objek-objek langit terlihat dengan jelas. Sesekali meteor tampak melesat di langit. Target awal pengamatan dengan teleskop adalah Planet Saturnus. Beberapa santri masih ada yang belum sempat melihat planet cantik ini saat pengamatan sesi I. Sengaja saya memilih planet ini karena posisinya sudah berada di area langit sebelah Barat. Sayang jika ada santri yang belum melihat, tetapi Saturnus sudah tenggelam tertutup atap gedung.

Puas dengan Saturnus, pengamatan diarahkan ke Bulan yang telah berada pada fase total gerhana, dan Planet Mars. Kegiatan pengamatan diakhiri saat azan subuh berkumandang. Beberapa santri berharap adanya kegiatan lanjutan, khususnya pengamatan benda-benda langit. Tentu saja langitselatan sangat senang bisa berbagi ilmu kembali di lain waktu. Sampai jumpa kembali Diniyyah!

Ditulis oleh

Aldino Adry Baskoro

Aldino Adry Baskoro

alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di sekolahalam Minangkabau dan penulis di langitselatan.

Tulis komentar dan diskusi...