Observasi Bulan Super Darah Biru di Padang

Pukul 6 sore saya tiba di pelataran parkir Masjid Raya Sumatera Barat. Saya tidak sendiri. Saya datang bersama keluarga. Peralatan observasi berupa teleskop Bresser Messier AR 90/900 tak lupa dibawa serta. Inilah kali pertamanya teleskop yang merupakan amanat dari UNAWE Internasional ini digunakan untuk observasi Bulan Super Darah Biru di Padang untuk publik. Teleskop ini saya dapatkan dari sebuah kontes memenangkan teleskop UNAWE di tahun 2017. Cuaca senja hari kala itu  cukup menjanjikan karena bentangan langit di Timur cukup bersih dari awan.

Saya sengaja memilih tempat di pojok sebelah Utara yang berdekatan dengan kamar mandi. Dari hasil survei sebelumnya, tempat ini relatif lebih gelap dari cahaya “pengganggu” dari parkiran yang terletak di belakang masjid tidak terlalu mengganggu. Berbeda dengan tim pengamat Kemenag yang memilih peneropongan tepat di tangga masuk masjid terbesar di kota Padang ini. Saya sendiri menghindari tempat ini karena lampu sorot berkekuatan besar mengarah tepat ke arah medan pandang teleskop sehingga cukup mengganggu pengamatan.

Menjelang malam selepas matahari terbenang hati saya mulai gundah gulana. Hal yang saya takutkan sepertinya mulai terjadi. Sudah lebih dari seminggu Padang tidak mengalami hujan. Pola cuaca yang dekat laut menyebabkan kadang kadang cuaca cerah beberapa hari ini akan diselingi dengan awan tebal bahkan hujan seharian. Saat melakukan tes teleskop 3 hingga 2 hari hari menjelang gerhana, saya mendapati cuaca malam yang cerah khususnya di area Timur. Area ini menjadi penting karena di kota Padang gerhana sebelum terlihat di ufuk timur. Artinya bentangan langit di Timur harus bersih jika ingin melihat semua fase gerhana.

Penampakan Bulan H-2 sebelum GBT. Kredit: Aldino Adry Baskoro
Penampakan bulan H-2 sebelum GBT. Kredit: Aldino Adry Baskoro

Tapi saat GBT hal yang sebaliknya terjadi. Awan cukup tebal menggantung rendah di area Timur. “Anehnya”, bentangan langit di Utara, Timur dan Utara cenderung bersih. Awan sepertinya sedang bermain-main dengan saya. Hal ini cukup berlangsung lama.

Awan menggerhanai GBT. Kredit: Aldino Adry Baskoro
Awan menggerhanai GBT. Kredit: Aldino Adry Baskoro

Saat antrian pengunjung mulai menumpuk di teleskop yang saya pasang, gerhana bulan nampak samar, terlihat tipis, bahkan tertutup sama sekali oleh awan yang menggantung. Bahkan hingga shalat gerhana dilakukan, awan masih ingin “bermain” dengan kami dengan berarak perlahan di area bulan. Beberapa pengunjung masih sabar menanti.

Antrian pengunjung menanti observasi bulan super darah biru di depan teleskop yang berada di pelataran Masjid Raya Sumbar. Kredit: Aldino Adry Baskoro
Antrian pengunjung menanti observasi bulan super darah biru di depan teleskop yang berada di pelataran Masjid Raya Sumbar. Kredit: Aldino Adry Baskoro

Saya kurang beruntung karena fase GBT saat total tidak bisa teramati dengan jelas. Namun, selepas pukul 9 lebih awan mulai bersahabat. Langit area timur yang sudah terbuka dan terbebas dari awan menampakkan penandangan yang menakjubkan bagi sebagian pengunjung yang baru pertama kali melihat bulan dengan teleskop. Bulan tampak “terpotong” dengan dua warna yang kontras: merah dan putih. Kalimat-kalimat pujian pada Allah bersliweran tatkala mata mereka terpaku menatap eyepiece teleskop 26 mm. Beberapa dari pengunjung mencoba mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel mereka yang diarahkan ke eyepiece.

Kini gerhana bulan telah berlalu. Tapi bagi masyarakat kota Padang jangan khawatir. Salah satu pengamatan bulan yang menarik adalah saat fasenya berada pada fase perbani. Pada fase ini bulan akan tampak separuh di langit. Jika teleskop diarahkan ke Bulan saat itu, maka kontras area “gunung-gunung” dan kawah di Bulan terlihat dengan jelas. Jadi, tunggu pengamatan-pengamatan Bulan di tempat-tempat publik di kota Padang. Langitselatan akan membantu menjelaskan fenomena-fenomena astronomi yang terjadi. Syukur-syukur kita bisa membuat komunitas astronomi di kota Padang Tercinta ini. Jadi…bersiaplah di bulan Februari…!

Ditulis oleh

Aldino Adry Baskoro

Aldino Adry Baskoro

alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di sekolahalam Minangkabau dan penulis di langitselatan.