Surat Pertama dari Juno!

Masih ingat si cantik Wahana Antariksa Juno? Juno memasuki orbit Jupiter tanggal 4 Juli 2016 yang lalu; peristiwa yang juga dilaporkan oleh LS. Hampir dua bulan kemudian, Juno mengirimkan ‘surat’ pertamanya ke Bumi, lengkap dengan foto-foto dan informasi menakjubkan tentang Jupiter! Apa saja yang Juno kirimkan ke kita? Yuk disimak!

Montase Jupiter sebelum dan sesudah Juno berpapasan dekat dengan planet raksasa itu pada tanggal 27 Agustus 2016. Kredit: NASA
Montase Jupiter sebelum dan sesudah Juno berpapasan dekat dengan planet raksasa itu pada tanggal 27 Agustus 2016. Kredit: NASA

Sekilas Tentang Terbang Lintas 27 Agustus 2016
Orbit Juno mengelilingi Jupiter dibagi menjadi dua fase:

  • Fase Pertama: dimulai sejak masuknya Juno ke orbit Jupiter pada 4 Juli lalu. Periode orbit Juno pada fase ini adalah 53,5 hari.
  • Fase Kedua: dimulai setelah proses pengecilan orbit Juno dari 53,5 hari menjadi 14 hari. Pengecilan orbit dijadwalkan pada tanggal 19 Oktober 2016.

Dalam keseluruhan misinya, Juno direncanakan akan melakukan 36 putaran orbit: 2 putaran pada fase pertama dan sisanya pada fase kedua setelah pengecilan orbit. Pada tanggal 27 Agustus 2016 lalu Juno berhasil menyelesaikan putaran pertama orbit sejak ia memasuki orbit Jupiter tanggal 4 Juli lalu.

Ini adalah pertama kalinya Juno melintasi Jupiter dengan semua instrumen berfungsi penuh. Lima hari menjelang masuknya Juno ke orbit Jupiter, seluruh instrumen penelitian Juno dimatikan, dan baru dinyalakan kembali 50 jam setelah Juno berhasil memasuki orbit Jupiter. Maka, terbang lintas ini adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh para ilmuwan.

Proses terbang lintas berlangsung selama enam jam, dimana Juno melintasi Jupiter dari kutub utara menuju kutub selatan dengan ketinggian jelajah 2500 mil (4500 Km) di atas awan Jupiter. Selama enam jam tersebut, Juno mengumpulkan berbagai foto dan informasi dengan total data sebesar enam megabyte. Mengingat jarak Jupiter-Bumi, ‘surat’ Juno tersebut memakan waktu satu setengah hari untuk diunduh oleh para ilmuwan untuk kemudian dianalisa.

Hasilnya? Menakjubkan!!!

Kutub Utara Jupiter
JunoCAM, instrumen kamera pada Juno, mengambil foto luar biasa dari kutub utara Jupiter. Di luar dugaan, kutub utara Jupiter sangat berbeda dengan penampakan Jupiter yang selama ini kita kenal. Biasanya kita mengenali Jupiter dari Bintik Merah Besar dan strip/garis berwarna putih/krem atau merah yang sejajar dengan garis lintang Jupiter. Strip/garis berwarna ini juga dilengkapi dengan pola-pola melingkar cantik yang mirip batik, yang menggambarkan gerakan awan badai. Lalu, apa bedanya kutub utara Jupiter dengan foto ‘tampak samping’-nya?

Berdasarkan foto terbaru kiriman Juno, kutub utara Jupiter berwarna kebiruan, dan tidak dilengkapi dengan strip/garis berwarna putih/krem/merah seperti bagian Jupiter yang lain. Meskipun demikian, fitur siklon/badai masih bisa terlihat di daerah kutub sebagai pola melingkar-lingkar yang mirip batik tadi.

Kutub Utara Jupiter. Kredit: Juno / NASA
Kutub Utara Jupiter. Kredit: Juno / NASA

Fakta lain yang menarik adalah bahwa awan-awan yang nampak di Jupiter ternyata memiliki bayangan. Ini menandakan bahwa awan-awan tersebut berada pada ketinggian di atas fitur-fitur Jupiter yang lainnya.

Saking berbedanya penampakan dan warna kutub Jupiter ini, para ilmuwan berpendapat bahwa apabila kita melihat Jupiter dari sudut pandang ini, kita tidak akan bisa mengenalinya!

Satu hal yang paling mengejutkan para ilmuwan adalah tidak ditemukannya fitur heksagonal di kutub Jupiter. Sebagaimana diketahui, kutub utara dan selatan planet Saturnus, yang juga merupakan planet gas raksasa seperti Jupiter, memiliki fitur berbentuk heksagonal di atmosfernya. Sungguh menarik bahwa Jupiter yang serupa dengan Saturnus di banyak hal ternyata tidak memilikinya! Ah, Jupiter memang unik!

Kutub Selatan Jupiter
Juno dilengkapi dengan instrumen Jovian Infrared Aurora Mapper (JIRAM), yang dibuat oleh Badan Antariksa Italia. Fungsi JIRAM adalah untuk ‘melihat’ dan memotret kutub-kutub Jupiter menggunakan gelombang inframerah. Diharapkan, dengan peralatan canggih ini para ilmuwan akan dapat menyingkap rahasia di balik aurora Jupiter.

Menggunakan instrumen JIRAM, Juno berhasil mendeteksi titik-titik panas (hot spots) di permukaan kutub Jupiter, suatu fitur yang belum pernah diketahui sebelumnya. Yang lebih menarik lagi, instrumen ini berhasil memotret aurora di kutub selatan Jupiter. Meskipun aurora di Jupiter bukanlah hal baru, namun selama ini belum ada instrumen baik di Bumi maupun di ruang angkasa yang berhasil ‘melihat’ aurora di kutub selatan Jupiter. Foto-foto yang ada umumnya adalah aurora di kutub utara. Bisa dibayangkan betapa bersemangatnya para ilmuwan mendapatkan foto ini!!!

Aurora di kutub selatan Jupiter. Kredit: NASA
Aurora di kutub selatan Jupiter. Kredit: NASA

Analisa foto inframerah aurora di kutub selatan Jupiter menunjukkan bahwa aurora tersebut sangat terang dan terstruktur. Para ilmuwan berharap data ini dan data yang akan didapat di masa depan akan membantu mereka mengungkap morfologi (bentuk) dan dinamika aurora di Jupiter.

“Nyanyian” Jupiter
Hah? Jupiter menyanyi?

Ya, benar! Sejak tahun 1950-an telah diketahui bahwa Jupiter menghasilkan gelombang radio. Suara yang dihasilkan bisa membuat bulu kuduk anda berdiri. Cukup seram. Transmisi ini adalah yang terkuat di antara planet lain di Tata Surya. Secara umum ada 2 gelombang radio pada panjang gelombang berbeda yang dipancarkan Jupiter. Yang pertama, sinyal radio pada panjang gelombang DekAMeter (DAM), yang merupakan sinyal terkuat dari planet Jupiter. Suara aneh (dan sedikit mengerikan) tersebut dihasilkan ketika aliran partikel/elektron dipaksa masuk ke dalam magnetosfer Jupiter. Sinyal ini umumnya dihubungkan dengan terbentuknya aurora di Jupiter. Yang kedua adalah transmisi sinyal radio pada panjang gelombang HektOMeter (HOM), sinyal yang lebih lemah dari DAM, dan umumnya terbentuk ketika gelombang Matahari memasuki magnetosfer Jupiter.

Ketika Juno melintasi Jupiter bulan Agustus 2016, instrumen Radio/Plasma Wave Experiment (WAVES) merekam ‘nyanyian’ Jupiter dari bagian atas (kutub utara) Sang Planet Raksasa. Rekaman tersebut berlangsung selama 13 jam, dimulai sejak Juno memasuki posisi terdekat dengan Jupiter. Sinyal gelombang radio ini kemudian di-’terjemahkan’ oleh para ilmuwan ke dalam frekuensi audio (yang bisa kita dengarkan), kemudian ditampilkan dalam format voiceprint. Dalam format ini intensitas gelombang sinyal ditampilkan sebagai grafik fungsi frekuensi dan waktu. Suara dengan intensitas gelombang tinggi ditampilkan dengan warna-warna panas (merah, oranye, kuning). Suara dan grafik ‘terjemahan’ sinyal dapat diikuti di video berikut ini:

Sejak ditemukan sekitar tahun 1950-an, inilah pertama kalinya para ilmuwan dapat menganalisa suara tersebut dari jarak sedekat itu. Sinyal tersebut sangat khas, terbentuk dari partikel/elektron yang tereksitasi di magnetosfer Jupiter. Partikel/elektron tereksitasi ini jugalah yang menyebabkan terbentuknya aurora di Jupiter.

Para ilmuwan berharap dapat mempelajari dari mana partikel/elektron tereksitasi ini berasal. Sejauh ini mereka menduga bahwa partikel/elektron tersebut kemungkinan berasal dari dua sumber: dari Io (salah satu bulan/satelit Jupiter) dan dari aliran-aliran yang membawa elektron dari sudut terjauh magnetosfer (magnetotail) Jupiter.

Tahapan Selanjutnya
Apa tahapan misi Juno selanjutnya?

Setelah menyelesaikan putaran orbit pertama ini, Juno akan melakukan satu lagi putaran orbit dengan periode orbit 53,5 hari. Fase ini akan berakhir pada 14 Oktober 2016. Lima hari kemudian, pada tanggal 19 Oktober 2016 Juno akan melakukan manuver ‘rem’ kedua dengan lama pembakaran roket 22 menit untuk mengecilkan periode orbit menjadi 14 hari. Saat itu Juno akan memasuki fase kedua dan juga fase penelitian utama.

Nantikan update Juno berikutnya!!!

Ditulis oleh

Ni Nyoman Dhitasari

Ni Nyoman Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.