Selamat Datang di Jupiter, Juno!

“Welcome to Jupiter!”

Tepuk tangan dan teriakan sukacita membahana mengikuti kalimat tersebut di Ruang Kendali Misi Jet Propulsion Laboratory (JPL) di Pasadena, California dan Lockheed Martin (LM) di Denver, Colorado. Wahana antariksa Juno, yang diluncurkan pada 5 Agustus 2011, telah berhasil memasuki orbit Jupiter pada tanggal yang terbilang istimewa: 4 Juli 2016, Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.  Saya berkesempatan menyaksikan momen bersejarah tersebut melalui live streaming di komputer saya. Seiring dengan tepuk tangan dan sukacita di kedua ruang kendali misi tersebut, terdengar suara kembang api perayaan hari Kemerdekaan Amerika Serikat di luar apartemen saya. Pas sekali!

Ilustrasi Juno dan Jupiter. Kredit: NASA/Aubrey Gemignani
Ilustrasi Juno dan Jupiter. Kredit: NASA/Aubrey Gemignani

Barangkali pembaca bertanya. Apa itu wahana antariksa Juno? Apa hubungannya dengan Jupiter? Mengapa heboh sekali sampai ada live streaming segala? Untuk itu, mari kita berkenalan dengan si cantik nan cerdas: Juno!!!

Berkenalan dengan Juno
Juno adalah misi antariksa Amerika Serika lewat badan antariksa-nya, NASA yang dikirim untuk mempelajari planet terbesar di tata surya, Jupiter.

Wahana antariksa Juno termasuk istimewa karena dalam berbagai hal:

  • Wahana Juno menggunakan tenaga matahari, dan merupakan wahana bertenaga matahari terjauh yang pernah dikirim umat manusia. Rekor sebelumnya dipegang oleh Wahana Rosetta.
  • Wahana misi pertama yang mengorbit planet luar (planet setelah sabuk asteroid, dilihat dari Matahari) dari kutub ke kutub.
  • Wahana misi yang terbang sangat dekat dengan awan di atmosfer Jupiter (2600 mil atau kurang lebih 4200 km di atas awan Jupiter)
  • Misi pertama yang didesain untuk beroperasi di tengah-tengah sabuk radiasi Jupiter. Radiasi Jupiter sangat kuat, untuk itu berbagai instrumen sains yang dibawa Juno dilapisi dengan ruang berlapis titanium. Ini juga yang pertama kalinya diperlukan mengingat tidak ada planet lain yang memiliki radiasi sekuat Jupiter.
  • Juno adalah wahana pertama dengan beberapa bagiannya (waveguide brackets) dibuat dengan printer 3D dengan bahan titanium.
  • Kecepatan Juno saat memasuki orbit Jupiter sangat tinggi, yaitu sekitar 130.000 mil/jam atau sekitar 57.9 km/detik relatif terhadap Bumi. Bahkan diperkirakan kecepatan maksimum Juno adalah 165.000 mil/jam (265.000 km/jam).
  • Juno akan mengambil foto-foto planet Jupiter dengan resolusi terbaik dalam sejarah.
Aurora yang dipotret oleh Teleskop Hubble. Kredit: NASA, ESA, dan J. Nichols Universitas Leicester
Aurora yang dipotret oleh Teleskop Hubble. Kredit: NASA, ESA, dan J. Nichols Universitas Leicester

Apa misi Juno di Jupiter?
Secara umum, misi Juno di Jupiter adalah untuk mempelajari proses terbentuknya Tata Surya, terbentuknya Jupiter dan evolusi Jupiter. Komposisi Jupiter sangat mirip dengan komposisi Matahari, kaya akan hidrogen dan helium. Para ahli meyakini bahwa komposisi Jupiter yang mirip dengan Matahari mengindikasikan bahwa Jupiter terbentuk ketika Tata Surya masih muda dan masih banyak gas-gas ringan di sekeliling  Matahari yang baru terbentuk. Seiring dengan ‘menua’-nya Tata Surya dan kuatnya angin Matahari, gas-gas ringan tersebut akan ‘tertiup’ jauh dari sistem.

Dengan demikian, diyakini Jupiter menyimpan rahasia masa-masa awal terbentuknya Tata Surya. Beberapa pertanyaan yang ingin dijawab dengan misi ini antara lain:

  • Mengukur kadar air di atmosfer Jupiter. Pengukuran ini akan membantu para ilmuwan menentukan di mana Jupiter terbentuk: apakah di posisinya sekarang ini (planet kelima), atau di tempat lain di Tata Surya dan akhirnya “berkelana” untuk mencapai posisinya yang sekarang.
  • Melakukan pengamatan dan pengukuran di dalam atmosfer Jupiter untuk mendapatkan data tentang komposisi, suhu, pergerakan awan/badai dan informasi lain. Bintik Merah Raksasa, fitur yang paling mencolok dari Jupiter juga akan mendapatkan giliran untuk diamati.
  • Memetakan medan magnet dan medan gravitasi Jupiter, yang pada akhirnya akan mengungkapkan struktur Jupiter. Beberapa media menyebutkan bahwa misi ini kemungkinan besar akan menjawab apakah Jupiter memiliki inti padat (solid core) ataukah gas terkompresi/hidrogen metalik cair.
  • Mempelajari magnetosfer Jupiter di daerah sekitar kutub, termasuk fenomena aurora di kutub utara dan selatan Jupiter. Diharapkan studi ini akan mengungkap bagaimana medan magnet Jupiter yang sangat kuat mempengaruhi atmosfernya

Peristiwa Apa yang Terjadi pada 4 Juli 2016?
Dalam perjalanannya dari Bumi sejak diluncurkan tanggal 5 Agustus 2011, pada prinsipnya Juno mengelilingi Matahari. Kecepatan Juno juga sangat tinggi, apalagi ketika mulai memasuki orbit Jupiter. Untuk itu, para ilmuwan harus melakukan manuver “rem” untuk memperlambat laju Juno ketike mendekati Jupiter sehingga berhasil “ditangkap” oleh Jupiter. Proses ini disebut Jupiter Orbit Insertion (JOI).  Apabila manuver “rem” ini gagal, Juno akan lepas ke angkasa raya, hilang dan tidak akan pernah kembali. Karena itu, tanggal 4 Juli menjadi tanggal yang sangat penting.

Hari itu Juno mendekati Jupiter dari atas, dari arah kutub utara. Ketika jarak sudah semakin dekat, para ilmuwan segera memposisikan Juno untuk manuver “rem” tersebut. Posisi Juno diputar, dan roket pendorong dinyalakan berlawanan dengan arah gerak Juno selama 35 menit untuk memperlambat kecepatan Juno.

Sekitar menit ke-20, terdengar tepukan ringan di Ruang Kendali Misi. Ternyata pada saat itu Juno secara resmi sudah ‘tertangkap’ oleh gravitasi Jupiter dan secara umum sudah mengorbit Jupiter, hanya saja belum mencapai periode orbit yang optimal yang diharapkan oleh para ilmuwan. Untuk itu, roket “rem” harus tetap menyala hingga menit ke 35.

Pada menit ke-34, tim melaporkan bahwa Juno telah mencapai minimum burn time atau waktu pembakaran roket minimal, di mana Juno telah memasuki kisaran periode orbit yang diharapkan oleh para ilmuwan. Salah satu ilmuwan berkata, bahwa pada saat itu Juno sudah memasuki posisi “aman”, dan seandainya roket “rem” mati pun misi Juno masih bisa dilaksanakan. Namun pada menit tersebut periode orbit Juno adalah sekitar 62 hari. Untuk itu pembakaran roket diteruskan hingga menit ke-35 dan periode orbit Juno mencapai 53,5 hari.

Pada periode orbit pertama ini, Juno masih belum melakukan analisa saintifik apapun. Setelah beberapa waktu, orbit Juno akan dikecilkan menjadi 14 hari, dan pada saat itulah “pesta sains” akan dimulai. Diperkirakan hal ini akan terjadi sekitar bulan Oktober 2016.

Hingga saat ini Juno belum mengirimkan banyak gambar atau data saintifik. Namun ketika mendekati Jupiter, Juno mengambil sebuah video yang luar biasa,  yaitu Jupiter dengan empat satelit utamanya (yang disebut kelompok satelit Galilean): Ganymede, Io, Europa dan Callisto yang bergerak mengelilinginya.

Mengapa Dinamai Juno?
Dalam mitologi Romawi (yang paralel dengan mitologi Yunani) Juno adalah adik kembar sekaligus istri Jupiter. Jupiter adalah raja para dewa, jadi bisa dibilang Juno adalah ratu para dewa. Juno terkenal cantik dan pencemburu.  Jupiter, dalam kapasitasnya sebagai raja para dewa, ternyata bukanlah sosok suami teladan. Ia memiliki perselingkuhan dengan wanita-wanita lain, baik dari kalangan kedewaan maupun manusia.

Tak jarang, Jupiter harus melakukan hal-hal ekstrim untuk menyembunyikan perselingkuhannya. Dalam satu peristiwa ia menggunakan awan tebal. Juno, yang semakin cemburu dan ingin mengungkap perselingkuhan suaminya, menggunakan kekuatannya untuk melihat menembus awan dan mengungkap perselingkuhan Jupiter.

Para ilmuwan menganggap Juno adalah nama yang paling tepat. Selain sebagai istri Jupiter, kemampuan Juno untuk melihat menembus awan dipandang sesuai dengan tujuan misi yang akan menyingkap rahasia di balik awan tebal planet Jupiter.

Kadang kita beranggapan ilmuwan pasti orangnya serius, apalagi ilmuwan ahli roket. Tapi mereka ternyata memiliki selera humor juga. Hal ini terlihat dari kicauan “Juno” di Twitter sesaat setelah memasuki orbit:

“Pembakaran roket sudah selesai dan sudah masuk orbit Jupiter. Saya akan membongkar semua rahasiamu, Jupiter! Bersiaplah!”

Dari sisi sains, hal ini masuk akal karena wahana Juno akan menyingkap rahasia planet Jupiter. Namun bila dilihat dari sisi mitologi, ini seolah-olah Juno mendatangi Jupiter, siap mengobrak-abrik dan mengkonfrontasi segala rahasia (perselingkuhan) suaminya! Sebagai catatan, meskipun Juno adalah istri utama Jupiter, namun namanya tidak termasuk dalam nama-nama puluhan satelit/bulan Jupiter. Nama-nama bulan/satelit Jupiter, yang sebagian sudah diberikan sekitar 400 tahun yang lalu, kebanyakan (tidak semua) adalah wanita-wanita selingkuhannya.  Jadi cocok sekali!

Juno Memiliki “Penumpang”
Tahukan anda bahwa wahana antariksa Juno memiliki “penumpang”? Siapakah penumpang ini? Mereka adalah Jupiter, Juno, dan Galileo Galilei dalam bentuk patung mainan Lego.

Ki-ka: Lego Galileo, Juno dan Jupiter yang diterbangkan bersama Juno untuk mengunjungi Jupiter. Kredit: Space.com
Ki-ka: Lego Galileo, Juno dan Jupiter yang diterbangkan bersama Juno untuk mengunjungi Jupiter. Kredit: Space.com

Pihak JPL menjelaskan alasan dipilihnya Lego sebagai perusahaan partner dalam misi Juno. Menurut mereka, Lego adalah perusahaan yang mempromosikan kreativitas, imajinasi dan juga logika melalui produknya, nilai-nilai yang juga dipromosikan oleh NASA/JPL dalam kegiatan-kegiatan dan misi-misinya. Untuk itu, mereka menawarkan kerjasama. NASA/JPL memberikan spesifikasi karakter dan bahannya (tentunya tidak bisa sembarang bahan untuk dikirim ke ruang angkasa). Patung-patung tersebut kemudian diuji oleh NASA sebelum mendapat persetujuan untuk ditempatkan dalam wahana Juno. Bahan patung tersebut adalah aluminium dengan standar penerbangan antariksa.

Dari sudut pandang karakter yang dipilih, semuanya berhubungan dengan misi Juno:

Jupiter: Sang Raja Dewa, melambangkan planet yang menjadi obyek misi. Patung Jupiter digambarkan memegang petir yang menjadi senjata utamanya.

Juno: adik sekaligus istri Jupiter dengan kemampuan melihat menembus awan, yang menjadi nama wahana antariksa. Dalam patungnya ia digambarkan memegang kaca pembesar, melambangkan upaya pencarian ilmu pengetahuan.

Galileo Galilei: melambangkan tokoh astronomi yang memberikan sumbangsih besar dalam studi Jupiter dan menemukan satelit-satelit utama Jupiter yang kemudian dikelompokkan sesuai dengan namanya (Galilean moons). Galileo digambarkan memegang planet Jupiter dan teleskop.

Berapa Lamakah Misi Juno?
Juno akan mengumpulkan data dari Jupiter hingga 20 Februari 2018. Pada akhir misinya Juno akan dihancurkan dengan menabrakkannya ke planet Jupiter. Mengapa harus begitu?

Begini. Beberapa satelit/bulan Jupiter diperkirakan memiliki potensi kehidupan di dalamnya. Para ilmuwan tidak ingin Juno,  yang kemungkinan memiliki mikorba atau bentuk lain kehidupan sederhana dari Bumi di dalamnya, menabrak salah satu dari satelit/bulan ini dan “menyumbangkan” mikroba Bumi ke permukaan satelit/bulan. Untuk itu, mereka harus memastikan Juno tidak menabarak apapun selain Jupiter sendiri, yang sudah pasti tidak memiliki kehidupan di dalamnya.

Apa Kaitan Juno dengan Kita di Indonesia?
Aha! NASA justru senang dengan pertanyaan ini. Dalam live streaming proses masuknya Juno ke dalam orbit Jupiter, pihak NASA/JPL menjelaskan tentang proses interaktif antara tim Juno dengan masyarakat. Data yang diperoleh Juno akan ditampilkan di situs Misi Juno dalam bentuk “setengah mentah” dan masyarakat mulai dari anak sekolah, astronom amatir hingga ilmuwan dari berbagai negara dapat mengaksesnya dan bahkan ikut menganalisanya.

Masyarakat dapat pula ikut menentukan fitur apa dari planet Jupiter yang ingin difoto oleh Juno. Cukup buka website, lihat daftar fitur (contoh: Great Read Spot atau Bintik Merah Raksasa), lalu pilih. Fitur dengan jumlah pemilih terbanyak akan menjadi pilihan tim untuk difoto oleh Juno.

Jadi, misi ini adalah sebuah anugerah sains untuk seluruh umat manusia. Jangan ketinggalan, ayo bergabung dan berperan serta dalam kemajuan ilmu astronomi!

Ditulis oleh

Ni Nyoman Dhitasari

Ni Nyoman Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.

Tulis komentar dan diskusi...