Hujan Meteor Orionid 2011

Bulan Oktober 2011 merupakan bulan yang dipenuhi oleh berbagai kegiatan astronomi di Indonesia. Hal ini tak lain karena di buln Oktober 2011, insitusi pendidikan tinggi Astronomi merayakan 60 tahun berlangsungnya pendidikan tinggi astronomi di Indonesia. Di sela-sela kesibukan tersebut seperti biasa, di penghujung bulan Oktober Hujan Meteor Orionid kembali mengunjungi para pecinta langit saat Bumi melintasi sisa debu ekor komet Halley.

Hujan meteor Orionid akan tampak berasal dari Rasi Orion si Pemburu. Kredit : Starwalk

Hujan meteor Orionid yang berlangsung dari tanggal 15 Oktober – 29 Oktober tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tanggal 21 – 22 Oktober atau lebih tepatnya diperkirakan berlangsung tanggal 21 Oktober 2011 jam 21.00 UT atau 04.00 wib.  Saat malam puncak hujan meteor Orionid, Bulan sedang berada pada tahap kuartir akhir (32%) dan baru terbit setelah lewat tengah malam atau pada pukul 1 dini hari.  Saat Bulan terbit, Orion rasi yang menjadi radian hujan meteor sudah berada cukup tinggi.

Pengamatan Hujan Meteor Orionid
Rasi Orion sendiri terbit sekitar jam 11 malam karena itu carilah lokasi yang cukup tinggi untuk dapat menikmati hujan meteor tanpa gangguan Bulan, 2 jam sebelum Bulan terbit. Setelah Bulan terbit, pengamat langit masih bisa menikmati hujan meteor meski jadi tidak terlalu optimal. Pada saat puncak diperkirakan meteor yang bisa dilihat sekitar 30 meteor per jam.

Lokasi Orionid saat Bulan telah terbit. Kredit : Starwalk

Hujan meteor orionid bisa dilihat tampak datang dari rasi Orion yang berada di arah timur-laut. Waktu terbaik untuk melakukan pengamatan Orionid mulai dari tengah malam sampai menjelang fajar. Selain Hujan meteor Orionid, para pecinta langit juga bisa menikmati Nebula Orion, Planet Mars, Planet Jupiter, dan bintang-bintang terang seperti Rigel, Betelguese, Sirius dll.

Pengamatan sebaiknya dilakukan dari area yang bebas polusi cahaya.

Tampak Orionid, eta-Geminid, Bulan, Mars, dan bintang-bintang terang di Orion. Kredit : Starwalk

Sejarah Hujan Meteor Orionid
Hujan meteor orionid pertama kali ditemukan oleh E.C. Herrick (Connecticut, USA) pada kisaran tahun 1839 saat ia membuat pernyataan ambisius bahwa aktivitas hujan meteor tersebut terjadi tanggal 8 – 15 Oktober. Pernyataan yang serupa kembali terlontar di tahun 1840 saat ia berkomentar kalau “waktu yang tepat dari hujan meteor dengan frekuensi yang besar di Bulan Oktober masih belum betul-betul diketahui, namun kemungkinannya aktivitas meteor tersebt bisa ditemukan antara tanggal 8 – 25 Oktober”.

Pengamatan hujan meteor Orionid secara presisi pertama kali dilakukan oleh A. S. Herschel pada tanggal 18 Oktober 1864 saat 14 meteor ditemukan tampak berasal dari rasi Orion. Dan di tahun 1865 tanggal 20 Oktober, Herschel mengkonfirmasi radian hujan Meteor tersebut memang berasal dari Rasi Orion.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.