Hujan Meteor Perseid 2011

Sambil menjalankan ibadah puasa tahun ini, ada fenomena alam yang juga bisa dinikmati meskipun agak sulit. Apalagi kalau bukan fenomena tahunan Hujan Meteor Perseid.

Hujan meteor Perseid tahun 2011 mulai tampak sejak 17 Juli – 24 Agustus dan akan mencapai puncaknya pada tanggal 12-13 Agustus 2011. Pada saat mencapai puncak para pengamat seharusnya bisa menyaksikan setidaknya 100 meteor per jam. Sayangnya, pada tanggal 13 Agustus Bulan sedang mencapai fasa purnama. Artinya cahaya dari Bulan yang cukup terang akan menghalangi pengamat untuk menyaksikan sebagian besar meteor yang melintasi langit malam. Pada tanggal 13 Agustus, bulan baru akan terbenam jam 05.18 dini hari wib.

Hujan meteor Perseid yang tampak muncul dari Rasi Perseus. Kredit : Star Walk

Tapi bagi para pengejar hujan meteor yang ingin mencoba peruntungannya menantikan sahur sambil menikmati meteor bisa mengarahkan pandangan ke  utara dimana Rasi Perseus akan terbit pada jam 00.30 wib dan hujan meteor ini akan tampak berasal dari rasi Perseus tersebut.  Selain Perseids, Mars juga tampak di timur dan planet merah ini masih berada di horison karena ia baru terbit pukul 03.00 wib dini hari.

Dengan adanya cahaya Bulan dan juga polusi perkotaan jelas akan sulit bagi pengamat di area perkotaan untuk bisa menikmati hujan meteor perseid. Untuk itu pengamat haruslah mencari lokasi yang setidaknya bebas polusi cahaya meski nantinya masih ada cahaya Bulan yang cukup terang. Namun jika anda melakukan pengamatan pada tanggal 11 dini hari, Bulan sudah terbenam jelang pukul 4 dini hari karena itu masih ada sisa waktu sebelum fajar untuk menikmati langit tanpa cahaya bulan dan menanti hujan meteor Perseid.

Hujan meteor Perseid akan tampak di arah utara dan Planet Mars juga tampak baru terbit menjelang fajar. Kredit : Star Walk

Asal Usul
Hujan meteor Perseid pertama kali dilihat oleh bangsa China kuno di kisaran tahun 36 AD. Catatan yang ada menunjukkan para pengamat tersebut melihat lebih dari 100 meteor berseliweran di pagi hari. Sejumlah penampakan meteor ini juga tercatat pernah dilihat di China, Jepang, Korea di sepanjang abad ke-8 – abad ke-11. Sayangnya di antara abad ke -12 dan 19, hujan meteor ini hanya terlihat sporadik.

Di bulan Agustus, Perseid bukanlah satu-satunya hujan meteor yang terlihat. Masih ada Delta Aquarid Selatan dan Delta Aquarid Utara, Iota Aquarid Utara dan Selatan. Alpha Capricorn, Kappa Cygnid dan beberapa hujan meteor minor lainnya. Namun Hujan meteor Perseid punya tempat yang spesial utamanya bagi masyarakat di belahan utara. Karena ternyata ada kisah mengerikan tentang hujan meteor Perseid ini.

Kadang disebut sebagai “air mata St. Lawrence”, hujan meteor tahunan ini seringkali terjadi bersamaan dengan perayaan kematian orang kudus tersebut yakni setiap tanggal 10 Agustus di Italia. Dan masih menurut kepercayaan tersebut, hujan meteor ini adalah air mata dari martir yang mati demi keyakinannya.

Di tahun 1835, Adolphe Quételet, melaporkan secara resmi kehadiran hujan meteor Perseid di setiap bulan Agustus yang tampak muncul dari Rasi Perseus. Dan pengamat pertama yang melakukan perhitungan meteor Perseid yang terlihat setiap jam adalah E. Heis (Münster). ia menemukan kalau hujan meteor ini terlihat 160 meteor per jam di tahun 1839.

Hujan Meteor Perseid berasal dari sisa debu ekor komet Swift-Tuttle yang pernah melintasi Bumi dan diamati astronom Lewis Swift dan Horace Tuttle dari Amerika pada tahun 1862.  Komet ini kembali teramati pada tahun 1992 dan memiliki periode 130 tahun. Ia akan kembali ke Bumi pada tahun 2126. Saat melintas, debu ekor komet yang berupa batuan mengalami tarikan oleh gravitasi Bumi dan masuk dalam lapisan atmosfer Bumi serta terbakar di sana. Kita yang mengamati dari Bumi akan melihatnya sebagai lintasan cahaya yang sangat cepat di malam hari.

Untuk rekan-rekan pengamat meteor yang tertarik berbagi cerita tentang pengamatannya, kami mengajak rekan-rekan berbagi di twitter dengan hashtag aka pagar #ngamatmeteor , ceritakan juga darimana pengamatannya ya.

Selamat berburu meteor Perseid! Clear Sky!.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.