Hujan Meteor Orionid 2019

Tanggal 21-22 Oktober 2019, pengamat di Indonesia bisa menikmati puncak hujan meteor Orionid mengihiasi langit malam.

Hujan meteor Orionid yag tampak di langit Shanghai, China. kredit : Jefferson Teng
Hujan meteor Orionid yag tampak di langit Shanghai, China. kredit : Jefferson Teng

Atraksi langit di bulan Oktober masih menyuguhkan lintasan meteor yang berseliweran di langit sampai menjelang fajar. Ada hujan meteor Draconid dan Taurid Selatan yang masa puncaknya telah berakhir. Sebelum bulan Oktober berakhir, pengamat bisa menyaksikan hujan meteor Orionid yang tampak datang dari rasi Orion, si Pemburu.

Hujan meteor Orionid merupakan peristiwa tahunan saat Bumi melintasi sisa debu ekor komet 1P/Halley. Komet Halley merupakan komet periode pendek yang bisa diamati dengan mata tanpa alat dan mendekat ke Matahari setiap 76 tahun. Terakhir kali kita bisa melihat komet Halley tahun 1986 dan baru akan tampak lagi tahun 2061.

Dalam satu tahun, Bumi melintasi area yang dipenuhi sisa debu ekor komet Halley sebanyak dua kali. Yang pertama di bulan Mei dan pengamat Bumi bisa menyaksikan hujan meteor Eta Aquarid dan yang kedua adalah Orionid.

Hujan meteor Orionid yang tampak muncul dari rasi Orion pada tanggal 21 Oktober 2019 pukul 23:30 WIB. Kredit Star Walk
Hujan meteor Orionid yang tampak muncul dari rasi Orion pada tanggal 21 Oktober 2019 pukul 23:30 WIB. Kredit Star Walk

Hujan meteor Orionid berlangsung sejak 2 Oktober sampai 7 November. Intensitas maksimum Orionid akan terjadi pada tangggal 22 Oktober pukul 07:00 WIB. Dengan demikian, pengamat sudah bisa berburu hujan meteor Orionid sejak tanggal 21 Oktober sampai tanggal 22 Oktober dini hari. Saat malam puncak atau saat hujan meteor Orionid mencapai maksimum, para pengamat bisa menikmati 25 meteor per jam yang melaju dengan kecepatan 66 km/detik.

Rasi Orion yang menjadi arah datang hujan meteor Orionid akan terbit pukul 22:19 WIB di arah timur dan terus beranjak naik ke arah barat. Pengamatan bisa dilakukan mulai tengah malam saat rasi Orion sudah cukup tinggi dari horison dan pengamatan bisa dilakukan sampai fajar menyingsing. Tantangan perburuan hujan meteor Orionid kali ini adalah Bulan perbani akhir yang terbit tengah malam dan menjadi sumber polusi cahaya yang mengganggu pengamatan. Meskipun Bulan hanya tampak setengah dibanding Bulan Purnama, namun cahayanya masih menjadi gangguan.

Sejarah Hujan Meteor Orionid

Hujan meteor Orionid pertama kali ditemukan oleh E.C. Herrick (Connecticut, USA) pada kisaran tahun 1839 saat ia membuat pernyataan bahwa aktivitas hujan meteor tersebut terjadi dari 8 – 15 Oktober. Pada tahun 1840 ia bkembali menyatakan bahwa “waktu yang tepat dari hujan meteor dengan frekuensi besar di Bulan Oktober belum diketahui, namun aktivitas meteor diperkirakan terjadi tanggal 8 – 25 Oktober.
Pengamatan hujan meteor Orionid secara presisi pertama kali justru dilakukan oleh A. S. Herschel pada tanggal 18 Oktober 1864 saat ia mengamati 14 meteor yang tampak berasal dari rasi Orion. Setahun kemudian, yakni 20 Oktober 1865, Herschel mengonfirmasi kalau hujan meteor Orionid memang tampak datang dari rasi Orion.

Orionid merupakan salah satu hujan meteor yang aktivitasnya cukup tinggi antara 40 – 70 meteor per jam selama 2 – 3 hari berturut-turut. Analisis data tahun 1984 – 2001 memperlihatkan laju maksimum Hujan Meteor Orionid beragam antara 14 – 31 meteor per jam setiap tahun. Periode terkuat terjadi selama 12 tahun di abad ke-20. Selama malam puncak hujan meteor Orionid dari tahun 2006 – 2012/2013, para pengamat bisa menikmati 30 – 70 meteor per jam.

Sejak tahun 2014, hujan meteor Orionid berada pada aktivitas terendah dengan kisaran 15 – 20 meteor per jam.

Selamat berburu Orionid. Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...