Adakah Seseorang di Luar Sana: Mencari kehidupan cerdas di luar Bumi

Pengantar: Artikel ini ditulis pada tahun 2005 untuk Majalah Centaurus, tidak pernah diterbitkan. Dimunculkan pertama kali untuk publik di Langit Selatan. Mohon diperhatikan konteks penulisan artikel pada tahun 2005. Oleh karena itu, kata “hingga saat ini” dan sejenisnya harus diartikan sebagai saat ketika artikel ini ditulis.

Pencarian kehidupan di luar Bumi? Kehidupan cerdas? Mencari UFO? Tidak, lain. Mencari UFO berarti mencari bukti-bukti adanya kunjungan makhluk asing (alien) ke Bumi, sesuatu yang hingga saat ini sulit dibuktikan kalau tidak mau dikatakan tidak bisa. Mencari kehidupan cerdas di luar Bumi? Bagaimana caranya? Bukankah ini adalah areal pemikiran kaum teolog, filsuf, atau para penulis cerita fiksi ilmiah? Tidak lagi. Semenjak lebih dari 40 tahun lalu, pencarian kehidupan cerdas memasuki ranah pemikiran kaum ilmuwan, terutama ahli astronomi dan biologi.

Giordano Bruno harus dihukum mati akibat pandangan-pandangannya yang dianggap kafir.

Pemikiran Filosof Materialis dan Munculnya Mars Mania

Kaum filosof materialis yang pertama kali melakukannya. Sudah semenjak abad ke-4 SM, Metrodorus yang beraliran atomisme menulis, “menganggap bahwa Bumi hanyalah satu-satu tempat yang dihuni dalam ruang yang tak berhingga ini sama absurdnya dengan menganggap hanya satu butir gandum yang akan tumbuh dari seluruh ladang yang ditaburi benihnya.” Lima abad kemudian, filosof Lucretius yang beraliran Epicurean menulis, “ada sejumlah tak hingga dunia-dunia yang mirip dan tak mirip dengan dunia kita.” Pada penghujung abad ke-16, Giordano Bruno berpendapat bahwa “Tuhan diagungkan tidak hanya pada satu matahari, tetapi pada banyak matahari; tidak hanya pada satu Bumi, tapi pada seribu Bumi.” Sebagai seorang materialis Bruno pun mengatakan bahwa materi “sebenarnya adalah alam dan induk dari segala makhluk hidup.” Gereja Katolik Roma, yang menganggap bahwa manusia pada dasarnya adalah roh yang immaterial, merasa terancam dengan pendapat Bruno yang berbahaya, sehingga Badan Inkuisisi menangkapnya di Venesia pada 1592 dengan tuduhan kafir. Setelah diadili selama 7 tahun Bruno dibakar hidup-hidup pada tanggal 19 Februari 1600.

Spekulasi terus berlanjut, kebanyakan terhambat oleh amat kurangnya data. Pada tahun 1877, astronom Italia, Giovanni Schiaparelli, melaporkan adanya canali pada planet Mars. Dalam bahasa Italia, canali berarti selat, namun ketika diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi canal—yang berarti terusan atau saluran air—muncul implikasi adanya bangunan buatan. Sebuah Mars mania pun menyapu Eropa dan kemudian turut juga melanda Amerika Serikat, dan astronom Percival Lowell pun ikut terbawa suasana. Ia kemudian membangun observatorium di Arizona untuk satu tujuan tunggal: memetakan kanal di planet Mars.

Percival Lowell terobsesi dengan pemetaan kanal-kanal Mars

Setelah berpuluh-puluh tahun melakukan pengamatan, Lovell menerbitkan peta kanal di Mars, lengkap dengan globe Mars. Lowell meyakini bahwa permukaan Mars dipenuhi oleh saluran irigasi untuk menyalurkan air dari kutub-kutub esnya ke padang-padang gersang. Ia meyakini bahwa Mars benar-benar mirip dengan Bumi. Anehnya, nampaknya hanya Lowell yang melihat kanal-kanal tersebut, karena observatorium lain—dengan peralatan dan kondisi pengamatan yang sama baiknya dengan observatorium Lowell—tidak pernah melihat kanal tersebut. Bahkan pada akhir abad ke-20, ketika berbagai wahana antariksa dikirim ke planet Mars, kanal itu tak pernah ada. Mana kanal yang dilihat Lowell? Salah satu kesimpulannya adalah, mata Lowell yang buruk, digabungkan dengan cacat lensa teleskop, telah menghasilkan ilusi kanal tersebut. Namun demikian, semasa hidupnya ide-ide Lowell diterima oleh masyarakat.

Pada periode yang sama, H.G. Wells menulis War of the Worlds yang menceritakan penyerbuan makhluk Mars ke Bumi sehingga ide adanya kehidupan di Mars cukup populer di masyarakat, namun penerimaan “penemuan” Lowell sebagian besar adalah karena kemajuan teknologi dalam pembangunan kanal-kanal besar: Terusan Suez (1869), Terusan Korintia (1893), dan Terusan Panama (1914). Orang berpikir: di Bumi saja bisa, kenapa di Mars tidak bisa?

Akhirnya ada Loncatan Kemajuan
Baru pada paruh kedua abad ke-20, pencarian kehidupan cerdas mengalami loncatan yang cukup signifikan. Dua orang ahli fisika, Giuseppe Cocconi dan Philip Morrison, pada tahun 1959 menerbitkan tulisan mereka yang berjudul Searching for Interstellar Communications (Mencari Komunikasi Antar Bintang) di jurnal ilmiah Nature. Mereka berpendapat bahwa teleskop radio, yang baru dikembangkan setelah Perang Dunia II, cukup sensitif untuk dapat menangkap sinyal luar angkasa yang dipancarkan oleh peradaban yang mengorbit bintang lain. Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa sinyal yang dipancarkan akan berada pada panjang gelombang 21 cm (1420.4 MHz). Ini adalah panjang gelombang dari pancaran energi Hidrogen netral, yang merupakan unsur paling berlimpah di jagat raya. Peradaban yang cerdas juga akan mengetahui fakta ini sehingga cukup masuk akal jika mereka juga akan memancarkan sinyal dalam panjang gelombang ini.

Tujuh bulan kemudian, astronom radio dari Universitas Cornell, Frank Drake, menjadi orang pertama yang memulai pencarian sistematis sinyal-sinyal dari peradaban di luar Bumi. Proyeknya yang dinamakan Ozma mencari sinyal pada frekuensi di sekitar panjang gelombang 21 cm, selama 6 jam setiap hari antara bulan April hingga Juli 1960. Teleskop radio yang digunakannya diarahkan ke dua buah bintang yang mirip matahari: Epsilon Eridani dan Tau Ceti. Namun proyek ini gagal. Drake tidak kecewa, karena menyadari jumlah bintang di Galaksi kita saja sangatlah besar. Katakanlah misalnya, ada seribu peradaban yang memancarkan sinyal radio, maka kemungkinan Proyek Ozma dapat menangkap sinyal tersebut adalah 400 juta berbanding satu. Bila kita memasukkan hal-hal lain yang tidak pasti—menebak frekuensi yang tepat, adanya pergeseran Doppler yang menyebabkan perubahan frekuensi, dan lain-lain—maka peluangnya menjadi semakin kecil. Jika ingin sukses, maka pencarian kehidupan cerdas harus menjadi penelitian yang berkelanjutan.

Persamaan Drake
Setelah kegagalan ini, Drake membuat pertemuan yang mengundang sekelompok ilmuwan untuk membicarakan prospek dan halangan dalam pencarian kehidupan cerdas (yang kemudian disingkat SETI—Seach for Extraterrestrial Intelligence). Pada bulan November 1961, selama dua hari diselenggarakan pertemuan 10 orang ahli radio, astronom, dan ahli biologi. Hadir di antara mereka adalah Carl Sagan muda. Sepuluh tahun kemudian Sagan, bersama istrinya Linda Salzman Sagan dan Frank Drake, merancang sebuah “pesan dalam botol”—berupa plakat yang berisi informasi mengenai peradaban kita—dalam wahana antariksa Pioneer 10 dan Pioneer 11. Nantinya diharapkan suatu peradaban dapat menemukan wahana tersebut dan menerjemahkan informasi dalam plakat tersebut dan—paling tidak—mengetahui bahwa ia tidak sendiri. Dalam pertemuan tahun 1961 ini, Drake mengusulkan sebuah persamaan yang kemudian dinamakan atas dirinya:

Persamaan ini bertujuan menghitung jumlah (N) “peradaban yang dapat berkomunikasi” pada Galaksi Bima Sakti kita. Jumlah ini dihitung dengan mengalikan beberapa faktor yang masing-masing dapat dihitung besarnya.

R adalah jumlah bintang yang dibentuk setiap tahunnya di Bima Sakti, fp adalah fraksi (persentase) dari bintang-bintang ini yang memiliki planet, ne adalah jumlah planet yang “menyerupai Bumi”, artinya cocok bagi kehidupan, fl adalah persentase dari jumlah planet tersebut yang memiliki kehidupan, fi adalah persentase dari planet berkehidupan tersebut di mana kecerdasan dapat berevolusi, fc adalah persentase dari spesies cerdas yang dapat menghasilkan komunikasi radio antar bintang, dan L adalah masa hidup dari peradaban yang berkomunikasi tersebut (dalam tahun).

Semenjak itu, astronom dan ahli biologi telah mencoba “menyelesaikan” persamaan ini. Sekilas nampaknya mudah memperkirakan faktor-faktor dalam Persamaan Drake, namun jumlah spesies cerdas yang dapat berkomunikasi tidak dapat diperkirakan dengan mudah. Semenjak 1961, beberapa faktor dalam persamaan ini telah ditentukan dengan mantap. Namun paling tidak ada tiga faktor yang hingga saat ini belum jelas (Lihat: Meninjau Kembali Persaman Drake).

Namun demikian, selama 40 tahun Proyek SETI masih belum menemukan apapun meskipun teknologi teleskop radio telah meningkat pesat semenjak tahun 1961. Harus diterima kenyataan bahwa variabel yang harus kita perhatikan (frekuensi sinyal, lokasi di langit, daya sinyal, dan lain-lain) akan menghasilkan jumlah data yang jauh lebih besar daripada yang selama ini sudah kita amati. Namun paling tidak kita dapat memastikan bahwa galaksi kita tidak dipenuhi oleh sinyal yang terus-menerus memancar dalam panjang gelombang 21 cm. Pada tahun 1961 hal ini tidak pernah dipastikan.

Sedikitnya kelompok riset yang mencari kehidupan di luar Bumi, dan juga sedikitnya waktu pengamatan yang diberikan teleskop radio kepada kelompok ini, kemudian mengundang tentangan. Ketika NASA meminta dana sebenar 2 juta dolar untuk penelitian SETI, seorang Senator dari Wisconsin, William Proxmire, menanggapi proposal tersebut menyiakan-nyiakan pendapatan negara yang telah diberikan oleh pembayar pajak, dan menyatakan “jika memang ada mereka pernah ada, sekarang mereka sudah lama punah dan hilang.” Dengan demikian, SETI harus melanjutkan penelitiannya dengan dana yang minimal sehingga pada pertengahan dekade 1980an, baru beberapa ribu jam yang sudah sudah diakumulasi.

Strategi SETI
SETI hingga saat ini terus dilakukan oleh kelompok-kelompok ilmuwan yang tidak pernah menyerah, mencari sinyal berupa pancaran radio maupun transmisi laser dari peradaban yang mengorbit bintang lain. Para ilmuwan yakin bahwa kedua jenis sinyal tersebut dapat dipancarkan dengan biaya yang relatif murah.

Seluruh pencarian sinyal radio mengikuti strategi yang sama: Kita mencari sinyal dalam gelombang mikro yang memiliki rentang frekuensi yang amat sempit, dan muncul dari luar tata surya. Menurut kesepakatan bersama, ini adalah jenis sinyal yang paling mungkin dideteksi. Di antara seluruh rentang spektrum sinyal radio, frekuensi antara 0.5 hingga 60 GigaHertz (GHz) adalah frekuensi yang paling bebas dari gangguan oleh sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh benda-benda alamiah. Peradaban manapun yang telah mengembangkan teknologi radio pasti akan menyadari hal ini juga dan memancarkan sinyal menurut fakta ini. Atmosfer kita pada umumnya menghalangi kita memancarkan sinyal dengan frekuensi di bawah 12 GHz, dan justru peradaban lain mungkin punya alasan untuk memilih frekuensi serendah ini.

Jenis transmisi apa yang kita harapkan? Saat ini, satu-satunya yang bisa harapkan adalah transmisi berdaya tinggi yang dengan sengaja dipancarkan peradaban asing untuk memberitahukan, “Di sinilah kami berada!” Semacam mersu suar antariksa. Teknologi radio kita masih terlalu lemah untuk dapat mendeteksi komunikasi radio internal peradaban asing manapun. Kita belum bisa mendeteksi percakapan yang mereka lakukan—secanggih apapun peradaban mereka.

Bila melihat ukuran galaksi kita yang luar biasa besar, jarak yang luar biasa antara bintang-bintang, dan lebarnya rentang spektrum radio yang harus diteliti satu per satu, maka sulit sekali untuk menemukan bahkan sebuah mercu suar antariksa yang dirancang untuk membantu kita menemukan mereka. Proyek SETI telah maju beberapa langkah dalam 40 tahun terakhir, namun tetap saja kita bagaikan mencari jarum dalam tumpukan—yang amat besar—jerami yang belum sepenuhnya diselidiki.

Mencari Jarum di Tumpukan Jerami: Proyek SETI Hari Ini
Meskipun tanpa dana, pencarian SETI terus berlangsung. Karena dana terbatas, maka semua orang berusaha sekreatif mungkin. Ada yang memanfaatkan sebaik-baiknya waktu pengamatan yang diberikan, dengan meneliti beberapa target terseleksi. Ada yang berusaha nebeng pada proyek-proyek lain yang sedang berlangsung, ada pula yang menyebarkan data-data yang diperoleh kepada sukarelawan di seluruh dunia. Berikut ini adalah beberapa Proyek SETI yang sedang berlangsung saat ini.

Proyek Phoenix
Proyek Phoenix baru saja menyelesaikan proyek sembilan tahunnya pada bulan Maret 2004. Selama enam tahun terakhir proyek ini dilaksanakan di Teleskop Radio 305 m di Arecibo, Puerto Rico, dan menggunakan 5 persen dari waktu pengamatan yang tersedia. Proyek ini adalah pencarian “bertarget,” artinya ia menyelidiki dengan seksama beberapa target. Syarat target adalah bintang-bintang bertipe matahari yang berusia lebih dari 3 milyar tahun (bila usianya bisa ditentukan) dan berjarak kurang dari 150 tahun cahaya, serta seluruh bintang yang jaraknya sangat dekat dengan matahari. Total ada 800 target yang diamati. Untuk setiap target diteliti sejumlah dua juta saluran frekuensi amara 1.2 hingga 3.0 GigaHertz dengan resolusi setipis kertas sebesar 0.7 Hertz. Sinyal yang demikian sempit lebar frekuensinya pastilah merupakan benda buatan makhluk asing. Sebagai perbandingan, sinyal gelombang mikro paling sempit yang bisa dihasilkan alam lebarnya adalah 300 Hertz.

Proyek Phoenix dijalankan oleh Insitut SETI, dan merupakan kelanjutan dari proyek SETI milik NASA yang digagalkan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 1993, persis pada saat proyek ini baru saja dimulai. Insitut SETI adalah lembaga swasta dan dibayai beberapa industri berteknologi tinggi dan beberapa donor. Institut ini menggunakan peralatan yang telah dihasilkan dan melanjutkan penelitian setengah dari target yang diajukan NASA (setengah lainnya yang mencakup sebagian besar daerah Bima Sakti, dihilangkan dari target).

Kekuatan: Proyek Phoenix memeriksa bintang-bintang terdekat dengan amat teliti dibandingkan proyek lain. Ia juga mencakup daerah frekuensi yang sangat luas, hampir 2 Gigahertz. Proyek ini juga dirancang dengan metode untuk menyortir sinyal-sinyal buatan yang berasal dari Bumi.

Kelemahan: Proyek Phoenix hanya meneliti 800 bintang dari ratusan milyar bintang di Galaksi kita.

Proyek SERENDIP
Peneliti SETI seringkali diberikan waktu pengamatan yang sangat sedikit, karena proyek mereka sendiri memang—harus diakui—sangat kecil peluangnya. Padahal waktu pengamatan dalam jumlah besar adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan proyek ini. Proyek SERENDIP melangkahi masalah ini dengan nebeng waktu pengamatan dari proyek lain yang sedang berlangsung, caranya adalah dengan “menumpangkan” penerima tambahan pada sebuah teleskop radio tanpa menghalangi penelitian yang sedang berlangsung. Ide ini dilahirkan 25 tahun lalu oleh peneliti SETI dari Universitas Berkeley di California. Semenjak 1978 SERENDIP telah mengalami banyak kemajuan.

Versi terbaru, SERENDIP IV, diletakkan bersama-sama penerima lainnya pada teleskop radio Arecibo. Penerima SERENDIP mencari sinyal berpita sempit pada arah manapun teleskop tersebut sedang diarahkan. Pengarahan teleskop diatur oleh siapapun yang sedang menggunakannya, oleh karena itu SERENDIP meneliti secara acak. Walaupun SERENDIP tidak dapat memilih targetnya, namun pada prinsipnya ia dapat bekerja setiap saat sepanjang tahun.

Semenjak musim gugur 1998, SERENDIP IV telah mengumpulkan 168 juta saluran radio secara serempak, masing-masing selebar 0.6 Hertz. Lebar frekuensi yang diteliti adalah 100 MHz dan berpusat pada frekuensi emisi hidrogen, yaitu 1420 MHz (panjang gelombang 21 cm). Bila diberikan waktu yang cukup, SERENDIP IV dapat menyelidiki 30% dari seluruh bagian langit.

Generasi berikutnya, SERENDIP V, akan mulai beroperasi di Arecibo pada tahun ini. Instrumen ini akan lebih sensitif dan akan mendengarkan seluruh saluran dalam rentang 300 MHz, sebuah peningkatan 3 kali lipat dibandingkan SERENDIP IV.

Kekuatan: SERENDIP menggunakan teleskop radio terbesar di dunia dan menyelidiki daerah langit yang cukup luas. Artinya proyek ini mengambil sampel dari milyaran bintang pada Bima Sakti dan ribuan galaksi lain. Tidak ada satu pun bintang yang diteliti sangat mendalam seperti yang dilakukan Proyek Phoenix, tetapi jumlah bintang yang diteliti sangat banyak.

Kelemahan: Tidak ada tindak lanjut secara langsung. Ini adalah problem utama proyek SETI yang nebeng. Sinyal yang lemah dari jarak yang lebih jauh beberapa ratus tahun cahaya dapat melemah dan menguat akibat interaksi oleh gas antar bintang, oleh karena itu dibutuhkan beberapa pengamatan ulang untuk menangkap sinyal-sinyal lemah yang terus berkelanjutan. Tentu saja bila pemancar para makhluk asing tersebut diarahkan ke tempat lain (atau dimatikan) sebelum ada pengamatan ulang, maka hilanglah kesempatan untuk mengkonfirmasikan keberadaan sinyal tersebut.

[email protected]
Ini merupakan kelanjutan dari Proyek SERENDIP. Data yang telah dihasilkan SERENDIP jumlahnya sangat besar dan pengolahannya membutuhkan daya komputer yang sangat besar. Karena minimnya bujet, maka hal ini menjadi sangat krusial dan berisiko menghambat seluruh proses. Bahkan sebuah komputer super harus membatasi pengolahan hanya pada sinyal-sinyal paling sederhana dengan karakteristik yang sudah ditentukan sebelumnya.

Seorang ilmuwan komputer dari Seattle, David Gedye, pada akhir tahun 1994 punya ide cemerlang: Analisis data SERENDIP secara mendalam dapat menjadi proyek untuk “komputasi terdistribusi” yang dilakukan oleh puluhan ribu pemilik komputer pribadi. Pengembangan proyek ini tertunda karena—lagi-lagi—masalah dana, namun The Planetary Society turun tangan dan memberikan dana sebesar AS$50 000 dari Dana Carl Sagan untuk Proyek Masa Depan (Carl Sagan Memorial Fund for the Future). Tidak hanya itu, Planetary Society juga berhasil membujuk perusahaan film Paramount untuk memberikan dana dengan jumlah yang sama. Hasilnya, pada 1999 muncullah proyek [email protected] pada bulan Mei 1999 dan hingga saat ini masih berjalan.

Idenya sederhana. Pengguna dapat mengunduh sebuah program kecil dan memasangnya pada komputer pribadi dan program akan berjalan sebagai screen saver (dapat pula dijalankan sebagai background task). Program kemudian mengunduh data SERENDIP sebesar 354 kB (disebut juga “unit kerja”). Bila komputer sedang tidak bekerja (atau di latar belakang), program akan mengolah data tersebut dan jika sudah selesai (biasanya membutuhkan waktu 3 hingga 40 jam kerja untuk setiap unitnya, bergantung pada kecepatan CPU dan jumlah memori) komputer akan mengirimkan hasilnya dan mengunduh unit kerja yang baru untuk diolah.

[email protected] menjadi luar biasa populer semenjak program ini diluncurkan. Hingga 12 April 2005, enam tahun semenjak proyek diluncurkan, sejumlah 5.4 juta orang dari hampir setiap negara di dunia telah mengunduh perangkat lunak [email protected], dan 3.2 juta orang telah mengembalikan paling tidak satu buah unit kerja, dan satu juta orang telah menyelesaikan lebih dari 100 unit kerja. Dengan demikian [email protected]—yang merupakan jaringan kerja sukarelawan—adalah komputer super terkuat di dunia, bahkan terlalu kuat. Dalam enam tahun jumlah sukarelawan sudah terlalu banyak untuk jumlah pekerjaan yang tersedia, sehingga kemudian dikirimkan duplikat untuk memenuhi permintaan sukarelawan. Begitu banyak duplikat.

Pengiriman duplikat agar data dapat diolah oleh paling tidak dua orang secara independen dapat memberikan pemeriksaan untuk mengeliminasi hasil yang buruk, misalnya data yang dikirimkan oleh hacker atau yang dikirimkan oleh pengguna yang meng-overclock komputer mereka (mengatur chip komputer agar bekerja lebih cepat dari seharusnya dapat menyebabkan komputer salah menghitung). Namun hasil yang buruk amat jarang, sehingga mengirimkan sebuah unit kerja hingga tiga kali sebenarnya tidak terlalu berguna.

Namun akhirnya pembuangan daya komputasi (dan listrik!) yang memalukan ini diselesaikan. Program yang disediakan untuk sukarelawan kini telah diubah menjadi sistem BOINC (Berkeley Open Infrastructure for Network Computing). Program ini dapat membagi waktu komputasi untuk [email protected] maupun untuk proyek-proyek komputasi terdistribusi lainnya, seperti proyek biologi molekuler, pemodelan iklim, maupun komputasi matematika. Menurut situs [email protected], “Setiap unit kerja kini hanya diproses maksimal tiga kali. Bila kami tidak memiliki pekerjaan untuk komputer Anda, Anda akan memperoleh pesan ‘no work available’ dan kami akan mendorong untuk berpartisipasi dalam proyek berbasis BOINC lainnya, sehingga bila [email protected] sedang tidak ada pekerjaan, komputer Anda bisa tetap sibuk melakukan penelitian ilmia lainnya.”

Kekuatan: [email protected] melakukan survey paling mendalam yang pernah dilakukan dari panjang gelombang 21 cm. Ia juga memperluas pemahaman publik mengenai isu-isu SETI, meningkatkan animo masyarakat, dan membuka jalan bagi proyek-proyek komputasi terdistribusi lainnya.

Kelemahan: [email protected] hanya melakukan survey pada panjang gelombang 21 cm. Jika kita tidak menebak dengan benar frekuensi yang digunakan para makhluk asing, maka ini sama saja dengan menangkap ustadz di kampung maling, tidak akan berguna! Kedua, sama halnya dengan Proyek SERENDIP lainnya, tidak ada tindak lanjut atas sinyal-sinyal yang menarik. Artinya tidak ada pemeriksaan berulang atas setiap posisi langit.

Bersambung ke Meninjau kembali Persamaan Drake

Ditulis oleh

Tri L. Astraatmadja

Tri L. Astraatmadja

Setelah 10 tahun bermukim di Eropa untuk mengambil gelar pascasarjana dan mengerjakan riset postdoktoral, Tri kini bekerja di Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC, Amerika Serikat, untuk mencari eksoplanet dengan menggunakan metode astrometri landas Bumi.