fbpx
langitselatan
Beranda » Fenomena Langit Bulan Juli 2022

Fenomena Langit Bulan Juli 2022

Planet-planet visual masih tampak selama bulan Juli. Selain itu di penghujung Juli, pengamat bisa berburu hujan meteor. 

Bulan Purnama Perigee. Fotografer: Jefferson Teng

Planet

Merkurius. Planet terdekat Matahari ini makin rendah di ufuk timur sebelum fajar menyingsing. Merkurius memang terus turun mengejar matahari dan berada pada posisi konjungsi superior pada pertengahan Juli. Setelah itu, Merkurius bisa diamati saat Matahari terbenam pada penghujung Juli. Merkurius bisa diamati di rasi Taurus di awal Juli dan berada di Gemini pada pertengahan Juli. Di penghukung Julu, Merkurius bisa diamati di rasi Leo.

Venus. Si Bintang kejora masih bisa ditemukan kala fajar dan tampak turun mengejar Matahari dari hari ke hari. Planet dengan julukan bintang fajar ini juga tampak dekat dengan Bulan di penghujung bulan Juli. Sampai pertengahan Juli, Venus masih bisa diamati di rasi Taurus dan di akhir juli, planet ini sudah bergeser ke rasi Gemini. 

Mars, Jupiter. Si planet Merah dan planet terbesar di Tata Surya. Di awal bulan Juli, kedua terbit tengah malam dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Menuju pertengahan Juli, waktu terbit keduanya semakin awal. Mars masih terbit tengah malam sedangkan Jupiter terbit jelang tengah malam. Di awal juli, Mars bisa diamati di rasi Pisces, namun planet ini terus bergerak ke rasi Aries dan mulai pertengah Juli, Mars sudah berada di rasi Aries. Sementara itu, Jupiter bisa diamati di rasi Cetus selama bulan Juli. Kedua planet berpapasan dengan Bulan pada pertengahan Juli. 

Saturnus. Sepanjang bulan Juli, Saturnus bisa diamati sejak sebelum tengah malam sampai fajar menyingsing. Waktu terbit planet ini terus bergeser dan di penghujung bulan Juli, si planet cincin ini tampak sepanjang malam bagi pengamat. Saturnus bisa diamati di rasi Capricornus selama bulan Juli, dan pada pertengahan Juli, planet ini berpapasan dengan Bulan. 

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. 

Uranus terbit tengah dan bisa diamati sampai jelang fajar di rasi Aries. Sementara itu Neptunus terbit jelang tengah malam di rasi Pisces dan bisa diamati sampai fajar menyingsing.

Bulan

Fase Bulan Juli 2022. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

7 Juli. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

13 Juli. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 357.264 km.

14 Juli. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

Bulan purnama terjadi hampir 10 jam setelah berada di titik terdekat dari Bumi sehingga piringan Bulan tampak sedikit lebih besar. Peristiwa ini dikenal sebagai Bulan Purnama Perigee atau ada juga yang menyebutnya Supermoon a.k.a Bulan super. 

20 Juli. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

26 Juli.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 406.275 km

29 Juli. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

Baca juga:  Hujan Meteor Perseid di Awal Agustus

Hujan Meteor

Hujan meteor di bulan Juli 2022 pada tanggal 27 Juli pukul 22:00 WIB. Kredit: Stellarium

28 Juli — Hujan Meteor Piscis Austrinid

Hujan meteor Piscis Austrinid akan menjadi hujan meteor pertama yang berada pada puncak aktivitas di bulan Juli dengan maksimum 5 meteor setiap jam. Hujan meteor yang berlangsung sejak 15 Juli sampai 10 Agustus akan tampak datang dari rasi Piscis Austrinus dengan  kecepatan 35 km/detik.  

Hujan meteor Piscid Austriid bisa diamati mulai pukul 19:52 WIB sampai fajar menyingsing. Bulan sedang fase Bulan Baru dan sudah terbenam pada pukul 18:12 WIB

30 Juli – Hujan Meteor Delta Aquarid Selatan

Hujan meteor Delta Aquariid merupakan hujan meteor yang berasal dari pecahan komet Marsden dan Kracht Sungrazing. Sama seperti eta Aquarid, hujan meteor delta Aquarid selatan yang berlangsung dari 12 Juli – 23 Agustus, juga tampak berasal dari rasi Aquarius. Hujan meteor ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 30 Juli dengan 25 meteor per jam dengan kecepatan 41 km/det.  

Hujan meteor Aquarid sudah bisa diamati sejak pukul 19:44 WIB sampai fajar menyingsing. Tepat saat radian hujan meteor Delta Aquarid Selatan terbit, Bulan sabit terbenam di ufuk barat. Karena itu tidak akan ada Bulan sampai fajar menyingsing.

30 Juli – Alpha Capricornid

Selain delta Aquariid selatan dan Piscis Austrinid, pada tanggal 30 Juli hujan meteor alpha Capricornid akan mencapai puncaknya. Hujan meteor yang berlangsung dari 3 Juli sampai 15 Agustus akan tampak datang dari arah rasi Capricorn dan berasal dari komet 45P Honda-Mrkos-Pajdusakova. Dugaan lain asal hujan meteor ini dari asteroid 2002 EX12 yang kemudian dikenal sebagai komet 169P/NEAT. 

Puncak hujan meteor Capricornid akan terjadi tanggal 30 Juli dengan laju 5 meteor per jam. Akan tetapi, biasanya ada bola api yang terbentuk dan melintas di langit malam. Rasi Capricorn sudah terbit sejak Matahari terbenam dan pengamat bisa menikmati hujan meteor alpha Capricornid sepanjang malam sampai fajar menyingsing. Bulan terbenam pada pukul 19:45 WIB. Karena itu tidak akan ada Bulan sampai fajar menyingsing.

Peristiwa

4 Juli — Aphelion

Bumi saat mencapai titik terjauh dari Matahari. Kredit: langitselatan

Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada saat dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 4 Juli, Bumi berada di titik terjauh dengan matahari pada jarak 1,0167 AU atau 152.098.455 km dari Matahari.

15-16 Juli — Bulan — Saturnus

Bulan dan Saturnus di langit malam tanggal 15 Juli 2022 pada pukul 22:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan dan Saturnus terbit beriringan dan tampak berpapasan di langit dengan Bulan 3,1º di selatan Saturnus. Kedua objek ini terbit beriringan diawali oleh Bulan pada pukul 19:34 WIB disusul Saturnus dua puluh menit kemudian. 

Pukul 02:00 WIB, Bulan dan Saturnus mencapai ketinggian 82º di selatan, atau titik tertinggi yang dicapai di langit. Kedua objek berada pada ketinggian 33º saat Matahari terbit. 

17 Juli — Konjungsi Superior Merkurius

Merkurius berpapasan dekat dengan Matahari di langit sehingga planet ini menghilang dan tidak akan tampak bagi pengamat di Bumi. Pada saat konjungsi superior, Matahari berada di antara Merkurius dan Bumi, dan hanya terpisah 1,5° dari Matahari. 

Ketika Merkurius sedang berada pada posisi terjauhnya dari Bumi, ia akan berada pada jarak 1,33 AU dari Bumi. Jika Merkurius bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 5 detik busur.

Baca juga:  Pertunjukan Cahaya Dua Galaksi Memeriahkan Langit Malam Jelang Perayaan Natal

Peristiwa konjungsi superior Merkurius menandai akhir kenampakan planet ini kala fajar dan mulai bertransisi untuk hadir kala senja dalam beberapa minggu lagi.

18-19 Juli — Bulan — Jupiter

Pasangan Bulan dan Jupiter saat tengah malam tanggal 19 Juli 2022. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan Jupiter saat tengah malam tanggal 19 Juli 2022. Kredit: Stellarium

Setelah Saturnus, kali ini giliran Jupiter yang berpapasan dengan Bulan yang berada 2,2º di selatan Jupiter. Bulan terbit terlebih dahulu pada malam tanggal 18 Juli pukul 22:17 WIB disusul Jupiter pukul 22:37 WIB. Kedua objek mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 04:35 WIB dengan ketinggian 81º. Saat Matahari terbit pada pukul 05:46 WIB, Bulan dan Jupiter sudah berada pada ketinggian 69 º.

22 Juli — Bulan — Mars

Pasangan Bulan dan Mars tanggal 22 Juli 2022 pukul 03:00 WIB. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan Mars tanggal 22 Juli 2022 pukul 03:00 WIB. Kredit: Stellarium

Setelah menjumpai Jupiter, kali ini Bulan papasan dekat dengan Mars, dan hanya terpisah 2,5º di utara planet tersebut. Mars terbit pukul 00:35 WIB disusul Bulan empat menit kemudian. Saat Matahari terbit pada pukul 05:46 WIB, Bulan dan Jupiter sudah berada pada ketinggian 66º.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Awal dan akhir Juli menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan berada pada fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati jelang tengah malam membentang dari Timur Laut ke Barat Daya.  

Setelah Matahari terbenam, ada Regulus di rasi Leo, Spica di Virgo, Crux, Rigel Kentaurus di Centaurus,  Arcturus di rasi Bootes, Antares di Scorpius, Vega di rasi Lyra, dan Deneb di rasi Cygnus yang bisa sampai lewat tengah malam. Jelang dini hari ada Aldebaran di rasi Taurus dan Archenar di rasi Eridanus.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan. 

Peta Bintang 1 Juli 2022

Peta Bintang 15 Juli 2022

Kampanye Langit Gelap

19 – 28 Juli — Kampanye Globe At Night

Di bulan Juli, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 19 – 28 Juli.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye ini, pengamat di utara diajak untuk mengamati Herkules sedangkan di  belaan selatan melakukan pengamatan rasi Scorpius. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

3 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini