Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021

Jangan lewatkan Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 yang dijuluki Bulan Darah Super karena bertepatan dengan Bulan Purnama Perigee atau supermoon.

Gerhana Bulan Total 2018 yang dipotret oleh Avivah Yamani dari Hotel Kytos. Kredit: langitselatan
Gerhana Bulan Total 2018 yang dipotret oleh Avivah Yamani dari Hotel Kytos. Kredit: langitselatan

Gerhana Bulan Total 26 Mei nanti akan menjadi gerhana pembuka untuk musim gerhana tahun 2021. Musim gerhana 2021 masih dalam suasa pandemi Covid19, terdiri dari 2 Gerhana Bulan dan 2 Gerhana Matahari.  

Untuk gerhana Bulan, pengamat di Indonesia berkesempatan untuk menyaksikan kedua gerhana yakni Gerhana Bulan Total pada bulan Mei, dan Gerhana Bulan Sebagian pada bulan November 2021.  Sayangnya, gerhana Matahari tahun ini (Gerhana Matahari Cincin pada bulan Juni dan Gerhana Matahari Total bulan Desember), tidak ada yang melintasi wilayah Indonesia. 

Gerhana Bulan Super 

Diagram gerhana bulan total. Kredit: langitselatan
Diagram gerhana bulan total. Kredit: langitselatan

Peristiwa Gerhana Bulan Total (GBT) 26 Mei 2021 juga bertepatan dengan Bulan yang sedang berada di perigee atau titik terdekat dengan Bumi. 

Pada tanggal 26 Mei 2021, Bulan mencapai fase purnama pada pukul 18:14 WIB. Sementara itu, sekitar 9 jam sebelumnya atau pada pukul 08:51 WIB, Bulan mencapai jarak terdekat dengan Bumi yakni 357.311 km. Itu artinya saat Purnama, Bulan masih berada pada jarak terdekat dengan Bumi. Peristiwa inilah yang dikenal sebagai Supermoon atau Bulan Super atau lebih tepatnya Bulan Punama Perigee.

Karena berada pada jarak terdekat dari Bumi, kenampakan piringan Bulan jadi lebih besar sekitar 14% dan 30% lebih terang jika dibanding saat Bulan berada di titik terjauh atau apogee. Namun, untuk pengamat di Bumi, perbedaan ini sangat kecil sehingga sulit dikenali. 

Pada hari yang sama, Bumi berada sejajar di antara Bulan dan Matahari. Konfigurasi ini menyebabkan Bumi menghalangi cahaya Matahari ke permukaan Bulan. 

Setiap Bulan Purnama, Bumi memang berada di antara Bulan dan Matahari. Akan tetapi, gerhana bulan tidak terjadi setiap Bulan mencapai fase Purnama. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang miring 5º dibanding orbit Bumi.  Akibatnya, ada saatnya Bulan tidak selalu masuk dalam bayang-bayang Bumi yang menyebabkan Matahari terhalang.

Gerhana Bulan terjadi ketika Bulan memasuki bayang-bayang inti Bumi atau umbra Bumi dan menghilang dari pandangan pengamat di Bumi.  Seharusnya, Bumi jadi gelap seperti halnya gerhana Matahari, karena Bulan tidak menerima cahaya Matahari untuk dipantulkan. 

Ternyata tidak demikian.

Bulan Darah Super

Bulan Super atau Supermoon vs Bulan Mikro. Kredit: langitselatan
Bulan Super atau Supermoon vs Bulan Mikro. Kredit: langitselatan

Bulan tidak menghilang tapi berwarna merah seperti bata atau darah. Warna merah itu berasal dari cahaya Matahari yang bisa lolos melewati atmosfer Bumi dan mencapai Bulan.

Jadi, saat cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi, cahaya pada panjang gelombang hijau sampai ungu disebarkan dan disaring oleh atmosfer. Hanya cahaya merah yang bisa lolos melewati atmosfer dan menyinari Bulan meskipun sebagian cahaya merah tersebut ada yang dibiaskan atau dibelokkan.

Berdasarkan skala Danjon, kenampakan Bulan memang bisa merentang dari skala L dari 0 sampai 4. Untuk skala Danjon 0,  bulan tampak sangat gelap atau menghilang dari pandangan pengamat ketika Bulan melintasi pusat umbra Bumi.  Untuk skala 1 – 4, warna Bulan merentang dari gelap, merah gelap, merah bata sampai warna oranye / merah sangat terang.

Warna merah ini yang menyebabkan Gerhana Bulan Total dijuluki Gerhana Bulan Darah. Karena bertepatan dengan posisi Bulan di perigee, muncul pula istilah Bulan Darah Super. 

Lagi-lagi ini hanya julukan. Tidak ada keterkaitan antara Bulan Darah Super a.k.a Gerhana Bulan perigee dengan bencana.

Bagi pengamat di Indonesia, GBT 26 Mei 2021 bisa diamati setelah Matahari terbenam. Gerhana yang berlangsung selama 3 jam ini sudah terjadi sebelum Matahari terbenam. Akibatnya, pengamat di Indonesia akan menyaksikan Bulan terbit dalam kondisi gerhana telah dimulai. 

Lintasan Gerhana Bulan Total

Kenampakan Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 dari Indonesia. Kredit: langitselatan
Kenampakan Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021 dari Indonesia. Kredit: langitselatan

Masyarakat di wilayah Australia, Amerika Serikat bagian barat, Amerika Selatan bagian barat, Asia Tenggara dan Aisa Timur, bisa menyaksikan peristiwa Gerhana Bulan Total 26 Mei 2021.

Pengamat di seluruh Indonesia bisa menyaksikan gerhana bulan.  Akan tetapi, pengamat di Indonesia tidak bisa menyaksikan sleuruh proses gerhana.  Bulan sudah mengalami gerhana ketika Bulan terbit di sore hari pada tanggal 26 Mei.  

Pengamat di wilayah Indonesia timur, bisa mengamati sebagian besar proses gerhana karena Bulan terbit saat baru memasuki gerhana penumbra.  Sementara itu, untuk wilayah Indonesia tengah, saat Bulan terbit sudah memasuki gerhana sebagian. Dan untuk wilayah barat Indonesia, saat Bulan terbit sudah dalam kondisi gerhana sebagian dan akan memasuki gerhana total.

Untuk GBT 26 Mei, Bulan akan mulai memasuki bayangan Bumi pukul 15:47 WIB dan menghabiskan waktu 3 jam 7 menit 25 detik dalam umbra Bumi. Keseluruhan gerhana bulan akan terjadi selama 5 jam 2 menit 2 detik sejak memasuki penumbra.  Akan tetapi, gerhana total kali ini hanya berlangsung selama 14 menit 30 detik.

Waktu Gerhana

Proses Gerhana Bulan Total dimulai pukul 15:47 WIB sampai pukul 20:49 WIB dengan puncak gerhana berlangsung pukul 18:18:40 WIB.

Waktu Indonesia Bagian Barat
Awal Gerhana Penumbral (P1) : 15:47:39 WIB
Awal Gerhana Sebagian (U1) : 16:44:57 WIB
Awal Gerhana Total (U2) : 18:11:25 WIB
Puncak Gerhana :  18:18:40 WIB
Akhir Gerhana Total (U3) : 18:25:55 WIB WIB
Akhir Gerhana Sebagian (U4) : 19:52:22 WIB
Akhir Gerhana Penumbral (P4): 20:49:41 WIB

Waktu Indonesia Bagian Tengah
Awal Gerhana Penumbral (P1) : 16:47:39 WITA
Awal Gerhana Sebagian (U1) : 17:44:57 WITA
Awal Gerhana Total (U2) : 19:11:25 WITA
Puncak Gerhana :  19:18:40 WITA
Akhir Gerhana Total (U3) : 19:25:55 WIB WITA
Akhir Gerhana Sebagian (U4) : 20:52:22 WITA
Akhir Gerhana Penumbral (P4): 21:49:41 WITA 

Waktu Indonesia Bagian Timur
Awal Gerhana Penumbral (P1) : 17:47:39 WIT
Awal Gerhana Sebagian (U1) : 18:44:57 WIT
Awal Gerhana Total (U2) : 20:11:25 WIT
Puncak Gerhana :  20:18:40 WIT
Akhir Gerhana Total (U3) : 20:25:55 WIB WIT
Akhir Gerhana Sebagian (U4) : 21:52:22 WIT
Akhir Gerhana Penumbral (P4): 21:49:41 WIT

Karena gerhana Bulan terjadi saat Bulan terbit, maka carilah lokasi yang tidka terhalang di arah timur. 

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...