Kacang Keberuntungan: Tradisi Unik Jet Propulsion Laboratory

Di tengah hiruk pikuk semangat dan ketegangan tim saat memantau tahapan misi penting, ada satu hal yang tidak pernah ketinggalan di ruang kendali Jet Propulsion Laboratory (JPL): KACANG!!!

Tim Perseverance dan kacang keberuntungan untuk mengurangi stress. Kredit: NASA/Joel Kowsky
Tim Perseverance dan kacang keberuntungan untuk mengurangi stress. Kredit: NASA/Joel Kowsky

Sejak bergabung sebagai penulis di langitselatan, penulis sering diajak menulis tentang misi ruang angkasa. Tugas ini membuat penulis rajin mengikuti siaran langsung detik-detik penting misi seperti orbit insertion (masuk orbit) Juno, pengambilan sampel di asteroid oleh OSIRIS-REx, hingga entry, descent and landing (EDL, masuk (atmosfer), turun (ke permukaan) dan mendarat) misi Perseverance di Mars tanggal 18 Februari 2021 lalu. 

Dalam setiap siaran tersebut selalu ada segmen yang memperlihatkan anggota tim misi mengedarkan kacang ke seantero ruangan, disertai komentar tentang kacang keberuntungan.

Ketika penulis menonton siaran langsung EDL Perseverance, penulis sengaja menunggu munculnya kacang keberuntungan tersebut. Sebagaimana bisa diduga, segmen kacang muncul kembali. Karena penasaran, maka penulis bertekad mencari tahu lebih dalam tentang tradisi kacang keberuntungan ini.

Sejarah Kacang Keberuntungan

Botol kacang yang selalu tersedia di ruang kontrol. Kredit: NASA/Joel Kowsky
Botol kacang yang selalu tersedia di ruang kontrol. Kredit: NASA/Joel Kowsky

Kisah mengenai Kacang Keberuntungan JPL ternyata sudah sangat melegenda. Apa sebenarnya signifikansi kacang di organisasi yang fokus kegiatannya adalah misi ruang angkasa dan astronomi?

Jet Propulsion Laboratory (JPL) adalah sebuah badan penelitian dan pengembangan (litbang) di bawah National Aeronautics and Space Administration (NASA, badan antariksa Amerika Serikat). Tugas utama JPL adalah membangun dan mengoperasikan wahana robotik ruang angkasa serta tugas lain terkait penelitian bidang keantariksaan. Markas utama JPL berlokasi di Pasadena, negara bagian California, Amerika Serikat.

Karena tugasnya itulah, JPL memegang kendali dari banyak misi antariksa. Proses kendali misi, apapun itu mulai dari peluncuran, terbang lintas/flyby, orbit insertion, EDL (entry-descent-landing), hingga pendaratan adalah titik-titik kritis yang tentu saja akan menaikkan tingkat stress seluruh anggota tim yang terlibat. 

Pada tahun 1964, tim kendali misi di JPL sedang menghadapi situasi yang cukup kritis. Mereka sedang mengendalikan misi Ranger 7, misi ke permukaan bulan untuk mendapatkan citra dan informasi yang nantinya akan digunakan untuk mendaratkan manusia di Bulan. Pada titik itu NASA sudah enam kali mengalami kegagalan mengirimkan misi serupa (Ranger 1 hingga Ranger 6). Misi Ranger 6 sebenarnya berfungsi dengan cukup baik hingga tiba saatnya untuk mengambil dan mengirimkan citra dari Bulan. Tidak ada citra yang berhasil dikumpulkan dan dikirimkan ke Bumi. Setelah enam kali mengalami kegagalan beruntun, Kongres Amerika Serikat mulai mempertanyakan kemampuan JPL dalam membangun dan mengoperasikan wahana robotik ke Bulan, dan rumor penutupan JPL mulai terdengar. 

Bisa dibayangkan betapa hebatnya tekanan yang dirasakan oleh tim misi Ranger 7. Misi ini harus berhasil, karena kalau tidak demikian, JPL bisa jadi tidak lagi mendapatkan dana untuk beroperasi, dan banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Untuk mengurangi stress dan mengembalikan fokus tim ke misi yang ditangani, insinyur lintasan misi, Dick Wallace mulai mengedarkan kacang kepada seluruh tim. Beliau berharap, dengan anggota tim mengunyah kacang mereka bisa lebih rileks dan fokus.

Dengan hadirnya kacang, misi Ranger 7 berhasil diluncurkan dan melaksanakan misinya dengan mulus. Melihat hal tersebut, tim JPL mulai menghadirkan kacang di misi-misi selanjutnya. Kesuksesan Ranger 7 diikuti dengan kesuksesan Ranger 8 dan 9 ( yang mana hasilnya digunakan untuk menentukan tempat pendaratan di Bulan) hingga misi-misi yang kita kenal sekarang seperti Cassini, Juno, Curiosity, InSight, OSIRIS-REx dan Perseverance. 

Awalnya, kacang hanya dihadirkan pada saat peluncuran misi saja. Setelah misi kembar Voyager 1 dan 2, kacang dihadirkan pada semua tahapan kritis seperti terbang lintas, EDL, pendaratan, dan tahapan dengan resiko tinggi lainnya. 

Kacang biasanya dipilih yang tanpa kulit, agar tidak menimbulkan sampah yang tidak perlu di ruang kendali misi yang serba sensitif. Berdasarkan wawancara NPR dengan Dr. Randi Wessen, insinyur navigasi dari JPL, pihak JPL tidak terlalu mengkhawatirkan merk kacang yang dihadirkan, asal kacangnya ada di ruang misi. Menurut beliau, dengan banyaknya hal yang dipikirkan anggota tim saat pelaksanaan tahap kritis, merk kacang mungkin berada di prioritas bawah sekali!

Benarkah Kacang Membawa Keberuntungan?

Sejarah mencatat ada beberapa misi yang gagal atau harus ditunda ketika tim tidak menghadirkan kacang di ruang kendali misi. Pada satu kesempatan, misi kehilangan wahana sesaat setelah peluncuran. Pada kesempatan lain, peluncuran harus ditunda 40 hari lamanya. 

Misi Cassini ke Saturnus termasuk salah satu yang harus mengalami “masalah” ketika kacang tidak dihadirkan. Ketika akan diluncurkan sesuatu terjadi sehingga peluncuran harus ditunda. Tim kemudian menyadari bahwa penundaan ini terjadi ketika mereka tidak membawa kacang ke ruang kendali! Pada kesempatan peluncuran kedua, tim memastikan untuk menghadirkan kacang ke ruang kendali, dan Cassini meluncur dengan mulus menuju Saturnus pada tanggal 15 Oktober 1997!!!

Apakah ini berarti para ilmuwan dan insinyur di JPL percaya tahayul?

Sebagaimana salah satu anggota tim misi EDL Perseverance menuturkan, mereka tidak melihat hal ini sebagai tahayul, melainkan sebagai tradisi. Tradisi yang membantu menurunkan tingkat ketegangan ketika misi memasuki tahap kritis. Kalau memang tradisi ini membawa keberuntungan, kenapa tidak? 

Ditulis oleh

Ni Nyoman Dhitasari

Ni Nyoman Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.

Tulis komentar dan diskusi...