Arrokoth, Nama Indian Yang Disematkan Untuk Ultima Thule

Masih ingat Ultima Thule? Ultima Thule adalah Objek Sabuk Kuiper (KBO) yang menjadi sasaran studi dalam terbang lintas terbaru wahana New Horizons. Terbang lintas tersebut terjadi pada 1 Januari 2019 lalu.

Kali ini Ultima Thule atau designasi 2014 MU69 menjadi berita karena ia mendapatkan nama baru. Objek Sabuk Kuiper tersebut secara resmi dinamai Arrokoth, kata yang berarti “Langit” dalam bahasa Powhatan/Algonquian, salah satu bahasa penduduk asli Amerika (Native American/Suku Indian).

Upacara Penamaan 2014 MU69 dengan nama resmi Arrokoth oleh Rev. Nick Miles dari Suku Pamunkey. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute
Upacara Penamaan 2014 MU69 dengan nama resmi Arrokoth oleh Rev. Nick Miles dari Suku Pamunkey. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute

Nama ini dipilih sebagai representasi inspirasi yang didapatkan manusia ketika menatap langit dan memikirkan bintang-bintang dan dunia-dunia lainnya di luar sana. Mengingat nama tersebut sangat kental dengan budaya lokal, tim New Horizons National Aeronautics and Space Administration (NASA)  terlebih dahulu meminta persetujuan dan restu dari para tetua dan perwakilan Suku Powhatan sebelum diajukan kepada International Astronomical Union dan Minor Planet Center. Sebagai pemegang otoritas internasional dalam penamaan Objek Sabuk Kuiper, Minor Planet Center menyetujui nama baru ini pada tanggal 8 November 2019.

Nama baru tersebut diumumkan secara resmi dalam sebuah upacara yang diadakan di markas besar NASA di Washington, DC, Amerika Serikat pada hari Selasa, 12 November 2019. Upacara tersebut dipimpin oleh Rev. Nick Miles dari Suku Pamunkey, yang menyanyikan lagu tradisional Algonquian untuk merayakan keputusan tersebut. 

Sekilas Tentang Arrokoth dan Sabuk Kuiper

Foto 2014 MU69 atau Ultima Thule yang sekarang menyandang nama resmi Arrokoth. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute//Roman Tkachenko
Foto 2014 MU69 atau Ultima Thule yang sekarang menyandang nama resmi Arrokoth. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute//Roman Tkachenko

2014 MU69 atau Ultima Thule atau Arrokoth adalah Objek Sabuk Kuiper yang ditemukan pada tahun 2014 dengan menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble. Objek ini berbentuk mirip boneka salju, namun bukannya bulat menggemaskan seperti boneka salju pada umumnya, Arrokoth lebih mirip dua panekuk beda ukuran yang ditempelkan alias gepeng. Ketika para ilmuwan dan media menggunakan nama Ultima Thule, Ultima merujuk pada bagian berukuran lebih besar, dan Thule merujuk pada bagian yang berukuran kecil.

Arrokoth terletak di Sabuk Kuiper, yang merupakan zona ketiga dalam Tata Surya setelah Zona Planet Dalam (planet batuan) dan Zona Planet Luar (planet raksasa gas). Sabuk Kuiper adalah wilayah berbentuk donat yang melingkari Matahari. Wilayah ini dimulai dari orbit Neptunus (berjarak sekitar 30 Astronomical Unit (AU) dari Matahari) dan berakhir pada jarak sekitar 50 AU dari Matahari. Sabuk Kuiper, serupa dengan Sabuk Asteroid, juga menjadi tempat berkumpulnya sisa-sisa pembentukan Tata Surya.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa sisa-sisa ini tidak saling bertabrakan dan menggumpal membentuk planet, sebagaimana yang terlihat pada Arrokoth (meski dalam skala yang sangat, sangat kecil)? Jawabnya ada pada planet raksasa gas yang berada di dekatnya. Sabuk Asteroid memiliki Jupiter dan Sabuk Kuiper memiliki Neptunus, yang mana gaya gravitasinya terus menerus “mengaduk” objek-objek di kedua sabuk sehingga tidak ada kesempatan untuk bergabung menjadi planet.

Arrokoth dipilih sebagai Objek Sabuk Kuiper yang menjadi target studi wahana New Horizons setelah sistem planet katai Pluto.

Proses Pemilihan Nama Baru

Lho, mengapa Ultima Thule perlu diberi nama baru? Bukannya dari designasinya (2014 MU69) sudah diberi nama Ultima Thule?

Ultima Thule adalah nama tidak resmi yang diberikan Tim New Horizons dan digunakan oleh media sejak awal penemuannya. Kata “Ultima Thule” berasal dari nama sebuah pulau mistik di luar batas dunia yang dikenal oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam literatur abad pertengahan. Namun nama ini tidak pernah mendapatkan persetujuan dari IAU dan Minor Planet Center yang memegang otoritas penamaan Objek Sabuk Kuiper.

Sebenarnya, nama Ultima Thule dapat diajukan sebagai nama resmi. Namun sebelum hal tersebut terlaksana, nama tersebut menuai kontroversi. Nama ini ternyata juga digunakan oleh kelompok white supremacist (kelompok yang menganggap kulit putih sebagai ras superior) untuk menyebutkan “tanah air” atau “tujuan akhir” mereka, sebuah utopia. Tentunya IAU berharap nama yang diberikan kepada benda langit tidak memiliki keterkaitan dengan sesuatu seperti rasisme.

Untuk itu, diperlukan nama baru. Sesuai dengan konvensi penamaan benda langit yang ditetapkan oleh IAU, tim yang menemukan benda langit memiliki hak khusus untuk menamainya. Mereka jugalah yang kemudian berusaha untuk mencari nama baru yang tidak kontroversial.

Tim penemu 2014 MU69 memutuskan untuk memasukkan unsur budaya dari daerah setempat di mana obyek tersebut ditemukan. Lho, kan 2014 MU69 berada di langit; daerah mana di muka Bumi yang dianggap sebagai lokasi penemuannya? Unsur budaya mana yang akan digunakan?

Begini penjelasannya. 2014 MU69 ditemukan dengan menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble dan dieksplorasi oleh wahana New Horizons. Teleskop Ruang Angkasa Hubble dioperasikan oleh Space Telescope Science Institute dan New Horizons dioperasikan oleh John Hopkins Applied Physics Laboratory. Kedua institusi ini berada di negara bagian Maryland, Amerika Serikat. Maka, Tim New Horizons memutuskan untuk menggunakan nama dari budaya penduduk asli daerah tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, sebelum bangsa Eropa datang untuk mengkolonisasi Amerika, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Amerika Serikat telah dihuni oleh penduduk asli yang kerap disebut Indian. Nama inipun sebenarnya salah kaprah. Pada zaman eksplorasi samudra, orang Eropa menyebut Asia Selatan dan Asia Timur (atau bahkan seluruh benua Asia) dengan sebutan umum “India”. Ketika Columbus memulai eksplorasinya untuk mencapai India dengan rute baru (menuju ke barat), ia mendarat di benua Amerika, dan otomatis menyebut penduduk asli dengan nama “Indian”, mengira ia telah berhasil sampai di India/Samudra Hindia (Asia). Nama ini tetap dipakai, meski sekarang lebih sering digunakan istilah Native American atau Indigenous People, yang keduanya kurang lebih berarti penduduk asli (Amerika)

Dalam sejarahnya, Konfederasi Powhatan, yang merupakan gabungan dari bangsa-bangsa asli Amerika yang berbahasa Algonquian, telah tinggal di wilayah yang sekarang dikenal sebagai negara bagian Virginia bagian Timur dan Maryland sejak zaman dahulu kala. Hingga hari ini, warga konfederasi ini masih tinggal di sepanjang garis pantai Timur Amerika, dan banyak yang bermukim di reservasi* Pamunkey di King William County, negara bagian Virginia. Reservasi Pamunkey ini adalah reservasi Indian tertua di Amerika Serikat, yang terbentuk melalui perjanjian dengan Inggris pada kisaran abad ke-17 dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah federal Amerika Serikat pada bulan Juli 2015.

Sebagai penduduk asli di wilayah Maryland (lokasi di mana kedua wahana yang terkait dengan penemuan dan eksplorasi 2014 MU69 dioperasikan), maka budaya dan bahasa Powhatan/Algonquian dipilih sebagai dasar penamaan Objek Sabuk Kuiper tersebut. Maka dengan restu dari para tetua dan perwakilan Suku Powhatan, dipilihlah nama “Arrokoth”.

*Sekilas Catatan Sejarah Penduduk Asli Amerika

Ilustrasi suku asli Powhatan. Kredit: The History Files
Ilustrasi suku asli Powhatan. Kredit: The History Files

Mungkin ada pembaca yang bertanya, apa itu “reservasi” dalam kaitan dengan penduduk asli Amerika? Di Amerika Serikat dikenal adanya istilah “Reservasi Indian/Indian Reservation”. Reservasi Indian adalah wilayah yang didedikasikan secara legal untuk penduduk asli Amerika (suku-suku Indian) dan dikelola oleh suku Indian yang diakui secara sah oleh Pemerintah Federal Amerika Serikat melalui U.S Bureau of Indian Affairs (Biro Urusan Indian AS), dan bukannya oleh negara bagian di mana reservasi itu berada.

Terbentuknya reservasi ini terkait dengan sejarah datangnya orang Eropa ke tanah Amerika di era Kolonialisasi Amerika (awal abad ke-16). Kala itu, para pendatang dari Eropa ini memindahkan penduduk asli dari wilayah yang ingin mereka tempati, baik dengan cara halus seperti negosiasi maupun pindah secara sukarela, maupun secara paksa melalui perjanjian di bawah tekanan, pengusiran dan perebutan wilayah/perang. Penduduk Asli ini kemudian diberikan satu wilayah di mana mereka boleh tinggal, dan inilah yang sampai sekarang disebut sebagai Reservasi Indian.

Mungkin ada pembaca yang merasa familiar dengan nama Powhatan. Powhatan yang dimaksud dalam tulisan ini memang merupakan gabungan suku-suku penduduk asli, namun Powhatan juga merupakan nama dari salah satu anggotanya yang cukup terkenal. Kepala Suku (Chief) Powhatan adalah tokoh sejarah penduduk asli yang merupakan ayah dari Pocahontas, yang kisahnya (meski tak 100% sesuai sejarah) pernah difilmkan oleh Disney. Sebuah makam kuno di dalam Reservasi Pamunkey dilaporkan merupakan makan Chief Powhatan ini.

Pocahontas sendiri meninggal dalam perjalanannya kembali ke Amerika setelah mengunjungi Inggris bersama suami dan putranya selama beberapa bulan. Ia dimakamkan di St George’s Church, Gravesend di Kent, Inggris.

Ditulis oleh

Ni Nyoman Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.

Tulis komentar dan diskusi...