Fenomena Langit Bulan Agustus 2019

Tidak banyak fenomena langit bulan Agustus 2019. Tapi jangan kuatir. Masih ada Jupiter dan Saturnus yang menemani di malam hari. Dan tentu saja Hujan Meteor Perseid yang akan mencapai puncak pada pertengahan Agustus.

Hujan meteor Perseid 12 Agustus 2016 dari Spruce Knob, West Virginia.. Fotografer: Bill Ingalls / NASA The Commons.
Hujan meteor Perseid 12 Agustus 2016 dari Spruce Knob, West Virginia.. Fotografer: Bill Ingalls / NASA The Commons.

Planet

Merkurius. Planet terdekat dari Matahari ini bisa diamati di rasi Cancer sampai jelang akhir Agustus, meski cukup rendah di ufuk timur. Sejak awal Agustus, Merkurius terus menanjak naik ke posisi tertingginya saat mencapai elongasi barat terbesar pada tanggal 10 Agustus, dengan ketinggian 19º. Setelah itu, Merkurius kembali mengejar Matahari dan perlahan hilang di balik terang sang Surya saat akhir Agustus.

Venus & Mars. Tidak tampak selama bulan Agustus.

Jupiter & Saturnus. Kedua planet raksasa ini masih bisa diamati sepanjang malam selama bulan Agustus. Jupiter yang terbit sore hari bisa diamati sampai lewat tengah malam dan bisa diamati di rasi Ophiuchus. Sementara itu, planet Saturnus bisa diamati sampai jelang fajar di rasi Sagittarius. Jupiter terlebih dahulu berpapasan dengan Bulan pada tanggal 10 Agustus, dan disusul Saturnus 2 hari kemudian.

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. Selama bulan Agustus, Uranus dan Neptunus bisa diamati mulai jelang tengah malam sampai fajar menyingsing. Uranus bisa ditemukan di Aries, sedangkan Neptunus di rasi Aquarius.

Bulan

Kalender Fase Bulan di bulan Agustus 2019. Kredit: Fajar Ariadi

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

1 Agustus. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

2 Agustus. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 359.398 km.

8 Agustus. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

15 Agustus. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

17 Agustus.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 406.244 km

23 Agustus. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

30 Agustus. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

30 Agustus. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 357.176 km.

Hujan Meteor

13 Agustus Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor Perseid saat mencapai puncak tanggal 13 Agustus 2019 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor Perseid saat mencapai puncak tanggal 13 Agustus 2019 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk

Dimulai tanggal 17 Juli – 24 Agustus, hujan meteor Perseid yang berasal dari debu komet Swift-Tuttle tersebut akan mencapai puncak tanggal 13 Agustus. Di malam puncak diperkirakan 100 meteor akan melintas setiap jam dan tampak datang dari rasi Perseus. Untuk lokasi pengamatan yang bebas polusi cahaya, pengamat bisa menyaksikan setidaknya 50-75 meteor setiap jam.

Rasi Perseus baru terbit tengah malam yakni pukul 00:16 WIB dari arah timur laut. Bulan Cembung besar yang sedang bergerak turun ke arah barat dan terbenam pada pukul 04:06 WIB akan jadi sumber polusi cahaya.

Peristiwa

10 Agustus — Elongasi Barat Maksimum Merkurius

Elongasi Barat terbesar Merkurius. Kredit: langitselatan
Elongasi Barat terbesar Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius dan Matahari membentuk sudut maksimal terhadap Bumi. Saat elongasi Barat maksimum, Merkurius akan berada 19º di arah timur Matahari. Merkurius terbit pukul 04:45 WIB atau 1 jam 14 menit sebelum Matahari terbit. Pengamat bisa mengamati keberadaan Merkurius dengan kecerlangan 0,1 magnitudo di ufuk timur.

10 Agustus — Bulan — Jupiter

Bulan dan Jupiter tampak berpasangan di ufuk timur sejak Matahari terbenam sampai saat keduanya terbenam lewat tengah malam. Setelah Matahari terbenam, Bulan dan Jupiter yang sudah terbit sejak pukul 13:36 WIB dan 13:16 WIB bisa diamati di arah tenggara dengan ketinggian ~64º di atas horison.

Bulan tampak terpisah 2,5º di utara Jupiter dan keduanya bisa diamati di rasi Ophiuchus sampai terbenam lewat tengah malam. Jupiter terbenam lebih dahulu pada pukul 01:37 WIB disusul Bulan pada pukul 02:21 WIB.

12 Agustus — Bulan — Saturnus

Setelah berpapasan dengan Jupiter, Bulan kemudian berpapasan sangat dekat dengan Saturnus di rasi Sagittarius. Kedua objek ini bisa diamati di rasi Sagittarius pada ketinggian 37º di horison timur saat Matahari terbenam dan akan terus bergerak ke arah barat sampai jelang fajar. Saturnus terbenam terlebih dahulu pada pukul 03:40 WIB disusul Bulan pukul 04:06 WIB. Bulan berada 0,03º di selatan Saturnus.

12 Agustus — Jupiter — Antares

Pasangan Jupiter dan Antares pada tanggal 12 Agustus pukul 23:30 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Jupiter dan Antares pada tanggal 12 Agustus pukul 23:30 WIB. Kredit: Star Walk

Jupiter dan Antares si alpha Scorpius tampak berpasangan sejak Matahari terbenam sampai saat keduanya terbenam lewat tengah malam. Keduanya terpisah 6,3º dan bisa diamati sampai terbenam beriringan lewat tengah malam. Antares terbenam lebih dahulu pada pukul 01:13 WIB disusul Bulan pada pukul 01:33 WIB.

14 Agustus — Konjungsi Superior Venus

Konjungsi Superior Venus. Kredit: langitselatan
Konjungsi Superior Venus. Kredit: langitselatan

Venus akan berpapasan dekat dengan Matahari di langit sehingga bintang kejora ini menghilang di balik cahaya Matahari.

Pada saat konjungsi superior, Matahari berada di antara Venus dan Bumi, dan hanya terpisah 1,26° dari Matahari. Venus berada pada sisi terjauhnya dari Bumi dengan jarak 1,73 AU, dan terjadi dalam satu siklus sinodik planet Venus (584 hari). Peristiwa konjungsi superior Venus juga menandai akhir kenampakan planet ini kala fajar dan mulai bertransisi untuk hadir kala senja dalam beberapa minggu lagi.

24 Agustus — Bulan — Aldebaran

Konjungsi Bulan dan Aldebaran pada tanggal 24 Agustus pukul 02:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan dan Aldebaran, bintang terang di Taurus berkonjungsi dan hanya terpisah 6,3º. Pasangan ini bisa diamati sejak keduanya terbit beriringan pada pukul 00:20 WIB (Aldebaran) disusul Bulan pukul 00:44 WIB.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Awal Agustus menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati mulai tengah malam membentang dari Timur Laut ke Barat Daya.

Setelah Matahari terbenam, ada Altair di rasi Aquila, Vega di rasi Lyra, Deneb di rasi Cygnus, Antares di Scorpius, rasi Crux, Rigel Kentaurus di rasi Centaurus, Arcturus di rasi Bootes, dan Spica di Virgo.

Mulai tengah malam, pengamat bisa mengamati Archenar di rasi Eridanus, dan jelang fajar ada Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Rigel dan Betelguese di rasi Orion, Aldebaran di Taurus, Capella di rasi Auriga, Procyon di rasi dan Canis Minor.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Peta Bintang 1 Agustus 2019

Peta Bintang 15 Agustus 2019

Kampanye Langit Gelap

6 Agustus — Malam Langit Gelap

Peta Bintang 6 Agustus 2019 pukul 20:00 WIB. Kredit: Stellarium
Peta Bintang 6 Agustus 2019 pukul 20:00 WIB. Kredit: Stellarium

Malam Langit Gelap dilaksanakan pada Hari Keantariksaan 6 Agustus. Masyarakat diajak untuk mematikan lampu luar pada pukul 20:00 WIB – 21:00 WIB dan melihat ke langit. Nikmati perbedaan pengamatan langit malam dengan dan tanpa lampu artifisial, maupun Bulan sabit yang bisa diamati sampai terbenam pukul 22:52 WIB. Selain itu, ada Jupiter dan Saturnus yang bisa diamati sejak Matahari terbenam, segitiga musim panas (Vega – Altair – Deneb), dan ambil bagian untuk memetakan bintang-bintang terang di rasi Centaurus, Crux, Scorpius dan Cygnus.

1 — 2 & 22 — 31 Agustus — Kampanye Globe At Night

Di bulan Agustus, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 1 – 2 Agustus dan dilanjutkan tanggal 22 – 31 Agustus.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye tanggal 1-2 Agustus, para pengamat di langit utara diajak untuk melakukan pengamatan rasi Herkules dan bagi pengamat di langit selatan pengamatan dilakukan pada rasi Scorpius. Untuk kampanye tanggal 22 – 31 Agustus, pengaat di langit utara diajak untuk mengamati rasi Cygnus, sedangkan di belahan selatan mengamati rasi Sagittarius. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.