Fenomena Langit Bulan September 2019

Fenomena langit bulan September 2019 akan dihiasi oleh kehadiran Jupiter dan Saturnus sejak Matahari terbenam, serta okultasi Saturnus oleh Bulan.

Saturnus dipotret dari Lampung. Fotografer: Jefferson teng
Saturnus dipotret dari Lampung. Fotografer: Jefferson teng

Merkurius & Venus. Duo planet dalam ini kembali hadir di langit senja sejak pertengahan bulan September meski masih cukup rendah di ufuk barat setelah Matahari terbenam. Jelang minggu terakhir September, Merkurius sudah bisa diamati di ufuk barat karena sudah cukup tinggi. Venus baru bisa teramati dengan baik di penghujung September. Kedua planet bisa diamati di rasi Virgo.

Mars. Tidak tampak selama bulan September.

Jupiter & Saturnus. Kedua planet raksasa ini masih bisa diamati selama bulan September setelah Matahari terbenam. Jupiter terbit terlebih dahulu siang hari dan disusul Saturnus skitar 2 jam kemudian.  Di awal September, Jupiter sudah tampak berada di meridian pengamat saat Matahari terbenam, sedangkan Saturnus baru mencapai meridian skeitar 2 jam kemudian. Jupiter bisa diamati di rasu Ophiuchus sampai tengah malam, sedangkan Saturnus di rasi Sagittarius bisa diamati sampai lewat tengah malam.

Kedua planet akan berpapasan dengan Bulan di awal September. Jupiter akan terlebih dahulu berjumpa dengan Bulan disusul Saturnus dua hari kemudian. Di beberapa kota di Indonesia,  Bulan bukan hanya sangat dekat dengan Saturnus melainkan mengokultasi atau menggerhanai Saturnus.

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. Selama bulan September, Uranus dan Neptunus bisa diamati mulai jelang tengah malam sampai fajar menyingsing. Uranus bisa ditemukan di Aries, sedangkan Neptunus di rasi Aquarius.

Bulan

Fase Bulan selama bulan September 2019. Kredit: Fajar Ariadi / langitselatan
Fase Bulan selama bulan September 2019. Kredit: Fajar Ariadi / langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

6 September. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

13 September.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 406.377 km

14 September. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

Bulan purnama terjadi saat Bulan berada pada titik terjauhnya dari Bumi. Karena itu piringan Bulan akan tampak sedikit lebih kecil  ~7% dibanding Bulan pada saat berada pada jarak rata-rata.  Kejadian ini dikenal sbegai Purnama Apogee atau ada yang menyebutnya Bulan mini.

22 September. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

28 September. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 357.802 km.

29 September. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

Hujan Meteor

1 September – Hujan Meteor Aurigid?

Hujan meteor Aurigid tanggal 2 September 2019 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor Aurigid tanggal 2 September 2019 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk

Dimulai tanggal 28 Agustus – 5 September, hujan meteor Aurigid atau Alpha Aurigids mencapai puncak aktivitasnya pada tanggal 1 September pukul 21:00 WIB. Hujan meteor ini tampak datang dari rasi Auriga dan saat puncak menghasilkan 5 -6 meteor setiap jam yang bergerak dengan kecepatan 66 km/jam.

Rasi Auriga baru terbit tengah malam yakni pukul 00:16 WIB dari arah timur laut. Hujan meteor ini dapat disaksikan mulai pukul 01:33 dini hari tanggal 2 September sampai saat Matahari terbit. Hujan meteor Aurigid bisa diamati sampai tanggal 5 September.

10 September – Hujan Meteor Epsilon Perseid

Hujan meteor epsilon Perseid tanggal 10 September 2019 pukul 01:30 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor epsilon Perseid tanggal 10 September 2019 pukul 01:30 WIB. Kredit: Star Walk

Dimulai tanggal 5 – 21 September, hujan meteor epsilon Perseid yang juga berasal dari debu komet Swift-Tuttle tersebut akan mencapai puncak tanggal 10 September puul 06:00 WIB. Hujan meteor ini tampak datang dari rasi Perseus dan saat puncak menghasilkan 5 setiap jam yang bergerak dengan kecepatan 64 km/jam.

Rasi Perseus terbit pukul 22:00 dan hujan meteor epsilon Perseid bisa diamati sejak rasi Perseid yang merupakan radian hujan meteor ini berada di atas horison timur. Pengamat bisa mulai berburu epsilon Perseid mulai pukul 22:30 sampai jelang fajar menyingsing. Saat terbaik untuk mengamati hujan meteor epsilon Perseid adalah pukul 04:00 WIB saat titik radiannya mencapai titik tertinggi di langit.

Peristiwa

2 September — Konjungsi Mars

Konjungsi Mars, ketika Mars pada posisi terjauh dari Bumi. Kredit: langitselatan
Konjungsi Mars, ketika Mars pada posisi terjauh dari Bumi. Kredit: langitselatan

Mars akan berada pada posisi terjauhnya Bumi yakni 2,67 AU, dan Matahari berada di antara kedua planet. Akibatnya, pengamat di Bumi tidak akan bisa melihat planet merah tersebut karena jaraknya yang sangat dekat dengan Matahari, yakni 1°04′. Seandainya Mars bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 3,5’’.

4 September — Konjungsi Superior Merkurius

Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan
Konjungsi superior Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius akan berpapasan dekat dengan Matahari di langit sehingga planet ini menghilang dan tidak akan tampak bagi pengamat di Bumi. Pada saat konjungsi superior, Matahari berada di antara Merkurius dan Bumi, dan hanya terpisah 1°42′ dari Matahari.

Ketika Merkurius sedang berada pada posisi terjauhnya dari Bumi, ia akan berada pada jarak 1,37 AU dari Bumi.

6 September — Bulan — Jupiter

Konjungsi Bulan dan Jupiter pada tanggal 6 September pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk
Konjungsi Bulan dan Jupiter pada tanggal 6 September pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan dan Jupiter tampak berpasangan di merdiain pengamat sejak Matahari terbenam sampai saat keduanya terbenam tengah malam. Setelah Matahari terbenam, Bulan dan Jupiter yang sudah terbit sejak pukul 11:32 WIB dan 11:34 WIB bisa diamati di arah tenggara dengan ketinggian ~74º di atas horison selatan.

Bulan perbani awal tampak terpisah 2,5º di utara Jupiter dan keduanya bisa diamati di rasi Ophiuchus sampai terbenam pada tengah malam.

8 September — Bulan — Saturnus

Konjungsi Bulan dan Saturnus pada tanggal 8 September pukul 20:00 WIB. Kredit: Star Walk
Konjungsi Bulan dan Saturnus pada tanggal 8 September pukul 20:00 WIB. Kredit: Star Walk

Setelah berpapasan dengan Jupiter, Bulan kemudian berpapasan sangat dekat dengan Saturnus di rasi Sagittarius. Pada pukul 21:15, Bulan mulai mengokultasi Saturnus, dan planet ini kemudian menghilang di balik piringan Bulan selama beberapa menit.

Kedua objek ini bisa diamati di rasi Sagittarius pada ketinggian 61º di horison tenggara saat Matahari terbenam. Keduanya bisa diamati sampai lewat tengah malam saat kedua objek ini terbenam. Saturnus terbenam terlebih dahulu pada pukul 01:50 WIB disusul Bulan pukul 02:03 WIB. Bulan berada 0,03º di selatan Saturnus.

10 September – Oposisi Neptunus

Oposisi Saturnus. Kredit: langitselatan
Oposisi Saturnus. Kredit: langitselatan

Tidak mudah untuk mengamati planet es biru ini. Tanggal 8 September menandai posisi terdekatnya dengan Bumi. Saat oposisi Neptunus sedang berada pada jarak 28,93 AU di rasi Aquarius dengan kecerlangan 7,8 magnitudo. Untuk bisa melihat planet es ini, siapkan teleskop dan jangan kecewa jika menemukan Neptunus hanya titik biru di teleskop anda.

20 September — Bulan — Aldebaran

Konjungsi Bulan dan Aldebaran pada tanggal 20 September pukul 23:30 WIB. Kredit: Star Walk
Konjungsi Bulan dan Aldebaran pada tanggal 20 September pukul 23:30 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan dan Aldebaran, bintang terang di Taurus berkonjungsi dan hanya terpisah 2,4º. Pasangan ini bisa diamati sejak keduanya terbit beriringan pada pukul 22:34 WIB (Aldebaran) disusul Bulan pukul 22:37 WIB.

23 September – Ekuinoks

Ekuinoks dan Solstis dan 4 musim yang terjadi di Bumi. Kredit: langitselatan
Ekuinoks dan Solstis dan 4 musim yang terjadi di Bumi. Kredit: langitselatan

Matahari berada di ekuinoks atau di atas garis khatulistiwa. Lamanya siang dan malam menjadi sama yakni 12 jam. Bagi masyarakat di belahan bumi utara, tanggal 23 September merupakan Ekuinoks Musim Gugur atau titik balik musim gugur yang menandai awal musim gugur. Sebaliknya di belahan Bumi selatan, ekuinoks di bulan September merupakan vernal ekuinoks atau ekuinoks musim semi yang menandai awal musim semi.

Autumnal Ekuinoks akan terjadi tanggal 23 September pukul: 14:36 WIB.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Akhir September menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati mulai tengah malam membentang dari Timur Laut ke Barat Daya.

Setelah Matahari terbenam, ada Arcturus di rasi Bootes, Antares di Scorpius, Crux, Rigel Kentaurus dan Hadar di Centaurus, Vega di rasi Lyra, Altair di rasi Aquilla, Deneb di rasi Cygnus.

Jelang tengah malam sampai dini hari ada Archenar di rasi Eridanus, Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Rigel dan Betelguese di rasi Orion,  Aldebaran di rasi Taurus, Capela di rasi Auriga, Procyon di rasi Canis Minor, Pollux dan Castor di Gemini, yang bisa diamati.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Peta Bintang 1 September 2019

Peta Bintang 15 September 2019

Kampanye Langit Gelap

20 — 29 September — Kampanye Globe At Night

Di bulan September, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 20 – 29 September.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye bulan September, para pengamat di langit utara diajak untuk mengamati rasi Cygnus, sedangkan di belahan selatan mengamati rasi Sagittarius. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.