Urgensi Planetarium Jawa Timur

Sudah jamak diketahui bahwa metode untuk popularisasi sains belakangan ini semakin beragam. Astronomi sebagai salah satu kajian sains merupakan pendekatan paling efektif yang bisa menjadi alternatif menjanjikan bagi popularisasi sains. Mengapa demikian? Karena melalui astronomi, kita akan dengan sangat mudah menarik perhatian masyarakat.

Ilustrasi Planetarium Jawa Timur yang ditandatangani Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin. Ide ini dikemukakan oleh FOKALIS Jawa Timur. Kredit: FOKALIS JATIM
Ilustrasi Planetarium Jawa Timur yang ditandatangani Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin. Ide ini dikemukakan oleh FOKALIS Jawa Timur. Kredit: FOKALIS JATIM

Observasi adalah cara pertama dan utama guna memperkenalkan sains melalui astronomi karena masyarakat dapat secara langsung diajak untuk mengamati sekaligus mengalami (menjadi bagian dari serangkaian proses) berbagai fenomena astronomi. Sebut saja; hujan meteor, gerhana bulan, gerhana matahari, komet, dan lain sebagainya.  Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, tentunya hal ini menjadi representasi praktikum yang telah diaplikasikan pada institusi pendidikan formal dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Kemudian, setelah memeroleh kesan yang cukup menarik, masyarakat bisa diajak untuk lebih mendalami berbagai aspek yang telah mereka amati.

Materi paling sederhana yang bisa menjadi bahasa universal adalah gelombang elektromagnetik, sedangkan interpreternya adalah sains. Sebagai contoh, bintang yang kita amati dari bumi pada prinsipnya sedang bercerita tentang dirinya. Kita mampu memahami ceritanya melalui sains, melalui rumus-rumus fisika, pemahaman kimia, serta permodelan matematik. Sehingga muncullah konklusi modern bahwa matahari merupakan sebuah bintang,kita bisa menemukan lubang hitam yang tak terlihat namun bisa diketahui keberadaannya dan penemuan lainnya.

Astronomi untuk Popularisasi Sains

Kegiatan Surabaya Astro Club bersama siswa. Kredit: Surabaya Astro Club
Kegiatan Surabaya Astro Club bersama siswa. Kredit: Surabaya Astro Club

Dari pendekatan yang telah diutarakan di atas, kita dibawa menuju satu hulu pertanyaan, tanda tanya besar bagi kita sebagai bagian dari peradaban manusia dan hubungannya dengan alam semesta, apa itu? Asal-usul. Pertanyaan hakiki ini pastilah muncul sebagai sebuah paradoks kehidupan, baik asal-usul manusia, Bumi, Tata Surya, alam semesta hingga asal-usul kehidupan. Sebuah korelasi antara ciptaan dan penciptanya, ke-ada-an dan sebuah ke-tiada-an, awal dan akhir. Hal-hal yang demikian itu setidaknya mampu kita selami sedikit demi sedikit menggunakan kekuatan sains, khususnya astronomi.

Hakikatnya, sains merupakan alat, dan kehidupan ini adalah jalannya. Melalui astronomi, masyarakat didorong untuk mau dan mampu menelusuri jalanan yang masih redup ini. Mempelajari teori-teori, yang nantinya digunakan untuk mengungkap berbagai rahasia yang ada. Contoh lain; cahaya matahari yang sekilas nampak hanya satu warna, bisa dipahami bahwa justru seluruh warna yang ada di dunia ini merupakan pengejawantahan dari sinar matahari yang meneranginya. Hijaunya daun, adalah hasil dari penyerapan seluruh gelombang cahaya dari sinar matahari kecuali warna hijau itu sendiri. Begitulah mekanisme pewarnaan di alam bekerja secara umum. Hal tersebut dapat dipahami lebih jauh jika mempelajari spektrum cahaya. Berbeda lagi ketika mengamati warna bintang yang beragam, ada banyak faktor yang bisa dikemukakan untuk ditarik kesimpulan apa penyebabnya, seperti suhu yang berbeda, distribusi energi, dan lain sebagainya. Banyak cabang sains yang bisa kita pelajari melalui astronomi, tujuannya supaya masyarakat nantinya dapat memodelkan alam semesta kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan peradaban umat manusia. Pada hakikatnya, kekaguman kita terhadap segala keindahan dan potensi yang ada di alam ini akan senantiasa berbanding lurus dengan kemampuan umat manusia dalam menginterpretasikannya melalui sains.

Pentingnya Komunitas Astronomi

Akhir-akhir ini, ada kecenderungan bahwa sains mulai ditinggalkan, dalam artian, peminatnya semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat dari peminatan generasi milenial terhadap bidang ilmu saat mereka sekolah atau menginjak ke perguruan tinggi. Tak sedikit yang memilih jalan pintas untuk mempelajari bidang ilmu selain ilmu alam, walau itu sama-sama baik, namun hal ini memicu kekhawatiran tersendiri bagi beberapa pihak. Hal tersebut bahkan menjadi sebuah tren baru bagi para generasi muda. Padahal, sains merupakan dasar yang tak terpisahkan dari berbagai cabang ilmu, termasuk semua aspek yang saat ini diperlukan dan cenderung dipilih menjadi sebuah peminatan baru oleh para milenial tersebut. Ada indikasi bahwa tren ini salah satunya disebabkan oleh proses edukasi sains yang kurang atraktif dan cenderung menjenuhkan. Maka dari itu, diperlukan adanya strategi baru yang kreatif dan inovatif untuk menyiasati agar minat terhadap sains dapat kembali digalakkan. Salah satu solusinya adalah pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode praktikum seperti halnya pada proses edukasi publik yang kerap diaplikasikan oleh berbagai komunitas astronomi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Di tengah kepenatan psikologi yang rentan mengancam kaum muda, komunitas astronomi dan berbagai kegiatan turunannya bisa menjadi angin segar yang mampu menjelma sebagai solusi dalam popularisasi sains sekaligus menjalankan fungsi rekreasi. Melihat fungsinya tersebut, tak berlebihan jika komunitas astronomi dinobatkan sebagai duta pendidikan sekaligus agent of change yang terkait popularisasi sains. Dalam keseharian, komunitas astronomi merupakan salah satu garda terdepan untuk membangkitkan kepedulian publik pada astronomi.

Urgensi Planetarium

Diskusi pentingnya Planetarium Jawa Timur bersama Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin. Kredit: FOKALIS JATIM
Diskusi pentingnya Planetarium Jawa Timur bersama Kepala LAPAN, Prof. Thomas Djamaluddin. Kredit: FOKALIS JATIM

Bicara soal popularisasi sains, khususnya astronomi, kurang lengkap kiranya jika hanya membahas unsur pelaksananya (komunitas astronomi) saja dan melupakan berbagai piranti serta sarana pendukungnya. Jika pembahasan kita telah berada pada tahap pembangunan dan/atau bahkan pengembangan komunitas astronomi, maka otomatis akan ada keterkaitan dengan kelangsungan hidup komunitas tersebut. Ketika kelangsungan komunitas dibahas, maka kita juga perlu membahas terkait fasilitas penunjang. Sebut saja planetarium, mengapa planetarium menjadi sebuah kebutuhan yang esensial bagi sebuah komunitas astronomi? Jawaban paling mudah adalah sebagai tempat berkumpul dan mengkonsolidasikan kegiatan.

Planetarium bisa dianalogikan seperti halnya rumah bagi komunitas astronomi. Di sana, para peminat astronomi bisa berkumpul, mulai dari masyarakat awam yang sekedar penasaran, hingga para saintis yang sibuk dengan risetnya, semua bisa bertukar informasi dan berbagi cerita di planetarium. Di sana, bisa disimulasikan berbagai aspek terkait dengan bintang, rasi, planet, dan langit secara umum. Selain itu, di planetarium pula, aspek-aspek fisis bisa dimodelkan dan dideskripsikan dengan sangat baik.

Selain tempat berkumpul bagi para pegiat astronomi dan sarana edukasi publik, fungsi lain dari planetarium yang tak kalah esensial adalah sebagai tempat wisata. Penempatan lokasi planetarium menjadi unsur yang perlu dikaji secara mendalam dan lintas aspek, guna mendapatkan maslahat yang optimal baik secara ekonomi maupun sosio-kultural. Dengan demikian, akan tercipta kawasan berbasis sains yang terintegrasi. Selain kebutuhan edukasi bisa tercapai, pemberdayaan ekonomi suatu wilayah juga dapat diraih.

Seiring perkembangan zaman, planetarium pun mengalami modernisasi. Yang dulu proyektornya masih berbasis optik, kini sudah ada yang memanfaatkan teknologi multimedia, sehingga simulasi yang tersedia lebih bervariatif. Selain itu, juga ada mobile planetarium, yang memungkinkan sebuah planetarium untuk berpindah tempat dan tentu jauh lebih fleksibel untuk edukasi publik. Dengan adanya berbagai konsep planetarium yang ‘minimalis’ tersebut, diharapkan membuahkan nilai kemanfaatan yang meluas serta popularisasi sains yang semakin ekspansif. Selain itu, kemungkinan untuk direalisasikannya planetarium ‘minimalis’ tersebut cenderung lebih besar karena tentu menuntut anggaran yang jauh lebih murah dibandingkan dengan planetarium tetap, sehingga memungkinkan berbagai pihak, baik institusi pemerintah maupun swasta untuk turut ambil bagian dalam popularisasi sains melalui pembangunan planetarium. Jikalau memang anggaran bukanlah sebuah persoalan, maka setidaknya ada 2 (dua) hal yang bisa diupgrade terkait pengembangan sebuah planetarium, yakni; (1) kecanggihan, dan (2) kapasitas ruangan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (BPAA LAPAN) Pasuruan sebagai Unsur Pendorong Sains di Jawa Timur

BPAA LAPAN Pasuruan merupakan kepanjangan tangan dari LAPAN Pusat yang mana memiliki peran yang sangat sentral dalam usaha pengembangan sains khususnya keantariksaan dan astronomi di Jawa Timur. LAPAN Pusat pun sudah sangat menunjukkan keseriusannya untuk mendorong fasilitas-fasilitas LAPAN yang berada di daerah tak terkecuali BPAA LAPAN Pasuruan untuk bisa menjadi ujung tombak kaitannya dengan edukasi publik. Langkah itu diambil mengingat edukasi publik yang paling banyak menyita perhatian masyarakat salah satunya adalah melalui astronomi. Peran serta BPAA LAPAN Pasuruan dalam mengedukasi publik bersama-sama dengan komunitas astronomi amatir yang ada di Jawa Timur bisa dikatakan sudah sangat optimal. Tidak hanya menerima kunjungan, tapi juga aktif menjemput massa hingga ke berbagai wilayah di Jawa Timur untuk misi edukasi keantariksaan. Kolaborasi semacam inilah yang memelihara semangat dari setiap komunitas astronomi di Jawa Timur untuk senantiasa bersemangat dan berkomitmen mempopulasikan sains, khususnya astronomi.

Dinamika Pergerakan Komunitas Astronomi Amatir di Jawa Timur

Foto bersama komunitas astronomi Jawa Timur bersama Prof. Thomas Djamaluddin, selaku Kepala LAPAN. Kredit: FOKALIS JATIM
Foto bersama komunitas astronomi Jawa Timur bersama Prof. Thomas Djamaluddin, selaku Kepala LAPAN. Kredit: FOKALIS JATIM

Menggerakkan komunitas astronom amatir merupakan hal yang relatif sulit. Kesulitan itu berpangkal dari minat yang belum secara serius dimiliki oleh para pionir dari masing-masing komunitas. Di Jawa Timur, minat dan dedikasi tersebut dirasa cukup tinggi dan memiliki potensi untuk menjadi semakin besar. Hal tersebut tak lepas dari peran serta BPAA LAPAN Pasuruan dalam memfasilitasi setiap gagasan yang diutarakan oleh komunitas-komunitas astronomi di Jawa Timur. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa Jawa Timur masih perlu proses yang panjang untuk semakin mematangkan keilmuan, prinsip ‘BONEK; bondo nekat’ (modal nekat) yang selama ini lekat dalam setiap usaha edukasi publik, perlahan musti disesuaikan menjadi ‘BONEK; bondo, nekat, lan kreatif’. Modal keilmuan harus terus dibangun, semangat pantang menyerah harus terus dijaga, kreatifitas juga musti terus dipupuk.

Tak berasal dari latar belakang pendidikan astronomi bukanlah alasan untuk tidak mencintai astronomi dan mengembangkannya. Semua itu bisa diraih asalkan ada keseriusan untuk menggeluti bidang ini. Apalagi, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, hampir segala hal bisa kita akses untuk mempermudah proses belajar, termasuk astronomi.

Keterbatasan piranti juga tidak layak dijadikan alasan untuk tidak berkembang, justru dari sinilah komunitas astronomi di Jawa Timur dikenal sebagai salah satu pelopor sekaligus yang paling getol mendalami piranti astronomi berbasis handmande. Toh, menjadi astronom amatir tidak harus dimulai dari punya alat. Instrumen sampai kapanpun akan tetap menjadi alat yang fungsi utamanya membantu manusia mempermudah proses kerja. Seyogianya, kita lebih fokus kepada bagaimana cara kita untuk semakin mengembangkan kapasitas penggunanya, ialah kita sendiri. Minimnya piranti setidaknya juga masih bisa diatasi dengan konsep kolektifitas. Hal ini telah menjadi rahasia umum di kalangan komunitas astronomi amatir.

Ditilik dari aspek filosofis, justru tantangan-tantangan inilah yang membuat komunitas astronomi amatir, khususnya yang berada di Jawa Timur itu hidup. Jika tantangan-tantangan tersebut terus dibangun dan digelorakan, serta ada kegiatan penunjang yang bersifat eventual, maka ini akan menjadi daya tarik tersendiri.

Telah disadari bersama bahwa terdapat potensi yang besar dan sangat realistis dari komunitas astronomi amatir yang ada di Jawa Timur. Apalagi kini dengan terbentuknya FOKALIS JATIM sebagai suatu wadah yang menaungi semua komunitas astronomi amatir yang ada di Jawa Timur, semakin menunjukkan soliditas dan solidaritas Jawa Timur sebagai salah satu basis komunitas astronomi amatir terbesar yang ada di Indonesia.

Pada akhirnya, komunitas astronomi di Jawa Timur menjadi sebuah bagian yang sangat esensial bagi popularisasi astronomi. Sedangkan popularisasi astronomi itu sendiri menjadi bagian penting untuk mendorong generasi muda supaya semakin mencintai sains. Kebutuhan akan adanya sebuah planetarium di Jawa Timur, khususnya di tingkat lokalitas kota maupun kabupaten bahkan mungkin terintegrasi menjadi satu jaringan se-provinsi Jawa Timur, tak pelak merupakan sebuah keniscayaan yang mana akan bermuara pada terciptanya generasi muda Jawa Timur yang cerdas, berbasis nilai-nilai kesalehan sosial, berbudi pekerti luhur, serta berintegritas selaras dengan Nawa Bhakti Satya.

Ditulis oleh

Muchammad Thoyib

Muchammad Thoyib

Pegiat astronomi dari Surabaya, Jawa Timur. Pertama kali tertarik menggeluti astronomi amatir ketika belajar astrofotografi dan menemukan sisi lain dari pemandangan dan hamparan langit. Gemar sekali berpetualang dan bertemu dengan orang-orang baru. Sedang getol memperjuangkan 1 Kota/Kabupaten 1 Komunitas Astronomi dan #PlanetariumJatim bersama Forum Komunikasi Astronom Amatir Lintas Jawa Timur (FOKALIS JATIM).