Mengenal Astronomi Dalam Festival Sains Antariksa

Tiga … dua … satu …. Horeee, roketnya meluncur!

Roket air yang berhasil meluncur. Kredit : langitselatan

Itulah teriakan gembira dari siswa dan guru yang hadir di acara Festival Sains dan Antariksa yang diadakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional di SPD LAPAN Tanjung Sari, Desa Haurgombong, Sumedang tanggal 18 Oktober 2008 lalu. Festival Sains Antariksa ini diadakan untuk turut serta dalam acara World Space Week yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 4-14 Oktober. Dalam festival ini LAPAN juga bekerja sama dengan langitselatan dan UNAWE (Universe Awareness).

Festival Sains Antariksa yang diadakan oleh LAPAN mengundang kurang lebih 400 siswa dan guru dari SD, SMP, dan SMA disekitar Sumedang. Festival tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, terutama kalangan generasi muda mengenai antariksa, meningkatkan antusiasme anak-anak tentang pembelajaran mengenai antariksa, memperkenalkan LAPAN dengan lebih luas kepada kalangan masyarakat terutama dari bidang Matahari dan Antariksa. Sasaran kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan di kalangan siswa yang memiliki ketertarikan yang besar terhadap pengetahuan antariksa.

Dalam acara ini, siswa diajak untuk turut berpartisipasi dalam permainan seperti ular tangga, keterampilan melipat kertas, permainan kartu, dan planetarium mini yang dipandu oleh UNAWE. Dalam kubah planetarium mini, peserta diajak untuk mengenal keindahan langit malam dalam rasi-rasi bintang. Selain permainan, anak-anak juga diajak untuk turut bergabung dalam berbagai lomba seperti lomba menggambar, mewarnai, cerdas cermat, dan lomba membuat alat peraga. Menarik sekali melihat para siswa diajak untuk berpikir kreatif membangun alat peraga dengan materi yang mudah didapat dan terjangkau harganya.

Penjelasan cara membuat roket air. Kredit : langitselatan

Selain acara-acara tersebut, lokakarya singkat tentang roket air juga diadakan dengan dipandu rekan-rekan dari langitselatan dan HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta). Disini, siswa dan guru diperkenalkan pada materi-materi yang digunakan untuk membangun roket air, serta bagaimana mendapatkan materi-materi tersebut. Semua bahan yang dibutuhkan berasal dari bahan-bahan yang sering kita temui sehari-hari. Setelah mengajarkan bagaimana membuat roket air, pengunjung diajak untuk turut meluncurkan roket air tersebut. Kegembiraan tampak pada wajah para pengunjung yang berhasil meluncurkan roketnya paling tinggi. Namun tak ayal, banyak juga yang akhirnya basah kuyup. Selain roket air, Fari dari Sekolah Alam Bandung juga memperkenalkan roket angin. Acara roket air ditutup dengan peragaan roket dari siswa-siswa SMA yang membuat roket dalam lomba alat peraga.

Ketika malam menjelang, setelah sang surya memilih untuk kembali ke peraduannya, ternyata para peserta masih terus bertahan untuk tetap mengikuti acara sampai akhir walau tetap saja ada yang memilih untuk pulang.

Keindahan langit malam yang cerah di bawah bentangan selendang jalur susu (milky way atau bima sakti) yang tampak indah membuat semua orang terpukau seakan tak ingin kehilangan momen untuk menikmatinya. Pemutaran film yang direncanakan tampak sepi, karena peserta memilih mendengar cerita dari Ferry M. Simatupang tentang peranti astronomi, peta langit dan kajian astronomis lainnya. Tak hanya itu, banyak juga yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengamati langit dengan teleskop yang telah disediakan oleh LAPAN.

Pengamatan planet Jupiter dan satelit-satelitnya menggunakan Galileoscope. Kredit : langitselatan

Malam itu, walau tanpa kehadiran planetarium mini, kubah planetarium yang sesungguhnya yakni langit dengan bentangan selendang jalur susu dan taburan bintang-bintang justru membangun kesadaran betapa indahnya alam semesta. Kesadaran tersebut tidak hanya dibangun dengan melihat ke langit dengan mata telanjang ataupun teleskop yang disediakan LAPAN. Peserta yang hadir juga diajak untuk membangun kesadarannya melalui You Are Galileo Telescope yang dibawa oleh rekan-rekan langitselatan. Siswa diajak untuk kembali ke masa 400 tahun yang lalu saat Galileo mengarahkan teleskopnya ke langit dan menikmati indahnya planet Jupiter beserta ke-4 satelitnya.

Namun tak ada sesuatu yang tak berakhir. Festival Sains Antariksa hari itu pun berakhir pada pukul 10 malam meninggalkan ingatan akan keindahan dan kemegahan langit malam yang indah. Hari itu, walau hanya sejenak, namun setidaknya masyarakat boleh mengenal sedikit dari sekian banyak sisi astronomi.

Dan seperti yang dikatakan dosen Astronomi ITB, Ferry M. Simatupang, “Astronomi adalah rahasia alam yang sayang jika tidak dinikmati dan disyukuri.”

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...