Astronomi, Gerbang Edukasi Sains & Wisata Langit Timor Barat

Pembangunan Observatorium Nasional (OBNAS) Timau di NTT akan menjadi pintu untuk edukasi sains & wisata langit Timor Barat, lewat Pusat Sains Tilong dan Taman Langit Gelap di kawasan penyangga OBNAS Timau seluas 300 ha.

Lokasi Observatorium Nasional Timau di Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kredit: Rhorom Priyatikanto.

Observatorium di Timor Barat

Membangun observatorium sebagai laboratorium astronomi agak berbeda dengan laboratorium pada umumnya. Ada syarat mutlak yang tidak bisa dipenuhi oleh area perkotaan. Langit yang cerah! Kestabilan langit yang bebas dari awan, turbulensi atmosfer, minimnya awan jadi syarat yang harus bisa dipenuhi.  Untuk itu lokasinya tentu juga harus jauh dari polusi cahaya kota. Seringkali, lokasi yang paling cocok justru area yang masih belum banyak dijamah kemajuan kota.

Lokasi terbaik yang bisa memenuhi syarat itu adalah Gunung Timau di Nusa Tenggara Timur. Di tempat inilah pembangunan rumah astronomi baru akan segera dimulai.  Pembangunan fasilitas riset modern seperti ini tentunya tidak sekedar berdampak pada peneliti saja. Dampak penting lainnya juga akan dirasakan oleh masyarakat, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur penunjang seperti jalur transportasi yang menghubungkan area observatorium dan lokasi di sekitarnya.

Tim LAPAN ditemani penduduk lokal di Puncak Timau. Kredit: LAPAN
Tim LAPAN ditemani penduduk lokal di Puncak Timau. Kredit: LAPAN

Menurut Hotmatua Daulay, Direktur Pengembangan Teknologi Industri, yang mewakili Kemenristek-dikti dalam seminar Obnas di LAPAN Jakarta, 8 November 2017, “Jika riset antariksa ingin maju dan jadi prioritas utama, maka harus dikaitkan dengan pangan, energi dan maritim. Selain itu Obnas juga jangan hanya dilihat dari sisi sains, tapi juga komersialisasinya agar bermanfaat bagi perekonomian masyarakat”.

Sejalan dengan itu, menurut data Bappenas yang dipaparkan oleh Subandi, Deputi Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, terkait Perencanaan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur (KTI) dalam acara yang sama, tingkat kemiskinan NTT cukup tinggi berada jauh diatas bawah rata-rata kemiskinan nasional, dan mengalami peningkatan cukup tinggi pada tahun 2015. Tingkat kemiskinan yang tinggi ini terjadi hampir di seluruh kabupaten, kecuali di kota Kupang.

Tidak hanya kemiskinan yang tinggi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di propinsi NTT juga sangat rendah, meskipun memperlihatkan peningkatan selama 6 tahun terakhir. Propinsi NTT masih menempati peringkat dua terbawah dari 34 propinsi yang ada di Indonesia, dan hanya mengungguli Papua dan Papua Barat.

Jika dilihat secara keseluruhan, posisi 10 terbawah untuk IPM di Indonesia memang didominasi oleh daerah Indonesia Timur. Hanya kota Kupang yang memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dibanding seluruh daerah di NTT.

Menurut data Bappenas, kesehatan menjadi permasalahan utama terkait peningkatan kualitas manusia di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain kesehatan, kualitas pendidikan di propinsi NTT ini juga masih rendah. Karena itu, propinsi NTT memang masuk dalam pengembangan kawasan ekonomi khusus yang diharapkan dapat memperbaiki petumbuhan ekonomi dan penguatan kemampuan SDM an IPTEK. Fokus pemerintah memang lebih banyak pada ekonomi dan industri untuk pengembangan wilayah tertinggal. Untuk itu akan ada pembangunan berbagai infrastruktur yang bisa menunjang pengembangan wilayah Indonesia Timur khususnya di NTT.

Untuk melaksanakan pembangunan Observatorium Nasional di Gunung Timau, kementrian PUPR juga memberikan dukungan yang selaras dengan rencana pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut. Pembangunan infrastruktur PUPR difokuskan pada konektivitas yakni pembangunan jalan dan jembatan, perumahan, ketahanan air dan pangan serta infrastruktur permukiman yang meliputi akses air minum dan sanitas layak. Peningkatan kualitas hidup masyarakat, pengembangan kegiatan pertanian, perkebunan, dan peternakan juga jadi bagian dari strategi pengembangan wilayah NTT. Termasuk di dalamnya pariwisata di wilayah NTT.

Pusat Sains Tilong

Rancangan Pusat Sains Tilong. Kredit: Rhorom Priyatikanto / LAPAN
Rancangan Pusat Sains Tilong. Kredit: Rhorom Priyatikanto / LAPAN

Selaras dengan pembangunan di Indonesia Timur, kehadiran Obnas Timau juga bisa memberi warna tersendiri untuk pemberdayaan masyarakat di wilayah Kupang dan sekitarnya.

Selain observatorium di gunung Timau, akan dibangun juga Pusat Sains di Tilong, Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah. Pusat Sains Tilong akan bertindak sebagai pusat informasi dan edukasi sains dan khususnya astronomi. Dari sinilah diharapkan pengembangan pendidikan sains bagi masyarakat di kawasan Timor Barat bisa dimulai.

Pemahaman sains dasar merupakan komponen yang penting dalam pembangunan sebuah negara. Mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, akan tetapi sains bisa menjadi mesin kemakmuran dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Semua kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini tidak akan ada tanpa pemahaman sains dasar. Pengembangan instrumentasi untuk astronomi juga memberi dampak pada pengembangan industri suatu negara.

Kehadiran Pusat Sains Tilong akan memberi kontribusi dalam memperkenalkan sains kepada publik lewat pelatihan guru dan siswa, perkemahan sains untuk mendukung kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), maupun pengamatan benda-benda langit.

Pusat Sains Tilong juga akan mengambil peran sebagai lokasi wisata pendidikan sains dimana masyarakat yang berkunjung bisa mengenal sains lewat interaksi langsung menggunakan alat peraga yang tersedia serta ikut mengenal langit lewat pertunjukan planetarium. Selain astronomi, pusat Sains Tilong juga akan memperkenalkan konsep matematika, fisika, mekanika, kelistrikan, biologi, dan kajian ilmu lainnya.

Dalam perencanannya, pusat sains Tilong tidak hanya berperan untuk memperkenalkan sains pada publik. Di lokasi yang sama akan dibangun juga gedung olah raga (GOR), pusat pengembangan budaya daerah, sentra industri kecil, balai latihan kerja, pusat pengembangan spiritual, hutan kota, dan hunian.

Planetarium Keliling EKUATOR yang akan memperkenalkan astronomi pada publik. Kredit: LAPAN
Planetarium Keliling EKUATOR yang akan memperkenalkan astronomi pada publik. Kredit: LAPAN

Selain bisa dikunjungi, Pusat Sains Tilong juga menyediakan planetarium mini yang dirancang oleh LAPAN dan ITB untuk melakukan edukasi keliling pada masyarakat. Planetarium keliling yang diberi nama EKUATOR (Edukasi Ilmu Timor) itu akan berkeliling memperkenalkan astronomi bagi masyarakat yang terkendala akses ke Pusat Sains Tilong. Kehadiran EKUATOR yang dikelola oleh Tim dari UNDANA jelas memiliki peran penting dalam pembangunan pendidikan masyarakat di NTT. Sebagai langkah awal, EKUATOR sudah mulai menjalankan perannya untuk memperkenalkan astronomi pada siswa SMA di Desa Oh’Aem, Kecamatan Amfoang Selatan pada tanggal 26-27 Agustus 2017.

Selain EKUATOR, program pemberdayaan masyarakat yang diprakarsai oleh ITB juga sudah dilaksanakan di Kupang, lewat berbagai kegiatan pelatihan astronomi. Pelatihan dilakukan untuk mempersiapkan mahasiswa, staf, dan alumni UNDANA serta Politeknik Kupang sebagai tenaga ahli yang akan berperan aktif mendukung Pusat Sains Tilong. Pelatihan lainnya juga diberikan pada guru yang akan jadi ujung tombak pendidikan di wilayah Timor. Diharapkan, guru-guru akan menjadi duta pendidikan yang meneruskan ilmunya ke jejaring guru untuk kemudian diajarkan ke siswa.

Pada tahun 2016 dan 2017, ITB juga melakukan program pengembangan masyarakat di kawasan Obnas Timau dengan misi membangun desa yang maju dan observatorium astronomi yang sukses. Program ini memperkenalkan pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya dan pengelolaan air hujan pada masyarakat, sehingga warga bisa dengan mudah memperoleh air bersih dan listrik,

Yang tak boleh dilupakan adalah respon masyarakat.

Menurut Frans Gana dari UNDANA, respon masyarakat pada umumnya sangat positif karena anak-anak akan memiliki masa depan yang lebih baik. Diharapkan kehadiran Obnas bisa ikut memperbaiki kualitas pendidikan di propinsi NTT, dan tentu saja membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Tapi, kekuatiran tentu ada. Diantaranya jika hutan yang selama ini disakralkan akan rusak akibat pembangunan dan mengakibatkan terjadinya longsor dan bencana alam.

Taman Langit Gelap

Jejak bintang - bintang di belahan utara langit kecamatan Amfoang Tengah, Kupan, NTT. Lokasi tak jauh dari lokasi pembangunan OBNAS. Foto oleh: Muhamad Zamzam N / LAPAN
Jejak bintang – bintang di belahan utara langit kecamatan Amfoang Tengah, Kupan, NTT. Lokasi tak jauh dari lokasi pembangunan OBNAS. Foto oleh: Muhamad Zamzam N / LAPAN

Keuntungan lain yang bisa diperoleh oleh astronomi dan masyarakat adalah pemanfaatan Kawasan Hutan Lindung yang menjadi area penyangga Obnas Timau. Di lokasi inilah, akan dibangun taman langit gelap untuk menjaga keberlanjutan kegiatan pengamatan di Obnas Timau.

Di kawasan ini, masyarakat akan diberi edukasi untuk menjaga agar bangunan tidak menghasilkan polusi cahaya yang mengganggu pengamatan. Taman langit gelap ini akan dilengkapi dengan bangunan khas NTT yakni Ume Kbubu yang efisien dalam penggunaan cahaya. Selain itu Rumah Lopo yang berbentuk piramida ditopang oleh kayu juga dapat dijadikan contoh bangunan rendah polusi cahaya.

Taman Langit Gelap juga dipersiapkan sebagai kawasan wisata astronomi yang bisa memberi keuntungan pada masyarakat dan pemerintah setempat.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...