Saatnya Berburu Hujan Meteor Geminid 2018

Jangan lewatkan puncak hujan meteor Geminid yang akan berlangsung 14 Desember 2018. Geminid akan jadi hujan meteor penutup tahun 2018 yang bisa diamati oleh seluruh masyarakat Indonesia sepanjang malam.

Puncak hujan meteor Geminid 13 - 14 Desember 2018. Penampakan hujan meteor Geminid 13 Desember 2018 pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk
Puncak hujan meteor Geminid 13 – 14 Desember 2018. Penampakan hujan meteor Geminid 13 Desember 2018 pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk

Sekilas Tentang Hujan Meteor Geminid

Geminid. Hujan meteor tahunan yang satu ini selalu berlangsung dari tanggal 4 – 17 Desember ketika Bumi melintasi puing-puing asteroid 3200 Phaethon.

Hujan meteor Geminid pertama kali diamati pada tahun 1862 oleh R. P. Greg dari Manchester, Inggris, dan baru setahun kemudian asal usul Geminid akhirnya terungkap. Ternyata sumber hujan meteor Geminid bukan dari komet melainkan asteroid.

Asteroid yang dimaksud adalah 3200 Phaethon yang berasal dari keluarga asteroid Apollo dan Pallas. Ketika Bumi melintas di antara puing-puing asteroid 3200 Phaethon, sisa asteroid tersebut memasuki atmosfer Bumi, terbakar dan bergerak cepat melintasi langit dengan kecepatan 35 km/detik.

Ketika pertama kali muncul, hujan meteor Geminid masih lemah dan tidak terlalu menarik perhatian. Bahkan diduga Geminid hanyalah hujan meteor yang terjadi secara sporadis dan bukan sebuah peristiwa tahunan.

Saat ini hujan meteor Geminid merupakan salah satu hujan meteor yang besar dan menarik perhatian pengamat. Bahkan dari tahun ke tahun intensitas Geminid semakin kuat. Hal ini tak lepas dari peran gravitasi Jupiter yang memengaruhi aliran puing-puing Phaethon dan menyebabkan mereka bergeser mendekati orbit Bumi. Meteor Geminid sendiri masih tergolong meteor dengan kecepatan menengah pada kisaran 35 km / detik, sehingga akan mudah dikenali di bentangan langit malam.

Pengamatan Geminid 2018

Tahun ini, puncak Geminid berlangsung pada tanggal 13 dan 14 Desember dan bisa disaksikan sepanjang malam oleh seluruh masyarakat Indonesia. Hujan meteor Geminid merupakan salah satu yang dinantikan karena saat puncak, jumlah rata-rata meteor yang bisa diamati pengamat bisa mencapai 120 meteor per jam.

Menurut International Meteor Organization, malam puncak hujan meteor Geminid akan berlangsung tanggal 14 Desember 2018 pukul 19:30 WIB. Meskipun malam puncak berlangsung 14 Desember, pengamat sudah bisa menikmati intensitas meteor yang cukup banyak sejak 2-3 hari sebelum dan sesudah malam puncak.

Tapi, jangan terlalu berharap untuk menyaksikan 120 meteor setiap jam. Jumlah ini merupakan kondisi ideal ketika pengamatan dilakukan pada area yang sangat gelap atau bebas polusi cahaya, dan arah datang meteor berada di meridian pengamat. Jika pengamatan dilakukan dari area yang masih terkontaminasi polusi cahaya, maka pengamat bisa menyaksikan setidaknya 30 – 40 meteor setiap jamnya.

Sesuai namanya, hujan meteor Geminid akan tampak muncul dari rasi Gemini, dan bergerak dengan kecepatan 35 km / detik. Geminid sudah bisa disaksikan sepanjang malam, karena rasi gemini terbit pukul 20:00 waktu lokasl setelah Matahari terbenam. Meskipun arah datang meteor dari rasi Gemini, pengamat bisa melihat lintasan meteor Geminid di semua arah. Rasi Gemini bisa ditemukan di arah timur laut rasi Orion si pemburu.

Kabar baiknya, hujan meteor Geminid berlangsung satu hari jelang Bulan Perbani Awal. Bulan terbenam tengah malam saat rasi Gemini yang jadi radian datangnya Geminid, mencapai zenit pada pukul 02:22 dini hari. Tidak akan ada cahaya Bulan yang mengganggu pengamatan sampai dini hari.

Meskipun arah datang meteor dari rasi Gemini, pengamat bisa melihat lintasan meteor Geminid di semua arah. Rasi Gemini bisa ditemukan di arah timur laut rasi Orion si pemburu.

Selain Geminid, pengamat juga bisa berburu komet Wirtanen yang baru saja mencapai perihelion pada tanggal 13 Desember dan akan berpapasan dekat dengan Bumi 16 Desember mendatang. Saat ini Komet Wirtanen bisa ditemukan di rasi Taurus dengan kecerlangan 4 magnitudo sejak Matahari terbenam sampai jelang dini hari.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.