Fenomena Langit Bulan Desember 2018

Fenomena langit bulan Desember akan diisi oleh planet-planet kala fajar dan senja, hujan meteor Geminid dan komet Wirtanen.

Foto Komet 46P/Wirtanen yang dipotret 26 November 2018 oleh Gerald Rhemann dari Namibia. Kredit: Gerald Rhemann
Foto Komet 46P/Wirtanen yang dipotret 26 November 2018 oleh Gerald Rhemann dari Namibia. Kredit: Gerald Rhemann

Planet

Merkurius. Planet terdekat dari matahari ini kembali muncul dari balik Matahari, menyapa para pengamat sesaat sebelum fajar menyingsing. Meskipun sudah terbit sejak awal Desember, planet ini masih terlalu rendah di ufuk untuk bisa diamati. Merkurius terus menanjak naik sampai mencapai elongasi barat terbesarnya pada tanggal 15 Desember. Setelah itu planet Merkurius kembali mengejar Matahari meski masih bisa diamati sampai akhir Desember.  Merkurius bisa ditemukan di rasi Libra sampai pertengahan Desember. Di penghujung Desember, Merkurius yang sudah di Ophiuchus akan tampak berpasangan dengan Jupiter.

Venus. Selama bulan Desember, si bintang kejora tampak sebelum fajar menyingsing. Di awal Desember, Venus bisa diamati di rasi Virgo sebelum kemudian mengejar Matahari dan tampak di rasi Libra dari pertengahan sampai akhir Desember. Venus akan tampak di langit dengan kecerlangan -4,5 magnitudo dan bertemu Bulan tanggal 6 Desember.

Mars. Setelah matahari terbenam, pengamat bisa menemukan Mars sudah melewati meridian. Mars akan tampak sampai jelang tengah malam dengan kecerlangan 0,2 magnitudo. Mars bisa ditemukan di rasi Aquarius dan terus bergerak ke rasi Pisces saat jelang akhir Desember. Mars juga akan berpapasan dengan Bulan pada tanggal 15 Desember.

Jupiter. Planet terbesar di Tata Surya ini bisa diamati sebelum Matahari terbit mulai pertengahan Desember  di rasi Scorpius dengan kecerlangan -1,6 magnitudo. Jelang akhir Desember, Jupiter akan tampak berpasangan sangat dekat dengan merkurius sebelum Matahari terbit.

Saturnus. Desember jadi bulan terakhir pengamat bisa melihat planet cincin ini. Saturnus bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai pertengahan Desember. Setiap hari, planet ini terus turun mengejar Matahari dan akhirnya menghilang dari pandangan pengamat di Bumi ketika ia terbenam berbarengan dengan Matahari, Saturnus bisa ditemukan di rasi Sagittarius, sang pemanah, dengan kecerlangan 0,5 magnitudo. Tanggal 9 Desember, Saturnus akan tampak berpasangan dengan Bulan sampai keduanya terbenam.

Uranus & Neptunus. Kedua planet gas raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet ini. Uranus bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai lewat tengah malam. Pada awal Desember, Uranus tampak di rasi Aries dengan kecerlangan 5,7 magnitudo, dan terus bergerak menuju Pisces.

Planet es Neptunus bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai lewat tengah malam. Planet es raksasa ini bisa ditemukan di rasi Aquarius dengan kecerlangan 7,9 magnitudo

Bulan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

7 Desember. Bulan Baru.  Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

12 Desember. Bulan di apogee. Bulan mencapai jarak terjauhnya dari Bumi pada jarak 405.177 km.

15 Desember. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

23 Desember. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

24 Desember. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 361.061 km.

29 Desember. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

Hujan Meteor

13 -14 Desember – Hujan Meteor Geminid

Puncak hujan meteor Geminid 13 - 14 Desember 2018. Penampakan hujan meteor Geminid 13 Desember 2018 pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk
Puncak hujan meteor Geminid 13 – 14 Desember 2018. Penampakan hujan meteor Geminid 13 Desember 2018 pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk

Di penghujung tahun 2018, hujan meteor Geminid kembali menjadi tontonan menarik dengan 120 meteor per jam saat puncak. Hujan meteor Geminid berasal dari asteroid 3200 Phathon dan tampak datang dari rasi kembar Gemini ini berlangsung dari tanggal 4 — 17 Desember dan puncaknya akan terjadi tanggal 14 Desember.

Kecepatan hujan meteor Geminid 35 km/detik dan bisa diamati kehadirannya setelah rasi Gemini terbit antara pukul 20.00 WIB. Bulan sedang menuju fase perbani awal dan terbenam pukul 23:27 WIB. Waktu terbaik untuk pengamatan bisa dilakukan setelah pukul 22:00 WIB saat rasi Gemini sudah cukup tinggi dan mulai tengah malam sampai fajar menyingsing, tidak ada Bulan yang jadi faktor polusi cahaya alami.

22 – 23 Desember – Hujan Meteor Ursid

Puncak hujan meteor Geminid 22 - 23 Desember 2018. Penampakan hujan meteor Ursid 22 Desember 2018 pukul 05:45 WIB. Kredit: Star Walk
Puncak hujan meteor Geminid 22 – 23 Desember 2018. Penampakan hujan meteor Ursid 22 Desember 2018 pukul 05:45 WIB. Kredit: Star Walk

Hujan meteor Ursid akan jadi atraksi terakhir tahun 2018. Hujan meteor Ursid tampak datang dari rasi Ursa Minor.  Artinya, hanya pengamat di belahan Bumi Utara atau di atas garis khatulistiwa yang bisa menikmati lintasan meteor Ursid. Rasi Ursa Minor akan terbit lewat tengah malam bagi pengamat di belahan Bumi Utara. Untuk pengamat di belahan Bumi Selatan, Ursa Minor terbit hampir bersamaan dengan Matahari terbit. Jadi hujan meteor Ursid tidak akan teramati oleh pengamat yang tinggal di bawah garis khatulistiwa.

Puncak hujan meteor Ursid terjadi tanggal 22 Desember 2017 dan meteor yang melintas di langit akan bergerak dengan kecepatan 33 km/jam. Di malam puncak pengamat hanya bisa melihat 10 meteor per jam dari sisa komet 8P/Tuttle yang dilintasi Bumi.

Komet

46P/Wirtanen

Peta pergerakan komet 46P/Wirtanen. Kredit: in-the-sky.org
Peta pergerakan komet 46P/Wirtanen. Kredit: in-the-sky.org

Komet ini ditemukan oleh Carl A. Wirtanen saat melakukan pengamatan survei di Observatorium Lick pada 17 Januari 1948. Komet Wirtanen merupakan komet periode pendek yang hanya butuh 5,4 tahun untuk mengorbit Matahari.

Pada tahun 2018 komet ini kembali mendekati Matahari dan mencapai jarak terdekatnya dengan Matahari pada tanggal 13 Desember 2018 dengan jarak 1,05 AU.  Pada saat berada di perihelionnya, Wirtanen tampak di rasi Cetus dengan kecerlangan 4,1 magnitudo.

Tanggal 16 Desember, Komet Wirtanen akan mencapai papasan terdekatnya dengan Bumi pada jarak 11,586,350 km dengan kecerlangan maksimum 3,9 magnitudo di rasi Taurus. Komet 46P/Wirtanen bisa diamati dengan mata tanpa alat jika langit cerah dan sangat gelap. Pada kondisi polusi cahaya yang cukup parah di kota, komet Wirtanen akan tampak snagat redup.

Untuk pengamat, Komet 46P/Wirtanen dapat diamati selama bulan Desember sejak Matahari terbenam sampai jelang dini hari. Komet ini akan tampak berada di rasi Cetus di awal Desember kemudian menuju Eridanus, kembali ke Cetus, menuju Taurus, Perseus dan akhirnya tampak di Auriga di penghujung Desember.

Peristiwa 

4 Desember — Bulan — Venus

Pasangan Bulan dan Venus 04 Desember 2018 pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Venus 04 Desember 2018 pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan sabit tipis dan Venus, si bintang kejora tampak berpasangan di rasi Virgo sampai fajar menyingsing. Venus terbit terlebih dahulu pada 02:50 WIB disusul Bulan lima menit kemudian pada pukul 02:55 WIB. Bulan usia 26 hari tampak dengan kecerlangan -10,5 magnitudo sedangkan Venus kecerlangannya -4,5 magnitudo. Bulan berada 3,8º di utara Venus dan bisa diamati sampai fajar menyingsing saat keduanya mencapai ketinggian 33º dari horison.

6 Desember — Bulan — Merkurius

Pasangan Bulan dan Merkurius 6 Desember 2018 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Merkurius 6 Desember 2018 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan sabit tipis dan Merkurius akan mengalami konjungsi dan tampak terbit berpasangan dengan Bulan 2,3º di utara Merkurius. Peristiwa ini sulit teramati karena kedua objek ini terbit 1 jam 4 menit sebelum Matahari terbit, dan hanya akan mencapai ketinggian 9º saat Matahari terbit. Merkurius akan terbit terlebih dahulu pukul 04:24 WIB disusul Bulan pukul 04:27 WIB.

9 Desember — Bulan — Saturnus

Pasangan Bulan dan Saturnus 9 Desember 2018 pukul 18:30 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Saturnus 9 Desember 2018 pukul 18:30 WIB. Kredit: Star Walk

Pasangan planet cincin Saturnus dan Bulan akan tampak berpasangan dengan jarak 1,2º dan bisa diamati di rasi Sagittarius sampai keduanya menghilang di ufuk barat 1 jam 34 menit setelah Matahari terbenam. Bulan sabit tipis dan Saturnus akan sulit diamati karena keduanya berada pada ketinggian 17º dari horison dengan kecerlangan -9 magnitudo untuk Bulan dan 0,4 magnitudo untuk Saturnus.. Keduanya akan terbenam beriringan dengan Saturnus terlebih dahulu menghilang pada pukul 19:25 WIB disusul Bulan pukul 19:41 WIB.

15 Desember — Bulan — Mars

Pasangan Bulan dan Mars 15 Desember 2018 pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Mars 15 Desember 2018 pukul 21:00 WIB. Kredit: Star Walk

Setelah bertemu Saturnus, kali ini giliran Mars yang berpapasan dengan Bulan. Jaraknya juga dekat hanya 3,3º. Bulan kuartir awal akan tampak bersama Mars sejak Matahari terbenam sampai keduanya terbenam  pukul 23:36 WIB. Bulan akan berada di selatan Mars dan keduanya bisa diamati pada ketinggia 79º di atas horison barat setelah Matahari terbenam di rasi Aquarius dengan kecerlangan -11,7 magnitudo (Bulan) dan 0,2 magnitudo untuk Mars.

15 Desember — Elongasi Barat Maksimum

Elongasi Barat terbesar Merkurius. Kredit: langitselatan
Elongasi Barat terbesar Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius dan Matahari membentuk sudut maksimal terhadap Bumi. Saat elongasi Barat maksimum, Merkurius akan berada 21,3º di arah timur Matahari. Merkurius terbit pukul 04:06 WIB atau 1 jam 23 menit sebelum Matahari terbit. Pengamat bisa mengamati keberadaan Merkurius dengan kecerlangan -0,5 magnitudo di ufuk timur sebelum Matahari terbit.

21 Desember — Bulan — Aldebaran

Pasangan Bulan dan Aldebaran 21 Desember 2018 pukul 18:30 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Aldebaran 21 Desember 2018 pukul 18:30 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan dan bintang Aldebaran, si bintang terang di rasi Taurus tampak berpasangan sepanjang malam sejak Matahari terbenam sampai jelang fajar. Keduanya hanya terpisah 1,7º.

22 Desember — Merkurius — Jupiter

Pasangan Bulan dan Aldebaran 22 Desember 2018 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Aldebaran 22 Desember 2018 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk

Merkurius dan Jupiter tampak berpasangan di ufuk timr sejak keduanya terbit beriringan 1 jam 25 menit sebelum Matahari terbit. Jupiter terbit terlebih dahulu pukul 04:08 WIB disusul Merkurius 2 menit kemudian. Keduanya bisa diamati sampai fajar menyisngsing di rasi Ophiuchus dengan kecerlangan -1,8 magnitudo untuk Jupiter dan -0,5 magnitudo untuk Merkurius.

22 Desember – Soltis (Winter Solstice – Belahan Utara ; Summer Solstice – Belahan Selatan)

Titik Balik Musim Dingin bagi belahan Bumi Utara dan Titik Balik Musim Panas di belahan Bumi Selatan, pada tanggal 21 Desember 2016 pukul 17:44 WIB. Kredit: langitselatan
Titik Balik Musim Dingin bagi belahan Bumi Utara dan Titik Balik Musim Panas di belahan Bumi Selatan, pada tanggal 21 Desember 2016 pukul 17:44 WIB. Kredit: langitselatan

Titik balik musim dingin bagi masyarakat di Belahan Bumi Utara dan titik balik musim panas bagi penduduk di Bumi Belahan Selatan. Selain itu, bagi penduduk di belahan selatan, ini merupakan siang terpanjang dan bagi mereka yang berada di utara, ini adalah malam terpanjang.

Titik balik musim dingin akan terjadi tanggal 22 Desember pukul: 05:22 WIB, saat Matahari berada di rasi Capricorn.

26 Desember —  Bulan — Regulus

Pasangan Bulan dan Regulus 26 Desember 2018 pukul 23:00 WIB. Kredit: Star Walk
Pasangan Bulan dan Regulus 26 Desember 2018 pukul 23:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan dan bintang regulus, si bintang terang di rasi Leo tampak berpasangan sejak keduanya terbit pukul 21:42 WIB sampai fajar menyingsing. Keduanya hanya terpisah 2,5º.

26 Desember — Venus di Perihelion

Venus bergerak mengelilingi Matahari setiap 225 hari dalam lintasan elips meski bentuknya hampir membentuk lingkaran sempurna. Artinya ada saat dimana Venus berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya di titik terjauh dari Matahari. Pada tanggal 26 Desember 2018, Venus berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,72 AU atau 108,000,000 km dari Matahari.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Jelang pertengahan Desember menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan mencapai fase Bulan Baru.

Bintang-bintang yang dapat digunakan sebagai panduan pengamatan.

Setelah Matahari terbenam sampai tengah malam: Altair di  rasi Aquila, Archenar di rasi Eridanus, Rigel dan Betelguese di rasi Orion, dan Aldebaran di rasi Taurus, Canopus di rasi Carina, Capella di rasi Auriga, Sirius di rasi Canis Mayor, dan Procyon di Canis Minor.

Dini hari:  Rigil Kentaurus dan Hadar di rasi Centaurus, Arcturus di Bootes.

 

Peta Bintang 1 Desember 2018

Peta Bintang 15 Desember 2018

Kampanye Langit Gelap

29 November — 8 Desember — Kampanye Globe At Night

Di bulan Desember, Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 29 November – 8 Desember. Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk bulan November, para pengamat di langit utara bisa melakukan pengamatan rasi Perseus sedangkan pengamat di selatan bisa mengamati rasi Grus untuk mengetahui berapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...