Lingkungan Padat Bintang di Wilayah Nebula Tarantula

Bimasakti itu tidak sendiri. Galaksi kita ini memiliki setidaknya 59 galaksi satelit yang terikat secara gravitasi dengan Bima Sakti. Di antaranya adalah Awan Magellan Besar yang beranggotakan Nebula Tarantula, palung kelahiran bintang yang berada pada jarak 160000 tahun cahaya.

Nebula Tarantula

Nebula Tarantula yang dipotret VLT. Kredit: ESO

Nebula Tarantula, atau yang juga dikenal sebagai 30 Doradus diisi oleh awan gas antar bintang yang disinari oleh bintang-bintang muda dan panas. Kehadiran bintang-bintang muda inilah yang mengionisasi awan gas antar bintang di sekelilingnya. Massa total Nebula Tarantula sekitar 1 juta massa Matahari dengan ukuran 550 tahun cahaya. Rumah Nebula Tarantula, si Awan Magellan Besar diketahui berukuran 14000 tahun cahaya sedangkan Bimasakti ukurannya 100.000 tahun cahaya. Nebula yang satu ini berada di selatan rasi Dorado atau lebih tepatnya pada perbatasan Dorado dan Mensa.

Palung kelahiran bintang, Nebula Tarantula sudah jadi target pengamatan para astronom selama bertahun-tahun. Nebula ini pertama kali diamati oleh Nicolas-Louis de Lacaille pada kisaran tahun 1751 dan 1753 saat melakukan perjalanan ke Tanjung Harapan. Pada tahun 1801, Nebula Tarantula masuk dalam peta bintang Uranographia yang dibuat oleh Johann Bode.

Menjadi target pengamatan selama berabad-abad, Nebula Tarantula sudah tentu jadi salah satu objek yang dipotret. Teleskop Hubble menjadi salah satu yang memotret Nebula Tarantula dan memperlihatkan keberadaan 800000 bintang dan protobintang di dalam nebula tersebut. Mosaik wilayah 600 tahun cahaya itu dibangun dari 438 citra berbeda. Awal tahun 2018, ada SOFIA (Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy) yang mengarahkan pandangan ke nebula ini untuk mengamati pembentukan bintang yang terjadi di luar Bimasakti.

Kali ini, giliran teleskop survei Very Large Telescope (VLT) di Observatorium Paranal, ESO di Chile yang merilis citra terbaru Nebula Tarantula. Citra tersebut diambil dengan kamera medan lebar 256 megapiksel OmegaCAM yang dipasang di VLT. Pemotretan dilakukan OmegaCAM menggunakan 4 filter warna berbeda termasuk di antaranya filter untuk mengisolasi cahaya merah dari hidrogen terionisasi.

Citra yang dihasilkan sangat detil dan tidak hanya memperlihatkan Nebula Tarantula tapi juga area di sekelilingnya. Sebuah lanskap kosmis yang menyajikan detil wilayah berukuran lebih dari 1000 tahun cahaya yang dipenuhi oleh gugus bintang, awan gas yang bersinar terang, dan sisa-sisa ledakan supernova.

Jadi apa saja yang ada dalam citra terbaru Nebula Tarantula ini?

NGC 2070

Dalam citra ini, Nebula Tarantula berada pada area atas dan di area pusatnya berdiam NGC 2070, gugus bintang terbuka berukuran raksasa yang masih muda. Area di pusat NGC 2070 sangat padat dan pada inti terdapat gugus bintang R136 yang diisi oleh bintang-bintang yang sangat masif dan terang. Bintang-bintang di R136 diperkirakan memiliki massa sekitar 100 massa Matahari dengan massa total 450 ribu massa Matahari dan ukuran 35 tahun cahaya. Saat ini bintang-bintang di gugus R136 masih muda dan masih menghembuskan angin bintang yang super kuat.

Akan tetapi di masa depan, R136 diperkirakan akan menjadi gugus bola beranggotakan bintang tua yang mengitari pusat Awan Magellan Besar. Di antaranya adalah bintang paling masif R136a1.

Hodge 301

Nebula Tarantula memang beranggotakan banyak gugus bintang. Selain NGC 2070 di pusat, terdapat juga gugus bintang Hodge 301 yang jauh lebih tua usianya. Setidaknya ada 40 bintang masif di Hodge 301 yang sudah mengakhiri hidupnya dalam ledakan supernova yang melontarkan gas ke area di sekelilingnya. Gugus bintang yang usianya sekitar puluhan kali lebih tua dari R136 ini berada 150 tahun cahaya dari gugus bintang di pusat Nebula Tarantula tersebut.

NGC 2060

Agak menjauh dari pusat Nebula Tarantula, kita akan bertemu dengan gugus bintang NGC 2060. Gugus bintang ini pertama kali ditemukan pada tahun 1836 oleh astronom Inggris, John Herschel saat melakukan pengamatan di Tanjung Harapan dengan teleskop reflektor 4,7 meter. NGC 2060 diperkirakan berusia 10 juta tahun dan terbentuk dari hasil penggabungan materi yang disapu angin bintang atau dari materi yang terlontar saat bintang meledak. Gugus bintang ini sering kali diasosiasikan dengan sisa supernova N157B, ledakan bintang yang terjadi sekitar 5000 tahun lalu. Di gugus bintang NGC 2060 ini juga terdapat bintang-bintang OVz yang memiliki garis emisi helium terionisasi yang kuat

SN 1987A

Bergeser ke tepi Nebula Tarantula, pada arah kanan bawah, kita akan bertemu dengan lokasi supernova SN 1987A yang terkenal itu. Tiga puluh satu tahun lalu atau tepatnya 23 Februari 1987 lewat pengamatan beberapa astronom. Ledakan bintang tersebut pertama kali diamati oleh Ian Shelton dan Oscar Dulhade di Observatroium Las Campanas di Chile, setelah itu Albert Jones dari New Zealand juga berhasil mengamati cahaya supernova tersebut. Tanggal 4 – 12 Maret 1987 Astron, teleskop ultraungu landas angkasa berhasil melihat supernova 1987A.

SN 1987A yang bersinar sangat terang mencapai puncak kecerlangannya pada bulan Mei 1987. Supernova ini merupakan supernova tipe II dari ledakan bintang maharaksasa biru Sanduleak (SK-69 202).

NGC 2074 & Pilar Kuda Laut

Di tengah citra ada gugus bintang lainnya yakni NGC 2074 yang berukuran 100 , wilayah masif lainnya yang jadi tempat kelahiran bintang-bintang. Materi pada gugus terbuka NGC 2074 yang ditemukan oleh John Herschel diduga berasal dari sisa supernova.

Jika dilihat lebih teliti, pada area ini tapak debu yang mirip pilar berbentuk kuda laut yang ukurannya 20 tahun cahaya atau 5 kali jarak Matahari ke Alpha Centauri, bintang tetangga kita. Dalam satu juta tahun diperkirakan pilar debu ini akan menghilang karena disapu angin bintang yang berasal dari kelahiran bintang-bintang baru di area tersebut.

NGC 2100

Pada sisi kiri Nebula Tarantula, ada sebuah gugus bintang terbuka yang diberi nama NGC 2100. gugus bintang yang satu ini ditemukan oleh astronom Skotlandia, James Dunlop pada tahun 1826 saat sedang bekerja di Australia. Ia menemukan NGC 2100 dengan teleskop reflektor 23 cm yang buat sendiri. Pada gugus bintang ini kita bisa menemukan konsentrasi bintang biru yang dikelilingi bintang merah.

Itu sekilas objek-objek yang muncul dalam hasil pemotretan OmegaCAM pada teleskop survei VLT. Selain menghasilkan foto yang indah dari Nebula Tarantula, citra detil yang dihasilkan berguna bagi para astronom untuk mempelajari kelahiran bintang, migrasi bintang, maupun akhir hidup bintang di Nebula Tarantula. Selain itu bisa dipelajari juga apakah bintang supermasif selalu terbentuk di gugus bintang ataukah sendirian di area yang terisolasi.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 thought on “Lingkungan Padat Bintang di Wilayah Nebula Tarantula

  1. saya penasaran bagaimana penjelasan sederhananya metode astronom menentukan jarak suatu benda langit yang teramat jauh seperti galaksi satelit yang 160rb TC, andromeda 2.5Juta TC atau quasar X yang bermilyar2 TC. Bagaimana membedakan misalkan suatu titik merah kecil ternyata merupakan quasar yang jaraknya 8 milyar TC diantara objek sekelilingnya (yg seakan kelihatan berdekatan) yaitu ribuan galaksi dg jarak hanya 2 milyar TC.
    terimakasih

Tulis komentar dan diskusi...