Berbagi Ilmu Roket Air dengan Pelajar di Maluku

Awal Agustus 2017, saya berkesempatan untuk kembali mengunjungi Maluku. Ini kali ketiganya saya menginjakkan kaki di negeri yang kaya rempah-rempah ini untuk berbagi ilmu. Kali pertama di tahun 2012 dalam misi Transit Venus, dan yang kedua saat kompetisi roket air dalam Festival Pendidikan Maluku (FPM) 2016. FPM merupakan kegiatan pendidikan yang diinisasi oleh Yayasan Heka Leka dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Provinsi Maluku.

Kegiatan FPM ini ternyata telah menjadi agenda rutin tahunan provinsi sehingga di tahun 2017, acara yang sama digelar dengan skala yang lebih besar. Kegiatan FPM itu sendiri beragam. Selain kompetisi roket air, beberapa acara yang melibatkan pembicara dari luar Maluku antara lain festival seni dari Ganara Art Studio, Festival Dongeng dari Ayo Dongeng Indonesia, pameran robot, talkshow pendidikan yang mengundang dosen UPI Bandung,  parenting  dari Keluarga Kita dan beberapa pembicara lainnya

Kegiatan yang dipercayakan kepada langitselatan masih sama seperti dalam FPM tahun sebelumnya yaitu workshop dan kompetisi roket air. Yang berbeda adalah cakupan wilayah penyebaran ilmu yang dilakukan bertambah satu pulau. Tahun lalu pengenalan roket air dilakukan di Saparua dan Ambon. Pada FPM 2017, saya mewakili langitselatan menyambangi Pulau Kei yang terletak di Maluku Tenggara.

Kompetisi Roket Air di Ambon Manise

Hujan rintik-rintik menyambut langkah kaki saya pada hari Sabtu, tanggal 5 Agustus 2017. Tepat di tanggal tersebut, acara puncak kompetisi Festival Pendidikan Maluku 2017 digelar di Lapangan Merdeka yang terletak di tengah kota Ambon. Sengaja saya datang lebih awal untuk mengujicoba beberapa roket yang akan diluncurkan. Dua roket model panjang dan sebuah roket panjang berparasut saya siapkan sebagai bagian dari acara pembukaan FPM 2017 yang langsung dibuka oleh Gubernur Maluku, Said Assagaf, bersama dua pejabat lainnya.

Untuk sesi roket air, acara puncak FPM 2017 ini bertepatan dengan kompetisi roket air untuk tingkat SMP dan SMA se-kota Ambon. Sehari sebelumnya, telah dilaksanakan workshop roket air di tempat yang sama yaitu di area Pendopo Lapangan Merdeka. Workshop dan kompetisi roket air di kota ambon manise ini mengacu pada kompetisi tingkat Asia Pasific dengan target berjarak sekitar 60 meter dari titik peluncuran. Dari titik target, dibuat radius lingkaran luar sebesar 12 meter. Roket yang masuk di dalam radius 12 meter itu akan diperhitungkan jaraknya. Makin dekat dengan target maka makin dialah pemenangnya. Terlihat sederhana dalam peraturan, namun pada praktiknya tidaklah semudah dalam teori.

Seperti biasa dalam penyelenggaraan workshop-workshop roket air baik tingkat regional, nasional maupun Asia Pasifik, beberapa hal dijelaskan mengenai aturan kompetisi maupun sisi fisika dari roket air itu sendiri. Saya tidak sendirian saat menggelar kompetisi yang merupakan aplikasi dari Hukum III Newton ini. Saya dibantu oleh beberapa anggota dari Amboina Astronomy Club dan beberapa volunter. Pada saat workshop, saya menyempatkan membacakan sebuah pesan inspiratif dari Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin yang ditujukan bagi pelajar-pelajar yang belajar menggunakan media roket air.

Berikut pesan Prof. Dr.  Thomas Djamaluddin:

“Teknologi antariksa adalah teknologi yg mewarnai kehidupan modern saat ini dan masa depan. Indonesia mempunyai visi “Keantariksaan yang mandiri, maju, dan berkelanjutan”.

Kita mempunyai cita-cita tinggi, 25 tahun ke depan menjelang seabad Indonesia merdeka, kita harus mampu membuat dan meluncurkan satelit sendiri dengan roket sendiri dari bandar antariksa sendiri di bumi Indonesia. Oleh karenanya, generasi muda saat ini harus siap utk membangun kompetensi unggul di bidang teknologi antariksa.

Prinsip dasar roket air sama dengan roket peluncur satelit. Jadikan ini mimpi generasi muda pembuat roket air, suatu saat di masa depan yg tidak terlalu lama, akan menjadi bagian pengembang dan peluncur satelit dan roket Indonesia.

Selamat Hari Keantariksaan 6 Agustus. Majulah teknologi antariksa Indonesia bersama generasi patriot bangsa!”

Pesan Kepala LAPAN ini mendapat apresiasi yang baik dari pelajar. Terbukti saat kompetisi roket air belangsung, pelajaran kota Ambon tingkat SMP dan SMA masih bersemangat meneruskan lomba walaupun sempat terjadi miskomunikasi antara panitia seksi konsumsi dengan kami sebagai panitia roket air. Panita pusat FPM rupanya terlupa mengirimkan konsumsi dan makan siang kepada para peserta dan guru pendamping yang mengikuti kompetisi roket air. Hal ini mungkin disebabkan sangat padatnya dan beragamnya kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Merdeka ini.

Sempat terjadi insiden kecil di mana para guru pendamping “marah” kepada saya dan panitia karena dari dua kali peluncuran, pemenang kompetisi belum seluruhnya didapatkan. Ditambah lagi dengan perut yang belum terisi sejak pagi hingga menjelang sore, menambah panas suasana. Yang menarik adalah saat saya tanyakan kepada peserta dan guru-guru apakah kompetisi dilanjutkan atau tidak, pendapat mereka ternyata terbelah. Guru-guru menolak melanjutkan kompetisi namun peserta lomba masih semangat mengikuti kompetisi. Makan siang yang akhirnya datang sangat terlambat menjadi “penyelamat” kami sehingga kompetisi dapat dilanjutkan kembali hingga seluruh pemenang didapatkan.

Roket Air di Saparua dan di Pulau Kei

Selain kota Ambon, saya juga berkesempatan berbagi ilmu roket air pada guru dan pelajar di Pulau Saparua dan Pulau Kei. Setelah lebih kurang satu setengah jam mengarungi lautan dengan menggunakan speedboat dua mesin, saya tiba di Saparua. Di pulau tempat pahlawan Pattimura ini lahir, saya sudah ditunggu sejak pagi oleh para siswa. Dua belas sekolah dari SMP, SMA, dan SMK di kecamatan Saparua dan Saparua Timur antusias mengikuti kegiatan roket air hingga akhir. Berbeda dengan pelaksanaan roket air di Ambon. Kondisi di Saparua lebih kondusif dengan para guru yang sangat kooperatif. Tak jarang mereka bertanya kepada saya tentang bagaimana pembuatan peluncur agar selepas workshop dilakukan, mereka masih bisa mempraktikkan roket air sebagai pembelajaran di sekolah.

Tak hanya di Saparua, hal yang sama saya rasakan di Pulau Kei. Berbeda dengan Saparua yang bisa dilalui dengan jalur laut, Pulau Kei kami lalui dengan jalur udara dengan menggunakan pesawat komersial berbadan kecil. Pesawat berbaling-baling ganda ini mengudara selama kurang lebih satu setengah jam ke arah tenggara Maluku. Sesampainya di Bandara Langgur, kami kembali melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih dua setengah jam menggunakan bus dinas perhubungan.

Rasa penat perjalanan panjang ini sirna begitu kami disambut hangat oleh warga setempat dengan upacara adat ala Pulau Kei. Saya dan kelima perwakilan pembicara mendapatkan gelar kehormatan “anak adat” dari desa Ohoi Ohoira. Gelang besi berwarna keemasan berhias ukiran khas pulau kei disematkan di pergelangan tangan kanan kami masing-masing sebagai pengesahan “anak adat”

Tak banyak sekolah yang ada di pulau ini. Namun, saat sesi kegiatan berlangsung, sekolah-sekolah yang berasal dari pulau-pulau lain diundang untuk datang di desa Ohoi Ohoira ini. Workshop roket air itu sendiri dilakukan di SDK Ohoira. Dua ruangan kelas digabung menjadi satu. Antusiasme para peserta yang sama saya rasakan seperti dengan pelajar dari Saparua.

Sesi kompetisi dilaksanakan keesokan harinya. Namun, tidak semua peserta workshop bisa mengikuti kompetisi. Karena keterbatasan botol, hanya perwakilan tiap sekolah yang diikutkan dalam lomba. Kompetisi roket air dilaksanakan di pinggir laut.

Bagi saya, ada hal yang masih belum sempurna saya rasakan dari beberapa kompetisi roket yang pernah langitselatan adakan. Dari ratusan roket yang diluncurkan , ternyata sangat sedikit roket yang mengarah ke target. Hal ini pernah saya tanyakan kepada rekan penulis yang menjadi panitia dalam kompetisi roket air tingkat regional di Jawa Barat. Masalah serupa ternyata memang terjadi. Hal ini menjadi PR bagi saya untuk kembali memutar otak untuk memodifikasi peluncur-peluncur dan roket yang ada. Bukankah jika banyak roket yang mendarat dekat target kompetisi jadi lebih menarik?

Guide rail atau tiang pemandu yang menopang roket sebelum roket terlepas ke udara menjadi perhatian khusus bagi saya. Inilah hal yang nantinya saya rombak hingga mendapatkan hasil peluncur yang maksimal. Penelitian mengenai peluncur yang optimal masih terus berjalan.

Ditulis oleh

Aldino Adry Baskoro

Aldino Adry Baskoro

alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di sekolahalam Minangkabau dan penulis di langitselatan.

Tulis komentar dan diskusi...