Menelusuri Satelit Pengiring di Planet Katai Jauh 2007 OR10

Planet katai 2007 OR10 ternyata memiliki sebuah satelit pengiring yang ditemukan dalam arsip pengamatan Teleskop Hubble!

Planet-planet katai besar. Kredit: NASA/JHUAPL/SwRI
Planet-planet katai besar. Kredit: NASA/JHUAPL/SwRI

Meskipun secara resmi 2007 OR10 tidak termasuk dalam daftar resmi planet katai, akan tetapi, ciri-ciri OR10 menjadikannya kandidat kuat sebagai planet katai.

Menurut Mike Brown, penemu Eris yang menyebabkan Pluto diklasifikasi ulang, setidaknya ada 390 kandidat planet katai.  Dan dalam klasifikasinya, ia menempatkan 10 obyek Trans Neptunian sebagai planet katai termasuk di dalamnya: Pluto, Eris, Haumea, Makemake, 2007 OR10, Quaoar, Sedna, Orcus, (307261) 2002 MS4 dan Salacia.  Kandidat lain yang perlu diperhitungkan adalah DeeDee yang diumumkan kehadirannya di tahun 2017.

Trans Neptunian merupakan area di luar orbit Neptunus atau pada jarak lebih besar dari 30 AU,  yang diisi oleh obyek-obyek batuan yang bahkan bisa dikategorikan sebagai planet minor.  Perbedaannya dengan sabuk Kuiper, sabuk yang berisi obyek-obyek es ini merentang pada jarak 30 – 55 AU.

Planet Katai 2007 OR10

Orbit planet katai 2007 OR10. Kredit: NASA
Orbit planet katai 2007 OR10. Kredit: NASA

Tidak banyak yang sudah kita ketahui tentang 2007 OR10.  Dari namanya kita tahu kalau OR10 ditemukan tahun 2007.  Tapi sampai saat ini, nama resminya pun belum ada. Saat ditemukan oleh Meg Schwamb, Mike Brown dan David Rabinowitz, obyek yang satu ini sempat diberi julukan Putri Salju untuk warnanya yang putih.  Sayangnya, julukan indah itu harus dibatalkan karena 2007 OR10 justru merupakan obyek paling merah di sabuk Kuiper, mirip dengan Quaoar.

Planet katai OR10 ditemukan dengan teleskop Samuel Oschin di Observatorium Palomar. Selain teleskop di Bumi, Teleskop Hubble, Spitzer, Herschel dan Kepler (K2) juga diarahkan untuk mengamati planet kurcaci di halaman belakang Tata Surya.

Hasil pengamatan Kepler dan Herschel memperlihatkan planet katai ketujuh ini diselimuti oleh es metana, karbon monoksida dan nitrogen yang mudah menguap dan hilang di angkasa. Warna kemerahan berasal dari tholins yang ada di permukaan es akibat radiasi metana oleh sinar ultraviolet dari Matahari. Kondisi ini banyak ditemukan di benda-benda jauh di Tata Surya. Pada jarak yang jauh, molekul sederhana metana akan pecah saat terpapar sinar ultraungu Matahari dan membentuk molekul kompleks yang dikenal sebagai tholins.

Dari sisi ukuran, 2007 OR10 merupakan pemegang rekor planet katai ketiga terbesar yang ada di area Trans Neptunian dengan diameter ~1535 km.  Planet katai satu ini mengitari Matahari dalam orbit yang sangat lonjong seperti halnya Eris dan kemiringan orbitnya juga cukup besar mirip Haumea dan Makemake.

Jarak terdekat dengan Matahari yang bisa dicapai OR10 itu sekitar 5 milyar km atau 33 AU. Mirip jarak Pluto ke Matahari. Tapi, jarak terjauh planet ini dari Matahari bisa mencapai 15 milyar km atau 100 AU! Sangat jauh.  Dan waktu tempuh OR10 untuk menyelesaikan satu periodenya mengelilingi Matahari itu bisa mencapai hampir 550 tahun!

Saat ini, 2007 OR10 sedang berada pada jarak 87 AU atau sekitar 13 milyar km dari Matahari. Jauh dan tentu saja tidak mudah untuk diamati.  Tapi, pengamatan berbagai teleskop pada panjang gelombang berbeda bisa memberikan informasi berharga untuk menguak misteri planet tersebut.

Rotasi planet katai 2007 OR10 diketahui cukup lambat yakni ~45 jam dibanding planet katai lainnya yang hanya butuh waktu 4 – 25 jam untuk berotasi.  Rotasi yang lambat diduga disebabkan oleh interasi gravitasi antara OR10 dengan satelit yang pada saat itu belum terlihat.

Satelit Pengiring 2007 OR10

Pengamatan Hubble pada tahun 2009 dan 2010 mengungkap keberadaan satelit di 2007 OR10. Kredit: NASA, ESA, C. Kiss (Konkoly Observatory), dan J. Stansberry (STScI)
Pengamatan Hubble pada tahun 2009 dan 2010 mengungkap keberadaan satelit di 2007 OR10. Kredit: NASA, ESA, C. Kiss (Konkoly Observatory), dan J. Stansberry (STScI)

Obyek-obyek besar Trans Neptunian yang ukurannya lebih besar dari 1000 km memiliki satelit pengiring. Seperti yang kita ketahui, Pluto dikelilingi oleh Charon, Styx, Nix, Hydra dan Kerberos. Eris punya Dysnomia, sedangkan Orcus, Quaoar dan Salacia masing-masing ditemani Vanth, Weywot dan Actaea. Yang terbaru ada MK2, satelit pengiring Makemake. Untuk Sedna memang masih belum ditemukan. Akan tetapi setidaknya ada satu satelit yang menyertai perjalanan planet-planet katai tersebut.

Untuk membuktikan dugaan tersebut, para astronom menelusuri kembali data pengamatan Teleskop Hubble di tahun 2009 dan 2010.

Hasilnya, OR10 juga punya satelit pengiring yang sangat redup sehingga tidak terdeteksi pada analisis sebelumnya. Kehadiran satelit di OR10 diumumkan tahun 2016 dan dikonfirmasi keberadaannya bulan Mei 2017.

Bulan yang menyertai 2007 OR10 diketahui berukuran 237 km. Cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran OR10 yakni 1535 km. Warnanya juga merah. Informasi ini memberi indikasi kalau komposisi dan albedo atau kemampuan memantulkan cahaya satelit baru ini sama dengan planet yang dikitari.

Jarak satelit baru ini juga cukup dekat yakni 15000 km dan diprediksi kalau satelit tersebut terkunci secara gravitasi dengan planet katai OR10.

Sayangnya orbit satelit ini belum bisa ditentukan dengan pasti.  Tapi, dengan asumsi kerapatan mirip obyek Trans Neptunian lainnya, massa planet katai OR10  bisa diketahui antara 1,5 – 5,8 x 1021 kg.  Satelit kecil ini diperkirakan membutuhkan waktu 45 – 76 hari untuk mengitari planet OR10 dan terbentuk dari hasil tabrakan antara benda-benda kecil yang berseliweran di area terluar Tata Surya.

Pengamatan lebih lanjut dibutuhkan untuk bisa mengetahui orbit satelit dari planet katai 2007 OR10. Informasi yang lebih akurat sangat penting untuk mengetahui komposisi dan pembentukan 2007 OR10 dan satelitnya.  Selain itu, kita juga bisa mengetahui hubungan antara kehadiran satelit tersebut dengan rotasi lambat dari planet katai 2007 OR10.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.