Berkenalan Dengan DeeDee, si Planet Katai Jauh

Ada warga baru di Tata Surya. Namanya DeeDee si planet katai yang berada jauh dari Matahari. Benda ini bagian dari kelompok obyek trans neptunian atau benda-benda di luar orbit Neptunus. Sama seperti Pluto.

Ilustrasi DeeDee, si planet katai yang baru. Kredit: UNAWE / Alexandra Angelich (NRAO/AUI/NSF)
Ilustrasi DeeDee, si planet katai yang baru. Kredit: UNAWE / Alexandra Angelich (NRAO/AUI/NSF)

Tentunya kamu masih ingat bukan kalau Pluto sudah tidak diklasifikasikan sebagai planet lagi. Pluto sudah punya kelas baru yakni “Planet Katai”, bersama empat obyek lainnya yakni Ceres, Haumea, Makemake, dan Eris. Dengan penemuan DeeDee tampaknya akan ada satu warga baru di kelas planet katai ini.

Apa itu planet katai?

Planet katai adalah benda-benda kecil mirip planet yang mengorbit Matahari. Sama seperti planet, bentuknya juga bulat. Perbedaannya, planet katai belum bisa “membersihkan” lingkungannya dari asteroid atau puing-puing angkasa lainnya.

Jadi, apakah DeeDee sudah memenuhi semua syarat itu? Ternyata, kita belum bisa memastikannya.

DeeDee atau yang secara resmi diberi kode 2014 UZ224 pertama kali ditemukan pada tahun 2014 saat para astronom melakukan pengamatan dengan teleskop Blanco 4 meter di Observatorium Cerro Tololo Inter-American di Chile. Penemuan ini baru diumumkan tahun 2016.

Perbandingan jarak DeeDee dan planet-planet lain di Tata Surya. Kredit: Alexandra Angelich (NRAO/AUI/NSF)
Perbandingan jarak DeeDee dan planet-planet lain di Tata Surya. Kredit: Alexandra Angelich (NRAO/AUI/NSF)

DeeDee, si katai jauh ini jaraknya 100 kali lebih jauh dari Bumi ke Matahari, dan tiga kali lebih jauh dari Pluto. Planet katai ini merupakan obyek terjauh kedua di Tata Surya yang orbitnya sudah dikonfirmasi (obyek terjauh lainnya adalah Eris). Menurut para astronom, benda-benda beku kecil yang mengorbit di luar orbit Neptunus bisa mencapai puluhan ribu obyek.

Saat diamati bulan Oktober 2016, DeeDee berada pada jarak 91,6 AU, dan akan terus mendekat seiring perjalanannya menuju titik terdekat dengan Matahari pada jarak 37 AU. Pada jarak inilah Pluto berada. Jarak terjauh DeeDee dari Matahari adalah 180 kali jarak Bumi Matahari.

Dengan jarak sejauh itu, DeeDee membutuhkan lebih dari 1100 tahun untuk menyelesaikan orbitnya mengelilingi Matahari. Tak hanya itu. Jarak yang jauh membuat kita sulit untuk melihat DeeDee dan mempelajarinya. Alasan ini juga yang membuat para astronom tidak langsung mengumumkan keberadaan DeeDee saat ditemukan. Pengamatan dengan teleskop Blanco hanya bisa memberi informasi jarak dan parameter orbit DeeDee. Tapi, ukuran si planet katai belum bisa diketahui saat itu.

Meskipun belum tahu ukurannya, para astronom cukup yakin kalau DeeDee merupakan planet katai. Tidak ada petunjuk apakah DeeDee ini kecil dan terang atau justru besar dan gelap. Kita tidak bisa melihat benda kecil ini teleskop optik yang mengumpulkan cahaya kasat mata.

Perbandingan Ukuran DeeDee dengan Bumi dan Pluto. Kredit: Alexandra Angelich (NRAO/AUI/NSF)
Perbandingan ukuran DeeDee dengan Bumi dan Pluto. Kredit: Alexandra Angelich (NRAO/AUI/NSF)

Tapi, ada teleskop ALMA yang bisa melihat DeeDee dengan cahaya yang berbeda yakni pada panjang gelombang radio. ALMA berhasil mengumpulkan citra baru dari DeeDee dan mengungkap ukuran dunia kecil yang baru itu. DeeDee ternyata “hanya” berukuran 635 km — hampir seukuran negara UK. Hanya dua per tiga ukuran Ceres, asteroid terbesar di Sabuk Asteroid. DeeDee bisa dipastikan berbentuk bulat (ketika sebuah obyek punya cukup materi, gravitasi akan membuat benda itu memiliki bentuk bulat).

Perlu dilakukan lebih banyak pengamatan sebelum para astronom bisa menyimpulkan apakah DeeDee memang planet katai atau bukan. Apapun hasilnya, Pluto punya teman baru di Tata Surya!

Fakta Keren: Planet katai bukan obyek satu-satunya yang masih bersembunyi di Tata Surya. Beberapa ilmuwan menduga ada planet lain yang diberi nama ‘Planet 9sedang mengintip dari tepian Tata Surya.

[divider_line]

Sumber: Artikel ini merupakan perluasan dari artikel Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...