Dua Planet Masif Tak Terlihat di Tepi Tata Surya

Sudahkah kita mengenal Tata Surya yang jadi rumah kita? Sudahkah semua obyek di Tata Surya ditemukan? Sayangnya, belum!

Skema Tata Surya. Kredit: Wikipedia
Skema Tata Surya. Kredit: Wikipedia

Planet di balik kegelapan
Permasalahannya lagi-lagi ada pada cahaya dari obyek yang diamati. Mata yang melakukan pengamatan jelas membutuhkan cahaya untuk bisa mengetahui keberadaan suatu obyek. Tanpa cahaya, kita pun tak akan bisa mengetahui ada benda lain yang berada di dalam ruangan. Itulah yang terjadi di Tata Surya. Berbeda dengan bintang yang memang memancarkan cahaya, planet dan obyek lainnya seperti asteroid tidak memiliki cahaya. Mereka menerima cahaya dari bintang dan memantulkannya.  Tapi, semakin jauh sebuah benda dari sumber cahaya maka semakin sedikit yang bisa diterima dan dipantulkan kembali.

Pada jarak yang sangat jauh, benda-benda ini hampir tidak lagi menerima cahaya bintang. Dengan kata lain, cahayanya sangat redup dan tidak dapat dideteksi dengan mudah.

Jadi, masih banyak benda-benda lain di area luar Tata Surya yang belum dikenali oleh pengamat di Bumi. Tapi, apakah benda-benda ini ada yang menjadi kandidat planet X?

Planet X merupakan planet yang diduga keberadaannya karena Neptunus gangguan orbit dan diperkirakan ada planet lain yang menggangu orbitnya seperti halnya Uranus. Tahun 1930 Clyde Tombaugh menemukan Pluto, namun di era 1970-an diketahui kalau Pluto terlalu kecil untuk dapat menimbulkan gangguan pada orbit planet, dalam hal ini planet gas raksasa seperti Neptunus.

Tapi, ternyata gangguan yang dilihat pada Neptunus merupakan kesalahan observasi sehingga planet X tidak lagi diperlukan. Setelah Pluto, selama puluhan tahun tidak ditemukan obyek yang lebih besar darinya di area luar Tata Surya atau di daerah Sabuk Kuiper. Penemuan Sedna yang memiliki jarak terjauh 937 au dan Eris yang lebih besar dari Pluto memang membawa cerita berbeda bagi dunia keplanetan. Definisi planet direvisi.

Tahun 2014, astronom Chad Trujillo dan Scott Sheppard menemukan obyek yang ukurannya setengah ukuran Sedna dan jarak terjauhnya juga setengah jarak Sedna yakni 446 au. Kehadiran obyek yang diberi kode 2012 VP113 atau dinamai Biden kembali membuka kesempatan untuk kembali bertanya, apakah masih ada planet yang belum ditemukan di Tata Surya?

Jawaban dari pertanyaan tersebut Tidak Ada, tapi bisa juga masih ada!

Kalau berbicara tentang planet yang seukuran Jupiter atau Saturnus yang bergerak mengitari Matahari pada jarak kurang dari beberapa belas ribu au maka jawabannya tidak ada planet seperti itu di area terluar Tata Surya. Tapi, jika kita berbicara tentang planet-planet kecil yang mengelilingi Matahari dari kejauhan maka kemungkinan itu selalu ada. Apalagi memang planet-planet atau kita sbeut saja obyek-obyek kecil memang masih terus ditemukan di area tersebut.

Mencari Planet Masif di Tepi Tata Surya

Perbandingan Bumi dan Bumi Super. Kredit: Spitzer/Caltech
Perbandingan Bumi dan Bumi Super. Kredit: Spitzer/Caltech

Tercatat yang paling baru adalah 2012 VP113 atau Biden. Dan benda-benda tersebut juga sangat redup untuk bisa dideteksi keberadaannya oleh survei angkasa yang dilakukan saat ini. Mereka bisa jadi terus bersembunyi sampai suatu hari kelak keberadaannya bisa ditemukan. Untuk kasus Sedna dan Biden, keduanya bisa ditemukan saat berada pada perihelion atau jarak terdekat dengan Matahari.

Menurut Chad Trujillo dan Scott Sheppard yang menemukan 2012 VP113, dalam rentang jarak dari Matahari sampai dengan 250 au, masih ada planet masif yang tersembunyi. Tapi karena planet masif seperti Jupiter dan Saturnus tidak ada lagi, maka kemungkinannya adalah planet Bumi Super dengan batas atas massa 10 massa Bumi. Kemungkinan tersebut didasarkan pada penemuan 2012 VP 113 yang memiliki perihelion terjauh. 2012 VP113 bersama dengan benda-benda kecil di Tata Surya yang memiliki jarak lebih dari 150 au dan perihelion lebih dari 30 au, memiliki orbit sejajar yang memberi petunjuk keberadaan planet masif pengganggu yang mempengaruhi orbit benda-benda tersebut.

Duo astronom Spanyol Carlos dan Raul de la Fuente Marcos dari Complutense University of Madrid pun melakukan perhitungan dan simulasi untuk mencari tahu kemungkinan untuk bisa menemukan obyek yang cukup besar atau extreme trans-Neptunian objects (ETNO) di tepi luar Tata Surya.

Hasilnya? Menurut duo astronom Spanyol tersebut, ada planet masif lainnya yang sedang bersembunyi di balik kegelapan, menggembalakan benda-benda kecil di tepi Tata Surya dan menanti untuk ditemukan. Mereka tidak saja menemukan keberadaan obyek masif di tepi Tata Surya, tapi juga mengkonfirmasi efek penggembalaan yang diberikan oleh planet masif tersebut pada kesejajaran orbit benda-benda kecil. Efek penggembalaan ini bisa dilihat pada pola yang dikenal sebagai resonansi orbit.

Resonansi orbit terjadi saat dua benda yang mengorbit benda yang sama saling memberikan pengaruh gravitasi. Hubungannya bisa dilihat dari perbandingan periode orbit yang tidak berbeda jauh. Contohnya, Neptunus dan Pluto berada dalam resonansi orbit, dimana setiap dua kali Pluto mengelilingi Matahari, maka Neptunus sudah menyelesaikan dua kali perjalanan mengelilingi Matahari.

Demikian juga, sekelompok kecil obyek di area tersebut tampak menyebar dalam barisan yang teratur dengan obyek tak terlihat yang berada pada jarak 200 au dan memiliki massa Bumi Super. Tak hanya itu, obyek yang ditemukan oleh Carlos dan Raul tampaknya juga memiliki pola yang yang tak biasa. Sebagian benda kecil memiliki orbit yang sangat lonjong yang menyebabkan mereka berada pada kisaran jarak 200 au. Aneh, karena obyek masif seperti Bumi Super harusnya tidak mengorbit sangat dekat dengan benda lain, Ia seharusnya bisa membersihkan area di dekatnya, kecuali mereka dipengaruhi oleh benda masif lainnya. Diduga, planet Bumi Super tersebut beresonansi dengan planet lain yang lebih masif pada jarak 250 au seperti yang diduga Chad Trujillo dan Scott Sheppard, dengan resonansi orbit 3:2.

Tapi, kedua planet tersebut masih berupa planet hipotetik yang keberadaannya masih belum dibuktikan. Pembuktian lewat pengamatan bukan hal yang mudah. Mirip dengan Sedna maupun 2012 VP113, keduanya baru dikenali saat mendekati jarak terdekat dengan Matahari. Jika keduanya berupa planet masif Bumi Super, maka orbitnya akan mendekati lingkaran dan mereka akan bergerak lebih lambat dan juga sangat redup. Artinya, teleskop yang ada saat ini akan sulit melihat kedua planet tersebut jika memang ada. Tapi jangan kuatir, keberadaan planet-planet tersebut tidak akan memberi implikasi apapun pada Bumi.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...