Dua Cincin di Asteroid Chariklo

Cincin di Tata Surya adalah hal yang selalu menarik untuk diamati. Terutama cincin indah di planet Saturnus. Meski, Saturnus bukan satu-satunya planet bercincin tapi setidaknya cincinnya dapat diamati oleh para pecinta langit dengan mudah. Jupiter, Uranus dan Neptunus hanya punya cincin tipis yang melingkar membalut tubuh mereka.

Tidak ada obyek lain di tata Surya yag memiliki cincin selain planet-planet gas raksasa tersebut. Tapi tampaknya dominasi cincin oleh planet raksasa harus berakhir. Sebuah benda kecil di Tata Surya yang berada jauh dari Matahari juga punya cincin.

Hasil pengamatan dari berbagai lokasi di Amerika Selatan termasuk di Observatorium La Silla milik ESO berhasil menemukan cincin yang menghiasi asteroid (10199) Chariklo.

Ilustrasi cincin di asteroid Chariklo. Kredit: ESO/L. Calçada/M. Kornmesser/Nick Risinger
Ilustrasi cincin di asteroid Chariklo. Kredit: ESO/L. Calçada/M. Kornmesser/Nick Risinger

(10199) Chariklo
Asteroid (10199) Chariklo atau kita sebut saja Chariklo merupakan anggota terbesar dari kelas Centaur yang berada di antara Matahari, Saturnus dan Uranus. Centaur merupakan kumpulan benda kecil di Tata Surya yang orbitnya tidak stabil di bagian luar Tata Surya. Orbit benda-benda kecil Centaur diketahui melintasi planet-planet raksasa dan sering mengalami perturbasi atau gangguan sevara berkala sehingga orbitnya akan tetap tidak stabil selama beberapa juta tahun.

Asteroid atau benda kecil di Centaur memang berbeda dari asteroid yang berada di antara Mars dan Jupiter dan tampaknya obyek di Centaur berasal dari area Sabuk Kuiper. Nama Centaur yang disandang berasal dari makhluk mistis setengah manusia setengah kuda, Centaurus, karena obyek-obyek di area tersebut juga memiliki dua karakter yakni asteroid dan komet.

Chariklo digolongkan sebagai asteroid karena tidak memiliki karakteristik dan aktivitas seperti layaknya komet.

Kedipan di kala Okultasi
Para astronom yang melakukan pengamatan pada asteroid Chariklo pada awalnya tidak menduga akan menemukan cincin di benda tersebut. Bahkan mereka tidak sedang mencari cincin. Yang dilakukan oleh para astronom adalah mengamati peristiwa okultasi Chariklo pada bintang UCAC4 248-108672 tanggal 3 Juni 2013. Pengamatan dilakukan dari Amerika Selatan dengan teleskop dari 7 lokasi berbeda, diantaranya adalah teleskop Danish 1,54 meter dan teleskop TRAPPIST milik ESO di Observatorium La Silla, Chille.

Dari 7 lokasi berbeda, para astronom mengamati peristiwa okultasi tersebut dan berhasil melihat saat menghilangnya sang bintang dari pandangan selama beberapa detik ketika cahayanya dihalangi oleh Chariklo. Tujuan pengamatan adalah untuk mengetahui ukuran dan bentuk dari benda kecil dengan yang berada nun jauh di bagian luar Tata Surya.

Menurut Felipe Braga-Ribas dari Observatório Nacional/MCTI, Rio de Janeiro, Brazil, yang menjadi pimpinan penelitian ini, tak ada satu astronom pun yang melakukan pengamatan berharap akan melihat dan menemukan cincin di Chariklo. Bahkan mereka pun tak terpikir kalau obyek sekecil Chariklo punya cincin.

Ketika peristiwa okultasi terjadi, beberapa detik sebelum dan kemudian beberapa detik sesudah terjadinya okultasi utama, para pengamat melihat ada dua kedipan pendek pada kecerlangan semua bintang. Artinya ada sesuatu di sekitar Chariklo yang menghalangi cahaya bintang.

Dan ternyata kedua kedipan itu menandai kehadiran dua buah cincin di Chariklo yang kemudian diberi nama Oiapoque dan Chuí yang merupakan nama sungai di utara dan selatan Brazil.

Wajah cincin Chariklo yang dilihat dari area dalam Chariklo. Kredit: ESO/L. Calçada/M. Kornmesser/Nick Risinger
Wajah cincin Chariklo yang dilihat dari area dalam Chariklo. Kredit: ESO/L. Calçada/M. Kornmesser/Nick Risinger

Para astronom kemudian melakukan perbandingan hasil pengamatan dari lokasi – lokasi berbeda, maka rekonstruksi berhasil dilakukan. Hasilnya, bukan hanya bentuk dan ukuran Chariklo yang berhasil diketahui tapi juga bentuk, lebar, orientasi dan sifat dari cincin baru di asteroid tersebut.

Cincin yang berhasil ditemukan di Chariklo tidak hanya satu melainkan dua. Kedua cincin yang melingkari benda kecil dengan diameter 250 km tersebut diketahui memiliki lebar 7 dan 3 km dan terpisah oleh celah selebar 9 km. Dari mana cincin ini berasal belum diketahui. Akan tetapi diduga, cincin di Chariklo terbentuk dari tabrakan yang menghasilkan piringan puing-puing sisa tabrakan dan diduga ada satelit kecil yang menanti untuk ditemukan.

Sekarang coba bayangkan berdiri di permukaan obyek es tersebut. Obyek ini cukup kecil sehingga mobil sport yang sangat cepat bisa mencapai kecepatan lepas di Chariklo dan terbang bebas ke luar angkasa. Dari sana, ia dapat memandang cincin yang merentang 20 km dan 1.000 kali lebih dekat daripada Bulan! Kecepatan lepas di Chariklo hanya 350 km/jam.

Cincin di Chariklo bisa jadi merupakan fenomena yang di kemudian hari akan membentuk satelit kecil di asteroid itu. Akan tetapi, dalam skala yang lebih besar, kehadiran cincin di Chariklo diyakini dapat menjelaskan kelahiran Bulan di masa awal Tata Surya sekaligus juga menyingkap misteri asal usul satelit yang mengitari planet dan asteroid.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.