Perjalanan Exoplanet WASP 12b Menuju Akhir Hidupnya

Oktober 2008, para astronom berhasil menemukan sebuah exoplanet berukuran Jupiter yang berada begitu dekat dengan bintang induknya, 75 kali lebih dekat dari jarak Bumi – Matahari. Planet gas yang demikian dekat akhirnya menimbulkan tanya bagaimana mungkin ia berada dekat bintang dan bagaimanakah nasibnya kelak?

Jawaban itu ternyata tak perlu menunggu lama.

Exoplanet WASP 12b. Kredit : ESA/C Carreau

Di bulan Februari 2010, sekelompok astrofisikawan menemukan sebuah exoplanet masif telah mengalami perubahan dan hancur oleh bintang induknya. Penemuan yang mengejutkan namun sekaligus memberikan penjelasan bagaimana si exoplanet tersebut bisa punya ukuran yang besar dan berada begitu dekat dengan bintang induknya. Planet itu adalah WASP 12b.

Apa yang terjadi pada exoplanet WASP 12b juga membawa kisah dari tahap akhir perjalanan kehidupan sebuah planet. Yang menarik, untuk pertama kalinya para astronom menjadi saksi dari gangguan yang membawa WASP 12b pada devile kematiannya. Penelitian yang dilakukan oleh Shu-lin Li dari National Astronomical Observatories of China, Professor Douglas N.C. Lin dari UC Santa Cruz yang juga merupakan direktur pendiri Kavli Institute for Astronomy and Astrophysics (KIAA) di Peking University, mahasiswa pasca sarjana Li, dan tim peneliti yang bertugas menganalisa data pengamatan berhasil menunjukkan bagaimana gravitasi dari bintang induk membumbung ukurannya serta memacu terjadinya kehancuran yang sangat cepat pada si exoplanet.

Exoplanet WASP 12b
Saat ditemukan WASP 12b merupakan satu dari 400 exoplanet yang penuh teka teki. WASP 12b memang sama seperti exoplanet pada umumnya yang memiliki ukuran dan materi layaknya planet Jupiter dan Saturnus. WASP 12b memang tergolong planet gas yang besar yang berada di rasi Auriga. Yang menjadi teka-teki, tak seperti planet gas pada umumnya, exoplanet yang satu ini berada sedemikian dekat dengan bintang. Hanya 75 kali lebih dekat dari Bumi-Matahari, atau hampir 2 juta km.

Yang pasti dengan kondisinya di dekat bintang induk, WASP 12b jelas melampaui model astrofisika yang bisa dibuat untuk kondisi yang sama. Massanya diperkirakan 50% lebih besar dari Jupiter dan ukurannya 80% lebih besar atau 6 kali lebih besar dari Jupiter. Planet ini juga luar biasa panas dengan temperatur 2500°C di siang hari.

Mencari Jawaban Teka Teki
Pertanyaan yang muncul dari para astronom adalah bagaimana mungkin sebuah planet gas raksasa berada demikian dekat dengan bintangnya? Tentunya ada mekanisme yang bertanggung jawab atas pengembangan planet tersebut ke ukurannya itu. Salah satu dugaan adalah gaya pasang surut yang diduga cukup kuat untuk menghasilkan efek yang terlihat pada WASP 12b.

Di Bumi, pasang surut antara Bumi dan Bulan menyebabkan terjadinya pasang surut pada air laut 2 kali sehari. Nah, dalam sistem WASP-12, exoplanet WASP 12b berada dekat sekali dengan bintang sehingga tak dipungkiri kalau gaya gravitasi yang terjadi di antara keduanya pasti luar biasa besar. Gaya pasang surut yang luar biasa besar yang terjadi pada si planet justru mengubah seluruh bentuk planet menjadi sesuatu yang mirip rugby atau bola pada American Football.

Pasang surut tersebut tak hanya mengubah bentuk WASP 12b, namun juga merusak planet secara terus menerus dan menghasilkan friksi di interior planet. Friksi tersebut menghasilkan panas yang kemudian menyebabkan planet mengembang. Menarik? tentunya karena inilah pertama kalinya sebuah bukti nyata dari pemanasan internal (atau pemanasan akibat pasang surut) bertanggung jawab pengembangan sebuah planet menjadi ukurannya saat ini.

Perjalanan Menuju Akhir Hidup
WASP 12b yang besar ini pada akhirnya harus menghadapi kematian yang lebih awal. Bahkan pada kenyataannya ukurannya merupakan bagian dari masalah yang ia hadapi. WASP 12b mengembang layaknya balon sampai pada titik dimana ia tidak lagi dapat menahan massanya terhadap tarikan gravitasi bintang.

Akhirnya, WASP 12b mengalami kehilangan massanya kepada bintang induk pada laju yang luar biasa cepat yakni 6 milyar metrik ton per detik. Pada laju seperti ini, si planet akan benar-benar hancur oleh bintang induknya dalam waktu 10 juta tahun. Jangan berpikir ini waktu yang lama, karena bagi para astronom dan terlebih lagi bagi perjalanan kehidupan sebuah planet atau bintang 10 juta tahun itu waktu yang cepat. Exoplanet WASP 12b akan menjalani kehidupan setidaknya 500 kali lebih pendek dari usia Bumi saat ini.

Materi yang ditarik dari WASP 12b tidak langsung jatuh ke bintang induk, namun membentuk piringan disekeliling bintang dan baru kemudian bergerak spiral ke dalam bintang. Analisa yang dilakukan pada gerak orbit WASP 12b secara tidak langsung menunjukan bukti gaya gravitasi dari planet kedua yag bermassa rendah di dalam piringan. Planet kedua ini tampaknya cukup masif seperti halnya planet super Bumi.

Piringan materi planet dan keberadaan planet super Bumi tersebut bisa dideteksi menggunakan fasilitas teleskop yang ada saat ini. Sifat dan keadaan dari planet kedua maupun piringan materi planet tersebut juga bisa digunakan untuk menentukan sejarah dan nasib dari planet misterius WASP 12b di masa depan.

Sumber : The Kavli Foundation

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.