Exoplanet WASP 12b, Sebuah Dunia Karbon

Di tahun 2008, sebuah planet yang luar biasa panas berhasil ditemukan. Planet dengan temperatur 2250 °C ini berada sangat dekat dengan bintang induknya yang sedang menuju pada devile kematiannya.

Karbon di Atmosfer WASP 12b

Ilustrasi planet WASP 12b dan bintang induknya. kredit : NASA/JPL-Caltech/R. Hurt (SSC)

Paparan kisah menarik tentang planet gas raksasa super panas ini berhasil diungkap setelah Nikku Madhusudhan dari Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, beserta rekan-rekannya melakukan analisa lanjutan dengan menggunakan pengukuran yang sudah dilakukan dalam pengamatan planet WASP 12b sebelumnya disertai pengukuran baru yang juga dilakukan dengan menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Spitzer milik NASA.

Hasilnya, atmosfer di planet WASP 12b memiliki lebih banyak karbon dibanding oksigen, sesuatu yang tak pernah dilihat sebelumnya. Sebagian besar model mengasumsikan adanya kemiripan dengan planet kebumian di Tata Surya, dengan perbandingan karbon setengah dari kandungan oksigen di atmosfer.

Menurut Nikku Madhusudhan dari Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, “planet yang kaya karbon ini sangat eksotik dalam segala hal — baik pembentukan interior dan atmosfer.”

Mengapa eksotik? Diperkirakan di bagian dalam planet WASP 12b atau di bawah lapisan gasnya,  terdapat grafit, berlian atau bentuk eksotik lainnya yang terbentuk dari karbon. Sayangnya, saat ini kemampuan teknologi yang ada masih belum memungkinkan bagi para astronom untuk bisa melakukan pengamatan pada inti exoplanet.

Kondisi atmosfer WASP 12b yang karbonnya melimpah memberi implikasi pada inti planet yang padat tidak kaya dengan silikat (mineral yang tersusun dari silikon dan oksigen) seperti halnya Bumi. Inti planet WASP 12b ini justru kaya dengan karbon. Diperkirakan gunung berlian atau grafit juga ada di planet tersebut. Dan jika ada kehidupan yang terbentuk maka kehidupan itu tentunya berbasis karbon – metana dan bukan air atau oksigen.

Mencari pembanding di Tata Surya

Karbon merupakan komponen umum yang ada di sistem keplanetan sekaligus menjadi kunci resep kehidupan di Bumi. Untuk itu para astronom melakukan pengukuran perbandingan karbon terhadap oksigen untuk dapat memahami kimiawi bintang.

Matahari memiliki perbandingan karbon/oksigen 1 : 2 yang artinya ia memiiki karbon setengah dari kandungan oksigen. Dan sampai saat ini belum ada planet di Tata Surya yang diketahui memiliki lebih banyak karbon dari oksigen.

Kurangnya data perbandingan karbon/oksigen dari planet  di Tata Surya menyebabkan  sulit dilakukan pembandingan antara WASP 12b dengan planet gas raksasa di Tata Surya. Satu-satunya analog yang bisa digunakan adalah Jupiter.  Akan tetapi jawaban pasti mengenai perbandingan kedua unsur tersebut di Jupiter pun belum bisa dipastikan.

Angka perbandingan untuk planet-planet gas raksasa memang belum diketahui. Berbeda dengan WASP-12b, planet gas raksasa di Tata Surya mengandung air – unsur utama yang membawa oksigen – di kedalaman atmosfernya sehingga sulit dideteksi. Pengamatan spektroskopik yang dilakukan tidak dapat menentukan dengan pasti perbandingan karbon/oksigen karena sebagian besar oksigen terperangkap dalam air, yang sudah mengembun keluar dari atmosfer akibat kondisi Jupiter yang sangat dingin.

Usaha untuk menyelesaikan kekurangan ini sedang dlakukan oleh Atreya yang merupakan salah satu peneliti dari misi Juno yang akan diluncurkan tahun 2011 dan tiba di Jupiter tahun 2016 untuk melakukan pemetaan air dan kelimpahan oksigen.  Jika Jupiter ternyata kaya dengan karbon seperti halnya WASP 12b, maka bisa diartikan bahwa benda kecil yang menjadi asal muasal pembentukan sebagian planet di sistem keplanetan merupakan ter kaya karbon dan bukan es.

Sumber : NASA, Nature

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.