Mata Langit Baru di Bumi Serambi Mekah

oleh : Hakim L. Malasan*

Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang panjang semenjak Januari 2008, komunitas agama maupun ilmuwan Propinsi NAD dapat berbangga hati dengan rampungnya konstruksi dan pengadaan instrumen Observatorium Hilal dan Astronomi Pantai Lhoknga. Institusi falak yang berada di bawah naungan Badan Hisab Rukyat (BHR), Propinsi NAD ini, kini amatlah berbesar hati dengan koleksi instrument astronomi modern yang dapat dipergunakan baik untuk penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Gerbang masuk Observatorium Hilal dan Astronomi, BHR NAD

Langit pantai Lhoknga di bulan Desember ini begitu menakjubkan dengan pemandangan spektakuler dari Pleiades (M42, Gugus Bintang Tujuh) maupun Kabut Orion dengan konfigurasi trapesium (empat bintang berbentuk demikian) di tengahnya. Penulis yang merupakan astronom di Bandung baru kali ini dapat menikmati terpisahnya dengan sempurna ke-empat bintang penghuni Rasi Orion tersebut. Ini mengindikasikan betapa kecilnya turbulensi atmosfer di atas pantai Lhoknga.

Pemandangan ke arah Barat yang bersih, luas dan relatif memiliki transparansi yang besar seperti menguatkan pandangan bahwa memang Pantai Lhokngah merupakan situs prima untuk penyaksian sabit bulan setelah fase bulan baru (ijtima’) yang dalam dunia islam dikenal sebagai hilal. Kendati sempat terganggu oleh gempa berkekuatan 4,5 SR pada 21 Desember 2008 malam, observasi pengujian dalam rangka mendapatkan first light tidaklah terganggu. Kami menikmati indahnya Alcyone (bintang terterang dalam gugus Pleiades), Sirius, Aldebaran, Kabut Orion, Planet Jupiter yang ditemani empat satelit alamnya, serta Planet Venus dengan teleskop-teleskop modern koleksi Observatorium.

Lokasi Observatorium Hilal dan Astronomi Pantai Lhokngah di Utara garis khatulistiwa (95,8 derajat Bujur Timur, 5,5 derajat Lintang Utara) memiliki pola meteorologis yang komplementer dengan observatorium di selatan ekuator, seperti Observatorium Bosscha, Lembang (6,5 derjat Lintang Selatan), sehingga ketika musim hujan melanda Lembang maka langit cerah menaungi Pantai Lhokngah, dan demikian pula sebaliknya. Ini memungkinkan optimumnya jaringan pengamatan hilal yang telah dibentuk oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi pada tahun 2006 yang lalu. Tak pelak lagi Observatorium Hilal dan Astronomi, Pantai Lhokngah berperan amat penting bagi suksesnya kinerja jaringan pengamatan hilal dalam rangka mencerdaskan bangsa dalam menyikapi peristiwa-peristiwa ibadah penting khususnya, dan dalam rangka menumbuhkembangkan kecintaan kita pada dirgantara secara umum.

Pengamat mempergunakan teleskop dalam gedung atap-geser.

Mengapa Observatorium Hilal dan Observatorium Astronomi?

Semenjak perencanaannya dalam tahun 2007, dirasakan bahwa kebutuhan observatorium astronomi bagi penelitian, pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat luas semakin meningkat. Kebutuhan ini didorong antara lain oleh partisipasi murid-murid sekolah dalam ajang olimpiade sains taraf nasional maupun internasional, tekanan masyarakat pada suatu institusi ilmiah berbasis religi untuk melakukan kegiatan hisab dan rukyat bagi penentuan tanggal-tanggal penting ibadah, dan kesadaran pentingnya Bangsa Indonesia dalam memahami dan mengembangkan lingkungan dirgantara.

Tumbuh dan berkembangnya klub-klub astronomi yang berorientasi kepada pendidikan masyarakat di kota-kota besar di hampir seluruh penjuru tanah air, juga merupakan faktor stimulus yang penting bagi kebanyakan pemerintah daerah dalam mengembangkan program pendidikan bagi masyarakat.

Oleh karena itulah, sebuah Observatorium yang paripurna, meliputi fungsi-fungsi :

  1. Rukyatul hilal dalam menunjang sidang-sidang Isbath baik dalam lingkup Propinsi maupun nasional, mengingat Observatorium Hilal Lhokngah merupakan satu dari tujuh simpul utama jaringan kerja observasi hilal di Indonesia
  2. Pengamatan ilmiah astronomi dan astrofisika baik untuk jenjang pelajar sekolah menengah hingga mahasiswa maupun peneliti di perguruan tinggi,
  3. Kegiatan pendidikan astronomi bagi masyarakat luas maupun pelajar
Salah satu sudut dalam gallery dengan pampangan poster-poster citra planet dalam Tata Surya. Kredit : HLM

Fungsi tersebut merupakan esensi perencanaan revitalisasi observatorium Pantai Lhokngah dengan dukungan dari Badan Rehabilitas dan Rekonstruksi NAD Nias. Perencanaan ini meliputi kesatuan pembangunan infrastruktur baru meliputi lahan observatorium, gedung utama pengamatan hilal dilengkapi ruang kuliah dan pengamatan, gedung atap geser (sliding roof) untuk menempatkan teleskop astronomi, suplai listrik, dan telekomunikasi, serta pengadaan prasarana meliputi:

  1. Instrumen pengamatan terdiri atas teleskop pembias (refractor) berdiameter 180 mm dan 100 mm untuk hilal dan pengamatan astronomi umum, teleskop catadioptric berdiameter 200 mm, sejumlah binokuler astronomi dengan penguatan 125x, teodolit dijital dengan medan pandang 1,5 derajat, proyektor matahari, perangkat lunak kendali teleskop dan proses citra modern, kamera-kamera sensitif berbasis teknologi CCD dan berbagai jenis penapis (filter)
  2. Perangkat penunjang pengamatan, yakni All-sky camera yang memungkinkan pengamat memonitor situasi langit di atas observatorium dari dalam gedung, automated weather station untuk mengukur secara langsung kelembaban, laju angin, temperatur dan tekanan, kompas Qiblat, dan altimeter.
  3. Perangkat pendidikan terdiri dari planetarium mobile, gallery, dan perangkat lunak simulasi astronomi.

Dengan sarana dan prasarana yang tersedia dan telah operasional dalam bulan Desember ini, berbagai kegiatan yang dapat digulirkan meliputi :

  1. Pengembangan metodologi dan pelaksanaan observasi modern hilal baik secara in-situ maupun remote
  2. Penelitian astronomi dan astrofisika baik dalam aspek sains maupun teknis
  3. Penerimaan kunjungan siswa-siswi Propinsi NAD untuk mengikuti pendidikan astronomi secara riil
  4. Pengembangan kerjasama antar Observatorium dalam lingkup nasional maupun regional (misalnya dengan Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, dan Al Khawarizmi Astronomy Center di Malaka, Malaysia)

Saat ini terdapat sejumlah staf Badan Hisab Rukyat (core users) yang sedang mengikuti pelatihan pengoperasian peralatan yang dilakukan secara intensif di Observatorium baru ini. Kerjasama pihak pembangun dengan penyedia teleskop, Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) dan Yogya Astronomi Club (YAC) tengah merencanakan sosialisasi observatorium bagi common users dalam bulan Januari 2009 yang akan datang.

Harapan ke depan

Berbagai peralatan astronomi pengamatan modern yang telah dipasang di Observatorium Hilal dan Astronomi Pantai Lhokngah memberikan tantangan tersendiri bagi manajemen utilisasi dan kegiatan penelitian. Kendati pengelolaan utama ada di tangan Badan Hisab Rukyat, pemanfaatan observatorium modern ini hendaknya untuk kalangan yang luas di lingkungan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Untuk itu perlu kiranya direncanakan suatu networking antara BHR dengan berbagai perguruan tinggi di lingkungan regional maupun nasional. Disamping Pondok Pesantren yang banyak tersebar di Propinsi NAD, Universitas Syiah Kuala dan Politeknik Aceh, contohnya, merupakan perguruan tinggi potensial untuk kiranya dapat digandeng untuk bersama-sama memanfaatkan observatorium modern ini bagi penelitian astronomi dan astrofisika.

Rukyatul Hilal hendaknya tidak merupakan kegiatan yang dilaksanakan hanya pada saat menjelang Ramadhan, Idul Fitri maupun Idul Adha, tapi secara sistematik dilaksanakan di setiap awal bulan Qomariyah. Dengan demikian basis data ilmiah penampakan hilal yang didukung dengan metodologi observasi astronomi modern, model komputasi modern (aspek hisab) yang khas secara geografis NAD dapat dibentuk dan ditumbuhkembangkan. Kembalikanlah kejayaan NAD seperti di masa Samudra Pasai, yang ketika itu menjadi pusat pembelajaran kaum pelajar islam dari India Selatan dan daratan Asia.

Bertahannya perangkat observatorium astronomi tidaklah semata-mata ditentukan oleh komitmen keuangan semata tapi yang terpenting adalah disiplinnya pemakai dan ketaat-azasan dalam merawat peralatan yang tergolong amat spesifik dan tidak memiliki service center di tanah air. Oleh karena itulah perawatan seksama dan kesadaran tinggi akan pentingnya melestarikan lingkungan observatorium menjadi kunci bertahannya peralatan di Observatorium dalam waktu lama, melintasi generasi manusia pemakainya.

Semoga mata langit modern di bumi serambi Mekan ini dapat menjadi kebanggaan rakyat Aceh hingga bergenerasi yang akan datang. Insya Allah!

*Staf Pengajar dan Peneliti Senior, Kelompok Keahlian Astronomi dan Observatorium Bosscha, FMIPA ITB.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

10 thoughts on “Mata Langit Baru di Bumi Serambi Mekah

  1. sebetulnya, bagaimana sih menentukan sebuah tempat itu ideal untuk dibuat sebuah observatorium astronomi? Saya penasaran sekali, misalnya dengan karakteristik tempat yang digunakan, metode2 proses penentuan tempat tsb (data apa saja yang digunakan), dll. Karena tidak mungkin semua tempat itu ideal kan untuk digunakan sbg observatorium. Misalnya, Indonesia, dgn karakteristik aktifitas geologinya yang tinggi. Apakah semua daerah di Indonesia baik digunakan sbg tempat peneropongan bintang? Apa rekan2 dari langitselatan sudah memiliki tulisan ttg ini? Saya tidak tahu yang mana.Terima kasih

  2. nah,ini nih yg bikin maju astronomi di indonesia.gmana mw maju klo fasilitasnya terbatas.sbnrnya sdm qta sdh bnyk yg bagus tp kurang fasilitas jd bikin terhambat.
    smoga dgn adanya observatorium hilal yg baru, ga ada perbedaan lg dlm menentukan idul fitri.skali2 donk qta kompak!!!
    hidup astronomi!!!

  3. Ya, betul. Kunci kemajuan astronomi adalah dengan didistribusikannya fasilitas observatorium agar tidak terpusat hanya di Lembang saja. Masa kita yang punya 3 zone waktu hanya punya satu observatorium (dan tidaklah besar) di Jawa Barat. Dalam proyek observatorium di Lhoknga, ada jejak rekam yang panjang sebelumnya, karena awalnya sudah ada pos pengamatan hilal namun diterjang tsunami, jadi ini adalah revitalisasi observatorium plus pengadaan instrumen pengamatan modern.

    Apa tempat ideal pengamatan? Tergantung misinya…kalau proper untuk riset maka kriterianya amat ketat, al. stabilitas geologis, transparansi angkasa yang tinggi, turbiditas angkasa yang kecil, remote area (musuh observatoriumkan polusi cahaya oleh manusia), tapi akses dan sarana telekomunikasi dan listrik baik. Lazimnya ada site survey dulu.

    Di Indonesia lokasi seperti Lombok, Timor, utara Danau Toba, Bonjol sudah pernah disurvei. Referensi ini sebagian bisa ditemui di perpustakaan Observatorium Bosscha. Ketidakstabilan geologis bisa diatasi dengan teknik konstruksi yang khas: Fondasi teleskop terpisah dari fondasi gedung pengamatan (dome/sliding roof). Di Jepang thn 2004 saya pernah observasi dalam kondisi gedung bergetar oleh gempa skala 6.5 RS selama 5-10 menit! (gempa Nigata) Hebatnya bintang masih di pusat medan pandang, artinya tracking teleskop tidak terganggu. Luar biasa…

    Namun utk misi pendidikan maka kriteria situs jadi lebih longgar. Nah yang di Lhoknga ini tidak terlalu ambisius karena fungsinya yang luas… Sewaktu observasi pengujian saja ada gempa, tapi fondasi teleskop dan teleskopnya untung tidak bergeser..

  4. asiiikkk, ternyata ada fasilitas baru ya di aceh?
    baru tau.. sepertinya akan lebih bagus kalau sepanjang indonesia ada observatoriumnya. kebetulan indonesia kan memanjang di katulstiwa dengan tiga zona waktu. jadi mungkin satu di Aceh, satu di Lembang-Jabar, satu lagi di zona tengah, trus satu di zona timur misal di Irian Jaya.

    Trus pas hilal ngamat bareng dengan hasil data ilmiah, sehingga bisa diacu oleh pemerintah dalam menetapkan hari raya. wooooowww… hari raya semakin kompak lah.

  5. Selamat buat Aceh dan Astronomi Indonesia pada umumnya.

    Selain site untuk observasi, saya rasa pendidikan astronominya sendiri juga perlu ekspansi. Maksud saya, barangkali diperlukan pembukaan jurusan astronomi di universitas-universitas lain selain ITB. Atau setidaknya, jurusan Fisika di beberapa universitas di seluruh Indonesia juga mengembangkan bidang astronomi. Apakah sudah ada langkah-langkah kesana, Pak Hakim?

  6. Saya tidak mengikuti bagaimana progresnya, tapi salah satu inisiasi adalah melalui pembentukan jaringan olimpiade astronomi 2005 y.l. melibatkan UNP, UNMalang, UPI, UNY yang diharapkan bisa mengembangkan kelompok keahlian (minimal) atau bahkan jurusan Astronomi. Para ketua jurusannya/dosen seniornya pernah kumpul untuk bicarakan hal itu…tapi karena mereka semua perguruan tinggi negeri (waktu itu), mungkin lamban ya. Jaringan olimpiade itu semata-mata stimulus agar terbentuk kelompok peminatan/keahlian astronomi dan bisa berperan di daerah masing-masing. Begitu Edwards.. nah anda kan dekat dengan UNP, coba bertandang ke Jurusan Fisika (Ibu Syakhbaniah, mantan Ketua Jurusan), iseng2 tanya statusnya…

Tulis komentar dan diskusi...