Roket Indonesia, Kenapa Tidak Kita Buat Sendiri?
By nggieng • Jul 10th, 2008 at 7:09 am • Category: Komunitas Astronomi
Roket yang siap diluncurkan pada dini hari. Kredit : nggieng
Kendati belum sebesar roket-roket pengangkut wahana antariksa seperti roket Apollo, roket-roket yang diuji tersebut memiliki berbagai kemampuan sesuai dengan kebutuhan, dan yang paling penting bisa memberikan harapan bahwa bangsa Indonesia masih bisa bersaing dengan negara lain dalam persaingan teknologi.
Acara peluncuran dimulai pada dini hari saat Matahari menyingsing, dan disaksikan oleh banyak sekali lapisan masyarakat. Acara tersebut semula akan dihadiri oleh Menristek Bapak Koesmayanto Kadiman, tetapi beliau berhalangan karena mendadak dipanggil Presiden SBY. Di antara tamu yang hadir juga ada pakar-pakar peroketan dari China, di samping beberapa tokoh masyarakat lain yang ikut hadir untuk menyaksikan peluncuran roket, seperti bapak Ninok Leksono, wartawan senior Kompas yang juga pemerhati teknologi dirgantara Indonesia. Adapun acara tersebut memiliki dua tujuan, pertama untuk menguasai pembuatan roket peluncur satelit, yang kedua untuk menyebarluaskan minat terhadap teknologi peroketan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa Indonesia.
Dalam dasawarsa mendatang, Indonesia diwakili LAPAN, diharapkan berhasil mengembangkan Roket Pengorbit Satelit bertingkat 4. Oleh karena itu, Roket RX 320 merupakan uji pengembangan untuk mencapai kemampuan tersebut. Dan ini merupakan menu utama peluncuran roket. Roket tersebut mempunyai daya dorong sebesar 52 ton/detik yang merupakan roket tingkat paling atas dari roket pengorbit satelit (RPS), sedangkan 3 roket dasarnya adalah Roket RX 420.

Roket RX 320 siap meluncur. Kredit : Nggieng
Ada 18 roket yang diluncurkan pada kegiatan tersebut, dengan berbagai kategori roket, mulai dari roket RK 70 (diameter luar roket 70 mm, 100% local content), Roket RX 320 (diameter 320 mm, roket balistik), Roket RKX 10T03 (diameter 114 mm, roket kendali), dan Roket RUM (Roket untuk lomba muatan-roket Tingkat Universitas) diluncurkan sebagai penutup acara.

Peluncuran Roket RUM. Kredit : Nggieng
Roket RUM (Roket Uji Muatan) adalah roket-roket kecil yang merupakan model untuk lomba muatan roket tingkat Perguruan Tinggi. Roket ini bisa dibangun sendiri oleh mereka yang berminat karena disusun dari bahan-bahan sederhana, yang bisa diperoleh dari bahan-bahan sehari-hari. Bagian dalam roket tersebut terdiri dari sebuah spanduk yang akan mengembang pada suatu titik setelah peluncuran dan sebuah alat pengukur telemetri. RUM ini akan dibagikan kepada mahasiswa peserta lomba peroketan yang dijadwalkan bulan Agustus 2008 di Pantai Pandansimo Yogyakarta.
Jadi, siapa mau membuat roket sendiri? Bagi peminat serius, silakan menghubungi LAPAN.

Muatan roket uji yang berisi spanduk bertuliskan LAPAN berkibar di langit menandakan proses peluncuran yang berhasil. Kredit : Nggieng
nggieng Mahasiswa magister astronomi ITB yang semenjak S1, sudah terlibat dalam berbagai kegiatan jurnalistik dan penulisan buku ilmiah popular. Kendati mengambil pendidikan di Astronomi ITB, tetapi tidak menghentikan minat untuk terlibat dalam dunia jurnalistik. Pengalaman jurnalistik semenjak di kampus a.l., Pemred Majalah KMK ITB "Lentera", Redaksi Pelaksana Majalah Astronomi "Asteroid", terlibat dalam penerbitan buku "Perjalanan Mengenal Astronomi", sampai dengan penerbitan Internasional, dan sekarang terlibat aktif sebagai reporter & fotografer di Komunitas Astronomi langitselatan.
Email this author | All posts by nggieng







