Menikmati Langit Selatan dari Internet

Sabtu 5 Juli 2008, walau kemacetan terjadi di berbagai ruas jalan, namun itu tak menghentikan motivasi kru langitselatan, rekan-rekan HAAJ, mahasiswa dan alumni Astronomi ITB, juga tidak ketinggalan masyarakat setempat untuk turut menghadiri acara Remote Service Observation GAO-ITB RTS + TGVM di Observatorium Bosscha, Lembang.

Briefing tim GAO-ITB RTS sebelum acara. Kredit : langitselatan

Acara yang menjadi bagian dari perayaan 50 tahun persahabatan Indonesia dan Jepang ini menitikberatkan pada pengamatan langit selatan melalui internet untuk publik di Jepang yang menonton dari Observatorium Gunma.

Acara remote service observation dimulai pukul 5 sore wib atau pukul 7 malam JST (Jepang), dibuka oleh H. Taguchi (Jepang) dan Dr. Hakim L. Malasan (Indonesia) dengan melakukan teleconference antar kedua negara dan dilanjutkan dengan menampilkan dua tarian Sunda yang dibawakan oleh anak-anak dari karyawan Observatorium sendiri. Tarian daerah ini sekaligus juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada para pengamat yang sedang menonton via internet dari Observatorium Gunma. Yang tak kalah menarik, di salah satu sisi tenda digantung wayang dan juga pisang sebagai penanda kekhasan Indonesia yang ditampilkan.

Tiga penari yang akan mempersembahkan dua buah tarian sunda sedang berpose (kiri) dan tari topeng yang sedang dibawakan pada publik Jepang dan Indonesia (kanan). Kredit : langitselatan

Malam harinya, saat Matahari sudah tak lagi tampak dan langit mulai gelap, pengamatan secara remote pun dimulai, setelah mendapat sepatah dua patah kata sambutan dari Kepala Observatorium bosscha, Dr. Taufiq Hidayat. Acara kali ini memang merupakan pelayanan yang diberikan oleh Observatorium Bosscha pada publik di Jepang. Acaranya sendiri dimulai dengan pengamatan medan luas untuk konstelasi yang ada di langit selatan antara lain, Crux dan Scorpio.

Tampak di layar publik Jepang yang sedang menikmati pengamatan dari Bosscha, dan inset pada layar menunjukan video yang disiarkan dari ndonesia. Pada layar televisi tampak Crux yang diamati dari Bosscha dan kemudian di streaming ke Jepang. Kredit : langitselatan

Pengamatan tersebut ditampilkan lewat video dan distreaming ke Jepang melalui internet. Selain menampilkan penampakan konsetelasi tersebut ke publik di Jepang, Dr. Hakim L. Malasan juga memberikan kuliah umum kepada publik Jepang mengenai setiap objek yang sedang mereka lihat di layar monitor.

Omega Centauri, globular cluster yang tampak di rasi Centaurus. Kredit : langitselatan

Pengamatan juga dilakukan pada omega centauri (? Cen) dengan menggunakan teleskop GAO-ITB RTS disertai penjelasan kepada publik mengenai objek yang diamati tersebut. Setelah pengamatan dan sesi tanya jawab antara publik di Jepang dan di Indonesia, acara pun ditutup oleh Dr. S.D Wiramihardja (Indonesia) dan Dr. O. Hashimoto (Jepang) dengan kepuasan dari publik di Jepang atas pengamatan yang disiarkan dari Indonesia.

Acara serupa, saat publik Indonesia bisa melakukan pengamatan secara remote untuk menikmati indahnya langit belahan utara di Jepang, baru akan dilakukan pada bulan Januari atau Februari. Hal ini disebabkan karena pada periode waktu tersebut, langit di negeri Sakura baik untuk pengamatan, sama seperti pada periode Juni – Juli di Indonesia, ketika langitnya baik untuk melakukan pengamatan.

Malam itu langit Bosscha sangat cerah, taburan bintang terlihat jelas, seakan tersenyum mendukung keberlangsungan acara antardua negara tersebut. Menurut Dr. Hakim. L. Malasan, kerja sama Jepang dan Indonesia atau antara Observatorium Bosscha dan Observatorium Gunma sudah berjalan selama empat tahun dan akan terus berlanjut di masa mendatang. Selain untuk riset antardua negara, kerja sama dalam bentuk GAO-ITB RTS tersebut ditujukan juga untuk edukasi publik mengenai langit, khususnya perbedaan antara langit kedua negara tersebut dan juga objek-objek yang bisa mereka lihat.

Kendala yang dialami dari Indonesia justru terlihat pada koneksi internet yang menampilkan video terpatah-patah saat di-streaming via internet. Namun, secara keseluruhan, acara ini berhasil dilaksanakan dengan baik dan memberi kesan yang sangat baik pula kepada publik di Jepang maupun mereka yang menikmati pengamatannya secara langsung di Observatorium Bosscha.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

6 thoughts on “Menikmati Langit Selatan dari Internet

  1. Saya, seorang Konsultan Keuangan, SANGAT menyukai Asronomi, tinggal di Sby. Pingin memiliki Teropong yang lebih baik daripada Teropong Kecil yang sy miliki (Lebih baik drpd Binocular). Dimana bisa mendapatkan Teropong dengan harga yg relatif terjangkau.

    1. di surabaya ada ACE HArdware ga? kalau ada .. disana dijual tele merk celestron dgn harga yg cukup terjangkau

      1. Numpang tanya, saya punya teleskop yg murah, tapi sangat susah utk mengamati bulan, sebab bergeser terus kan, bagaimana caranya spy teleskop nya bisa bergerak mengikuti lintasan bulan ?

Tulis komentar dan diskusi...