fbpx
langitselatan
Beranda » Sekilas Kelahiran Tata Surya

Sekilas Kelahiran Tata Surya

Bumi ini rumah kita. Di masa lalu, Bumi pernah dianggap sebagai pusat Alam Semesta, di mana Matahari dan planet-planet bergerak mengitari Bumi. Tapi, perkembangan sains memperlihatkan bahwa Bumi bukan pusat Alam Semesta. Bumi adalah salah satu planet di Tata Surya. 

Tata Surya. Tatanan Matahari dan objek-objek yang mengelilinginya. Kredit: langitselatan

Nah, Tata Surya sendiri merupakan sebuah sistem atau tatanan planet-planet yang mengelilingi sebuah bintang bernama Matahari. Dan seperti pada tulisan sebelumnya tentang perjalanan hidup bintang, Matahari ini lahir dari sebuah awan molekular raksasa yang runtuh. Kita mengenalnya sebagai nebula Matahari.

Lagi-lagi muncul pertanyaan lain. Bagaimana Bumi dan planet lainnya terbentuk

Tentu saja Bumi dan planet lain tidak ada jika Matahari tidak ada. Dan kisah ini dimulai dari kelahiran Matahari, 4,6 miliar tahun lalu. 

Matahari terbentuk dari awan gas raksasa yang runtuh. Awan ini didominasi oleh hidrogen dan helium, tapi ada unsur lain seperti karbon, nitrogen, dan silikat.  Ketika ada gangguan berupa gelombang kejut dari ledakan bintang lain di dekatnya, awan jadi tidak stabil. Akibatnya awan runtuh dan mulai menarik materi yang jatuh ke pusat untuk membentuk cikal bakal Matahari. Selama proses ini berlangsung, terjadi peningkatan suhu di pusat yang pada akhirnya membangkitkan reaksi pembakaran hidrogen jadi helium. 

Voila… Matahari pun lahir. 

Ternyata, tidak semua materi atau gas di dalam awan membentuk Matahari. Masih tersisa debu dan gas yang membentuk cincin atau piringan di sekeliling Matahari. Cincin yang berisi gas dan debu ini kita sebut sebagai piringan protoplanet karena di dalam cincin inilah planet terbentuk.

Di pusat bintang a.k.a Matahari, temperatur sangat tinggi yang artinya suhunya sangat panas. Tapi, makin jauh dari bintang, suhunya juga semakin dingin. Akibatnya, gas di dekat bintang akan menguap sedangkan yang jauh bisa tetap dalam bentuk gas atau bahkan jadi es jika berada sangat jauh dari bintang. 

Harus juga diingat kalau gas dan debu di piringan ini berotasi atau berputar. Partikel-partikel gas dan debu ini saling bertabrakan dan bergabung membentuk butiran berukuran mikro. Penggabungan inilah yang jadi cikal bakal pembentukan planet di piringan protoplanet.

Yang pasti, masa pembentukan planet merupakan masa yang penuh kekerasan. Bagaimana tidak! Butiran materi yang ada di piringan bergerak dan bertabrakan dengan butiran lainnya. Hasilnya, terbentuk partikel yang lebih besar dan padat.

Tabrakan tak pernah berhenti. Gumpalan-gumpalan ini terus bertabrakan dengan materi yang ada di piringan dan bergabung sampai membentuk planetesimal. Nah, planetesimal ini masih terus bertabrakan dan bergabung dengan gumpalan materi lain sampai akhirnya membentuk protoplanet atau cikal bakal planet. Proses yang sama terus berlangsung dan protoplanet pun menarik planetesimal lain yang komposisinya mirip untuk bergabung dan membentuk planet. 

Baca juga:  Planet Laik Huni Yang Bukan Planet

Karena suhu di dekat Matahari sangat panas maka planetesimal di dekat Matahari itu berupa batuan dan logam. Sehingga terbentuklah planet batuan seperti Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. 

Makin jauh dari Matahari, temperatur makin rendah dan makin dingin sehingga mulai ditemukan materi yang membeku jadi es. Ketika serpihan es ini bergabung dengan planetesimal batuan dan logam, terbentuklah inti planet yang sangat besar. Inti planet raksasa inilah yang kemudian menangkap lebih banyak gas hidrogen dan helium yang membentuk atmosfer super tebal. Hasilnya terbentuklah planet gas raksasa dengan inti batuan padat.

Di bagian luar piringan yang dingin, tersisa planetesimal beku yang kemudian bergabung membentuk benda-benda kecil berukuran beberapa kilometer. Benda-benda ini kemudian mendiami sebuah area yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper. 

Sementara itu, ada benda-benda kecil lain atau kita sebut saja serpihan batuan berukuran beberapa meter sampai 1000 km di antara Mars dan Jupiter. Planetesimal di area ini merupakan sisa pembentukan Tata Surya yang gagal bergabung membentuk planet karena gangguan gravitasi dari Jupiter.

Selain planet, ada juga satelit atau bulan atau pengiring planet. Satelit pada planet raksasa diduga terbentuk lewat proses sama seperti planet.  Untuk satelit pada planet batuan seperti Bulan di Bumi atau dua satelit Mars, satelit-satelitnya terbentuk dari tabrakan planet dengan benda lain yang cukup besar atau justru hasil tangkapan gravitasi planet.


Artikel ini merupakan kerjasama detikEdu dengan langitselatan dan telah diterbitkan di portal detikEdu.

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

2 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini