Adakah Seseorang di Luar Sana?

Print This Post
By ivie • Apr 21st, 2008 at 12:57 pm • Category: Astrobiologi

Matahari terbit di Gliese 581c. Kredit Gambar : APOD, Karen Wehrstein.
Matahari terbit di Gliese 581c. Kredit Gambar : APOD, Karen Wehrstein.

Adakah seseorang di luar sana? Mungkin tidak. Sebuah model matematika yang dikembangkan Prof. Andrew Watson menunjukan jika kemungkinan untuk bisa mendapatkan kehidupan yang baru di planet mirip Bumi lainnya ternyata cukup rendah. Terutama, dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh kehidupan untuk membentuk kondisi saat manusia bisa berevolusi, dan juga dengan memperhitungkan sisa waktu hidup Bumi.

Struktur kompleks dan makhluk cerdas di Bumi adalah yang terakhir berevolusi di Bumi, dan diyakini, prosesnya dikendalikan oleh sejumlah kecil tahap evolusi yang sangat kompleks. Dalam penelitiannya, Prof. Watson menelaah ide lanjutan dengan menganalisis kemungkinan setiap tahap kritis yang terjadi dan berelasi dengan waktu yang digunakan oleh kehidupan di Bumi. Hasilnya, dia mendapatkan model matematika lebih lanjut yang terkait dengan evolusi kehidupan cerdas.

Menurut Prof. Watson, batas evolusi agar Bumi dan planet-planet serupa Bumi bisa menopang kehidupan akan berakhir saat Matahari semakin terang. Dalam perjalanan hidupnya, model Matahari menunjukan kalau Matahari akan mengalami peningkatan kecerlangan, yang ternyata memiliki korelasi dengan model temperatur. Berdasarkan model temperatur, akibat peningkatan kecerlangan Matahari, masa depan Bumi tidak akan lama lagi dan hanya berkisar satu milyar tahun lagi. Waktu yang pendek jika dibandingkan dengan 4 milyar tahun yang dilewati sejak kehidupan pertama kali muncul di Bumi.

Biosfer Bumi saat ini sedang berada di masa tuanya, dan kondisi ini memiliki korelasi penting dalam pemahaman kita terhadap kehidupan kompleks dan kehidupan cerdas pada planet manapun.

Sebagian ilmuwan percaya, umur alam semesta yang ekstrem serta sejumlah besar bintang di dalamnya justru memberi gambaran jika Bumi itu istimewa. Karena itu, kehidupan extraterrestrial tentu merupakan kejadian umum. Di sisi lain, Watson justru percaya kalau usia alam semesta bekerja penuh keganjilan.

Sampai saat ini hanya Bumilah satu-satunya contoh planet yang memiliki kehidupan. Jika kita belajar tentang planet yang mampu mendukung kehidupan pada satu periode tertentu, dan kita telah berevolusi jauh di awal periode itu, maka walau hanya ada satu contoh, bisa diduga evolusi dari kehidupan sederhana menjadi kehidupan kompleks dan kehidupan cerdas sangat mungkin terjadi dengan pola yang mirip. Sebaliknya, saat ini kita percaya bahwa kita berevolusi di saat lanjut dari periode yang memungkinkan adanya kehidupan (habitable period), dan ini memberi pendapat bahwa evolusi kita terjadi tidak sebagaimana mestinya. Fakta dan waktu kejadiannya pun konsisten dengan kejadian yang sangat jarang terjadi.

Sepertinya Watson menggunakan Paradoks Fermi dalam mempertimbangkan ide-idenya. Paradoks Fermi merupakan argumentasi yang mempertanyakan jika kemungkinan adanya kehidupan lain itu besar, kenapa buktinya masih sangat kurang. Selain itu, tidak ada kontak dengan kolonisasi lain jika memang kemungkinannya sangat besar.

Sejumlah tahap evolusi diajukan oleh Prof. Watson dalam hal munculnya kehidupan cerdas, yakni manusia. Dia menyatakan bahwa ada 4 tahap untuk mencapai kondisi kehidupan cerdas itu, antara lain: munculnya bakteri sel tunggal, disusul sel kompleks, kemudian sel kompleks inilah yang membentuk kehidupan kompleks, dan terakhir adalah kehidupan cerdas dengan kemampuan berbahasa yang baik.

Beberapa tahap yang tidak biasa justru memisahkan kehidupan kompleks dari bentuk kehidupan sederhana, sehingga semakin jelas perbedaan di antara keduanya. Kehidupan cerdas justru berada satu langkah di depan. Model yang diajukan Watson dalam jurnal Astrobiology mengajukan kemungkinan suatu batas atas probabilitas setiap tahap evolusi kehidupan yang bisa terjadi, yaitu 10 % atau kurang. Dengan demikian, kesempatan kehidupan cerdas untuk muncul sangatlah rendah, kurang dari 0,01 % sepanjang 4 milyar tahun.

Setiap tahap dalam perkembangan kehidupan tidak saling bergantung, tapi perkembangan lanjutan hanya akan terjadi jika yang sebelumnya sudah selesai. Kehidupan itu sendiri cenderung sama dengan yang ada sepanjang sejarah Bumi dan juga konsisten dengan beberapa transisi besar yang berhasil diidentifikasi dalam evolusi kehidupan di Bumi.

Sumber : University of East Anglia Press Release



Send post as PDF to PDF Creator | PDF Converter | PDF Software | Create PDF
Tagged as: ,

ivie Astronom dan Sains komunikator yang aktif menulis di langitselatan dan netsains. Menyelesaikan tahap sarjana dan pasca sarjana dari Astronomi ITB dengan topik kajian Tata Surya dan Extrasolar Planet khususnya tentang dinamika sistem planet. Terlibat dalam riset KK Tata Surya Astronomi ITB untuk tinjauan pembentukan sistem Tata Surya dan Extrasolar Planet.
Email this author | All posts by ivie

«« Mari Mengenal Paralaks Bintang
Teleskop Sinar-X : Membuka Pandangan Baru Dalam Astronomi »»

5 Responses »

  1. masuk akal juga. terlalu banyak faktor yg mempengaruhi utk menjadikan suatu peradaban ato kehidupan cerdas. tapi daya imajinasi manusia utk memunculkan kemungkinan2 itu terwujud dalam film fiksi. film2 sci-fi jadi bukti betapa tertariknya orang2 ato mungkin memimpikan kemungkinan yang sangat kecil itu. ato sebuah harapan?

  2. emang,,kalo kita pgn liat kehidupan di luar bumi susah banget…secara,, bumi ja,terbentunya kehidupan bth jutaan tahun..pa lagi di luar sana???tapi alo misal nya cuma miroorganisme susah banget

  3. Kalau kita berpikir kehidupan hanyalah kehidupan organik yang terdiri dari atom-atom karbon (carbon based life) mungkin akan sulit untuk mencarinya. Tapi apabila kita perluas definisi kehidupan sebagai sesuatu yang mempunyai kemampuan mereplikasi diri sendiri, baik itu merupakan senyawa organik ataupun dalam bentuk kristal sekalipun. Mungkin masih ada harapan untuk menemukannya. Saya yakin alam semesta ini penuh dengan kehidupan, seperti kata Carl Sagan, “if the universe only occupied by human, that’ll be a waste of space”. Yang saya ragukan adalah kemungkinan dari kehidupan-kehidupan itu yang mempunyai kesadaran dan kecerdasan. Percayalah ..mahluk hidup dimanapun berada, mempunyai daya lenting (resilient) yang tinggi.

  4. Waktu saya kuliah dulu saya sempat dapatkan sebuah wacana dari dosen saya Ibu Premana W. Premadi. Intinya (kalau saya tidak salah kutip)…kehidupan kemungkinan ada tetapi saling terisolasi karena batasan jarak. Kehidupan-kehidupan cerdas ini belum mampu berkomunikasi satu dengan yang lainnya karena jarak yang memisahkannya sangatlah jauuuuuuuuuuuuuuuuh…

  5. Betul, Pras. Kehidupan semacam itu mungkin saja ada. Belum lagi bentuk kehidupan di tempat-tempat ekstrem - tampaknya tidak bakal ada organisme ternyata ada dan baik-baik saja. Di sumber air panas, di dasar laut yang gelap…. Tapi, di sisi lain, bentuk kehidupan satu-satunya yang kita tahu baru di bumi. Di Mars pun masih belum ada bukti nyata, baru sampai pada “tampaknya kondisinya mungkin mendukung adanya kehidupan”

Leave a Reply