Berpulangnya Sang Bulan Sabit Muda

Rukman Nugraha telah kembali ke haribaan Illahi pada Senin pagi 10 Januari 2022 usai melantunkan ayat–ayat suci. Kepergian mendadaknya mengejutkan semua.

Ihtirozun Niam (ahli falak Jawa Timur), alm Rukman Nugraha, saya dan Mahasena Putra (kepala Observatorium Bosscha saat itu) di halaman kompleks pondok pesantren Tebuireng Jombang (Jawa Timur). Dalam rangka Muzakarah Falakiyah Nasional 2017, dimana saya & alm Rukman bertindak selaku moderator.
Ihtirozun Niam (ahli falak Jawa Timur), alm Rukman Nugraha, saya dan Mahasena Putra (kepala Observatorium Bosscha saat itu) di halaman kompleks pondok pesantren Tebuireng Jombang (Jawa Timur). Dalam rangka Muzakarah Falakiyah Nasional 2017, dimana saya & alm Rukman bertindak selaku moderator.

Tak hanya keluarga besarnya, namun juga rekan–rekan kerjanya di Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial & Tanda Waktu di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Juga pada para koleganya di Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dimana Rukman berkhidmat menjabat fungsionaris di biro penelitian dan pengembangan sejak 2015. Demikian halnya pondok–pondok pesantren falakiyah (yang mengajarkan ilmu falak) khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pun di Tim Unifikasi Kalender Hijriah (dahulu Badan Hisab dan Rukyat Nasional) Kementerian Agama RI, dimana Rukman turut berkiprah dalam lebih dari lima tahun terakhir. Semua merasa kehilangan.

Duka cita merebak dari berbagai pelosok, dari tempat–tempat yang memang beririsan dengan minat Rukman selama ini. Yakni pada sistem tanda–waktu ( time–keeping ) religius Islam. Sistem astronomis yang menjadi salah satu tengara dan daya lentur peradaban yang berbasiskan Agama Islam. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia saat ini, sistem tanda–waktu yang mewujud dalam kalender Hijriah tentu memegang peranan penting dalam perikehidupan publik. Terutama menyangkut hari–hari besar agama. Terlebih, hari–hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha bukanlah sekedar berdimensi religi semata, namun juga meluas ke ranah ekonomi, sosial dan budaya. Perayaan Idul Fitri senantiasa diiringi pergerakan besar–besaran manusia Indonesia ke berbagai arah dan melibatkan perputaran kapital yang sangat besar.

Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang berbasis peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Lebih tepatnya kalender ini bertumpu pada periode sinodis Bulan, yakni selang waktu di antara dua peristiwa konjungsi Bulan–Matahari yang berurutan. Sistem penanggalan ini memiliki 12 lunasi (bulan Hijriah) dengan tiap lunasi sepanjang 29 atau 30 hari sehingga jumlah hari dalam setahun adalah 354 hari (tahun biasa) atau 355 hari (tahun kabisat). Awal lunasi ditandai oleh hilal, yakni Bulan dalam fase terkecil yang demikian rupa sehingga lengkungan sabit tertipisnya telah bisa mulai dideteksi setelah terbenamnya Matahari pasca konjungsi Bulan–Matahari.

Diskursus yang mengemuka saat ini terkait kalender Hijriah adalah apakah hilal perlu diobservasi secara fisik ( rukyah ) ataukah cukup berdasarkan pada pemodelan matematis tertentu ( hisab )? Dan dalam hal observasi, apakah keterlihatan hilal hanya berlaku bagi wilayah hukum tertentu (satu negara) atau sebaliknya berlaku secara global? Meskipun perbedaan pendapat ini hanya menyebabkan selisih sebesar satu hari saja dalam perayaan hari–hari besar Islam, namun kadangkala merebak menjadi heboh nasional dengan aneka imbasnya. Sebut saja perbedaan Idul Fitri 1432 H / 2011 silam.

Rukman Nugraha hadir saat diskursus kalender Hijriah di Indonesia memasuki babak baru yang semarak dengan dimotori anak–anak muda pada zamannya. Di sisi rukyah, observasi mulai bersentuhan dengan instrumentasi yang kian lama kian terjangkau. Kampanye observasi sistematis mulai digelar, termasuk pencatatannya. Sebut saja misalnya yang diinisiasi oleh jejaring Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) sejak 2007. Lembaga Falakiyah PBNU sendiri sejak akhir 2006 juga menggelar aktivitas rukyah secara berkelanjutan setiap menjelang awal bulan Hijriah. Jadi tak hanya menjelang Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha semata seperti aktivitas rukyah klasik. Upaya–upaya tersebut akhirnya dilembagakan secara resmi melalui jejaring pengamatan yang dibentuk Observatorium Bosscha dan awalnya ditempatkan di bawah Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. Selanjutnya sesuai dengan peraturan perundangan, aktivitas tersebut dilembagakan di bawah BMKG.

Sementara di sisi hisab, perhitungan mulai bersentuhan dengan teknologi komputasi. Perhitungan juga tidak lagi diselenggarakan hanya pada satu titik yang dianggap representasi Indonesia (meski riset di kemudian hari menyokong kedudukan titik tersebut). Namun juga bagi seluruh wilayah Indonesia. Dari perhitungan–perhitungan multi–titik tersebut lahirlah beragam peta yang mencoba mencerminkan kedudukan Bulan pada saat Matahari terbenam di setiap tanggal 29 Hijriah. Mulai dari peta tinggi Bulan, peta azimuth Bulan, peta elongasi Bulan, peta umur Bulan (terhitung sejak saat konjungsi Bulan–Matahari) hingga peta Lag Bulan (selisih waktu antara terbenamnya Bulan dan terbenamnya Matahari). Peta–peta tersebut mencakup seluruh Indonesia. Aktivitas ini secara kelembagaan kemudian juga diwadahi BMKG, mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.

Rukman Nugraha hadir pada masa–masa tersebut. Manakala ia sukses memperlihatkan citra hilal pada sebuah stasiun lapangan, BMKG mencatatnya sebagai keberhasilan pertama mendeteksi hilal semenjak saat lembaga tersebut berdiri. Bersama timnya, Rukman membentuk standar bagi sistem observasi hilal di BMKG melalui pemilihan instrumen (teleskop dan kamera), pemilihan perangkat lunak pengolah citra hingga pembentukan sistem informasi. Rukman juga melatih petugas–petugas di stasiun geofisika dan stasiun klimatologi BMKG yang tersebar di berbagai penjuru negeri untuk mengoperasikannya. Pada akhirnya, upaya–upaya ini menjadikan sistem pengamatan hilal yang melembaga dan berlangsung di setiap awal bulan Hijriah sepanjang tahun. Tak lagi terbatasi hanya pada 3 momen penting semata. Lewat jerih payah tersebut, tak mengherankan jika akhirnya Rukman identik dengan Bulan sabit muda.

Bersama timnya, Rukman pula yang membentuk beragam peta statik yang mencoba mencerminkan kedudukan Bulan pada setiap tanggal 29 Hijriah. Peta–peta inilah yang menjadi salah satu basis keputusan yang diambil di lingkungan Tim Unifikasi Kalender Hijriah (dahulu Badan Hisab dan Rukyat Nasional) Kementerian Agama RI. Baik dalam rangka membentuk almanak / takwim standar nasional untuk tahun tertentu secara spesifik. Maupun dalam pembentukan keputusan awal Ramadan serta hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Di lingkungan Lembaga Falakiyah PBNU, Rukman juga cepat menonjol meskipun baru tercatat dalam kepengurusan sejak 2016 (secara fungsional sejak 2017). Kalem dan enggan menonjolkan diri, Rukman dikenal sebagai sosok penuh data, bersedia belajar dan siap menerima tantangan baru. Sepanjang 2020 hingga 2021 lalu, Rukman bekerja keras di dalam dua tim berbeda yang dibentuk dalam Lembaga Falakiyah PBNU. Yakni tim kajian awal waktu Subuh dan tim kajian awal bulan Hijriah. Dalam kedua tim, Rukman menyuplai data, membentuk simulasi dan mempresentasikannya dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Manakala data dan simulasinya dipertanyakan, ia mempertahankannya sungguh–sungguh dengan argumen yang terstruktur.

Dalam hal waktu Subuh, bersama dengan data–data yang disajikan peneliti lainnya, data–data yang disajikan Rukman menjadi salah satu landasan bagi Lembaga Falakiyah PBNU guna menetapkan kriteria awal waktu Subuh di Indonesia. Sebuah kriteria yang menggunakan pendekatan baru: keterdeteksian cahaya zodiak (fajar kizib) dan fungsi linearitas intensitas cahayanya sebagai kunci. Pendekatan ini merupakan temuan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam menganalisis dinamika cahaya zodiak dan cahaya fajar beserta batas di antara keduanya. Sedangkan dalam hal awal bulan Hijriah, simulasi 3.000 tahun yang disajikan Rukman menjadi salah satu landasan untuk membentuk pengetahuan adanya batas–batas parametrik bagi Bulan sabit muda (hilal). Batas–batas yang kemudian dikukuhkan secara syar’i dalam Muktamar ke–34 Nahdlatul Ulama di Lampung pada Desember 2021 lalu.

Masih banyak hal yang ingin dilakukan Rukman. Diantaranya membentuk peta dinamik parameter Bulan di tiap tanggal 29 Hijriah. Sehingga dimanapun kita mengklik sebuah titik koordinat di wilayah Indonesia, maka akan keluar data–data hasil perhitungan terkait sejumlah parameter Bulan, mencakup tinggi, azimuth, umur Bulan dan Lag. Dalam upaya ini, ia ingin mengikuti langkah Xavier Jubier dalam kancah peta dinamik Gerhana Matahari dan Bulan.

Namun manusia memang hidup di bawah bayangan takdir. Sang bulan sabit muda itu kini telah berpulang. Ia bersemayam di Tasikmalaya, tanah kelahiran yang dicintainya, di bawah angkasa penuh bintang. Namun sumbangsihnya terhadap dunia ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya dalam ilmu falak, akan menjadi amal jariahnya hingga akhir masa.


Catatan:

Rukman Nugraha merupakan salah satu kontributor di langitselatan. Ia menyelesaikan tahap Sarjana dan Magister dari Astronomi ITB dan bekerja di BMKG.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

Tulis komentar dan diskusi...